Suling Maut

Suling Maut
Perguruan Elang Merah


__ADS_3

Hutan sebelah utara Bukit Merak cukup luas. Orang dari Bukit Merak bisa menuju Perguruan Elang Merah dengan jalan menembus hutan itu. Namun selama ini kedua perguruan itu tidak pernah saling berhubungan. Bukan karena bermusuhan. Justru karena tidak adanya ketertarikan untuk saling mengenal lebih dekat.


Jauh di tengah hutan, terdapat serombongan orang yang tampak seolah sedang berkemah. Namun mereka bukan sedang berkemah, melainkan tengah bersembunyi dari kejaran musuh. Terlihat dari tenda darurat yang dibangun seadanya.


Pemimpin rombongan yang berjumlah sekitar 30 orang itu adalah seorang laki-laki dewasa yang berusia sekitar 35 tahun. Wajahnya kuyu dan tampak tua, seolah selalu memikirkan sesuatu. Ia mengenakan pakaian berwarna merah yang awalnya pasti indah dan rapi, namun kini tampak kotor dan koyak. Dia adalah Pendekar Yang, salah seorang anggota senior di Perguruan Elang Merah.


Ia dan beberapa adik seperguruannya tampak tengah mendiskusikan apa yang harus dilakukan terhadap rencana pembebasan ketua mereka. Mereka tampak tak berdaya menghadapi masalah ini. lawan-lawan terlalu kuat bagi mereka.


Diskusi mereka dikejutkan oleh teriakan anak buah yang tampak berusaha menahan kedatangan seseorang.


Pendekar Yang melompat berdiri dengan kaget, menduga yang datang adalah pihak musuh. Namun ia menyipitkan mata melihat sepasang sejoli yang berjalan dengan tenang menghampirinya. Kedua sejoli itu tampak tenang-tenang saja menghadapi acungan senjata anak buahnya.


Mereka bukan lain adalah Chien Wan dan Kui Fang yang telah tiba di sana.


Pendekar Yang tidak mengenali Chien Wan. Namun ia melihat penampilan kedua orang itu sama sekali tidak seperti penjahat-penjahat yang telah merampas perguruan mereka. Maka ia berseru, “Tahan senjata!”


Anak buahnya langsung mundur dan memberi jalan.


Chien Wan menghampiri Pendekar Yang. Bersama Kui Fang, ia merangkapkan kedua tangannya, memberi hormat dengan cara pendekar. “Pendekar Yang, bukan? Aku Ouwyang Chien Wan dan ini Nona Wu Kui Fang. Kami berdua datang sebagai utusan Pendekar Sung.”


Pendekar Yang kontan lega. Ia membalas salam itu dengan cara yang sama. “Maafkan perlakuan anak buah kami tadi. Silakan bergabung, Pendekar Ouwyang.” Ia tidak menunjukkan reaksi apa pun mendengar nama Chien Wan. Agaknya ia memang benar-benar tidak mengetahui siapa dan dari mana Chien Wan sebenarnya.


Mereka duduk di tempat semula.


“Bagaimana tanggapan Pendekar Sung atas masalah kami?” tanya Pendekar Yang tanpa basa-basi. Ia sudah putus asa untuk bisa sekadar bercakap-cakap ringan. Ia tak sabar menunggu jawaban atas surat yang dikirimnya lewat utusan.


“Pendekar Sung sedang mempersiapkan anak buahnya dan menghubungi para pendekar lain untuk membantu,” jawab Chien Wan.


Pendekar Yang dan teman-temannya langsung menghembuskan napas lega.


“Boleh aku menanyakan beberapa hal?” tanya Chien Wan.


“Silakan.”


“Apa Anda bisa menjabarkan ciri-ciri para penjahat yang merampas perguruan Anda?”

__ADS_1


Pendekar Yang terpekur. “Mereka berjumlah sekitar dua puluh orang. Bukan jumlah yang berarti mengingat anak buah perguruanku sendiri jauh lebih banyak. Namun mereka memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa. Salah satunya bahkan menguasai sebagian besar ilmu kami sendiri.”


Kening Chien Wan berkerut. “Kalau begitu, ada orang dalam terlibat?”


“Masalahnya wajah orang itu sama sekali tidak kami kenal!”


“Mereka tidak memakai topeng?” sela Kui Fang.


“Tidak sama sekali, Nona. Mereka tidak berusaha menyembunyikan muka mereka. Tampaknya mereka malah selalu memperlihatkan wajah mereka pada kami.” Pendekar Yang menggeleng. “Yang paling parah, ketua kami sendiri kalah dari mereka. Sekarang beliau dan keluarganya disandera. Aku dan beberapa orang berhasil melarikan diri. Dan kami berkumpul di sini untuk menyusun rencana penyelamatan terhadap ketua kami.”


“Kapan kejadian itu berlangsung?” tanya Chien Wan.


“Kira-kira lima hari yang lalu.”


Kui Fang menoleh. “Kakak Wan, lima hari yang lalu kita juga baru tiba di Bukit Merak.”


Chien Wan mengangguk.


Pendekar Yang mengernyit. “Maaf. Apa kalian punya kepentingan dengan orang Bukit Merak?”


“Apa hubungannya dengan...?”


“Kami curiga, penjahat yang menawan ketua kalian adalah Cheng Sam dan kawan-kawannya,” tukas Kui Fang. “Itulah sebabnya kami mendahului Pendekar Sung datang ke sini untuk memastikan.”


“Tetapi aku yakin bukan Cheng Sam!” geleng Pendekar Yang yakin.


“Kenapa?”


“Sebab kami kenal Cheng Sam!”


“Kalian kenal Cheng Sam?”


Chien Wan dan Kui Fang terkejut mendengar informasi yang tidak mereka harapkan ini. Mereka berpandangan. Perasaan heran terlukis di wajah mereka. Aneh sekali! Bukankah Bukit Merak dan Perguruan Elang Merah tidak berhubungan? Jika anggota kedua perguruan itu saling kenal, itu hal yang tidak terduga.


“Cheng Sam pernah menjadi anggota kami dua puluh dua tahun lalu.”

__ADS_1


Informasi itu semakin mengejutkan.


“Jadi Cheng Sam pernah belajar di perguruan kalian? Tetapi, bagaimana dia bisa menjadi anggota Bukit Merak?” seru Kui Fang.


“Mengenai mengapa dia bisa menjadi anggota Bukit Merak, kami tidak tahu. Yang jelas, mendiang guru kami pernah mengusirnya. Ada kejadian yang cukup memalukan yang dilakukannya ketika itu. Tentu saja pengusiran itu kami usahakan tidak sampai terdengar ke mana-mana. Bagaimana pun kami ingin menutupi kejadian memalukan itu,” kata Pendekar Yang.


“Kejadian apa?” kejar Kui Fang penasaran.


Pendekar Yang mengerutkan kening, berpikir. “Aku tidak tahu pasti. Ketika itu aku masih anak-anak, jadi kurang begitu paham. Yang jelas, masalah itu menyangkut kehormatan keluarga mendiang guru kami. Pastinya penjahat itu bukan Cheng Sam. Tidak mungkin dia mau menyakiti perguruan kami. Dia sendiri dulu adalah anggota. Dia takkan mungkin melukai saudara-saudaranya sendiri.”


Kui Fang dan Chien Wan berpandangan.


“Pendekar Yang, kenalkah Anda dengan seorang perempuan yang dipanggil Adik Lan?” tanya Chien Wan serius.


Wajah Pendekar Yang berkerut curiga. “Mengapa bertanya begitu?”


“Sebab Cheng Sam pernah menyebutkan nama itu.” Kui Fang yang menjawab.


Pendekar Yang mendesah. “Aku tidak mau membicarakannya. Itu tidak ada hubungannya dengan masalah yang kuhadapi sekarang,” elaknya dingin. “Aku menghargai bantuan kalian. Tetapi bila kalian terus bertanya mengenai aib perguruan kami, sebaiknya kalian pergi saja!”


“Kumohon, dengarkanlah dulu!” Kui Fang mendesak.


“Kui Fang, cukup.” Chien Wan menggeleng tegas pada Kui Fang.


Kui Fang menurut walau hatinya kesal.


Chien Wan menatap wajah Pendekar Yang yang menjadi tidak ramah. Lalu ia juga memandangi sekelilingnya. Tampak para anak buah Pendekar Yang berkumpul di sekitar mereka, menatap dengan ekspresi ingin tahu.


“Bila itu betul, ada kemungkinan mereka adalah Cheng Sam dan anak buahnya.”


“Sudah kukatakan itu tidak mungkin!” sergah Pendekar Yang gusar. “Aku kenal wajah Cheng Sam.”


“Tetapi Anda tidak akan mengenalinya jika dia menyamar.”


***

__ADS_1


__ADS_2