
“Kakak Wan!” Kui Fang berlari mendekat.
Chien Wan menghela napas panjang. “Lagi-lagi dia berhasil meloloskan diri, Kui Fang.”
Kui Fang menggeleng. “Masih banyak kesempatan,” hiburnya. Dipegangnya lengan Chien Wan. “Kau baik-baik saja, kan? Dia tidak melukaimu, kan?” tanyanya beruntun dengan khawatir.
Chien Wan menggeleng muram. Dari sudut matanya ia melihat Sen Khang tengah dirawat oleh beberapa orang, termasuk Ouwyang Ping. Mereka mengikat lengan Sen Khang erat-erat dengan bantuan sebatang tongkat untuk meluruskan kembali tulang yang patah.
Didekatinya Sen Khang. “Kau tak apa-apa?”
Sen Khang mengangguk. “Dia lolos lagi.”
Wajah Chien Wan semakin muram. “Ya. Maaf.”
“Dia sangat licik. Itu bukan salahmu,” geleng Sen Khang.
Pendekar Sung menghampiri dengan sangat prihatin. “Kalian tidak apa-apa?”
Sen Khang menggeleng dan menatap Pendekar Sung dengan penuh sesal. “Pertemuan para pendekar jadi kacau begini. Bagaimana ini, Paman?”
Pendekar Sung menghela napas. “Entahlah. Untuk mengadakan pertemuan ulang juga tidak mungkin lagi.”
“Mengapa harus dipertanyakan lagi?” sambar Pendekar Fu. “Sudah jelas bahwa di antara kita semua, Pendekar Luo dan Pendekar Ouwyang lah yang paling hebat ilmu silatnya!”
“Betul! Betul!” sambung Pendekar Can.
“Mereka berdua adalah calon yang tepat untuk menggantikanmu, Saudara Sung!” timpal Pendekar Lei.
Wajah Pendekar Sung berseri. Sebenarnya ia memang sudah memikirkan hal itu. sejak ia berpikir untuk pensiun, di dalam benaknya ia memikirkan kedua pemuda itu sebagai penggantinya. Hanya saja ia tidak bisa mengemukakannya secara terang-terangan karena tidak mau dianggap pilih kasih oleh sesama anggota Dunia Persilatan. Bagaimana pun kedua pemuda itu masih berhubungan dekat dengannya. Namun bila hal itu diusulkan oleh pendekar lainnya, ia akan menyetujuinya dengan senang hati.
“Bagaimana, Chien Wan? Kau bersedia menjadi Ketua Persilatan?” tanya Pendekar Sung.
“Tidak, Paman. Aku tidak bisa,” tolak Chien Wan.
“Tetapi kau sangat cocok untuk....”
“Aku tidak bersedia!” tukas Chien Wan tegas. “Maaf, sebaiknya yang lain saja.”
Pendekar Sung menatap putus asa. Ia mengenal perangai Chien Wan yang pendiam namun sangat mantap. Sekali ia memutuskan sesuatu dengan tegas, tak ada yang bisa mengubah pendiriannya.
“Kalau begitu, mengapa tidak Pendekar Luo saja?” usul Pendekar Can.
Pendekar Sung mengangguk senang. “Ya, betul. Sen Khang, kau sangat cocok menduduki jabatan ini.”
Semua pendekar berlomba-lomba mengusulkan hal itu kepada Sen Khang sehingga pemuda itu bingung mendengarnya. Ia memang selalu ingin memegang peranan dalam Dunia Persilatan. Namun ia tidak ingin menduduki jabatan Ketua Persilatan dalam keadaan seperti ini, di mana ia masih mempunyai masalah pribadi yang sangat riskan.
“Maafkan aku. Tapi aku tidak bisa memenuhi permintaan Anda sekalian. Selain karena aku tidak berpengalaman, juga karena aku masih dibebani dengan masalah pribadi yang mengganjal,” tolak Sen Khang.
“Tetapi masalahmu adalah Chi Meng Huan, Pendekar Luo. Chi Meng Huan itu adalah masalah Dunia Persilatan juga!” bantah Pendekar Kim.
“Benar! Benar!” seru pendekar lainnya.
__ADS_1
“Ilmu silatku pun tidak tangguh. Buktinya aku bisa dikalahkan oleh Chi Meng Huan,” kata Sen Khang, masih berusaha menolak.
“Chi Meng Huan itu penjahat besar. Dia tidak masuk hitungan!” tukas Pendekar Fu.
Semua pendekar berlomba menyatakan ini dan itu untuk meyakinkan Sen Khang.
“Mereka semua benar!”
Sen Khang menoleh kaget karena suara itu adalah suara Tuan Ouwyang.
“Kakek Ouwyang?”
“Kau mesti mendengarkan permintaan mereka. Kaulah yang tepat menjadi Ketua Persilatan!” kata Tuan Ouwyang tegas. Ia tidak mengatakan ini karena Sen Khang adalah calon cucu menantunya. Ia sudah mengamati Sen Khang secara seksama sejak pertama kali mereka bertemu dan semakin yakin beberapa bulan belakangan ini. ia melihat wibawa dan kharisma yang dimiliki Sen Khang. Pemuda itu terlahir untuk menjadi pemimpin. Bakat itu tidak boleh disia-siakan.
“Tetapi....”
“Seorang pemimpin yang bijak tidak boleh ragu!”
Pendekar Sung pun menatap Sen Khang dengan penuh harap. Semua pendekar melakukan hal yang sama.
Sen Khang menoleh dan melihat Ouwyang Ping. Gadis itu agak sedih, namun ia mengangguk. Lalu ia menatap Chien Wan. Dan sahabatnya itu mengangguk kecil.
Maka ia pun berketetapan. “Baiklah. Tetapi karena aku belum berpengalaman, maka aku membutuhkan bantuan dari Anda sekalian.”
Semua berpandangan dengan gembira dan serempak memberi hormat.
“Selamat datang, Ketua Persilatan yang baru!”
***
Sejak semula, Sen Khang telah menegaskan pada yang lainnya bahwa meski ia telah menjadi Ketua Persilatan, namun ia akan tetap bertempat tinggal di Wisma Bambu. Dan ia pun membutuhkan bantuan dari semua pendekar. Ia tidak sok pintar dan tak segan-segan bertanya. Semua pendekar mengaguminya dan mensyukuri keputusan untuk memilihnya.
Akan tetapi selama beberapa hari ini Sen Khang melihat keanehan dalam diri Ouwyang Ping. Gadis itu menjadi sangat pendiam. Ia jauh lebih diam dari biasanya, dan menjadi sangat murung. Hanya bicara bila ditanya. Dan cenderung menghindar dari Sen Khang.
Sen Khang menjadi resah dengan sikap gadisnya.
Akhirnya Sen Khang bertanya pada Chien Wan.
“Chien Wan, apa kau tahu mengapa Ping-er begitu dingin padaku akhir-akhir ini?” tanya Sen Khang khawatir.
Chien Wan mengerutkan kening. “Entahlah. Apa kau sudah bertanya padanya?”
“Aku belum berhasil mengajaknya bicara.”
“Cobalah lagi. Cari kesempatan di mana dia tidak bisa menghindar.”
Dan kesempatan itu datang saat malam tiba.
Ouwyang Ping tengah berdiri di tepi tebing, memandangi langit malam yang begitu cerah. Jutaan bintang berkelip di langit bagaikan jutaan berlian. Langit begitu indah mempesona. Ouwyang Ping menatapnya dengan dada bergejolak.
“Ping-er.”
__ADS_1
Gadis itu menoleh kaget. Sen Khang berjalan ke arahnya, membuatnya resah. Belakangan ini hatinya selalu resah bila bertemu dengan Sen Khang. Tepatnya sejak Sen Khang diangkat menjadi Ketua Persilatan.
“Kakak Luo,” sapanya pelan. “Aku baru saja mau ke kamar.”
Sen Khang menggeleng dan meraih lengan gadis itu. Ia tahu Ouwyang Ping berbohong. Ia tahu gadis itu menempati salah satu pondok bersama dengan Kui Fang dan Siu Hung, namun ia tahu Ouwyang Ping tidak terlalu kerasan di sana. Maka mustahil gadis itu lebih suka berada di dalam pondok yang pengap itu ketimbang bersama dengannya.
“Aku mau bicara.”
Ouwyang Ping salah tingkah. “Mm... bagaimana keadaan lenganmu?”
“Aku sudah sembuh. Dan jangan mengalihkan pembicaraan!” kata Sen Khang tegas. “Mengapa kau menghindariku? Apa kesalahanku padamu? Katakanlah supaya aku bisa memperbaikinya.”
Ouwyang Ping terpana. “Mengapa kau mengira kau bersalah padaku? Kau sama sekali tidak melakukan kesalahan,” gelengnya lembut.
“Lalu mengapa kau menghindariku?”
“Aku....”
“Kau tidak suka aku menjadi Ketua Persilatan?” potong Sen Khang dengan pengertian yang mengagumkan, yang membuat gadis itu tersentak. “Jadi betul?”
Pandangan mata gadis itu menjadi sedih.
“Kau takut aku melupakanmu?” Sen Khang berbisik lirih. “Sebab bila itu memang yang kaucemaskan, aku bersumpah itu tidak akan pernah terjadi. Namun kalau kau tidak bisa tenang juga, aku akan melepaskan jabatan itu. Menjadi ketua tidak sebanding denganmu. Lagi pula, aku memang tidak mau menjadi Ketua Persilatan. Aku....”
“Kakak Luo!” potong Ouwyang Ping. “Jangan bicara begitu. Kau salah paham.”
“Lalu?”
Ouwyang Ping menghela napas. “Menjadi Ketua Persilatan berarti harus berurusan dengan banyak orang, mengatasi banyak masalah, menghadapi banyak bahaya. Harus siap untuk dipuja dan dihormati, namun harus siap pula untuk dibenci dan dimusuhi. Aku hanya... tidak bisa membayangkan kehidupan macam apa yang akan kaujalani nanti. Dan... apakah aku bisa menghadapi semua itu? Apakah aku dapat mendampingimu tanpa tuntutan apa-apa?”
Sen Khang terpana.
“Sebab bila sesuatu terjadi padamu, aku....”
Gadis itu tidak mau melanjutkan kata-katanya lagi. Ia menundukkan kepala. Ia sudah terlalu banyak bicara.
Sen Khang tersenyum. Ternyata selama ini gadis itu mencemaskannya. Ia merasa amat bahagia. Diangkatnya dagu gadis itu dengan lembut. Ditatapnya mata Ouwyang Ping dengan penuh perasaan.
“Yang bisa kaulakukan hanyalah selalu berada di dekatku. Itu saja sudah cukup bagiku.”
“Aku... aku tak berkeberatan menghadapi bahaya apa pun, Kakak Luo. Aku hanya ingin kau selamat....” Ouwyang Ping menggigit bibirnya. “Aku tahu betapa sakitnya kehilangan. Aku tak mau mengalaminya lagi untuk yang kedua kalinya....”
Suara gadis itu begitu lirih, nyaris tak terdengar. Namun Sen Khang dapat mendengarnya. Ia sangat terharu. Ternyata gadis ini begitu membutuhkannya sehingga takut kehilangan dirinya.
Sen Khang meraih gadis itu ke dalam pelukannya. “Kau tidak akan pernah kehilangan aku,” janjinya penuh kesungguhan.
Ouwyang Ping mengangguk-angguk dalam pelukan pemuda itu. Cintanya pada Sen Khang terus berkembang dan merekah dengan indahnya. Ia tidak tahu bagaimana mungkin dulu ia bisa menolak pemuda itu. Namun tidak ada kata terlambat. Untunglah pemuda itu tidak jera dengan dirinya dan terus mencoba meraih hatinya.
Ia yakin masa depannya akan bahagia bersama Sen Khang.
***
__ADS_1