Suling Maut

Suling Maut
Rencana Pertunangan


__ADS_3

Pembicaraan itu terus dipikirkan oleh Kui Fang. Bahkan ketika waktunya tidur pun ia tidak bisa tidur karena tidak bisa berhenti memikirkannya. Perasaannya sangat pedih karena terus teringat akan perkataan Meng Huan bahwa Chien Wan akan dijodohkan dengan Ting Ting.


Bagaimana pun ia tidak rela!


Selama beberapa waktu bersama Chien Wan, ia selalu merasa aman dan tenteram. Ia menjadi berani bila ada di samping Chien Wan. Perasaannya damai dan bahagia selama di sisi Chien Wan. Selama berada di dekat Chien Wan, tak pernah sekalipun ia memikirkan orang lain.


Ia sudah mengakui pada dirinya sendiri sejak semula; ia mencintai Chien Wan!


Sebelum semuanya terlanjur terjadi, ia memutuskan untuk memberitahukan perasaannya pada Chien Wan. Ia ingin berterus-terang. Ia yakin Chien Wan juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Bila tidak, mana mungkin Chien Wan begitu memperhatikannya selama ini?


Ia bangkit, memakai pakaian luar, dan pergi keluar.


Kui Fang berjalan ke kamar Chien Wan. Saat ini sudah larut malam, mungkin Chien Wan sudah tidur. Tetapi ia menguatkan hatinya dan terus berjalan. Alangkah heran hatinya melihat kamar Chien Wan masih terang. Ia juga mendengar suara orang bercakap-cakap. Maka ia mendekat.


Rasa penasaran membuatnya mengintip dari jendela yang setengah terbuka.


Di dalam kamar ada Ouwyang Kuan dan Sui She. Mereka sengaja datang pada malam hari supaya apa yang hendak mereka katakan itu tidak didengar oleh orang lain. Mereka tidak mau ada yang mendengar usulan mereka sebelum Chien Wan sendiri menyatakan persetujuannya.


Chien Wan tercengang mendengar usul ibunya.


“Ibumu ingin supaya Ting Ting tidak hidup dengan menanggung aib, Chien Wan,” kata Ouwyang Kuan pelan.


Chien Wan terdiam. Hatinya memberontak.


“Anakku, selama ini Ting Ting sangat mencintaimu. Saat ini dia begitu menderita. Cuma kau yang dapat membahagiakannya,” bilang Sui She lirih. Lalu dengan suara bergetar ia melanjutkan, “Ibu merasa amat berdosa pada paman dan bibimu. Kini Ibu semakin merasa berdosa melihat keadaan Ting Ting yang seperti ini.”


Chien Wan menatap ibunya. Hatinya terpukul menatap mata ibunya berkaca-kaca. Ia paling tidak bisa melihat ibunya berduka. Maka ia mendesah. “Semuanya terserah padamu, Ibu. Aku takkan membantah.”


Sui She tak menyangka akan semudah ini. Ia menatap putranya dan terpana melihat kesedihan di mata Chien Wan. Seketika hatinya digelayuti perasaan bersalah. Apakah tindakannya ini sudah benar?


Di luar, Kui Fang tertegun. Ia menahan isakannya dengan menggigit bibir. Diam-diam ia berbalik dan meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


“Anakku, apa kau benar-benar rela?” tanya Ouwyang Kuan hati-hati. “Kalau kau tidak mau sebaiknya kaukatakan saja. Aku tahu kau tidak mencintai Ting Ting. Apakah ada orang yang kaucintai?”


Chien Wan menghela napas. Ia tidak bisa menyembunyikan isi hatinya dari orangtuanya, maka ia mengangguk. “Tanpa kusadari... hatiku tertambat padanya. Dia begitu... polos dan jujur. Dia telah membantuku melupakan... masa lalu.”


“Siapa dia, Anakku?”


Chien Wan menggeleng, menepis perasaannya. “Sudahlah, Ibu. Aku tak mau mengecewakanmu. Lagi pula, aku sangat kasihan pada Ting Ting. Aku juga berhutang budi pada Paman dan Bibi Luo. Bila dengan menikahi Ting Ting aku bisa membuat arwah mereka tenang dan membuat Ting Ting bahagia, maka aku akan melakukannya.”


“Apakah dia Kui Fang?” tanya Ouwyang Kuan tanpa menghiraukan kata-kata putranya.


Chien Wan terdiam. Lama sekali ia berdiam diri sehingga kedua orangtuanya nyaris tidak sabar menunggu jawabannya. Lalu ia mengangguk pelan.


“Ya.”


Ouwyang Kuan terpana. “Dan dia... mencintaimu juga?”


Chien Wan memalingkan wajah. “Aku tidak tahu.”


“Kau tidak bertanya?” sambar Sui She.


“Chien Wan....”


“Ibu, aku akan menikahi Ting Ting!” kata Chien Wan tegas. “Bagaimana pun aku pernah sangat bersalah padanya. Sekarang dia menderita, aku sangat ingin membahagiakannya.”


Kedua orangtuanya berpandangan. Dengan demikian, keputusan Chien Wan sudah bulat.


***


Ouwyang Kuan meminta semua orang berkumpul di ruang keluarga. Ia mengatakan ada sesuatu hal yang sangat penting yang hendak ia dan istrinya sampaikan. Semua datang ke ruang keluarga dengan sangat heran. Mereka semua berkumpul di ruangan itu. Hanya Kui Fang yang tidak hadir.


Chien Wan memandangi mereka dan merasa lega karena Kui Fang tidak ada. Ia tidak mau Kui Fang berada di sana. Ia takut kehadiran Kui Fang akan menggoyahkan keputusan yang telah diambilnya semalam. Kelak, ia sendiri yang akan mengatakannya pada Kui Fang. Ia hanya berharap gadis itu tidak mencintainya sehingga keputusan ini tidak menyakitinya.

__ADS_1


“Ada apa memanggil kami semua, Paman?” tanya Sen Khang.


Ouwyang Kuan menarik napas sebelum mulai. “Begini, Sen Khang. Aku, bibimu, dan Chien Wan telah bicara semalam. Bibimu berniat menjodohkan Ting Ting dengan Chien Wan dan Chien Wan sudah bersedia.”


Sen Khang terkejut. Meng Huan ternganga. Ouwyang Ping duduk diam di kursinya, tampak tenang karena ia sudah diberitahu oleh ibunya. Chien Wan duduk tenang dan wajahnya datar tanpa menunjukkan perasaan apa pun. Ting Ting menunduk.


“Paman?” Sen Khang memandang Ouwyang Kuan. “Apa Paman dan Bibi bersungguh-sungguh dengan semua ini?” tanyanya.


“Tentu saja, Sen Khang. Kami semua sudah membicarakannya.” Sui She yang menjawab.


Sen Khang mengalihkan pandangannya pada Chien Wan. “Chien Wan, apa kau benar-benar setuju?” tanyanya serius.


Chien Wan mengangguk.


“Apakah kau tidak akan menyesalinya di kemudian hari?” tanya Sen Khang lagi. Lalu ia menoleh dan memandang Sui She, memohon pengertian. “Maaf, Bibi. Tetapi ini menyangkut kebahagiaan Ting Ting seumur hidup. Juga menyangkut kebahagiaan putra Bibi sendiri.”


Sui She tercengang mendengar kata-kata Sen Khang. Pemuda itu sungguh mengingatkannya akan kakaknya. Tuan Luo selalu penuh pertimbangan dalam mengambil keputusan, bijaksana dalam hal apa pun. Sen Khang pun agaknya mewarisi sifat luhur ayahnya itu. Benar-benar mirip, gumamnya penuh haru.


“Aku tidak akan menyesal,” kata Chien Wan tenang.


“Kau yakin?”


“Ya.”


Jawaban Chien Wan terdengar tegas dan mantap, namun Sen Khang masih khawatir. Ia melihat dengan mata kepala sendiri betapa sayangnya Chien Wan pada Kui Fang. Relakah Chien Wan meninggalkan Kui Fang demi adiknya? Bagaimana kalau di kemudian hari Chien Wan menyesal dan mengambil tindakan drastis meninggalkan Ting Ting demi mendapatkan Kui Fang?


Sen Khang melihat Chien Wan dan sekonyong-konyong hatinya mantap. Chien Wan bukan orang seperti itu. Walau mungkin saja ia menyesal kelak, ia bukan orang yang dengan mudah akan mencampakkan seseorang begitu saja.


Atau mungkin saja kelak, di antara mereka akan tumbuh cinta yang kuat. Ting Ting sudah mencintainya. Chien Wan pun bisa melakukannya.


“Baiklah. Aku sebagai kakak Ting Ting, juga walinya, merestui kalian.”

__ADS_1


“Aku tidak mau!”


***


__ADS_2