
Mereka berjalan melewati lembah dan bukit. Mereka bermaksud menuju Bukit Merak. Chien Wan tetap berkeinginan bertemu dengan Pendekar Sung karena ia ingin mengemukakan petunjuk apa saja yang sudah didapatnya. Ia juga ingin menceritakan pertemuannya dengan Nyonya Tung Pei serta pendapat yang dikemukakan perempuan tua itu.
Ketika hari menjelang siang, mereka beristirahat di dekat sungai.
Mereka menyantap bekal yang mereka bawa dari Partai Kupu-Kupu, berupa beberapa buah roti dan kue. Kui Fang telah menanyakan soal cacat indera perasa Chien Wan sewaktu ia menceritakan bagaimana Ting Ting akhirnya tahu bahwa Chien Wan tidak menyerangnya. Karena itulah ia tidak lagi cerewet soal rasa masakan. Dan ia juga tidak mengomentari roti yang sebenarnya kurang enak itu.
Selesai makan, mereka duduk-duduk di atas batu besar.
Pandangan mata Chien Wan menerawang dan ia mengeluarkan sulingnya dan mendekatkan lubang tiupnya ke bibirnya. Mulailah ia meniupnya, memainkan irama musik yang indah. Ia terhanyut dalam alunan nada yang ditiupnya, sampai-sampai nyaris tidak menyadari kehadiran Kui Fang di sisinya.
Kui Fang memandanginya dengan terpesona. Ia tidak terlalu mengerti tentang musik, tetapi mampu menikmatinya dengan baik. Ia sangat menyukai lagu yang ditiup Chien Wan dan terpukau akan keahlian pemuda itu. Tak salah orang-orang menjulukinya Suling Maut!
Alunan nada pun berhenti kala Chien Wan selesai dan ia menarik napas.
Kui Fang menghembuskan napas yang ditahannya karena begitu takjub. Ia lupa kapan ia mulai menahan napas saking kagumnya. “Wow!” bisiknya takjub. “Kau sungguh hebat, Kakak Wan.”
Chien Wan menoleh dan mendapati sepasang mata yang jernih dan jujur menatapnya penuh kehangatan. Hatinya meleleh. “Terima kasih,” katanya pelan.
Kui Fang beringsut mendekat. Ia mendekatkan dahinya pada lengan Chien Wan. Kehangatan masih memenuhi hatinya sehingga ia nyaris tak sadar pada apa yang tengah dilakukannya. Ia butuh berdekatan dengan pemuda itu untuk meluapkan keharuan hatinya.
Anehnya, perasaan Chien Wan bergetar menerima perlakuan lembut dan polos ini. Sudah lama ia tidak merasakan perasaan seperti ini. Ia bahkan tidak tahu apakah ia akan pernah merasakan kehangatan seperti ini setelah dunianya runtuh dua tahun yang lalu—kala ia mengetahui bahwa gadis yang dicintainya ternyata adalah adiknya.
Beberapa saat lamanya mereka tenggelam dalam keheningan. Lupa akan segalanya kecuali keberadaan diri mereka satu sama lain.
Sampai akhirnya, Kui Fang mengangkat kepalanya. Wajahnya bersemu merah. Ia baru sadar akan perbuatannya dan merasa agak canggung. Ia menengadah menatap Chien Wan untuk melihat reaksinya. Betapa lega hatinya melihat Chien Wan tampaknya tidak keberatan.
“Mari kita lanjutkan perjalanan,” ajak Chien Wan sambil bangkit berdiri dan menyimpan sulingnya di balik jubahnya. Lalu ia melompat turun dari batu besar. Diulurkannya tangannya supaya Kui Fang dapat turun dengan berpegangan padanya.
Mereka mulai berjalan lagi.
Ketika itulah Chien Wan mendadak teringat akan cabikan kain hitam yang ditemukannya. Diambilnya cabikan kain itu dan ditunjukkannya pada Kui Fang.
“Aku menemukan cabikan ini di Hutan Bambu,” kata Chien Wan.
Kui Fang kaget. “Kapan kau pergi ke Hutan Bambu?”
__ADS_1
“Beberapa hari sebelum peringatan 40 hari paman dan bibiku.”
“Kenapa kau tidak menunggu di sana?”
Chien Wan menghela napas. “Aku tidak bisa melihat kebencian Sen Khang. Aku bertekad tidak akan menemuinya sebelum kecurigaannya padaku hilang.”
“Berarti sekarang sudah bisa!”
Chien Wan mengerutkan kening. “Aku berharap bisa menemukan dulu siapa pelakunya. Setelah itu barulah aku menemui Sen Khang.”
Kui Fang meraih cabikan kain itu. Dengan ujung telunjuk dan ibu jari ia menggosok-gosok bahan halus itu. “Ini kain sutra yang bagus,” komentarnya. “Sutra semacam ini harganya cukup mahal.”
“Kau mengerti banyak soal kain?”
Senyum Kui Fang merekah. “Kami di Partai Kupu-Kupu gemar mengenakan pakaian yang indah dan berbahan halus. Kami juga menggemari warna-warna cerah. Karena anggota kami banyak, selalu harus disediakan banyak bahan kain untuk membuat pakaian baru. Untuk berjaga-jaga kalau warna pakaian kami mulai pudar dan bahannya mulai kasar.”
Chien Wan tersenyum kecil, paham.
Kembali perhatian Kui Fang beralih pada cabikan kain itu. “Ini pasti pakaian orang yang menyamar menjadi kau, Kakak Wan. Dan ia tersangkut semak sewaktu hendak melarikan diri.”
Kui Fang mengangkat cabikan itu ke hidungnya dan mengendusinya. “Sudah tidak terlalu terasa, tapi agaknya kain ini tadinya berbau harum, kan?”
“Ya, kau benar.”
“Pasti orang yang menyamar menjadi kau adalah seorang pemuda yang pesolek; senang wewangian dan pakaian bagus. Atau setidak-tidaknya orang ini senang berpakaian bagus dan memperhatikan kenyamanan. Ia gemar memakai pakaian berbahan lembut agar nyaman di kulit. Dan ia juga tidak lupa mengoleskan wewangian, mungkin karena kebiasaan.” Kui Fang mengerutkan kening dan terus memandangi kain itu.
Chien Wan agak tersentak. Benar juga, pikirnya. Ia tak berpikir sampai ke situ. Rupanya Kui Fang cukup cerdas. Hanya berdasarkan cabikan kain yang tidak seberapa, ia mampu menduga keadaan si pelaku. Tentu saja kalau memang benar cabikan kain itu berasal dari si pelaku.
“Apakah kau mencurigai seseorang dengan penampilan seperti ini?” tanya Kui Fang.
Chien Wan berpikir keras dan menggeleng.
***
Mereka masih berdiskusi beberapa saat lamanya saat beberapa orang berlompatan dan menghadang mereka. Chien Wan dan Kui Fang mengenali mereka sebagai Hao Sing Yat si Harimau dari Kang Lam beserta anak buahnya. Mereka pernah berseteru beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
“Suling Maut, kau datang mengantarkan nyawa!” seru Hao Sing Yat pongah. “Kau takkan lolos karena sekarang ini kau sedang dikepung oleh para pendekar. Kau tidak akan mendapat ampun dari mereka!” Ia tidak tahu bahwa sekarang ini nama baik Chien Wan sudah pulih kembali, bahwa semua pendekar Dunia Persilatan tidak lagi mengejarnya. Karena itulah ia tidak gentar lagi menghadapi Chien Wan.
Chien Wan menatap dingin. “Kau lagi!” dengusnya.
“Jangan sombong kau!” hardik Hao Sing Yat. “Dulu aku memang kalah darimu. Tapi sekarang kau takkan bisa lolos!”
Saat itu, majulah orang yang paling kurus di antara orang-orang itu. Pria itu mengenakan pakaian mewah dan penuh hiasan. Rambut, alis mata, dan janggutnya berwarna kelabu. Wajahnya kelihatan bijaksana, namun matanya memancarkan kekejian. Dia adalah kakak seperguruan Hao Sing Yat yang juga pernah bertemu dengan Chien Wan di Bukit Merak, karena ia adalah salah seorang anak buah Cheng Sam. Hanya saja kini Chien Wan tidak mengenalinya lagi.
“Suling Maut,” sapanya pongah. “Sungguh kehormatan bisa bertemu denganmu.”
Chien Wan diam saja dengan kening berkerut dalam.
Kai Tung Lok menunggu sambutan dari Chien Wan dan tersinggung karena Chien Wan diam saja, tak mengatakan sepatah kata pun. Ia gusar karena mengira Chien Wan meremehkannya dengan diam saja. Ia melompat ke hadapan Chien Wan, menggenggam senjatanya berupa cambuk.
“Bersiaplah menjemput ajalmu!”
Chien Wan mengangkat wajahnya dan melihat serangan cambuk tepat mengarah ke arah wajahnya. Ia melompat mundur menghindari cambuk itu, tetapi betapa terkejutnya ia mendapati bahwa cambuk itu tiba-tiba meliuk seperti ular dan siap menotok titik di belakang lehernya. Lagi-lagi Chien Wan menghindar. Cambuk kembali melecut ke arah titik di dadanya dan kali ini Chien Wan tidak menghindar melainkan mencabut sulingnya dan menangkis. Ujung cambuk membelit suling Chien Wan dengan erat.
Chien Wan menggenggam sulingnya erat-erat. Ia merasakan cabuk Kai Tung Lok semakin erat melibat sulingnya dan berusaha menariknya. Ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk mempertahankan sulingnya dan sekaligus untuk menarik cambuk itu dari tangan Kai Tung Lok.
Adu tenaga dalam ini disaksikan dengan hati berdebar oleh Kui Fang. Ia sangat khawatir. Dan dalam kekhawatirannya ia menjadi lengah. Ia sama sekali tidak menyadari kehadiran Hao Sing Yat di belakangnya. Namun kemudian ia mendengar bunyi napas samar-samar. Ia berbalik dan tepat berhadapan dengan wajah Hao Sing Yat yang menyeringai.
Refleks ia menjerit.
Hao Sing Yat melayangkan totokan dengan cepat dan membuat gadis itu lemas. Lalu ia berkelebat membawanya.
Jeritan ini menggugah Chien Wan. Dalam kepanikan, tenaga dalamnya menjadi bertambah dua kali lipat dan ia menarik cambuk itu kuat-kuat. Tar! Cambuk itu terbelah dua. Kai Tung Lok terhuyung sambil memegang potongan cambuk.
Segeralah Kai Tung Lok mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan melompat pergi.
Chien Wan mengejar.
“Kui Fang!” serunya keras. Ia benar-benar panik karena telah kehilangan jejak. Ke manakah mereka membawa Kui Fang?
***
__ADS_1