Suling Maut

Suling Maut
Selamat


__ADS_3

Kui Fang meronta-ronta sekuat tenaga, berusaha melepaskan ikatan pada tangannya. Saat ini ia berada di sebuah ruangan yang tampaknya merupakan sebuah kuil tua. Ia duduk di lantai sementara tangan dan kakinya diikat sehingga ia tak bisa meloloskan diri. Ia sangat cemas. Ia khawatir akan keselamatan Chien Wan maupun dirinya sendiri. Entah di mana Chien Wan. Mengapa tidak datang menolongnya?


Hao Sing Yat masuk sambil tertawa.


“Halo, Nona Cantik!” sapanya menggelegar.


Kui Fang memandangnya dengan sengit dan geram luar biasa. Ia tidak merasa takut, melainkan marah luar biasa.


“Lepaskan aku, Pengecut!” bentaknya. “Suling Maut takkan mengampunimu!”


Hao Sing Yat mendengus tertawa. “Kau takkan kulepaskan. Kau terlalu cantik dan aku ingin memilikimu,” katanya sambil menjulurkan tangannya untuk membelai pipi Kui Fang yang mulus.


Kui Fang segera memalingkan mukanya. “Kurang ajar!” jeritnya.


“Hao Sing Yat tidak gentar. “Hm... kau memang sangat cantik. Menggemaskan,” rayunya. “Jangan khawatirkan Suling Maut, Manis. Sekarang dia pasti sudah mati di tangan kakakku!”


Kui Fang terbelalak dengan marah bercampur ngeri. Perasaan takut mulai melanda hatinya karena Hao Sing Yat berjongkok di hadapannya dan mulai hendak membuka pakaiannya.


“Jangan!” Kui Fang berusaha menjauh. Ia mencoba melompat menjauh namun sulit baginya untuk bergerak karena kaki dan tangannya terikat.


Hao Sing Yat tertawa-tawa sambil terus mendekati dan menggodanya.


Untunglah pada saat yang kritis bagi Kui Fang itu, pintu terbuka. Muncullah Kai Tung Lok yang tampak kesal.


“Sing Yat!”


Hao Sing Yat mendengus. “Ada apa? Pergilah, jangan ganggu aku!” usirnya kasar.


“Sing Yat!” bentak Kai Tung Lok. “Aku mau bicara. Urusan begini sebaiknya nanti saja!”


Dengan enggan Hao Sing Yat bangkit. “Tunggulah, Sayang. Aku akan segera kembali,” katanya sambil mengedipkan sebelah matanya. Lalu ia pergi bersama Kai Tung Lok.


Kui Fang memandangi kepergian mereka dengan geram. Ia merasa ngeri, juga jijik dan takut. “Mana Kakak Wan?” gumamnya. Ia takut sekali memikirkan bahwa telah terjadi sesuatu pada Chien Wan.


Di luar, Kai Tung Lok memarahi Hao Sing Yat yang ternyata adalah adik seperguruannya.


“Kau gila! Kau biarkan aku bertarung sendirian dengan Suling Maut. Kau sendiri enak-enakan dengan gadis itu!” bentak Kai Tung Lok marah.


“Jangan gusar. Nanti kau juga kebagian,” kata Hao Sing Yat santai. “Sudah kaubereskan Suling Maut?”


“Bereskan apa? Cambukku saja putus olehnya! Dia itu terlalu hebat buatku!”


“Apa?!” seru Hao Sing Yat. “Jadi dia masih hidup?”


“Tentu saja!”


“Gawat!” seru Hao Sing Yat. “Apa dia mengejarmu?” tanyanya ngeri sambil menengok kiri-kanan.


“Ya. Tapi aku berhasil menyesatkannya. Dia kehilangan jejak.”


“Huh!” Hao Sing Yat menghembuskan napas lega.


“Apa yang kita lakukan sekarang?”


“Ya, diam saja. Sebaiknya kita nikmati saja yang sudah kita dapatkan,” seringai Hao Sing Yat. Ia menunjuk pintu kuil boborok tempat dia menyekap Kui Fang.

__ADS_1


Kai Tung Lok merengut. “Gadis itu putri ketua Partai Kupu-Kupu!”


“Lalu?”


“Kau mau berurusan dengan Partai Kupu-Kupu kalau mereka tahu kita menghina putri mereka?” bentak Kai Tung Lok.


“Tidak akan ada yang tahu kalau kita....” Hao Sing Yat membuat gerakan menebas leher.


Kai Tung Lok mengangguk-angguk. “Ya, mereka tak bisa berbuat apa-apa kalau tidak ada bukti,” gumamnya.


Mereka berdua memasuki kuil.


Wajah Kui Fang pucat pasi melihat mereka mendatanginya dengan wajah menyeringai. “Mau apa kalian!”


“Kau tahu kami mau apa, Nona cantik!”


“Tidaaak!!”


***


Apa yang tidak diketahui oleh Hao Sing Yat dan Kai Tung Lok adalah bahwa percakapan mereka didengar oleh dua orang pria. Mereka bukan lain adalah Lo Hian dan Hauw Lam yang beberapa waktu yang lalu ditugaskan mencari Chien Wan.


Mereka berdua sudah menelusuri Daratan Tionggoan untuk mencari Chien Wan namun tidak mendapat kabar apa pun. Namun beberapa waktu lalu mereka mendengar semua yang telah terjadi di Wisma Bambu dan merasa gembira karena akhirnya nama baik Chien Wan sudah bersih lagi. Sejak awal mereka tahu Chien Wan tidak mungkin melakukan semua itu.


Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang ke Lembah Nada. Dan memutuskan untuk beristirahat sejenak di kuil tua di tepi jalan saat mereka mendengar keributan di luar kuil. Mereka memutuskan untuk bersembunyi dan melihat apa yang terjadi.


Betapa terkejutnya mereka melihat beberapa orang kasar tengah menyeret seorang gadis muda memasuki kuil dan mengikat kaki dan tangan gadis itu. Mereka ingin membebaskan gadis itu namun membatalkan niatnya karena mendengar Suling Maut disebut-sebut.


Mereka mendengarkan percakapan antara kedua pria jahat itu. Dan jeritan gadis itu tanda bagi mereka untuk segera menyelamatkan gadis itu.


Kai Tung Lok dan Hao Sing Yat yang tidak siap terjungkal oleh tendangan itu.


“Siapa...?”


“Manusia keparat!” bentak Lo Hian.


Hauw Lam segera menolong Kui Fang dan membuka ikatan di tangan dan kaki gadis itu dengan cepat dan membangunkannya.


“Siapa kalian?!” bentak Kai Tung Lok. Ia agak gentar melihat penampilan kedua orang itu. Melihat pakaian yang mereka kenakan serta tambur yang terikat di punggung mereka, ia sudah menduga bahwa mereka adalah orang-orang Lembah Nada.


“Kami dari Lembah Nada!” jawab Lo Hian berwibawa.


Hauw Lam melindungi Kui Fang di belakangnya. “Manusia bejat! Beraninya mengganggu gadis baik-baik!”


“Bedebah!”


Hao Sing Yat melompat menyerang Lo Hian dan Kai Tung Lok menghadapi Hauw Lam.


Kui Fang menyingkir ke pojok ruangan. Ia menoleh ke pintu dan melihat anak buah Hao Sing Yat menyerbu masuk. Mereka langsung terjun ke tengah pertempuran. Kui Fang pun menarik selendangnya dan ikut bertarung.


Ruangan yang tidak terlalu luas membuat gerakan mereka terbatas. Tanpa aba-aba, mereka semua berlari keluar ruangan dan melanjutkan pertempuran di sana.


Lo Hian dan Hauw Lam adalah anggota senior Lembah Nada. Mereka memiliki ilmu silat yang tinggi dan jarang banding. Hao Sing Yat jelas bukan apa-apa dibanding mereka. Namun Kai Tung Lok jauh lebih hebat dari adik seperguruannya. Terbukti ia cukup mampu bertahan menghadapi Chien Wan beberapa waktu lalu.


Hauw Lam mulai terdesak.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara melengking yang menyakitkan mengalun di seluruh penjuru daerah. Bunyi itu mengguncangkan mereka semua yang tengah bertarung di sana. Semua langsung mengerahkan tenaga dalam untuk bertahan terhadap bunyi itu.


Chien Wan muncul dengan garang.


Kui Fang melihat dan berseru gembira, “Kakak Wan!” Ia berlari menghampiri Chien Wan, masih sambil menutupi telinganya.


Chien Wan menyerahkan sumbat khusus pada Kui Fang dan meneruskan tiupannya yang maut.


Irama melengking yang menyeramkan menyambar pendengaran mereka semua. Mereka tidak tahan lagi dan langsung melarikan diri sambil terus berusaha memasukkan ujung jari sedalam-dalamnya ke lubang telinga untuk menahan serangan irama melengking itu.


Chien Wan menghentikan permainan sulingnya dan mengejar kedua penjahat itu. Namun saat ia sudah hampir berhasil menangkap mereka, muncul sesosok bayangan yang melemparrkan bom asap dan menyambar baju kedua penjahat itu, lalu mencelat pergi.


Chien Wan mengibaskan tangannya untuk mengusir asap yang menyakiti matanya. Saat penglihatannya normal kembali, sudah tidak ada siapa-siapa.


“Kakak Wan!” Kui Fang mencabut sumbat telinga dan langsung menghampiri Chien Wan dengan penuh rasa lega.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Chien Wan cemas. Pandangan matanya meneliti Kui Fang dengan dalam. Ia sangat mengkhawatirkan Kui Fang, takut terjadi sesuatu pada diri gadis itu. Entah apa yang akan dilakukannya bila ia sampai menemukan gadis itu terluka atau celaka.


Kui Fang tersenyum menenangkan. “Tidak, Kak. Untung ada mereka berdua yang menolongku.” Ia menunjuk kedua pria yang menolongnya itu. Dan terperangah kaget melihat kedua pria berpakaian perak itu langsung menghampiri Chien Wan dengan gembira dan memberi hormat.


“Tuan Wan!”


Chien Wan terbelalak. “Kakak Lo, Kakak Hauw, mengapa kalian ada di sini?”


“Kakekmu menugaskan kami mencarimu. Tetapi ternyata kami mendapat kabar bahwa Kakak Fu dan Adik Kam menemukanmu lebih dulu. Maka kami memutuskan untuk sedikit mencari informasi,” jelas Lo Hian.


“Kami sudah mendengar apa yang diusahakan Pendekar Sung dan Tuan Chang untuk membersihkan nama baikmu, Tuan Wan. Kami sangat senang dan memutuskan untuk kembali ke Lembah Nada,” tambah Hauw Lam.


Kui Fang memandangi mereka bergantian. “Ternyata Paman berdua kenal Kakak Wan,” katanya. Ia memberi hormat. “Terima kasih atas pertolongan kalian padaku.”


Lo Hian dan Hauw Lam balas menghormat. “Kami hanya kebetulan saja berada di sini. Jangan berterima kasih pada kami, Nona,” kata Hauw Lam.


Chien Wan memandang Kui Fang. “Mereka adalah dua dari Empat Tambur Perak, penjaga Lembah Nada,” katanya. “Kakak Lo, Kakak Hauw, nona ini adalah Wu Kui Fang, putri ketua Partai Kupu-Kupu.”


“Senang berkenalan dengan Nona Wu!”


Kui Fang tersenyum. “Aku juga senang berkenalan dengan Paman berdua.”


Mereka masuk ke dalam kuil untuk meneruskan percakapan.


“Kau mau ke mana, Tuan Wan?” tanya Hauw Lam.


“Aku hendak pergi ke Bukit Merak. Aku ingin menemui Paman Chang dan Paman Sung untuk mendiskusikan beberapa hal dengan mereka.”


Lo Hian dan Hauw Lam berpandangan dan sebuah gagasan muncul dalam benak mereka. “Bolehkah kami berdua ikut dengan kalian? Kami bisa membantu kalian. Lagi pula, sekarang di Lembah Nada ada Kakak Fu dan Kakak Kam. Kami bisa bebas tugas,” usul Hauw Lam.


Chien Wan mengerutkan kening.


“Siapa tahu dengan bantuan kami, perjalanan kalian akan lebih lancar,” tambah Lo Hian.


“Mereka benar, Kakak Wan,” timpal Kui Fang.


Chien Wan mengangguk. “Baiklah.”


***

__ADS_1


__ADS_2