
Sen Khang dan Ouwyang Ping pergi keesokkan harinya dilepas oleh orangtua mereka masing-masing. Tak lama berselang, Ouwyang Kuan dan Sui She pergi dari Wisma Bambu untuk kembali ke Lembah Nada. Sung Cen dan putrinya tetap tinggal di Wisma Bambu atas permintaan Tuan dan Nyonya Luo. Mereka memenuhi permintaan itu karena memang mereka masih kerasan di sana.
Ting Ting merasa sangat kesepian. Sekarang keadaannya kembali seperti semula saat mereka semua belum datang. Ia hanya bisa mengobrol dengan ayah-ibunya, atau dengan Meng Huan. A Ming terlalu pendiam untuk diajak berbincang-bincang, apalagi gadis itu juga terkesan menghindarinya. Sebenarnya ia ingin sekali ikut mengembara dengan kakaknya dan Ouwyang Ping. Namun ia tahu orangtuanya tidak akan mengizinkan.
Ting Ting kerap kali melamun sendirian di dalam Paviliun Taman Belakang. Ia kelihatan sangat lesu dan tak bersemangat. Semenjak ditinggalkan teman-temannya. Ia memang selalu termenung.
Banyak hal yang dilamunkannya, namun yang paling sering adalah mengenai Chien Wan. Perpisahannya dengan Chien Wan dulu sangat menyakitkan baginya. Ia tidak pernah menceritakan kepada siapa pun tentang pertengkarannya ketika itu. Ia juga sudah berusaha melupakannya dan memikirkan hal lain. Namun entah mengapa, akhir-akhir ini pertengkaran mereka selalu terbayang.
Ia mendesah dan menelungkupkan wajahnya di meja.
Tanpa disadarinya, orangtuanya memperhatikannya dari ambang pintu.
Tuan dan Nyonya Luo sedih melihat kemurungan putri kesayangan mereka itu. Mereka mengerti Ting Ting kesepian. Dan mereka bukannya tidak tahu bahwa sesungguhnya putri mereka itu masih menyimpan cinta yang demikian besar terhadap Chien Wan. Mereka berpandangan, tidak tahu lagi harus mengatakan apa.
Mereka melangkah masuk.
“Ting Ting.”
Ting Ting mengangkat mukanya dan menatap ayah-ibunya. Mereka duduk di dekat Ting Ting. Nyonya Luo membelai rambut putrinya dengan sayang.
“Mengapa kau melamun, Nak?” tanya Nyonya Luo halus.
“Aku kesepian, Ibu.”
“Ayah mengerti,” sela Tuan Luo. “Tetapi kalau Ayah perhatikan, kemurunganmu bukan hanya terjadi setelah mereka pergi, namun juga sebelum mereka datang.”
Ting Ting diam saja.
“Kalau Ayah tidak salah duga, kemurunganmu ini pasti berhubungan dengan Chien Wan!”
Seketika wajah Ting Ting merona, namun ia tidak membantahnya.
Tuan dan Nyonya Luo berpandangan.
“Ting Ting, apa kau memang sungguh mencintai Chien Wan?” tanya Nyonya Luo prihatin.
Walau merasa malu karena yang bertanya itu adalah ibunya—di hadapan ayahnya pula, Ting Ting mengangguk. “Ya.”
“Sudah tidak bisa diubah lagi?”
“Iya.”
Tuan Luo menyambung, “Apa kau yakin akan bahagia jika menikah dengannya?”
Ting Ting menatap ayahnya seolah pria itu sudah hilang akal. “Tentu saja, Ayah!” jawabnya mantap. Tak ada keraguan sedikit pun dalam suaranya.
“Bagaimana dengan perasaan Chien Wan sendiri? Apakah kau memikirkan juga perasaannya? Kau yakin dia akan bahagia bila menikah denganmu?” tanya Tuan Luo lagi.
Ting Ting mengernyitkan alis mendengar pertanyaan itu. Ia tidak pernah memikirkannya, namun ia tidak begitu peduli. “Ayah, aku tidak tahu. Yang pasti, aku akan bahagia bersamanya!” katanya polos.
__ADS_1
Tuan Luo menghela napas putus asa. “Tidakkah kausadari bahwa cintamu itu cinta buta, Ting Ting?”
Perkataan ayahnya membuat Ting Ting marah. “Ayah! Ayah tidak pernah mau mengerti aku! Mengapa Ayah selalu saja memojokkan aku? Ayah memang tidak setuju aku menikah dengannya, kan?” tuduhnya.
“Jangan salah paham, Ting Ting!” bujuk Tuan Luo. “Aku sudah memikirkannya berulang-ulang. Kau putriku. Aku ingin kau bahagia. Jika kau merasa akan bahagia bila menikah dengan Chien Wan, tentu saja aku akan merestuimu—walau dengan berat hati.”
Kemarahan Ting Ting mereda. Ia menatap ayahnya dengan penuh harap.
“Aku akan membicarakannya dengan bibimu. Mungkin bibimu bisa membujuk Chien Wan dalam hal ini,” janji Tuan Luo.
Nyonya Luo menatap suaminya dengan terharu.
Wajah Ting Ting berseri-seri. “Sungguh?”
Tuan Luo mengangguk.
Ting Ting melempar dirinya ke dalam pelukan ayahnya. “Oh, Ayah! Terima kasih!”
Ayah dan ibunya menggeleng-gelengkan kepala mereka melihat kegembiraan Ting Ting. Mereka bertekad untuk terus mempertahankan kebahagiaan Ting Ting apa pun yang terjadi.
Percakapan mereka begitu serius sehingga mereka tidak menyadari bahwa Meng Huan sejak tadi berdiri di balik jendela, mendengarkan pembicaraan mereka dengan perasaan bercampur-aduk. Wajahnya tampak sedih. Rupanya tak ada harapan lagi untuknya.
Janji Tuan Luo memberikan perubahan pada sikap Ting Ting. Kini wajah gadis itu tampak cerah. Sorot matanya cemerlang penuh harapan. Ia sangat gembira karena ia yakin bahwa bibinya pasti bisa meyakinkan Chien Wan. ia juga yakin bahwa hanya dirinyalah yang bisa membahagiakan Chien Wan.
***
Ouwyang Ping mengangkat bahu. “Mencari Fei Yu hanya alasan saja. Aku ingin mengembara, mengikuti ke mana kakiku melangkah.”
Ungkapan ini membuat Sen Khang menyunggingkan senyum lucu. “Kalau begitu aku akan mengikuti ke mana kakimu melangkah juga.”
Ouwyang Ping tidak berkomentar. Ia menghembuskan napas panjang. Lalu melangkah menelusuri jalan setapak. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia tidak keberatan Sen Khang ikut dengannya.
Sen Khang berjalan dengan santai di sampingnya. Wajahnya tampak berseri-seri. Ia selalu kelihatan riang gembira, seolah tak punya persoalan hidup sama sekali—walau sesungguhnya tidak demikian. Bahkan pada saat bersedih pun, wajahnya selalu tersenyum.
Perjalanan bersama Sen Khang berbeda sekali dari apa yang dialaminya bersama Chien Wan dua tahun lalu. Chien Wan pendiam, tak banyak bicara. Dalam perjalanan yang mereka lakukan dulu, selalu Ouwyang Ping yang memulai pembicaraan. Tetapi sekarang keadaannya berbalik. Sen Khang pandai sekali memancing senyum dari bibirnya dengan gurauan-gurauannya yang segar. Sen Khang memiliki karakter yang mengesankan. Di satu sisi ia berwibawa, bijaksana, dan mantap. Di sisi lain ia juga bisa bersikap nakal dan senang menggoda.
Mereka sudah beberapa hari meninggalkan Wisma Bambu dan tiba di daerah kekuasaan Partai Kupu-Kupu.
“Partai Kupu-Kupu adalah nama yang cukup terkenal di Dunia Persilatan. Aku pernah bertemu dengan ketuanya sewaktu aku masih anak-anak dulu. Beliau kira-kira seusia ayahku—“
“Ssst!” desis Ouwyang Ping memotong ucapan Sen Khang. Sen Khang langsung diam dan segera bersiaga.
Sesaat kemudian, beberapa orang berlompatan dari atas pohon sambil menebarkan selendang berwarna-warni. Kibaran selendang-selendang itu menimbulkan pemandangan yang amat mengagumkan. Sosok-sosok berwarna-warna berkelebat kian kemari. Mereka laksana kupu-kupu beraneka warna yang bergerak untuk memusingkan lawan.
“Rupanya mereka ingin melumpuhkan kita,” kata Sen Khang.
Ouwyang Ping menekuk kakinya separuh berlutut di tanah.
Sen Khang langsung paham apa yang hendak dilakukan Ouwyang Ping, segera saja ia bersila dan mengatur tenaga dalamnya.
__ADS_1
Tangan Ouwyang Ping bergerak cepat ke arah harpanya. Jemarinya yang lentik mulai memetik dawai harpa dengan pengerahan tenaga dalam. Terdengarlah suara denting yang memekakkan telinga.
Suara yang luar biasa itu membuat para penyerang mereka panik. Satu persatu mereka berhenti bergerak sambil menutupi telinga. Begitu keras dan memekakkannya suara itu sampai-sampai Sen Khang yang berilmu tinggi pun merasa kesakitan.
Setelah semua penyerang itu berhenti bergerak, Ouwyang Ping berhenti.
Sen Khang melompat dan menghampiri mereka. “Mengapa kalian menyerang kami?” tanyanya tegas.
“Kami berkewajiban menyerang penyusup!”
Sen Khang mengernyitkan alisnya dengan heran. Ia memandang Ouwyang Ping yang menunduk sambil mengusap harpanya. Tingkah laku gadis itu tampak biasa saja. Ia tidak tampak tegang maupun kelelahan, padahal ia baru saja mengerahkan tenaga yang tidak sedikit.
“Kami bukan penyusup,” ucap Sen Khang tenang. Ia memberi hormat. “Namaku Luo Sen Khang, dari Wisma Bambu. Dan ini Nona Ouwyang dari Lembah Nada.”
“Lembah Nada?” Perempuan bergaun hijau yang tampaknya merupakan pemimpin mereka segera bereaksi.
“Benar.”
“Kakak Lan!”
Perempuan bergaun hijau itu menoleh dan mereka semua segera bersikap hormat menyambut kedatangan si pemilik suara. Seorang gadis yang cantik yang mengenakan pakaian berwarna ungu dengan selendang sutra yang berjuntai di bahu dan lengannya. Gadis itu memakai tusuk rambut berbentuk kupu-kupu yang terbuat dari batu mulia berwarna ungu. Dia Wu Kui Fang.
“Nona Wu!” sapa mereka.
“Apa yang terjadi?” tanya Kui Fang.
“Kami sedang berjaga dan mereka memasuki wilayah kita begitu saja. Kami kira mereka penyusup dari golongan hitam. Ternyata mereka mengaku berasal dari Wisma Bambu dan Lembah Nada,” lapor perempuan bergaun hijau yang dipanggil Kakak Lan itu.
“Lembah Nada?” Kui Fang mengalihkan perhatiannya pada Sen Khang dan Ouwyang Ping. Ia menatap mereka dengan pandangan tertarik. Benar-benar pasangan yang serasi, pujinya dalam hati. Pandangannya bertumbuk pada gadis berbusana warna emas yang membawa harpa itu.
Sen Khang dan Ouwyang Ping juga balas menatap gadis berpakaian ungu itu. Mereka tidak tahu siapa gadis belia itu, namun agaknya jabatan gadis itu jelas lebih tinggi dibanding penyerang mereka. Kalau tidak, mana mungkin mereka bersikap sehormat itu padanya.
Kui Fang terus memandangi harpa itu dan tiba-tiba ia tersenyum, membuat wajahnya terlihat begitu mempesona. “Harpa Kencana. Sungguh merupakan kehormatan bagi kami karena kau datang ke tempat ini,” katanya tenang. Kedua tangan mungilnya dirangkapkan di depan dada, memberi salam.
Ouwyang Ping membalas salam itu dengan cara yang sama. “Aku tersanjung kau mengenalku.”
Kui Fang mengangguk. “Namamu terkenal di Dunia Persilatan. Alangkah dangkalnya pengetahuanku jika tidak mengetahui nama besarmu.”
Kakak Lan dan anak buahnya merasa malu karena telah menyerang orang yang selalu dikagumi ketua mereka. Maka mereka serempak memberi hormat. “Kami mohon maaf karena telah begitu ceroboh. Mohon jangan diambil hati, Pendekar Berdua.”
Sen Khang tertawa. “Tidak apa. Ini ternyata hanya salah paham semata.”
Kui Fang mengalihkan perhatian. “Dan kau pastilah tuan muda dari Wisma Bambu, Luo Sen Khang. Terimalah hormatku.”
“Jangan begitu formal, Nona. Kami jadi malu.” Sen Khang menggeleng.
“Namaku Wu Kui Fang. Ketua Wu Tai Hung adalah ayahku.” Kui Fang memperkenalkan dirinya. “Aku harap kalian mau singgah dan tinggal di tempat kami untuk beberapa saat. Ayah dan ibuku akan senang sekali menerima kalian.”
Sen Khang dan Ouwyang Ping langsung setuju. Mereka mengikuti gadis itu menuju ke pemukiman Partai Kupu-Kupu.
__ADS_1