Suling Maut

Suling Maut
Derita Luo Ting Ting


__ADS_3

Karena merasa tidak enak, satu per satu para pendekar itu berpamitan dan pergi meninggalkan Wisma Bambu. Mereka tidak peduli walau hari sudah sore dan sebentar lagi tentu keadaan akan gelap. Mereka tidak enak berada di Wisma Bambu dan menghadapi keluarga Ouwyang serta Sen Khang sendiri. Yang jelas, berita ini pasti akan tersebar. Semua orang Dunia Persilatan akan tahu bahwa Suling Maut tidak bersalah! Bahwa semua kejadian ini bukan Suling Maut yang melakukannya. Suling Maut tidak bertanggung jawab untuk apa pun juga. Ia dijebak dan difitnah oleh orang yang mencoba menghancurkan nama baiknya.


Mereka berketetapan untuk mencari siapa pelaku yang sebenarnya untuk menebus kesalahan mereka terhadap Suling Maut.


Orang terakhir yang berpamitan adalah Pendekar Fu. Sesungguhnya ia enggan ikut pulang karena masih ingin membicarakan sesuatu dengan Pendekar Sung. Namun, ia merasa tidak enak sebagai orang luar. Pasti masih banyak yang harus mereka bicarakan tanpa melibatkan orang luar. Maka ia pun pergi.


Meng Huan melirik Sen Khang yang masih membisu. Ia mengambil alih dan mempersilakan semua orang yang masih tersisa untuk masuk ke dalam ruang tamu.


Tidak banyak yang tersisa: Ouwyang Kuan dan istrinya, Ouwyang Ping, Kui Fang, Tuan Chang dan Fei Yu, Pendekar Sung, Sam Hui, Wen Chiang, dan A Nan. Mereka duduk di ruang tamu sambil diam membisu. Masing-masing dengan pikirannya sendiri.


Ouwyang Kuan dan istrinya sedih bercampur lega. Mereka sedih karena peristiwa yang menimpa Wisma Bambu, namun lega karena ternyata sekarang putra mereka sudah bersih dari tuduhan. Setidaknya hampir. Sen Khang belum mengucapkan sepatah kata pun sejak tadi. Mereka khawatir Sen Khang belum mampu menerima kenyataan bahwa keyakinan yang dipeliharanya selama ini keliru.


Tak ada seorang pun mengucapkan apa-apa. Mereka semua diam membisu.


Diam-diam, Tuan Chang dan Pendekar Sung berpandangan. Mereka cemas kalau-kalau semua yang mereka lakukan hari ini sia-sia saja. O ya, para pendekar itu memang berhasil diyakinkan. Namun orang yang paling ingin mereka yakinkan adalah Sen Khang. Bagaimana kalau Sen Khang tetap berkeras pada keyakinannya semula bahwa Chien Wan bersalah?


Kui Fang terus menatap Sen Khang. Mengapa dia belum juga mengatakan apa-apa? Mengapa dia terus membisu? Apakah dia masih saja tidak percaya padahal mereka semua sudah berusaha menjelaskan semuanya sampai berbusa-busa?


Meng Huan meninggalkan ruangan itu karena khawatir akan Ting Ting. Sejak tadi tak ada seorang pun yang ingat untuk menengok Ting Ting karena perhatian mereka terlalu terfokus pada kejadian barusan. Ting Ting hanya ditemani seorang pelayan yang tentu tidak berdaya jika Ting Ting berniat melakukan sesuatu.


Sen Khang menelan ludah. Ia berdiri dan melangkah ke hadapan Ouwyang Kuan.


“Paman, aku....”


“Celaka!” Meng Huan muncul sambil terengah-engah.


“Ada apa?” Sen Khang menoleh tajam.


“Ting Ting pingsan!”


“Apa?”


Serentak mereka semua berlari mengikuti Meng Huan menuju kamar Ting Ting.


***Ting Ting berbaring di pembaringannya. Wajah cantiknya pucat sekali. Ia tampak begitu kurus dan menyedihkan. Cahayanya lenyap seiring berlalunya waktu. Ia nyaris tak pernah mau tersenyum lagi. Usaha apa pun yang dilakukan Meng Huan untuk membuatnya ceria agaknya tak berguna.


Sen Khang menyerbu masuk ke kamar dan langsung menghampiri pembaringan adiknya. Ia meraih dan meremas jemari Ting Ting yang kurus.


Semua orang terkejut melihatnya. Terutama Fei Yu.


Mustahil! Fei Yu terhuyung hingga harus berpegangan pada pintu. Inikah Ting Ting yang dicintainya? Inikah Ting Ting yang dulu begitu cantik dan bercahaya itu? Ting Ting yang selalu disayangi dan dirindukannya! Ia menatap lekat-lekat wajah pucat itu dan merasakan sesuatu berkembang dalam jiwanya. Ini Ting Ting! Bagaimana pun keadaannya ini tetap Ting Ting. Dan ia tetap menyayanginya.


Mereka diam membisu beberapa lama menunggu Ting Ting sadar. Cukup lama Ting Ting pingsan sebelum akhirnya ia sadar.


Perlahan-lahan, mata Ting Ting membuka. “Kakak....”


Sen Khang cepat menahan ketika Ting Ting mencoba bangun. “Jangan bangun dulu, kau baru saja pingsan,” cegahnya.


Ting Ting meringis sambil memijit-mijit keningnya.


Diam-diam Pendekar Sung meminta semua orang pergi dari sana sebelum Ting Ting menyadari kehadiran mereka. Ia tidak ingin Ting Ting melihat mereka dan semakin terpukul. Semua menurut, kecuali Fei Yu. Pemuda itu agak enggan, namun mau tak mau ia mengikuti yang lain.


“Kau tak apa-apa?” tanya Sen Khang lembut.


Ting Ting memejamkan mata. “Aku pusing, Kak.”


Sen Khang terpaku. “Apa kau sering pusing?”


Ting Ting mengangguk. “Dan perutku juga mual,” katanya lemas.

__ADS_1


Sen Khang menelan ludah. Jantungnya memukul bertalu-talu. Ia sangat takut kalau-kalau terjadi sesuatu yang akan mempermalukan adiknya lagi. Keringat dingin mulai mengalir di tengkuknya.


Pendekar Sung kebetulan mengerti sedikit ilmu pengobatan. Ia menawarkan diri memeriksa Ting Ting. Sen Khang mengiyakan penuh rasa terima kasih.


Pendekar Sung duduk di kursi dekat pembaringan. Diperiksanya nadi di pergelangan tangan Ting Ting. Dirasakannya denyut nadi gadis itu agak menguat. Lalu ditatapnya wajah Ting Ting yang pucat dengan sangat cemas.


“Belakangan ini, kau sering mual dan pusing?”


Ting Ting mengangguk.


“Dan... kau juga terlambat...,” gumam Pendekar Sung. Ia agak canggung menanyakan hal itu.


Ting Ting terbelalak. Ia menatap Pendekar Sung dengan heran. Wajahnya bersemu merah. Namun tak urung ia mengangguk juga.


Pendekar Sung menghembuskan napas. Ia melirik Sen Khang dan menggeleng muram.


Meng Huan seketika mengerti. “Maksud Anda, Ting Ting hamil?” tanyanya tanpa berpikir lagi saking kagetnya.


Brang!


Wajah Ting Ting seperti ditampar rasanya. Ia tak sanggup bicara apa-apa.


Sen Khang mengepalkan tinjunya. Kecemasannya telah menjadi kenyataan. Ia baru saja mengetahui kejadian yang membuatnya harus berpikir ulang tentang tuduhannya kepada sahabatnya. Kesedihannya belum lagi hilang akibat kematian orangtuanya. Kini cobaannya semakin berat karena adiknya mengandung anak haram!


Pendekar Sung menghela napas. Ia menepuk sepintas bahu Sen Khang. Lalu ia melangkah keluar.


Ting Ting tak bisa menahan tangis lagi. Ia sangat terpukul. Ia menangis tersedu-sedu sampai seluruh tubuhnya terguncang-guncang. Sambil menangis ia meratap, “Aku ingin mati saja! Aku tidak mau anak ini! Tidak!”


Jeritan ini menyadarkan Sen Khang dari keterpanaannya. Ia mengerjapkan matanya melihat Ting Ting tengah menangis, menjerit, dan memukuli perutnya sendiri!


“Ting Ting, jangan!” Sen Khang mendekat dan menahan tangan adiknya.


“Biar! Biar kubunuh anak ini!” teriak Ting Ting sambil meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari cekalan kakaknya.


Ting Ting diam seketika. Wajahnya sembab dan berlinang air mata. Sorot matanya mengandung rasa tidak percaya. Selama ini kakaknya tidak pernah membentaknya. Mengapa dia justru membentaknya pada saat ia tengah menderita siksaan batin begini? Betapa teganya kakaknya!


Ia pun menangis kembali dengan begitu memilukan.


Sen Khang menyesali bentakannya tadi. Dengan lembut ia memeluk adiknya.


“Ting Ting, jangan putus asa,” hiburnya. “Kita akan menyelesaikan semua masalah.”


“Menyelesaikan bagaimana?” tangis Ting Ting kalut. “Orang yang menghamiliku adalah pembunuh orangtua kita!”


Sen Khang terpaku.


“Aku benci Kakak Wan!” jerit Ting Ting nelangsa.


Meng Huan mendekat. Ia membisu sejak tadi, namun kini ia tampak seperti orang yang berketetapan. “Ting Ting, aku... aku akan menikahimu,” katanya dengan suara gemetar.


Ting Ting dan Sen Khang terpana.


“Meng Huan...,” gumam Sen Khang.


“Aku ingin membahagiakan Ting Ting. Aku yang akan menjadi ayah dari bayi yang dikandung Ting Ting. Kalian semua tahu perasaanku. Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan Ting Ting!” kata Meng Huan penuh kesungguhan.


“Kakak Huan...,” isak Ting Ting pilu. “Kau sungguh baik... tetapi aku mengandung anak haram. Jangan berkorban untukku....”


Meng Huan menggeleng. “Ini bukan pengorbanan!” bantahnya cepat. “Aku selalu ingin kau bahagia. Mengenai anak itu, aku sama sekali tak keberatan. Dia anakmu, dia akan menjadi anakku juga!”

__ADS_1


Sen Khang merasa sangat terharu. Ia menghargai ketulusan Meng Huan, namun ia juga tidak ingin Meng Huan berkorban sejauh itu demi adiknya dan keluarganya. Permintaan Meng Huan akan dipikirkannya baik-baik, namun bukan sekarang. Saat ini ia masih harus menyelidiki sesuatu.


“Ting Ting, aku tahu ini berat bagimu. Aku juga berat mendengarnya. Tetapi aku ingin kau coba mengingat,” kata Sen Khang serius.


Ting Ting menatap kakaknya dengan memelas. “Apa, Kak?”


“Bagaimana kejadiannya? Maksudku, sebelum Chien Wan....”


Ting Ting menunduk sedih. “Aku tak mengerti mengapa semua ini terjadi. Hal terakhir yang kuingat adalah betapa aku bahagia. Selanjutnya yang terjadi....”


“Bisa kau ceritakan bagaimana awal mulanya?” desak Sen Khang lembut.


Ting Ting menghela napas penuh isakan. Ia mulai bercerita terbata-bata. “Aku... aku sedang membaca di Paviliun Taman Belakang. Saat itu dia mendadak datang setelah lama pergi. Ketika itu aku sedang makan buah plum. Aku menawarinya dan dia mau. Dia mencicipinya. Lalu....” Ia tidak melanjutkan kata-katanya karena hatinya sedih sekali.


Kata-kata Ting Ting membuat Sen Khang terperanjat. Teringat olehnya segala macam peristiwa yang dialaminya bersama Chien Wan.


“Ting Ting, ceritakan peristiwa itu secara lengkap!” suruhnya dengan suara tiba-tiba tegas. “Apa yang dikatakannya setelah dia mencicipi buah itu? Apakah dia mengatakan sesuatu?”


Ting Ting heran namun tak berani membantah. “Dia mencicipi buah yang kuberikan padanya. Tetapi rupanya aku mengambilkan yang masih belum masak. Dia meringis dan aku tanya mengapa. Dia bilang rasanya masam. Lalu kutawarkan yang baru. Saat itulah dia... menyerangku.”


Wajah Sen Khang berubah tegang.


“Kakak?” Ting Ting heran melihat perubahan paras Sen Khang.


Meng Huan tidak mengerti. “Ada apa, Sen Khang?”


“Oh!” Sen Khang memejamkan matanya dengan pedih. “Seandainya saja kau menceritakannya sejak awal....”


“Mengapa, Kak? Apa yang terjadi?” seru Ting Ting gemetar, merasakan firasat buruk.


Sen Khang membuka matanya. Ditatapnya adiknya itu dengan penuh penyesalan. “Ting Ting, apa kau lupa? Pertama kali Chien Wan datang ke sini, ia sakit dan mesti minum obat yang sangat pahit. Tetapi dia sama sekali tidak merasakan pahitnya obat itu. Lalu Ayah memeriksa lidahnya dan mengatakan kepada kita semua bahwa indera pengecap Chien Wan tidak berfungsi....” Ia menghentikan kata-katanya untuk melihat reaksi Ting Ting.


Ting Ting ternganga. Wajahnya yang sudah pucat tampak semakin pucat.


Meng Huan pun tampak kaget. Ia tidak mengetahui keanehan pada indera pengecap Chien Wan sebab tidak ada seorang pun yang pernah membahasnya.


“Lalu... kau ingat waktu Paman A Sam membawakan kita manisan dan Chien Wan malah menyerahkan bagiannya untukmu. Dia bilang percuma saja bila dia memakannya sebab baginya semua makanan terasa hambar?” lanjut Sen Khang.


Ting Ting menelan ludahnya dengan perasaan kacau.


“Jadi mana mungkin dia bisa merasakan masamnya buah?”


“Jadi... jadi... bukan Kakak Wan yang... yang....” Ting Ting tergagap-gagap. Tubuhnya menggigil hebat. Pukulan baru menghantam jiwanya. Tadi ia sudah sangat terpukul saat mengetahui dirinya mengandung bayi haram. Namun ia masih bisa bertahan karena bagaimana pun anak itu bagian dari Chien Wan—yang dulu pernah mengisi hatinya. Tetapi kini setelah ia mendengar kata-kata kakaknya, ia tidak terima!


Meng Huan langsung bersiaga melihat ekspresi Ting Ting.


Sen Khang memalingkan muka, tak mau melihat paras adiknya. Penderitaan yang terlukis di wajah Ting Ting menambah beban di hatinya.


“Tidaaaaakkk!!!” Ting Ting melompat dari tempat tidur.


“Ting Ting!” seru Meng Huan.


Sen Khang lebih dahulu bertindak dan dengan sigap menangkap tubuh adiknya yang melewatinya. Secepat kilat ia melayangkan totokan pada jalan darah Ting Ting hingga adiknya itu terkulai tidak sadarkan diri. Diangkatnya tubuh gadis itu ke atas pembaringan.


“Jaga dia!” perintahnya pada Meng Huan. Lalu ia berlalu meninggalkan kamar itu.


Sen Khang berjalan menuju ruang depan. Kepedihan hatinya tidak terkira, namun ia juga harus bersikap ksatria dan mengakui kesalahannya. Kini sudah tidak ada alasan baginya untuk terus mencurigai dan membenci Chien Wan. Sudah tidak sepantasnya ia membenci keluarga Ouwyang. Penyesalan melanda dadanya menyadari betapa kasar sikapnya terhadap paman dan bibinya.


Sebenarnya bisa saja dia menutup matanya dan terus menyalahkan Chien Wan. Bahkan diam-diam hatinya tergoda untuk terus mempercayai bahwa Chien Wan-lah yang telah menodai Ting Ting, supaya ia bisa menuntut Chien Wan agar mengawini adiknya itu.

__ADS_1


Tetapi bagaimana pun, ia tidak bisa mengingkari hati nuraninya. Chien Wan tidak bersalah! Dia telah menderita oleh fitnahan dan kebencian yang salah alamat. Sen Khang tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa dirinyalah yang keliru. Ia tidak bisa menutup mata atas sahabatnya demi kehormatan adiknya. Itu tidak adil!


***


__ADS_2