
Sementara itu, lagi-lagi Fei Yu bertengkar dengan Meng Huan. Entah apa masalah awalnya, yang jelas kali ini kegusaran mereka terhadap masing-masing sudah begitu memuncak.
Mereka berhadapan di taman belakang disaksikan oleh Siu Hung, A Nan, Ting Ting, dan A Ming.
“Chi Meng Huan, kalau kau berani ayo kita bertarung satu lawan satu! Kita buktikan siapa di antara kita yang lebih unggul!” tantang Fei Yu.
Meng Huan menggertakkan giginya. “Chang Fei Yu, kau sudah keterlaluan. Kesabaranku sudah habis!”
“Siapa yang minta kau bersabar?” ejek Fei Yu.
Sraat! Meng Huan mencabut pedangnya. “Bersiaplah!”
Fei Yu pun mencabut kipasnya dari ikat pinggangnya.
Ting Ting berseru cemas, “Kalian ini kenapa? Hentikan!”
“Kau jangan dekat-dekat, Ting Ting!” Meng Huan bersiap-siap. “Jangan sampai kau terluka nanti!”
“Kakak Huan!”
A Nan juga sama cemasnya. “Tuan Muda, jangan berkelahi! Segalanya kan bisa dibicarakan baik-baik!”
“Minggir, A Nan!” bentak Fei Yu.
Siu Hung bertepuk tangan. “Ayo mulai! Aku bertaruh untukmu, Fei Yu!”
Fei Yu mulai bergerak, demikian pula Meng Huan. Ting Ting dan A Nan terpaksa menyingkir.
Ilmu ringan tubuh Fei Yu yang sangat tinggi jelas bukan tandingan Meng Huan. Namun ternyata Meng Huan pun sangat lihay. Ilmu pedangnya cukup berbahaya dan menyambar-nyambar.
Kali ini bukan pertandingan persahabatan seperti yang dahulu dilakukan Ouwyang Ping dengan Fei Yu. Pertarungan kali ini sungguhan sehingga gerakan Fei Yu jauh lebih ganas dan mematikan dibanding dulu. Kipasnya menyambar-nyambar ke titik-titik mematikan di tubuh Meng Huan.
Lama-lama Meng Huan kewalahan dan hanya bisa menangkis setiap serangan tanpa bisa membalasnya.
“Apa-apaan ini?!”
Sen Khang muncul di sana dan melompat di antara mereka berdua, membuat keduanya menahan serangan masing-masing.
“Kakak! Syukurlah!” seru Ting Ting lega.
__ADS_1
“Yaaah! Dasar pengganggu!” Siu Hung kecewa.
Sen Khang tidak memperhatikan adiknya dan Siu Hung. Ia memandangi Fei Yu dan Meng Huan bergantian dengan gusar. “Kalian ini mau apa sebenarnya? Bertengkar mulut saja belum cukup?” hardiknya.
Meng Huan menunduk, merasa malu ditegur seperti itu. “Maafkan aku, Sen Khang.”
Namun Fei Yu tidak semudah itu ditenangkan. “Jangan ikut campur, Sen Khang!”
“Tentu saja aku harus ikut campur!” tukas Sen Khang tidak senang. “Ini rumahku, Meng Huan adik seperguruanku, dan kau temanku! Kaupikir aku bisa diam saja melihat kalian saling bunuh seperti itu?”
Fei Yu menggeram, namun ia tidak mengucapkan apa-apa lagi.
“Ada apa ini sebenarnya?”
Fei Yu mengangkat wajahnya dengan angkuh. “Kau tanyakan sendiri pada adik seperguruanmu itu!” katanya galak. Lalu ia menoleh pada A Nan dan Siu Hung. “Ayo kita pergi!”
A Nan dan Siu Hung langsung mengikuti Fei Yu.
Pandangan tajam Sen Khang jatuh pada Meng Huan. “Ada apa?”
Meng Huan menarik napas panjang. “Aku sendiri tidak mengerti apa yang terjadi, Sen Khang. Mungkin salahku juga sampai dia selalu memusuhi aku.”
“Bukan!” bela Ting Ting. “Fei Yu keterlaluan, Kak. Dia tidak bisa ditegur sedikit, langsung saja marah!”
“Aku dan Kakak Huan sedang mengobrol dengan A Ming. Lalu mereka bertiga datang. Tahu-tahu Fei Yu langsung menghampiri A Ming dan menariknya pergi. Kakak Huan tersinggung dan menegurnya. Eh, dia malah marah-marah,” kisah Ting Ting.
Sen Khang belum sempat bereaksi ketika A Ming menghampiri. “Fei Yu ingin bicara denganku. Sebaiknya aku menemuinya.”
Usai mengatakan itu, A Ming langsung pergi.
Ting Ting berkacak pinggang. Hatinya kesal sekali. “Aku tidak mengerti mengapa A Ming kelihatan takluk sekali pada Fei Yu!”
“Mereka saudara sepupu,” kata Sen Khang.
Ting Ting mendesah. Ia melirik Meng Huan dengan tatapan tidak setuju lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
“Maafkan aku, Sen Khang,” ujar Meng Huan. “Kau mau aku minta maaf pada Fei Yu?”
“Tidak perlu jika kau tidak mau. Sudahlah. Jangan sampai orang lain mendengar hal ini.” Sen Khang menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Meng Huan mengangguk.
***
Chang Fei Yu merupakan seorang pemuda yang keras kepala dan mau menang sendiri. Ia mudah sekali marah dan tidak bisa dilawan dengan kekerasan. Rasa humornya tinggi, namun sifat pemarah dan ketusnya juga tinggi. Kali ini kemarahannya sudah mencapai ubun-ubun.
Ia langsung berkemas dan mengajak A Nan serta Siu Hung pergi. Ia tidak berpamitan kepada siapa pun, hanya menuliskan sepucuk surat singkat yang ditujukan kepada Sung Cen.
Tidak ada seorang pun yang sanggup mencegah kepergian mereka, tidak pula A Ming. Bahkan saat A Ming datang ke kamar Fei Yu untuk bicara, sepupunya itu sudah pergi. Ia hanya menemukan sepucuk surat di meja kamar Fei Yu. Ia langsung menyerahkan surat itu pada ayahnya yang saat itu tengah ada di ruang tengah bersama yang lainnya, termasuk Sen Khang dan Ouwyang Ping.
Sung Cen kesal sekali membaca surat itu.
“Fei Yu itu benar-benar keterlaluan!” makinya kesal. “Tidak tahu sopan santun!”
“Dia bertindak dalam keadaan marah, Paman.” Sen Khang menenangkan.
“Aku tahu. Hanya saja, tidak semestinya dia pergi tanpa pamit begini. Dan tidak semestinya dia membawa Siu Hung bersamanya! Siu Hung itu keponakanku dan aku sudah berjanji pada Sung Han untuk menjaganya!” Sung Cen berjalan mondar-mandir penuh kekesalan.
“Kurasa Fei Yu sebenarnya tidak bermaksud mengajaknya, Ayah. Mungkin dia sendirilah yang ingin ikut dengan Fei Yu. Ayah tahu betapa Siu Hung sangat lengket dengan Fei Yu,” kata A Ming pelan.
“Sebaiknya aku mencari mereka.” Ouwyang Ping berdiri.
“Tidak perlu,” sela Sen Khang sambil lalu. “Mereka pasti kembali ke Bukit Merak. Pasti Fei Yu mengantar Siu Hung pulang lebih dulu ke Kota Lok Yang.”
“Tapi aku tetap ingin mencari mereka,” kata Ouwyang Ping tenang.
Sen Khang menatapnya lekat-lekat. Seketika ia mengerti. Ouwyang Ping bukan hanya ingin mencari Fei Yu dan teman-temannya, melainkan juga ingin mengembara lagi. Mencari Fei Yu hanya alasan.
“Ping-er,” tegur Ouwyang Kuan.
Ouwyang Ping tersenyum pada ayahnya. “Izinkan aku, Ayah.”
Wajahnya penuh tekad, keluh Ouwyang Kuan dalam hati. Dengan terpaksa ia mengangguk, tanpa menghiraukan protes istrinya.
Sen Khang ikut berdiri. “Kalau begitu, aku ikut.”
Ouwyang Ping mengerutkan kening, namun tidak menampiknya. Kedua orangtua mereka saling berpandangan dengan penuh arti. Mereka berharap semoga kebersamaan mereka kali ini akan membuka hati Ouwyang Ping untuk menerima perhatian Sen Khang.
Sung Cen pun diam-diam menghela napas lega karena ia pun mengharapkan luka hati Ouwyang Ping dua tahun lalu bisa segera pulih dengan kehadiran Sen Khang.
__ADS_1
Ting Ting yang sebelumnya kurang paham, sekonyong-konyong tersentak. Wajahnya langsung berseri-seri. Alangkah baiknya jika kakak yang disayanginya itu berjodoh dengan Ouwyang Ping yang sementara itu sudah menjadi sahabatnya. Ia berpandangan dengan Meng Huan yang tersenyum.
Mereka tidak menyadari A Ming tampak pucat dan terguncang.