Suling Maut

Suling Maut
Amarah Chi Meng Huan


__ADS_3

“Menikah?!”


Suara Chi Meng Huan menggelegar membuat tamunya mengkeret ketakutan.


“Benar, Tuan Muda,” jawab sang tamu dengan suara agak gemetar. Ia tahu betapa kejamnya Meng Huan saat sedang marah.


“Kapan katamu?” sambar Cheng Sam.


“Hari ini upacara pernikahannya berlangsung. Setidaknya, itulah yang tertera dalam undangannya,” jawab si tamu.


“Ting Ting dan Fei Yu menikah!” Meng Huan berjalan mondar-mandir dengan gerakan cepat dan gelisah. “Tidak bisa dibiarkan! Aku harus menghentikannya! Ting Ting milikku! Tidak ada seorang pun yang boleh merebutnya dariku!”


“Sabarlah, Anakku.” Cheng Sam menghampiri dan menahannya.


“Sabar!” bentak Meng Huan. Ia berbalik sehingga kini wajahnya tepat berhadapan dengan Cheng Sam. “Ini semua gara-gara kau! Kalau kau bisa menahan mereka waktu itu, tentu rahasiaku tidak akan terbongkar secepat itu!”


“Tenanglah, Meng Huan!” Cheng Sam mengguncang bahu anaknya. “Nasi sudah menjadi bubur. Kau tidak bisa menyalahkan aku dan anak buah kita atas semua kejadian itu.”


“Lalu apa aku harus diam saja mendengar Ting Ting-ku direbut pria lain? Orang yang paling kubenci di dunia selain Ouwyang Chien Wan!” Meng Huan berteriak garang hingga air liurnya berhamburan.


Cheng Sam menggelengkan kepalanya. Ia berusaha sabar menghadapi kemarahan Meng Huan.


“Kita harus melanjutkan rencana kita semula. Bukankah kita bertujuan untuk menguasai Dunia Persilatan? Kita jalankan dulu rencana kita itu. Setelah itu barulah kita merebut Ting Ting!” tekan Cheng Sam.


“Menguasai Dunia Persilatan!” sergah Meng Huan gusar. “Itu saja yang ada dalam pikiranmu! Mengapa kau tidak memikirkan kebahagiaanku? Sejak dulu selalu saja seperti itu! Kau memang tidak pernah peduli padaku!” makinya.


“Jangan keliru, Anakku!” Cheng Sam kembali mengguncangkan bahu Meng Huan. “Aku ingin menguasai Dunia Persilatan. Tapi itu semua demi kau! Kau harus menjadi penguasa yang hebat dan disegani oleh semua orang. Dengan kekuasaan di dalam genggamanmu, kau bisa melakukan apa saja! Termasuk memiliki semua perempuan yang kauinginkan!”


“Aku hanya mau Ting Ting!”


“Kau bisa memilikinya nanti!” kata Cheng Sam. “Sekarang biarkan saja perempuan itu menikah dengan Chang Fei Yu. Bagaimana pun kelak dia akan jadi janda karena kita akan menghabisi suaminya! Setelah itu, dia dan anak kalian bisa kaumiliki!”


Napas Meng Huan tersengal-sengal. Namun kali ini ia bisa mencerna ucapan ayahnya dengan baik. Betul juga, pikirnya. Bagaimana pun sekarang ini di dalam rahim Ting Ting terdapat darah dagingnya. Ia telah menanamkan miliknya pada Ting Ting. Gadis itu terikat padanya untuk selamanya!


Cheng Sam menarik napas lega melihat putranya sudah tenang kembali. Lalu ia menoleh pada tamu mereka yang sedang menanti dengan tegang. Ia mengangguk dan berkata, “Baiklah. Kau boleh pergi. Jalankan saja rencana semula. Jangan lupa terus menghubungi kami!”


“Aku permisi dulu, Tuan.”


Tamu itu pergi.


Cheng Sam menunggu sampai tamu itu menghilang, barulah ia menegur Meng Huan. Tegurannya lembut. “Anakku, sebaiknya lain kali kau tidak mengumbar kemarahanmu di depan anak buah kita. Tidak baik bagi reputasimu sendiri kalau kau tidak bisa menahan dirimu.”

__ADS_1


Meng Huan mendengus.


“Bagaimana pun kita beruntung memiliki anak buah yang setia seperti dia. Apalagi dia orang kepercayaan Wu Tai Hung, ketua Partai Kupu-Kupu. Berkat dialah kita bisa menggunakan Hutan Bunga ini sebagai tempat persembunyian kita.”


Hutan Bunga adalah bagian dari Partai Kupu-Kupu. Tak semua orang sanggup menembus hutan itu. Sebab selain lebat dan penuh semak belukar, di sana juga banyak terdapat jebakan yang sukar ditangani. Hanya anggota senior Partai Kupu-Kupu saja yang mengetahui rahasia memunahkan jebakan.


Bahkan Ketua Wu sendiri pun jarang sekali menginjakkan kaki di hutan itu. Hampir tak ada anggota partai yang mau pergi ke hutan itu. Padahal hutan itu sangat indah. Namanya saja Hutan Bunga.


“Sekarang yang paling penting, kita harus mengawasi A Ming. Jangan sampai dia membocorkan keberadaan kita pada orang lain!”


Meng Huan menggeram, “Perempuan itu!”


“Ingat. Dia sedang mengandung anakmu. Betapa pun muak dan sebalnya kau padanya, anak dalam kandungannya adalah keturunan kita. Kau harus memperlakukannya dengan baik,” peringat Cheng Sam serius.


“Huh!”


“Meng Huan!”


“Ya, ya! Baiklah!” sergah Meng Huan jemu.


Mereka tinggal di dalam sebuah bangunan yang terbuat dari kayu dan bambu yang berlubang-lubang. Kamar Cheng Sam bersebelahan dengan kamar yang ditempati Meng Huan dan A Ming. Saat itu, A Ming tengah berada di dalam kamar. Berkat lubang-lubang kecil yang terdapat di dinding itu, suara pembicaraan menjadi tidak teredam.


Alangkah hancurnya hati A Ming. Sejak ia memutuskan untuk kembali pada Meng Huan, ia sebenarnya sudah menyadari bahwa Meng Huan tidak tulus terhadapnya. Tetapi ia berharap semoga saja dirinya salah. Dan demi bayinya, ia benar-benar berdoa memohon agar Meng Huan mau meninggalkan komplotannya yang jahat itu.


Saat mendengarkan percakapan itu, tahulah dia bahwa doa dan harapannya sia-sia belaka. Meng Huan takkan berubah sedikit pun. Bahkan semua perkataan dan perbuatannya pada A Ming selama ini bohong semua!


A Ming menangis dalam hati.


***


Sudah tiga hari Fei Yu dan Ting Ting menjadi suami-istri. Selama itu pulalah wajah mereka tak henti-hentinya berseri-seri. Mereka selalu berdua dan berbicara dengan berbisik-bisik seolah di dunia ini hanya ada mereka berdua. Selama itu, cinta telah tumbuh dalam hati Ting Ting untuk suaminya.


Para tamu yang diundang telah kembali ke tempat mereka masing-masing, termasuk Wen Chiang dari Partai Kupu-Kupu. Jumlah para undangan memang tidak banyak, namun kehadiran mereka telah membuat pernikahan itu menjadi lebih meriah.


Tak ada lagi pembicaraan mengenai bayi yang dikandung Ting Ting. Seolah telah tercapai kata sepakat bahwa bayi itu merupakan anak Ting Ting dengan Fei Yu. Tak ada lagi pembicaraan mengenai Chi Meng Huan, terutama di depan sepasang pengantin baru itu.


Namun diam-diam, Chien Wan dan Sen Khang sering mengadakan pembicaraan mengenai masalah itu. Mereka menduga-duga di mana gerangan Chi Meng Huan berada sekarang ini. Apa yang akan dilakukannya? Rencana apa yang sedang disusunnya untuk menguasai Dunia Persilatan seperti yang selama ini selalu digembar-gemborkan oleh mereka.


Dan apa sebenarnya posisi Chi Meng Huan dalam rombongan Cheng Sam? Pimpinan-kah? Atau hanya anak buah yang kebetulan anak Cheng Sam sehingga perkataannya dipatuhi. Namun bila diingat lagi oleh mereka, pada waktu itu bahkan Cheng Sam pun merasa segan padanya.


“Aku tidak mengerti mengapa dia bisa berubah seperti itu!” gerutu Sen Khang. “Padahal kita sudah bergaul bersamanya selama bertahun-tahun. Siapa yang menyangka dia ternyata menyimpan kebencian yang mendalam terhadap kita semua!”

__ADS_1


“Kepadaku,” tukas Chien Wan murung.


Sen Khang menggeleng-geleng.


“Dia termakan oleh kebencian yang sedikit demi sedikit menggerogoti hatinya sehingga sekarang dia tidak punya hati nurani. Kebenciannya kepadamu hanyalah pemicu. Sifatnya sebenarnya memang jahat,” katanya. “Ayahku salah menilainya. Kita semua salah menilainya.”


“Hanya Paman Sung yang tidak menyukainya.”


“Eh?”


Chien Wan menceritakan bahwa Sung Cen yang pada waktu itu masih menyamar sebagai Paman Khung sempat mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap Meng Huan. Namun ketika Chien Wan bertanya mengapa, Sung Cen mengalihkan pembicaraan.


“Mungkin Paman Sung bisa menilai karakternya karena ia lebih banyak mengamati daripada bicara,” kata Chien Wan mengakhiri ceritanya.


Sen Khang mengangguk muram. “Dan aku penilai karakter yang buruk karena aku lebih banyak bicara daripada mengamati,” sesalnya. Ia teringat kesulitan yang ditimbulkannya pada diri Chien Wan karena kekerasan hatinya yang yakin bahwa Chien Wan bersalah.


“Lupakanlah,” kata Chien Wan.


Sen Khang menghela napas. “Sekarang Ting Ting sudah menikah dengan Fei Yu. Beban di hatiku tentang nasibnya dan anaknya sudah terangkat dari pundakku. Sekarang aku bisa berkonsentrasi dengan usaha membuat Meng Huan mempertanggungjawabkan perbuatannya.”


“Aku akan mencari kabar keberadaannya sementara aku pergi ke Partai Kupu-Kupu,” kata Chien Wan.


Senyum Sen Khang merekah. “Aha! Rupanya kau merindukan gadis itu, ya?”


Chien Wan tidak menjawab.


“Tak kusangka ada juga gadis yang bisa merebut hatimu dengan demikian dalam. Seingatku dulu, bahkan Ping-er pun tidak bisa membuatmu mencurahkan seluruh dirimu seperti ini,” goda Sen Khang.


Chien Wan menarik napas. “Ping-er,” gumamnya.


“Mungkin juga dahulu secara tidak sadar kau tahu dia adikmu sehingga kau tidak ingin memperlakukannya dengan demikian mesra.”


“Memangnya sekarang aku bagaimana terhadap Kui Fang?” Mau tidak mau Chien Wan penasaran dengan perkataan Sen Khang sebab seingatnya dia tidak berubah.


“Sekarang kau jauh lebih mesra. Ke mana pun kau pergi, selalu mengajak Kui Fang bersamamu. Kau tidak tenang bila Kui Fang tidak di sampingmu. Sekarang kau baru berpisah darinya selama beberapa hari, namun sudah ribut ingin menyusulnya. Sedangkan dulu, kebanyakan Ping-er lah yang mengikutimu ketimbang kau yang mengajaknya.” Sen Khang berucap serius.


Chien Wan merenungkan ucapan Sen Khang. Bila dipikir-pikir Sen Khang betul. Dulu Ouwyang Ping-lah yang selalu mengikutinya, bukan dia yang mengajaknya. Bahkan saat pertama kali bertemu pun, selalu Ouwyang Ping yang berinisiatif mendekatinya.


Sen Khang tertawa melihat ekspresi bingung sahabatnya.


***

__ADS_1


__ADS_2