Suling Maut

Suling Maut
Kisah Masa Lalu


__ADS_3

Sejak mereka bertiga sering menghilang untuk berbicara, Kui Fang merasa agak kesepian dan terkucil. Ia ingin sekali bersama Chien Wan, namun ia sadar dirinya hanyalah orang luar. Walau ia telah mengetahui sebagian besar pembicaraan mereka, tetap saja tidak pada tempatnya ia mengikutsertakan diri.


Sesungguhnya ada sesuatu yang sangat ingin diketahuinya; yakni masa lalu Chien Wan. Ia ingin sekali bertanya pada Chien Wan. Namun ia tidak ingin Chien Wan menganggapnya sebagai gadis yang lancang, yang suka mau ikut campur urusan orang lain.


Kui Fang duduk sendirian di taman, menunggu Chien Wan datang.


Meng Huan melintas dan melihat gadis itu tengah merenung. Ia tersenyum kecil dan menghampiri.


“Nona Wu?”


Kui Fang menoleh. “Eh, Kakak Chi.”


“Mengapa kau sendirian? Tidak bersama Chien Wan?” tanya Meng Huan sambil duduk di samping Kui Fang.


“Kakak Wan sedang bicara dengan Kakak Luo dan Ping-er. Aku tidak mau mengganggu mereka,” kilah Kui Fang.


Meng Huan menggeleng-geleng prihatin. “Mudah-mudahan mereka bukan sedang membahas tentang masa lalu...,” gumamnya.


“Masa lalu...?”


Meng Huan menoleh dan menatapnya heran. “Kau belum tahu tentang masa lalu Chien Wan dan Ping-er?” tanyanya terkejut. Ia pikir hubungan antara Chien Wan dan Kui Fang sudah cukup mendalam dan Chien Wan sudah menceritakan segalanya pada gadis itu. Ternyata Kui Fang tak tahu apa-apa.


Kui Fang menggeleng. “Tidak, aku tidak tahu.”


Meng Huan tampak bimbang. “Aku tidak tahu apakah pantas bagiku untuk menceritakannya....”


Kui Fang penasaran, namun ia tidak mau memaksa. “Tidak apa-apa kalau Kakak Chi keberatan menceritakannya.”


Meng Huan memandangi gadis yang tampak sedih itu, dan segera membuat keputusan. Ia menceritakan semua kisah sedih di masa lalu itu kepada Kui Fang. Dimulai dari masa kecil mereka, ketika Chien Wan masih mengira dirinya anak desa yatim-piatu. Ia menceritakan ketika Chien Wan dikirim ke Lembah Nada dan betapa Ting Ting berkeberatan karena sesungguhnya gadis itu jatuh cinta pada Chien Wan. Ia pun bercerita tentang hubungan Chien Wan dan Ouwyang Ping yang begitu romantis.


Mata Kui Fang membelalak. “Kakak Wan... dan Ping-er?” bisiknya tertahan. Ia sangat terpukul. Hal itu tak diduganya sama sekali. Tak pernah dikiranya bahwa ternyata masa lalu Chien Wan serumit itu.


“Ya,” angguk Meng Huan sambil menghembuskan napas. “Sungguh menyedihkan ketika melihat mereka akhirnya mengetahui kenyataan bahwa sebenarnya mereka kakak-adik berlainan ibu. Hubungan mereka sama sekali tidak boleh diteruskan karena hubungan itu hubungan yang terlarang.”


Hati Kui Fang hancur. Namun ia menguatkan hati. “Lalu?”


Meng Huan menceritakan secara rinci tentang apa yang dilakukan Sung Cen dalam melindungi Chien Wan. Tentang bagaimana dia menyamar menjadi Paman Khung selama hampir dua puluh tahun. Tentang bagaimana Paman Khung itu memupuk kecintaan Chien Wan terhadap Lembah Nada.


“Lalu Paman dan Bibi Ouwyang akhirnya bersatu kembali setelah sekian lama berpisah? Pantas saja adik bungsu Kakak Wan masih sangat kecil,” gumam Kui Fang. Ia menunduk. Pantas saja Ouwyang Ping selalu terlihat aneh bila membicarakan Chien Wan.


Meng Huan tidak bercerita lagi. Ia memandangi ekspresi wajah gadis itu dengan iba. “Kau menyukai Chien Wan?”


Wajah Kui Fang merona, namun ia tidak membantahnya.


“Dan sekarang setelah mendengar masa lalu kami, bagaimana perasaanmu?”

__ADS_1


Kui Fang mengangkat wajahnya dan menatap Meng Huan dengan mantap. “Masa lalu Kakak Wan memang sangat menyedihkan dan menyentuh hati. Tetapi itu masa lalu. Aku tak akan mempermasalahkannya.”


Meng Huan meringis. “Alangkah beruntungnya Chien Wan.”


Kui Fang memandang penuh simpati. Jalinan cinta yang rumit di antara mereka berlima membuatnya mengerutkan kening sekaligus merasa amat terharu. Ting Ting mencintai Chien Wan. Chien Wan mencintai Ouwyang Ping, demikian pula sebaliknya. Sen Khang mencintai Ouwyang Ping walau orangnya sendiri tak pernah mau mengakuinya. Dan Meng Huan sangat mencintai Ting Ting.


“Kasihan sekali....”


Meng Huan mengernyitkan alisnya. “Siapa yang kasihan?”


“Kalian semuanya.” Kui Fang mengangkat bahu. “Kalian semua menderita gara-gara permainan asmara.”


Meng Huan mendengus tertawa mendengar istilah yang diungkapkan Kui Fang.


“Sekarang bagaimana?” tanya Kui Fang.


“Apanya yang bagaimana?”


“Tentang kau dan Ting Ting!”


Meng Huan mendesah. “Beberapa hari yang lalu, Bibi Sui She mengatakan hendak menjodohkan Ting Ting dengan Chien Wan. Ting Ting pasti bahagia bila menikah dengannya.”


Kui Fang terperanjat. “Ta... tapi...?”


“Aku akan mendukung mereka dengan sepenuh hati.” Meng Huan memandang iba pada Kui Fang. “Maaf. Aku tahu perasaanmu padanya. Tetapi jika aku harus memilih, aku akan memilih kebahagiaan Ting Ting daripada rasa ibaku padamu.”


Meng Huan mengangkat bahunya. “Chien Wan sangat mencintai ibunya. Apa pun yang diperintahkan ibunya, ia takkan menolaknya.”


“Tapi itu artinya Kakak Chi tidak bisa mendapatkan Ting Ting!” bantah Kui Fang. “Artinya Kakak Chi mengorbankan kebahagiaan sendiri!”


“Oh, tentu saja tidak!” geleng Meng Huan. “Kebahagiaan Ting Ting adalah kebahagiaanku juga. Kalau Ting Ting bahagia, maka aku pun akan bahagia,” katanya mantap.


Mereka begitu serius berbicara sehingga tidak menyadari bahwa ada seseorang mendengarkan mereka dari balik batu karang besar. Ting Ting mendengarkan semuanya dengan mata berkaca-kaca. Ia memejamkan mata dan air matanya mengalir membasahi pipi.


Kakak Huan sangat baik, katanya dalam hati dengan terharu. Jika benar Bibi Sui She hendak menjodohkan Kakak Wan denganku, Kakak Wan pasti mau melakukannya. Alangkah senangnya bila sejak dulu Bibi Sui She mengusulkan hal ini. sebelum semua ini terjadi. Sebelum ia dilecehkan dan dihina.


Diam-diam Ting Ting meninggalkan tempat itu.


Tepat ketika Ting Ting pergi, datanglah Chien Wan, Sen Khang, dan Ouwyang Ping ke tempat itu. Mereka melihat Kui Fang sedang bersama Meng Huan.


“Meng Huan,” panggil Sen Khang. “Ada sesuatu yang hendak kami bicarakan.”


“Ada apa?” tanya Meng Huan. Senyumnya membeku melihat ekspresi ketiga temannya tampak serius seperti itu. “Ada yang tidak beres?”


“Ini mengenai penyerangan dulu itu.”

__ADS_1


Ketiganya duduk mengelilingi meja batu. Chien Wan duduk di samping kanan Kui Fang, sementara di samping kiri Kui Fang duduk Ouwyang Ping. Kui Fang agak canggung. Ia baru saja mengetahui masa lalu mereka. Sekarang ia merasa bagaikan lalat pengganggu di antara mereka berdua.


Chien Wan memalingkan wajah hingga menatap gadis itu. Ia tersenyum padanya dengan tatapan meminta maaf karena sudah mengabaikannya selama beberapa hari ini. Sebenarnya ia tidak bermaksud mengabaikan Kui Fang, namun Sen Khang berkeras pembicaraan ini hanya bisa dilakukan tanpa Meng Huan. Jika Kui Fang ikut juga, Meng Huan akan merasa terkucil. Kui Fang balas tersenyum, menyatakan bahwa ia tidak apa-apa.


“Ada apa dengan masalah itu?” tanya Meng Huan waspada. “Kalian sudah menemukan siapa orang yang melakukannya?”


“Justru itu. Ada sedikit kesulitan.”


“Kesulitan apa?”


“Mengenai jumlah orang yang menyerang Wisma Bambu. Apakah pembunuh itu beraksi sendirian atau rombongan,” kata Sen Khang.


Meng Huan mengerutkan kening, mengingat-ingat. “Saat itu aku berlatih di ruang latihan. Aku sendirian ketika itu. Guru sedang bersama Bibi di perpustakaan. Guru bilang beliau akan menyusulku, namun sekian lama kutunggu beliau tidak muncul-muncul juga. Maka aku keluar dari ruang latihan.


“Saat itulah aku melihat Chien Wan—maksudku si penyamar!” tambahnya cepat melihat Sen Khang menyeringai. “Aku menyapanya, namun dia malah menyerangku. Aku ingat, dia menggunakan pedang. Seharusnya waktu itu aku ingat bahwa Chien Wan tidak bisa menggunakan pedang. Tetapi aku sama sekali tidak berpikir waktu itu. Dia sangat lihay. Aku tidak mampu menandinginya. Aku melarikan diri ke ruang depan dan melihat Guru dan Bibi sudah tewas. Aku panik dan berusaha meloloskan diri. Dia terus mengejarku.


“Aku terus berlari sampai Hutan Bambu. Saat itu Paman Sung datang dan menolongku. Dia menyuruhku lari mencari bantuan. Aku pun pergi. Namun aku tidak pernah bisa keluar dari Hutan Bambu. Beberapa orang mondar-mandir di dalam hutan dan menghalangi jalan keluar!”


“Berarti pembunuh itu tidak sendirian!” seru Ouwyang Ping.


“Mengapa baru kauceritakan sekarang?” tanya Sen Khang.


“Aku minta maaf. Ketika itu pikiranku kacau sekali. Ditambah lagi melihat kondisi Ting Ting. Detil kejadian sama sekali terelakkan dariku,” kata Meng Huan malu.


“Sudahlah. Itu tidak disengaja,” kata Chien Wan.


“Sekarang sudah jelas. Pembunuh itu tidak sendirian.”


“Apa yang kalian temukan?” tanya Meng Huan antusias.


Sen Khang menggeleng. “Hanya beberapa petunjuk kecil. Tidak penting,” elaknya.


Ouwyang Ping bangkit. “Aku pergi dulu, mau melihat Ting Ting.”


“Aku ikut.” Sen Khang ikut berdiri.


Chien Wan berdiri. “Kui Fang, kau mau ikut juga?”


Kui Fang menggeleng lesu. “Aku mau ke kamar, Kakak Wan. Rasanya aku tidak enak badan,” tolaknya.


Chien Wan terkejut. “Kenapa? Kau sakit?” tanyanya cemas. Kecemasannya tidak luput dari pandangan Sen Khang dan Ouwyang Ping.


Kui Fang menggeleng. “Aku pergi dulu, ya.”


Dengan gelisah, pandangan Chien Wan terus mengikuti arah perginya Kui Fang. Ia bertanya-tanya ada apa dengan gadis itu. Mengapa gadis itu tampak sangat lesu dan tidak bergairah seperti biasanya?

__ADS_1


***


__ADS_2