Suling Maut

Suling Maut
Kembali ke Wisma Bambu


__ADS_3

Chien Wan tengah bersama dengan Kui Fang di dekat pondok tempat gadis itu menginap bersama Ouwyang Ping dan Siu Hung. Mereka tengah mendiskusikan tujuan mereka setelah ini.


“Aku ingin ikut denganmu ke Wisma Bambu, Kakak Wan.”


Chien Wan menghela napas. Masalahnya ia dan Kui Fang hanya mengatakan akan menghadiri pertemuan para pendekar dan tidak merencanakan akan ke Wisma Bambu. Mereka tidak mengatakan apa-apa pada Ketua dan Nyonya Wu. Ia agak khawatir bila tidak meminta izin terlebih dahulu.


“Kau tidak mau mengajakku?” tanya Kui Fang sambil cemberut.


“Bukan begitu.”


“Karena kita belum meminta izin pada orangtuaku, ya?” Kui Fang tersenyum.


Chien Wan mengangguk.


Kui Fang tertawa lembut. “Kakak Wan, kau pikir aku ini masih anak kecil yang harus senantiasa meminta izin dari orangtuaku ke mana pun aku pergi?”


“Bagaimana pun mereka pasti akan mencemaskanmu.”


“Kakak Wan yang baik,” senyum Kui Fang. Dengan hangat ia merebahkan kepalanya di lengan Chien Wan. “Kau tidak perlu khawatir. Apalagi kita pergi ke Wisma Bambu hanya untuk menghadiri peringatan setahun kematian paman dan bibimu. Pasti ayah dan ibuku memahaminya.”


Chien Wan tidak bisa mengelak lagi. Sesungguhnya ia pun berat berpisah dengan Kui Fang. Ia tidak mau mengantarkan gadis itu ke Partai Kupu-Kupu dan berangkat sendiri ke Wisma Bambu. Tangannya terjulur untuk mengelus rambut gadis itu. Pancaran sinar matanya menggambarkan kelembutan yang mesra.


“Ehem!”


Kui Fang mengangkat kepalanya dengan kaget. Keduanya menoleh dan melihat Tuan Ouwyang.


“Kakek,” sapa mereka berdua sambil berdiri dengan segera.


“Aku mau bicara,” kata Tuan Ouwyang.


Kui Fang tersenyum paham. “Kalau begitu, aku akan mencari Siu Hung dulu. Kalian mengobrol saja.”


Mereka memandang sampai Kui Fang menghilang.


“Anak yang manis sekali,” gumam Tuan Ouwyang. “Mengingatkanku pada Pei Pei....”


“Nyonya Tung Pei?”


Tuan Ouwyang berdehem dan mengalihkan pembicaraan. “Apa kau tak berniat pulang ke Lembah Nada? Sekarang Lembah Nada dibiarkan kosong melompong seperti itu. Ayahmu sedang membantu menjaga Wisma Bambu. Aku ingin mengembara. Kau harus segera kembali ke sana!”


Chien Wan menatap kakeknya. Ia merasa bersalah. “Kakek, aku mempunyai kewajiban untuk membalaskan dendam Paman dan Bibi Luo. Sebelum Chi Meng Huan berhasil dilumpuhkan, kurasa belum saatnya aku kembali ke Lembah Nada. Lagi pula....”


“Apa?”

__ADS_1


“Chi Meng Huan membenciku. Kalau dia sampai tahu aku ada di Lembah Nada, dia akan datang untuk mencariku. Bukan hanya itu. Dia pasti akan menimbulkan malapetaka di Lembah Nada. Aku tak mau itu.”


“Kau sudah berhasil mengalahkannya!”


“Dia sendiri saja merupakan lawan yang membuatku kewalahan, Kek. Apalagi kalau dia sampai datang bersama dengan teman-temannya—termasuk gurunya.”


“Aku bisa menghadapinya!”


“Tapi kita tidak bisa melindungi anggota Lembah Nada yang tidak berdosa.”


Tuan Ouwyang memberengut kesal.


“Itulah sebabnya aku tidak mau kembali. Maafkan aku.” Chien Wan menunduk.


“Dasar kepala batu!” omel Tuan Ouwyang. Tak bisa lagi memaksa.


Chien Wan menghela napas. Sebenarnya ia sangat memahami kekhawatiran kakeknya terhadap dirinya dan Ouwyang Ping. Ia merasa bersalah. Orang seusia kakeknya seharusnya sudah pension, menyibukkan diri dengan urusannya sendiri. Namun kakeknya ini masih harus mengurusi Lembah Nada karena adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi selama ini.


“Bagaimana dengan pernikahan?” tanya Tuan Ouwyang lagi dengan penuh harap. “Sudah waktunya kau menikah, bukan? Kui Fang sudah dewasa. Kasihan dia kalau kau berkeras hendak menunda terus!”


Chien Wan membuka mulut hendak menjawab, namun dihentikan sebuah suara merdu dan mengalun bagai nyanyian. Suara yang hanya dimiliki oleh Ouwyang Ping. Ia menoleh dan melihat adiknya datang bersama Sen Khang. Sekali pandang saja ia telah tahu bahwa masalah apa pun yang ada di antara mereka agaknya telah dapat diselesaikan.


“Kakek, Kakak Wan.”


Ouwyang Ping mendekat. “Ada apa, Kek?”


“Huh! Tadi aku menyuruh kakakmu pulang ke Lembah Nada. Tapi dia tidak mau!” gerutu Tuan Ouwyang setengah mengadu. “Coba kau bujuk dia!”


“Memang ada apa di Lembah Nada?” Ouwyang Ping malah bertanya.


“Lembah Nada kosong tanpa pemimpin. Itu alasannya!”


“Kakek, aku kan sudah mengatakan alasannya padamu. Percuma saja kau menyuruh Ping-er membujukku.” Chien Wan tersenyum kecil.


“Dasar keras kepala!” maki Tuan Ouwyang kesal.


“Tentu saja dia keras kepala!” timpal Siu Hung yang tahu-tahu datang bersama Kui Fang dan A Te. “Dia kan cucu Kakek. Paling tidak ada satu sifat yang diwarisinya dari Kakek!” ejeknya nakal.


Tuan Ouwyang mendengus. “Dari mana saja kau?”


“Habis memarahi para pengawal,” jawab Siu Hung riang.


“Kenapa?”

__ADS_1


“Karena mereka bodoh! Membiarkan Chi Meng Huan dan teman-temannya masuk ke arena pertemuan. Akhirnya jadi kacau-balau.”


“Siu Hung, kau tidak boleh memarahi mereka,” tegur Sen Khang serius. “Kedatangan Chi Meng Huan dan teman-temannya ke mari bukanlah kesalahan mereka.”


“Huu...,” cibir Siu Hung. “Mentang-mentang sudah jadi Ketua Persilatan!”


Wajah Sen Khang merona. “Jangan berkata begitu. Aku tetap Kakak Luo bagimu. Jangan menganggapku Ketua Persilatan. Aku hanya kasihan bila mereka harus menanggung akibat dari kesalahan orang lain.”


“Iya, sih. Mereka memang tidak bersalah. Aku senang saja memarahi mereka. Kapan lagi aku bisa memarahi orang lain? Biasanya kan, selalu aku yang dimarahi.” Siu Hung memberi alasan yang sangat konyol.


“Astaga, Siu Hung!” Ouwyang Ping menggeleng-gelengkan kepalanya.


A Te menatap putus asa pada nonanya yang tidak kunjung berubah. “Demi Tuhan, Nona!”


Siu Hung melirik A Te dengan jengkel. “Tapi ternyata mereka bisa membela diri. Chi Meng Huan dan teman-temannya ternyata punya undangan asli!”


“Oh, berarti....” Ouwyang Ping teringat sesuatu. “Kakak Luo, kau ingat tidak? Beberapa hari sebelum pertandingan ada beberapa orang yang mengaku bahwa undangan mereka dicuri.”


Sen Khang mengangguk-angguk serius.


“Ngomong-ngomong, kapan kalian kembali ke Wisma Bambu?” tanya Siu Hung pada Kui Fang.


“Aku tidak tahu. Terserah Kakak Wan saja,” senyum Kui Fang pada Chien Wan.


“Besok pagi saja,” timpal Ouwyang Ping. “Aku dan Kakak Luo juga mau pulang besok pagi.”


Chien Wan menatap Kui Fang. “Bagaimana?”


Kui Fang mengangguk senang. Hatinya sangat gembira karena bisa melakukan perjalanan dengan pemuda yang dicintainya, beserta sahabat-sahabatnya.


“Kakek, kita ikut juga, ya?” rengek Siu Hung.


“Tidak!” kata Tuan Ouwyang tegas. “Kau dan A Te ikut aku. Kita pulang ke Lembah Nada besok pagi!”


Siu Hung meringis. “Kok A Te juga?” protesnya kesal.


“Dia bisa mengawasimu kalau-kalau kau kabur!”


Siu Hung cemberut kesal. Ditatapnya A Te dengan pandangan jengkel.


A Te menyoja dengan menahan tawa. Ia sudah menduga bahwa dia akan diajak oleh Tuan Ouwyang. Tuan Ouwyang pernah mengatakan padanya bahwa jika Siu Hung kelak resmi menjadi anggota Lembah Nada, diperlukan seorang pengawal yang khusus mengawasi gerak-geriknya. Dan orang itu adalah A Te.


***

__ADS_1


__ADS_2