
Ouwyang Kuan dan Sui She sangat sedih dengan kepergian Ouwyang Ping. Namun mereka tidak membiarkan kesedihan itu berlarut-larut. Mereka bertekad untuk menebus waktu yang terbuang selama puluhan tahun. Mereka berdua sangat berbahagia karena akhirnya bisa bersatu kembali. Kemesraan mereka terjalin dengan hangat dan membuat semua yang melihat terharu.
Chien Wan memperhatikan mereka dengan perasaan bercampur-aduk. Hanya dalam waktu singkat nasibnya berubah. Dari seorang anak yatim piatu dan pemuda tanpa asal-usul, menjadi pewaris Lembah Nada sekaligus keponakan pemilik Wisma Bambu. Kehidupannya berubah drastis. Dari seorang pelayan menjadi seorang tuan muda. Bahkan Empat Tambur Perak mengubah panggilan mereka menjadi ‘tuan muda’.
Dengan keadaan ini semestinya ia bahagia. Namun yang dirasakannya hanyalah kehampaan. Tidak ada satu pun yang nyata kecuali kenyataan pahit bahwa gadis yang sangat dicintainya, kekasih hatinya, telah menjelma menjadi adiknya.
Chien Wan seperti mati rasa. Semua yang dilakukannya hanyalah gerakan tanpa perasaan. Ia bahkan tak pernah lagi meniup sulingnya.
Sung Cen melihat kegalauan hati Chien Wan. Ia sangat sedih, namun tak mampu menghiburnya. Selama beberapa hari ini, ia berusaha mengajak Chien Wan bicara. Namun pemuda itu selalu menghindarinya.
Keluarga Luo belum kembali ke Wisma Bambu. Mereka masih berada di Lembah Nada atas permintaan Sui She dan Ouwyang Kuan. Keduanya merasa, dengan kehadiran sahabat-sahabat Chien Wan, putra mereka itu akan lebih terhibur.
Padahal Sen Khang, Meng Huan, dan Ting Ting pun tak berdaya menghibur Chien Wan.
“Sejak peristiwa itu, Kakak Wan menjadi semakin sedih dan murung.” Ting Ting memandangi Chien Wan yang sedang berjalan menjauhi mereka dengan pandangan iba. Entah mau ke mana dia. Padahal saat itu sudah malam, sudah hampir waktu tidur.
Meng Huan menimpali, “Mungkin dia teringat akan Nona Ouwyang.”
Sen Khang menghembuskan napas. “Mungkin saja. Chien Wan sangat mencintainya.”
“Tapi sekarang kan dia sudah tahu bahwa Ping-er itu adiknya!” bantah Ting Ting dengan bibir cemberut. “Mana boleh dia mencintai adiknya seperti laki-laki mencintai perempuan?”
“Biarpun begitu, tentunya tak mudah untuk melupakan kenangan saat mereka masih saling mencintai, saat mereka belum mengetahui kenyataan yang sebenarnya,” kata Meng Huan. “Kasihan Chien Wan. Kasihan Nona Ouwyang.”
Ting Ting semakin cemberut.
Meng Huan mengerutkan kening. Dengan adanya peristiwa ini, berarti terbuka kesempatan bagi Ting Ting untuk mendekati Chien Wan. lantas bagaimana dengan dia sendiri? Dia sangat menyukai Ting Ting.
“Sudahlah,” lerai Sen Khang. “Untuk saat ini, sebaiknya kita tidak membicarakan masalah Ping-er dengan dia. Itu hanya akan menambah kesedihannya saja.”
Ting Ting dan Meng Huan mengangguk patuh.
Ketika mereka tengah berbincang-bincang, Sung Cen datang menghampiri mereka. Wajahnya tampak berkerut. Ia harus berbicara dengan Chien Wan! Ia merasa selama ini Chien Wan menjauhinya karena mempersalahkannya atas kejadian ini. Sung Cen sendiri merasa sangat bersalah. Namun apa yang harus dilakukannya untuk menebus kesalahan itu?
Sen Khang melihatnya datang dan menyapa, “Paman Sung Cen.”
__ADS_1
Ting Ting dan Meng Huan tidak ikut menyapa. Mereka agak canggung dengan pria setengah baya itu. Selama ini mereka terbiasa dengan Paman Khung. Mereka menyukai Paman Khung, namun begitu mengetahui bahwa Paman Khung ternyata hanyalah samaran dari seorang Sung Cen, mereka tidak bisa memutuskan bagaimana perasaan mereka terhadapnya.
Sung Cen maklum akan perasaan mereka. Ia tidak mempermasalahkan semua itu. Itu tidak penting baginya. Yang penting sekarang, ia mesti bicara dengan Chien Wan.
“Kalian melihat di mana Chien Wan?”
“Ya. Tadi dia menuju ke kaki bukit sebelah selatan,” jawab Sen Khang.
Sung Cen mengangguk. “Baiklah. Aku ke sana dulu.”
Sepeninggal Sung Cen, Meng Huan menghembuskan napas panjang. “Entah bagaimana perasaan Chien Wan terhadap orang itu sekarang. Selama bertahun-tahun dia telah menipu kita semua dengan menampilkan sosok Paman Khung.”
“Paman Sung Cen tidak bermaksud begitu,” bantah Ting Ting.
“Dia hanya membohongi kita dengan mengubah wajahnya. Sedangkan sifat dan kepribadiannya sepenuhnya memang miliknya sendiri. Ayahku sendiri pernah mengatakan, sejak kembali dari pensiun Paman Khung berubah. Menurutku dia sama sekali tidak mengubah siapa dirinya, hanya wajahnya saja. Tidak ada alasan mengapa kita harus membencinya. Selama ini kita menyukainya. Apa bedanya walau wajahnya berubah?” kata Sen Khang tenang.
Meng Huan mengangguk-angguk.
***
Chien Wan tidak bisa memejamkan matanya lagi sejak peristiwa itu. Ia nyaris tidak pernah tidur lagi sejak saat itu. Setiap kali ia memejamkan matanya, wajah Ouwyang Ping selalu terbayang. Wajah cantik yang begitu memelas dan penuh derita. Entah sampai kapan ia bisa melupakannya.
“Chien Wan.”
Tubuh Chien Wan menegang. Ia mengenal suara Sung Cen. Sudah lama ia tidak berbicara dengan pria itu. Ia tidak bermaksud menghindari Sung Cen, namun entah mengapa mereka tidak pernah mendapat kesempatan bicara.
“Paman.”
Mereka berpandangan.
Sung Cen mengawasi wajah pemuda yang disayanginya seperti anak sendiri itu dengan seksama. “Apa kau marah padaku?” tanyanya tanpa basa-basi.
Chien Wan menghela napas. “Tidak.”
“Lalu mengapa kau menghindariku?”
__ADS_1
“Aku tidak menghindari Paman.”
“Chien Wan.” Sung Cen mencengkeram bahu Chien Wan. “Aku tahu kau menyalahkan aku atas semua yang menimpamu dan Ping-er. Sejak awal aku ingin berterus terang tentang siapa dirimu, siapa aku, namun aku tak punya keberanian maupun kesempatan. Aku juga tidak tahu apakah bahaya yang mengancam jiwamu sejak lahir masih ada atau tidak. Aku sangat lega mendengar bahwa Istri Guru dan Hui Lun sudah tiada. Saat itu aku bermaksud mengatakan padamu tentang rahasia itu. Namun aku dikejutkan oleh kehadiran Ping-er dan kenyataan bahwa kau dan dia....”
“Itu sudah berlalu, Paman,” tukas Chien Wan. Ia melepaskan diri dari Sung Cen dan berdiri membelakanginya. Perasaannya kacau balau.
“Tidak! Itu sama sekali belum berlalu!” bantah Sung Cen keras. “Jika memang sudah berlalu, tentu kau tidak akan berdiam diri dan murung sepanjang hari! Jika memang sudah berlalu, kau pasti sudah meniup sulingmu!”
Punggung Chien Wan bergetar.
“Hatimu sakit. Kau ingin berteriak, tapi tidak bisa. Mengapa kau tidak melampiaskannya? Berteriaklah! Maki-maki aku jika itu membuat perasaanmu tenang! Tetapi jangan berdiam diri seperti ini!”
“Mengapa aku harus memaki-maki Paman?” gumam Chien Wan. “Semua ini adalah takdir. Tidak ada yang bersalah maupun yang benar di sini. Kita semua adalah korban.”
“Benar!” angguk Sung Cen geram. “Kita semua adalah korban! Ayahmu menderita, ibumu sakit jiwa, sekarang kau yang kehilangan kekasih. Aku pun kehilangan istri dan putriku! Tapi hidup harus tetap berjalan. Ingat, Chien Wan. Sekarang kau punya tanggung jawab terhadap Lembah Nada!”
Chien Wan melangkah meninggalkan Sung Cen. Ia tidak tahan lagi mendengarnya.
Sung Cen memperhatikannya dengan pedih.
Chien Wan terus melangkah dan berhenti tiba-tiba. Seperti mendapat pencerahan, mendadak dia terjaga dari sikap mengasihani diri sendiri. Benar. Yang menderita bukan hanya dia dan Ouwyang Ping. Selama bertahun-tahun ayah dan ibunya menderita. Sung Cen pun menderita. Namun mereka dapat bangkit dan menjalani hidup selanjutnya. Dirinya dan Ouwyang Ping pun pasti begitu!
Sekarang ini mereka sangat terpukul. Namun kelak, mungkin setahun atau dua tahun, mereka akan bisa mengenang kejadian hari ini dengan tersenyum. Cinta tak mudah untuk dibuang begitu saja, namun bisa diubah. Kasih asmara bisa berubah menjadi kasih persaudaraan.
Chien Wan menarik napas, lalu mulai meniup Suling Bambu Hitam dengan segenap perasaannya. Mengalunlah lagu yang luar biasa indahnya, lagu yang sudah lama sekali tidak terdengar di Lembah Nada. Lagu yang bisa membuat jiwa tergerak dan terpesona. Lagu yang mampu membuat burung-burung berhenti berkicau, kupu-kupu menghentikan kepak sayapnya, dan mendekat untuk meresapi irama nan memukau.
Musik para dewa terdengar kembali di Lembah Nada!
Mata Sung Cen berkaca-kaca.
Semua orang di Lembah Nada terdiam. Mereka menghentikan kegiatan apa pun yang sedang mereka lakukan hanya untuk mendengarkan lagu itu. Selama lagu itu mengalun, suasana Lembah Nada sunyi senyap. Hanya angin yang berhembus berirama seolah menjadi musik latar yang selaras dengan irama lagu.
Ketika lagu berakhir, kehidupan pun kembali.
Chien Wan menurunkan Suling Bambu Hitam dari mulutnya. Perasaannya menjadi lebih tenang. Namun pandangannya menerawang jauh. Entah bagaimana, ia tidak menyesali semua peristiwa yang telah terjadi. Ia menyadari itu adalah takdirnya. Cepat atau lambat, ia pasti akan mengetahui kebenarannya. Dan syukurlah itu terjadi sebelum semuanya sangat terlambat.
__ADS_1
Jati dirinya telah terkuak. Ia adalah Ouwyang Chien Wan, pewaris Lembah Nada. Kedudukan yang harus dibayarnya dengan cintanya.
Entah kapan ia akan bisa melupakan kedukaannya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, kepedihan pasti akan bisa terobati. Dan semua kisah yang telah terjadi akan menjadi kenangan.