Suling Maut

Suling Maut
Peringatan Setahun Kematian Tuan dan Nyonya Luo


__ADS_3

“Jadi begitu,” gumam Chien Wan setelah mendengar cerita Fei Yu sebagaimana yang dikisahkan A Ming padanya ketika datang.


“Kasihan,” gumam Kui Fang.


“Chi Meng Huan keparat!” geram Sen Khang marah.


Fei Yu mendengus. “Kalau dia ada di sini, akan kucekik dia karena telah membuat sepupuku seperti itu!”


“Bagaimana pun dia mencintai Chi Meng Huan,” renung Sen Khang.


Ouwyang Ping tidak mengatakan apa-apa. Diam-diam ia merasa bersalah. Kalau bukan karena kecewa cintanya ditolak Sen Khang, A Ming tidak mungkin semudah itu bisa dipengaruhi Chi Meng Huan. Dan Sen Khang menolaknya karena mencintai dirinya. Secara tidak langsung, dirinya punya andil dalam menjerumuskan A Ming ke jurang penderitaan.


“Jangan terlalu memikirkan hal itu, Ping-er,” tegur Sen Khang. Ia tahu persis apa yang sedang berkecamuk dalam benak gadis itu. “Masa lalu tidak ada hubungannya dengan masalah ini.”


Tak ada yang berkomentar mengenai masalah ini. Cinta yang dipendam A Ming kepada Sen Khang sudah bukan rahasia lagi. Terutama karena A Ming sendiri yang mengungkapkannya secara terang-terangan pada perkawinan Ting Ting dan Meng Huan yang gagal itu.


“Jadi A Ming sempat tinggal bersama guru Chi Meng Huan?” tanya Chien Wan.


“Benar,” angguk Fei Yu. “Ternyata guru Chi Meng Huan bernama Tonggu, seorang Khitan ahli silat, sihir, dan pengobatan. Mendengar cerita A Ming, agaknya Tonggu itu adalah orang yang sangat berbahaya dan patut diwaspadai.”


“Kita belum pernah melihatnya, bahkan tidak mengenali namanya,” kata Sen Khang.


“Tonggu tidak pernah muncul di Dunia Persilatan. Ia adalah seorang yang senang menyendiri. Sifatnya? Tak kalah kejam dari Cheng Sam dan Chi Meng Huan. Namun menurut A Ming, selain memberinya racun, Tonggu tidak pernah mengasarinya,” jelas Fei Yu.


“Aku ingin melihat orang yang bernama Tonggu itu,” gumam Sen Khang.


“Kita pasti akan melihatnya.”


Kata-kata Chien Wan itu terdengar mantap dan dingin. Tak ada seorang pun yang meragukannya. Dia memang benar. Mereka pasti akan berkesempatan bertemu muka dengan Tonggu!


Beberapa saat kemudian, A Ming sadar dari pingsannya. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun saat melihat Chien Wan, Sen Khang, dan yang lain. Ia hanya membisu dengan rona penyesalan yang begitu mendalam pada wajahnya.


Dan mereka semua memahami perasaannya. Mereka membiarkan A Ming membisu dalam kesedihannya, sebab tak ada yang bisa mereka lakukan untuk meringankan penderitaan batinnya.


***


Upacara peringatan setahun kematian Tuan dan Nyonya Luo dilangsungkan dengan khidmat. Semua orang tampak diliputi suasana haru, terutama Sen Khang dan Ting Ting. Tak disangka, setahun sudah mereka melewati waktu-waktu yang teramat sulit. Tak pernah disangka bahwa ternyata mereka bisa bertahan. Padahal sewaktu peristiwa itu baru saja terjadi, dunia terasa kiamat.


Ting Ting menangis sewaktu ia berada di depan meja abu orangtuanya. Ia sangat merindukan mereka. Ia akan melakukan apa saja supaya bisa bertemu mereka lagi. Namun ia tahu bahwa hal itu mustahil. Karenanya ia menangis meluapkan kesedihannya.


Sen Khang yang berlutut di samping kirinya, menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.


“Ting Ting, jangan menangis,” bujuknya.


Ting Ting menyeka air matanya. “Setahun sudah Ayah dan Ibu meninggalkan kita. Aku sangat merindukan mereka.”


“Perasaan kita sama, Ting Ting,” bilang Sen Khang.

__ADS_1


“Aku ingin sekali memutar ulang waktu yang berlalu. Aku ingin mengatakan pada mereka... aku sayang sekali pada mereka. Kalau saja mereka masih hidup, aku akan melakukan apa saja untuk mereka. Aku akan sangat berbakti pada mereka...,” isak Ting Ting pilu. “Tapi sekarang... semuanya sudah terlambat. Aku tak punya kesempatan lagi....”


“Jangan begitu, Ting Ting.” Sen Khang membelai rambut adiknya. “Ayah dan Ibu pasti bisa merasakan kasih sayang kita,” tambahnya dengan sabar.


Ting Ting menunduk.


Fei Yu yang berlutut di samping kanannya segera merangkulnya dengan penuh perlindungan. “Jangan menangis lagi, Ting Ting.”


Ting Ting menoleh. “Kalau saja mereka masih ada, mereka pasti akan sangat senang melihat aku bersamamu. Mereka akan sangat merestui pernikahan kita, terutama karena kau telah membuatku bahagia,” bilangnya.


Wajah Fei Yu merona mendengar ucapan istrinya.


Banyak pendekar yang datang ke Wisma Bambu sehingga keadaan di sana menjadi ramai. Semua orang bermaksud memberikan penghormatan kepada Tuan dan Nyonya Luo sebagai orangtua dari Ketua Persilatan yang baru. Hal ini menguntungkan. Dengan kehadiran begitu banyak orang, tak ada seorang pun yang berani datang untuk mengacaukan suasana.


Setelah para anggota keluarga selesai memberi penghormatan, tibalah giliran para pendekar tersebut. Mereka beramai-ramai memasang hio dan memberikan penghormatan mereka terhadap mendiang Tuan dan Nyonya Luo.


Hampir semua orang datang, termasuk Pendekar Sung dan teman-temannya. Bahkan Ketua Wu pun mengirimkan utusannya, yakni Sam Hui dan Wen Chiang.


“Paman Sam, Kakak Wen.” Kui Fang menghampiri. “Ternyata kalian datang juga.”


“Mana mungkin kami tidak menghadiri peringatan setahun wafatnya Tuan dan Nyonya Luo, Nona? Ketua sendiri yang mengutus kami sebagai perwakilan Partai Kupu-Kupu. Beliau sudah memperkirakan bahwa Nona pasti ada di sini juga,” bilang Sam Hui.


Kui Fang tersenyum salah tingkah. “Aku tahu aku tidak meminta izin Ayah untuk datang ke sini. Tapi Kakak Wan sudah memutuskan bahwa setelah upacara ini selesai, paling lambat lusa, kami akan berangkat ke Partai Kupu-Kupu.”


“Ketua tidak marah, Nona. Beliau malah senang karena kalian pergi ke Wisma Bambu untuk memberi penghormatan pada Keluarga Luo,” ujar Sam Hui menenangkan.


“Kau mencari siapa, Kakak Wen?” tanya Kui Fang heran.


“Tidak,” elak Wen Chiang agak tersipu. “Aku hanya memperhatikan orang-orang. Ternyata ramai juga, ya?”


Kui Fang mengangguk. “Kakak Luo sekarang adalah Ketua Persilatan. Tentu saja banyak orang datang untuk memberikan penghormatan.”


Chien Wan datang menghampiri mereka dan memberi hormat pada kedua pria itu. Lalu ia mengajak Kui Fang masuk untuk kembali bersama keluarga mereka.


***


Karena semua orang sibuk melaksanakan upacara peringatan itu, A Ming ditinggalkan sendiri bersama bayinya. Ia sudah pulih dari derita kesakitan akibat racun, namun tubuhnya masih lemah. Karenanya ia tidak dilibatkan dalam upacara. Hal ini melegakan hatinya, sebab ia tidak yakin apakah ia punya muka bertemu muka dengan semua orang yang ada di sana.


Sekarang ia berhutang nyawa kepada Sen Khang.


Hal inilah yang paling membuatnya risau.


Ia sudah melakukan berbagai kekeliruan di masa lalu. Dan ia ingat bahwa semuanya dimulai sejak ia merasa bahwa dirinya jatuh hati pada Sen Khang. Ia begitu mendambakan pemuda itu dengan cinta yang menggebu-gebu. Dan ketika pemuda itu menolak cintanya, kemarahannya menjadi sama menggebunya dengan cintanya.


Dalam kemarahannya dia menjadi rentan terhadap godaan. Dengan mudah ia jatuh ke dalam perangkap asmara yang diciptakan Meng Huan. Karena dibesarkan di biara, ia tidak berpengalaman menghadapi rayuan pria. Ia tidak bisa menangkap kepalsuan dalam perilaku Meng Huan. Ia juga tidak bisa melihat bahwa sesungguhnya ia hanya diperalat oleh Meng Huan untuk mencapai tujuan.


Akibatnya ia terlibat dalam perbuatan keji yang sama sekali tidak sesuai dengan didikan yang diterimanya di biara. Ia telah membantu rencana jahat Meng Huan yang didalangi oleh Cheng Sam.

__ADS_1


Sekarang yang tersisa hanyalah penyesalan.


Ia menyesali dirinya yang begitu mudah terbujuk oleh kata-kata manis Chi Meng Huan. Dan yang terutama, ia menyesali dirinya yang begitu mudah jatuh cinta. Entah mengapa dirinya begitu mudah melupakan cinta yang dimilikinya untuk Sen Khang dan mengalihkannya begitu saja pada Meng Huan.


Sekarang dia tidak bisa berhenti mencintai Chi Meng Huan!


Air mata A Ming bergulir deras di pipinya.


Seandainya saja ia bisa menghilangkan perasaan cintanya ini... tentulah dia tidak akan begitu tersiksa. Namun betapa pun besarnya ia membenci Meng Huan, ia tetap saja mencintainya.


Cinta yang mungkin takkan pernah hilang mengingat sekarang ia sedang memeluk anak yang dilahirkannya akibat hubungan dengan Chi Meng Huan!


Penyesalannya semakin berlipat ganda tatkala mengingat bahwa sekarang ia berhutang nyawa pada Sen Khang. Ia mencelakakan keluarga Sen Khang, namun pemuda itu malah menyelamatkan nyawanya.


Orang macam apa dia!


“Oaaa!”


Tangisan bayinya terdengar menyayat hati.


A Ming menunduk dan menatap wajah bayinya yang tampan meski tidak semontok bayi Ting Ting. Ia menimangnya dengan lembut dan menciuminya penuh kasih sayang, air matanya terus jatuh berderai.


“Anak malang...,” bisiknya pilu. “Apa yang harus Ibu lakukan, Nak?”


Tangis Sien Lung berhenti setelah merasa nyaman dalam timangan ibunya. Kini hanya terdengar isakan manja.


“Bagaimana masa depanmu kelak jika orang-orang mengetahui siapa ayahmu?” A Ming memejamkan mata.


Terbayang di pelupuk matanya bahwa putranya akan menemui bermacam kesulitan. Semua orang akan mencibir dan menghinanya sebagai anak haram dari seorang penjahat. Ia dikucilkan dari pergaulan. Masa depannya suram. Tidak ada perguruan silat yang mau menerimanya, tidak ada gadis yang sudi menjadi istrinya, tidak ada keluarga yang mau menerimanya sebagai menantu.


Bukan tidak mungkin Sien Lung juga akan terjebak dalam lingkungan penjahat seperti yang dialami ayahnya dan dirinya. Dan akhirnya Sien Lung juga akan menjadi penjahat!


A Ming membuka matanya dan menggeleng keras-keras.


“Tidak! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!” katanya tegas.


Karena bayinya mulai merengek lagi, ia bangkit dan berjalan mondar-mandir sambil menimang-nimangnya mengelilingi kamar.


“Tidak ada seorang pun yang boleh memperalatnya! Anakku tidak akan pernah menjadi penjahat! Dia tidak boleh menjadi seperti ayahnya!” tekad A Ming mantap. “Lebih baik dia mati bersamaku daripada harus menjadi penjahat!”


Pikiran itu begitu mengguncangkan hatinya.


Benar. Lebih baik mereka mati bersama daripada harus kembali diperalat oleh para penjahat itu!


Pikiran ini semakin mantap. Dan akhirnya tekadnya bulat.


Mereka harus mati!

__ADS_1


***


__ADS_2