
Ouwyang Ping sudah berhasil ditenangkan, namun hati Chien Wan masih gelisah. Bagaimana caranya agar ia bisa meyakinkan Paman Khung? Pria tua itu sangat keras kepala. Paman Khung bahkan tak pernah mau menemuinya lagi. Sikapnya sangat jelas. Ia tidak sudi merestui Chien Wan dan Ouwyang Ping!
Chien Wan, yang tak pernah pandai bicara, tak tahu bagaimana caranya meyakinkan Paman Khung.
Hal ini entah bagaimana menyebar ke telinga Tuan dan Nyonya Luo. Mereka sangat prihatin dengan semua ini. Sebenarnya mereka lebih condong untuk memihak Paman Khung. Bagaimana pun mereka juga menyimpan ketidaksukaan yang sama terhadap Lembah Nada. Namun melihat kemurungan Chien Wan, mereka tidak tega.
Tuan Luo memanggil Chien Wan ke ruang kerjanya. Di samping ingin menanyakan masalah perselisihan Chien Wan dengan Paman Khung, ia juga ingin menanyakan informasi yang didapat Chien Wan tentang adiknya.
Chien Wan menjelaskan informasi yang didapatkannya dari Tuan Ouwyang Cu dan Kam Sien dengan tenang. Saat dipanggil Tuan Luo, ia sudah tahu akan arah pembicaraan mereka nantinya.
“Adikku gila karena patah hati?” gumam Tuan Luo kecewa. Ia mengharapkan sesuatu yang lebih dramatis. Hanya karena patah hati bisa gila dan kehilangan ingatan... tak mungkin adiknya selemah itu! Lagi pula ia juga sudah menduga bahwa di antara Sui She dan Ouwyang Kuan pasti pernah terjalin hubungan asmara.
“Begitulah informasi yang saya dapatkan, Tuan Besar.”
“Dari siapa kau dapat informasi itu?”
“Sebagian dari Kakak Kam Sien, salah satu dari Empat Tambur Perak. Sebagian lagi dari Guru.”
“Guru? Maksudmu, Tuan Ouwyang Cu?”
“Ya. Ternyata sejak awal Guru sudah menduga bahwa Tuan Besar membawa saya ke Lembah Nada untuk mencari informasi tentang Nona Sui She.”
Tuan Luo terperanjat. Ia pernah mendengar bahwa Ouwyang Cu adalah datuk sakti Dunia Persilatan yang terkenal karena kemampuan kungfu serta ketajaman pikirannya. Tak disangka maksud mereka yang tersembunyi bisa dengan mudah tertebak olehnya. Namun....
“Dia bisa tahu, apakah kau mengatakan sesuatu padanya?” tanya Tuan Luo curiga.
“Tidak, Tuan.”
Chien Wan jujur. Itu sifat yang paling disukai Tuan Luo dari Chien Wan. Jika ia mengatakan tidak, maka berarti memang tidak. Jika Chien Wan mengatakan bahwa adiknya gila karena patah hati berarti memang itulah yang terjadi, kecuali jika orang Lembah Nada membohonginya. Untuk itu Tuan Luo tak bisa mengatakan apa-apa lagi.
“Ya sudah kalau begitu,” gumam Tuan Luo menyerah.
“Bagaimana Nona Sui She, Tuan?”
Tuan Luo tersenyum, senang karena ternyata Chien Wan masih punya perhatian terhadap Sui She walau tidak mengenalnya. “Dua tahun terakhir ini dia sangat tenang. Syukurlah. Aku senang dia tidak pernah mengamuk dan meracau lagi.”
Chien Wan mengangguk lega.
Tuan Luo mengerutkan kening, menimbang-nimbang. “Chien Wan, aku mendengar kau berselisih paham dengan Paman Khung. Apa betul begitu?”
Chien Wan tidak kaget sama sekali. Ia menduga Sen Khang yang memberitahu ayahnya. Ia mengangguk.
“Jangan mengambil hati setiap ucapan Paman Khung. Kau sendiri tahu bahwa dia memang sangat kaku.” Tuan Luo menenangkan.
“Ya, Tuan.”
“Sejak dulu dia sangat aneh. Dia sudah mengabdi di Wisma Bambu sejak aku masih belia. Dia pendiam, tapi sangat rajin dan setia. Seingatku sejak dulu ia sudah terlihat tua. Anehnya sampai sekarang wajahnya tidak banyak berubah.” Tuan Luo tertawa sambil menggeleng. “Dia sempat berpamitan hendak pensiun kira-kira setahun sebelum kelahiran Sen Khang. Aku mengizinkannya dan memberikan pondok tua tempatnya tinggal hingga sekarang—sebelumnya ia tinggal di Wisma Bambu, sama seperti pelayan lain. Tetapi kira-kira dua tahun kemudian, kira-kira sepuluh bulan setelah Sen Khang lahir, dia datang kembali dan mengatakan ingin kembali bekerja. Dan sejak itu dia semakin aneh saja. Dia tidak mau kembali tinggal di Wisma Bambu, melainkan pulang pergi dari pondoknya ke sini. Dia tidak mau bicara panjang lebar. Bahkan tak pernah bicara jika tidak perlu.”
Chien Wan diam saja mendengarnya. Ia tidak pernah mendengar hal ini.
“Yang kumaksud adalah, setiap tindakan Paman Khung serba tidak terduga. Mungkin saja waktu kalian bertengkar, ia sedang dalam kondisi ‘tak terduga’ itu. Nanti juga dia akan kembali sadar.”
Sedikit banyak, perkataan Tuan Luo menenangkan hati Chien Wan. Ia pun tersenyum kecil.
__ADS_1
***
Ternyata apa yang dikatakan Tuan Luo memang benar. Sekitar seminggu setelah perselisihan itu, Paman Khung kembali seperti semula. Ia tidak lagi menghindar bila Chien Wan mengunjunginya. Ia tidak lagi menampakkan sikap ketus terhadap Ouwyang Ping. Tidak ramah, namun juga tidak ketus. Biasa-biasa saja. Namun ia memang seperti itu. Tidak ada seorang pun yang heran melihatnya.
Chien Wan sangat lega. Ia pun tidak lagi memikirkan perselisihan itu. Kini Paman Khung tak lagi menjadi pikirannya. Justru Ting Ting-lah sekarang yang membuatnya khawatir. Gadis itu memang tidak lagi terang-terangan menunjukkan perasaannya, namun harapan itu tetap ada. Terutama saat ia mendapat kabar bahwa Paman Khung tidak menyukai Ouwyang Ping. Harapan gadis itu makin lama makin besar.
Keadaan ini membuat Chien Wan khawatir. Sungguh amat khawatir.
Untunglah beberapa hari kemudian, Wisma Bambu kedatangan tamu. Fu Ming dan Lo Hian datang untuk menjemput Chien Wan dan Ouwyang Ping atas perintah Ouwyang Kuan. Sudah hampir empat bulan sejak kepergian kedua anak muda itu dari Lembah Nada. Belum pernah Ouwyang Kuan berpisah dengan putrinya selama itu. Ia sangat rindu.
Kedatangan Fu Ming dan Lo Hian disambut baik oleh Tuan Luo. Maksud dan tujuan mereka juga dapat dipahami olehnya. Maka walau hatinya berat melepas Chien Wan pergi, terpaksa ia merelakannya.
Sen Khang, Ting Ting, dan Meng Huan juga tidak bisa berbuat banyak. Mereka tahu tak ada gunanya menahan Chien Wan di Wisma Bambu.
Sebelum pergi, Chien Wan mengunjungi Paman Khung di pondoknya. Paman Khung tengah duduk di beranda depan.
“Paman....”
“Empat Tambur Perak datang menjemputmu, kan?” tukas Paman khung tanpa memandang Chien Wan.
Dalam hati Chien Wan agak heran karena Paman Khung mengetahuinya. “Ya.”
“Ya sudah. Sebaiknya kau berangkat sekarang.”
“Aku mau minta maaf, Paman. Maafkan aku atas yang waktu itu,” ujar Chien Wan pelan.
“Tidak ada seorang pun yang bisa mengubah pendirianmu, kan? Tidak juga aku!” dengus Paman Khung.
“Maaf, Paman.”
Chien Wan terperangah. “Paman....”
“Berjanjilah!”
“Ya. Aku berjanji,” ucap Chien Wan lemah.
Paman Khung melepaskan cekalannya. “Baiklah. Kita berpisah di sini. Aku tak akan mengantarmu. Tidak lama lagi kita akan bertemu lagi.”
Suara Paman Khung begitu yakin sehingga Chien Wan tak dapat membantahnya.
Setelah berpamitan kepada semuanya, Chien Wan dan Ouwyang Ping pergi diiringi Fu Ming dan Lo Hian. Sen Khang, Ting Ting, dan Meng Huan mengantarkan mereka sampai ke luar Hutan Bambu. Mereka terus melambai-lambaikan tangan dengan sedih.
Ouwyang Ping menoleh memandang Chien Wan. “Kak, kau sudah berpamitan pada Paman Khung?”
Chien Wan mengangguk.
“Mengapa tidak mengajakku? Aku juga ingin berpamitan padanya!” Ouwyang Ping cemberut.
Kening Chien Wan berkerut. “Sebaiknya tidak.”
Ouwyang Ping sudah akan membantah lagi jika saja ia tidak lantas teringat bahwa Paman Khung tidak menyukainya dan tidak merestuinya dengan Chien Wan. Semua ini sungguh membuatnya bingung. Baru kali ini ia mendapati seseorang tidak menyukainya. Ia tidak pernah mendapatkan kesulitan seperti ini sebelumnya. Semua orang menyukainya. Bahkan Ting Ting yang tadinya mencemburuinya pun kini berteman dengannya. Lalu bagaimana mungkin Paman Khung bisa begitu membencinya tanpa mengenalnya?
Melihat wajah Ouwyang ping yang risau, Chien Wan menepuk bahunya sekilas. “Sudah kubilang kau jangan mengambil hati perbuatan Paman Khung. Dia memang begitu.”
__ADS_1
Fu Ming mendekat. “Nona Ping-er, apa selama ini kau baik-baik saja?” tanyanya. Semua anggota Empat Tambur Perak memuja Ouwyang Ping dan memperlakukannya sebagai kesayangan mereka. Mereka sering merasa khawatir memikirkan gadis belia tanpa pengalaman itu di Dunia Persilatan. Walau mereka tahu ada Chien Wan yang melindunginya, mereka tetap tak dapat menghilangkan kecemasan itu dari hati mereka.
Ouwyang Ping tertawa manis. “Tentu aku baik-baik saja, Paman Fu!”
“Ayahmu sangat khawatir,” tambah Lo Hian.
“Apakah Ayah dan Kakek baik-baik saja?”
“Selain mencemaskan Nona, mereka tak kurang suatu apa pun,” jawab Lo Hian tertawa.
“Aku tak sabar lagi ingin bertemu Ayah!” Ouwyang Ping berkata gembira. Selama ini ia tidak menyadari betapa rindunya dia pada ayahnya. Ia gembira sekali karena sebentar lagi ia akan dapat melihat ayahnya kembali, serta Lembah Nada yang dicintainya.
Chien Wan tak mengatakan apa-apa lagi. Ia juga senang dapat kembali ke Lembah Nada. Entah mengapa, meski ia lebih dahulu tinggal di Wisma Bambu, ia selalu merasa Lembah Nada-lah rumahnya yang sesungguhnya. Kemudian ia melirik Ouwyang Ping. Mungkin karena dirinya....
***
Ouwyang Kuan menatap secarik kertas lusuh di tangannya. Keningnya berkerut dan berusaha memahami makna yang tersirat di balik pesan singkat ‘perhatikan pusat kehidupan Chien Wan!’
Kertas itu jatuh ke tangannya pada saat ia tengah pergi ke Kuil Abadi, sebuah kuil umat Buddha yang terletak beberapa jam jauhnya dari Lembah Nada. Tak banyak yang tahu bahwa sejak muda, pada setiap akhir tahun, ia suka berkunjung ke Kuil Abadi yang dipimpin oleh seorang biksu bernama Biksu Hung Chi. Ia suka berada di sana untuk bersembahyang dan menenangkan hatinya yang galau.
Semasa muda ia datang ke kuil ditemani oleh saudara seperguruannya, salah satu murid ayahnya yang sangat dekat dengannya. Namun setelah saudaranya itu meninggal dunia belasan tahun lalu, ia selalu pergi seorang diri.
Biksu Hung Chi sangat mengenalnya. Sang biksu berusia kurang lebih 60 tahun. Biksu itulah yang mendirikan Kuil Abadi sekitar 40 tahun yang lalu. Ketika itu ia masih muda, namun sudah memiliki kebijaksanaan yang mengesankan. Ia meninggalkan biara tempatnya dibesarkan sebagai biksu sejak lahir untuk mendirikan kuil di tempat terpencil untuk menenangkan jiwa para pengembara.
Ia melihat Ouwyang Kuan untuk pertama kalinya saat pemuda itu berusia dua belas tahun. Ia mempunyai kesan mendalam terhadap pemuda itu. Ia melihat Ouwyang Kuan sebagai pemuda yang sangat lembut dan baik hati namun berkarakter agak lemah. Sebagai putra tunggal pewaris daerah kekuasaan yang termasyur, orangtuanya berharap terlalu banyak darinya.
Saat Ouwyang Kuan berusia dua puluh tahun, Biksu Hung Chi melihat beban dan kedukaan mendalam dalam diri pemuda itu. Dan untuk pertama kalinya ia datang seorang diri.
Tak lama kemudian, Biksu Hung Chi mendengar bahwa Ouwyang Kuan menikah dan memiliki seorang anak. Namun tak pernah sekali pun Ouwyang Kuan mengajak istri dan anaknya ke Kuil Abadi. Ia tetap datang seorang diri.
Biksu Hung Chi tak pernah mengusiknya dan tak pernah berkeinginan untuk itu. Ia sudah sangat senang jika keberadaan kuil ini memberikan kedamaian bagi Ouwyang Kuan.
Ouwyang Kuan memang merasakan kedamaian di tempat itu. Itulah sebabnya ia terus-menerus datang. Tak ada seorang pun di Lembah Nada yang tahu kebiasaannya ini, dan itu membuatnya tenang karena ia memang tak ingin siapa pun mengikutinya. Termasuk juga putrinya. Ia hanya mengatakan bahwa ia mempunyai pekerjaan yang harus dikerjakannya dan kemudian menghilang selama sehari setiap akhir tahun. Setelah itu ia kembali ke Lembah Nada dengan jiwa lebih damai.
Hari itu ia kembali ke Kuil Abadi dan bersembahyang di sana. Ia begitu khusuk hingga tak menyadari seseorang mengawasinya. Setelah selesai, ia menemui Biksu Hung Chi untuk memberi salam. Kemudian ia merenung sebentar di taman Kuil Abadi. Setelah selesai, ia memberikan sumbangan dan meninggalkan tempat itu.
Biasanya tak ada sesuatu pun yang terjadi. Namun hari itu ia merasa diikuti oleh seseorang. Ia langsung waspada dan berbalik. Dan dugaannya benar. Seorang pria berpakaian serba hitam menyerangnya dengan gerakan kungfu yang lihay.
Ouwyang Kuan mengelak dan menangkis dengan tenang. Ia sendiri bukan seorang yang lemah. Ilmu silatnya sangat luar biasa karena sebagai pewaris Lembah Nada ia wajib melatih ilmu-ilmu sakti khas Lembah Nada.
Beberapa saat lamanya mereka bertarung. Pertarungan itu seru dan kedudukan mereka seimbang selama beberapa saat. Namun segera terlihat bahwa kungfu Ouwyang Kuan jauh lebih unggul sehingga orang berbaju hitam itu terdesak. Ouwyang Kuan terus mendesak tanpa maksud melukai. Ia hanya ingin tahu identitas penyerangnya.
“Siapa kau? Mengapa menyerangku?” bentak Ouwyang Kuan tajam.
Orang itu tidak menjawab. Namun secara kilat ia melemparkan sesuatu ke arah samping Ouwyang Kuan. Hampir saja mengenai sisi kepala Ouwyang Kuan jika saja ia tidak mengelak. Saat Ouwyang Kuan mengelak itu dipergunakan orang berbaju hitam itu untuk mencelat kabur.
Ouwyang kuan tidak mengejar. Ia merasa bingung. Sebenarnya orang itu dari mana? Kungfunya lumayan hebat dan tampak asing. Ia berbalik, bermaksud meneliti senjata rahasia yang digunakan orang itu. Ia mendekati benda itu yang kini menancap pada sebatang pohon. Benda itu berupa senjata rahasia berbentuk panah berbulu ungu.
Ini senjata rahasia orang Bukit Merak! Ouwyang Kuan terkejut sekali.
Ia semakin heran melihat secarik kertas kecil yang dilipat menjadi sangat kecil dan tertancap pada senjata rahasia itu. Dengan penasaran ia mencabut senjata rahasia itu dan membuka lipatan kertas.
Ada tulisan di dalamnya. Bunyinya singkat saja: perhatikan pusat kehidupan Chien Wan!
__ADS_1
Ouwyang Kuan membawa kertas beserta senjata rahasia itu ke Lembah Nada. Ia tidak memberitahukan siapa pun mengenai kejadian ini. Namun hal itu memicunya untuk segera mengutus anggota Empat Tambur Perak untuk memanggil pulang Chien Wan dan Ouwyang Ping.