
Beberapa hari telah berlalu dan kesehatan Ting Ting pun berangsur pulih. Ia pun mulai membuka diri dan tak lagi selalu mengurung diri seperti dulu lagi. Kesedihan masih dirasakannya namun berkat hiburan bibi dan sepupunya, ia mulai bisa menerima kenyataan ini. Semua orang sangat senang dan lega menyaksikan kemajuan keadaan gadis itu.
Setelah semuanya dirasa telah dapat dikendalikan oleh Sen Khang tanpa bantuan, Pendekar Sung berpamitan untuk kembali ke Kota Lok Yang. Tuan Chang juga berpamitan, mengajak Fei Yu yang sesungguhnya enggan untuk pulang kembali ke Bukit Merak.
Kui Fang dan kedua pengawalnya pun berpamitan untuk pulang ke Partai Kupu-Kupu. Sam Hui yang mendesak karena ia merasa mereka sudah terlalu lama meninggalkan partai.
Di Wisma Bambu sekarang tinggal Sen Khang, Ting Ting, Meng Huan, dan keluarga Ouwyang.
“Terima kasih atas bantuanmu, Ping-er.” Sen Khang memulai percakapannya dengan Ouwyang Ping pada suatu pagi, lima hari setelah kedatangan gadis itu.
Ouwyang Ping menarik napas. Ini adalah untuk pertama kalinya mereka berbincang-bincang kembali semenjak peristiwa itu. Sungguh menyenangkan bisa berbincang-bincang dengan Sen Khang kala kemarahan tidak lagi menguasai hati pemuda itu.
“Berkat kau dan Bibi Sui She, Ting Ting mulai pulih.”
Ouwyang Ping menggeleng. “Bukan. Ting Ting sendiri yang sudah bisa menenangkan dirinya. Aku senang dia bisa seperti sekarang.”
“Kini ia sudah mulai mau tersenyum lagi,” senyum Sen Khang.
Pandangan Ouwyang Ping menerawang membayangkan saat pertama kali ia berjumpa dengan Ting Ting lebih dari dua tahun yang lalu. Ting Ting seorang gadis yang cantik, manis, dan selalu ceria. Penampilannya selalu rapi dan menawan hati.
Sen Khang memandang ragu. “Bolehkah aku bertanya sesuatu yang agak... pribadi?” tanyanya pelan.
“Tentu saja.”
Sen Khang menyeka telapak tangannya yang terasa lembab. “Apa... kau menyukai Fei Yu?” tanyanya hati-hati.
Ouwyang Ping mengangguk. “Tentu. Dia orang yang baik. Lagi pula dia masih bisa dibilang kakak seperguruanku,” jawabnya tanpa memahami maksud Sen Khang yang sebenarnya.
Sen Khang meringis. “Maksudku... sebagai kekasih?”
Gadis itu tersentak kaget dan menatap Sen Khang seolah pemuda itu mahluk aneh. “Kakak Luo? Mengapa kau bisa berpikiran begitu?” serunya kemudian dengan sangat heran. “Sebagai kekasih?”
“Aku... aku melihat kalian begitu akrab dan berbincang-bincang dengan sangat dekat. Salahkah kalau aku mengira kalian...?”
Ouwyang Ping tak dapat menahan senyum gelinya. “Astaga, Kakak Luo!”
Sen Khang terpesona melihat senyum Ouwyang Ping. Ditatapnya senyum menawan itu sepuas-puasnya. Betapa bahagia hatinya melihat senyum itu merekah dengan tulusnya.
“Kakak Luo, Fei Yu bukan kekasihku. Dia takkan pernah menjadi kekasihku!” kata Ouwyang Ping tegas.
Senyum Sen Khang merekah. Ia merasa begitu lega. “Baguslah kalau begitu,” katanya pelan.
__ADS_1
Tatapan Sen Khang begitu lembut dan mengandung kemesraan yang mengguncang hati Ouwyang Ping. Ia merasa pipinya memanas sehingga ia harus memalingkan muka ke arah lain. Ia bukan gadis lugu dan bodoh. Ia bisa mengerti maksud dari pertanyaan Sen Khang. Tetapi ia belum bisa menerimanya. Karena itu ia tidak mau menimbulkan harapan apa-apa pada Sen Khang.
Sen Khang mengerti perasaan gadis ini. Baginya sudah cukup asal Ouwyang Ping tidak menjalin hubungan dengan pria lain. Bila ia masih mengenang cinta pertamanya, biarlah. Sen Khang bersedia menunggunya.
“Kakak Luo, bila kau jeli kau pasti bisa melihat dengan jelas. Fei Yu menyukai Ting Ting, bukan aku.”
Sen Khang memandang kaget. Betapa bodohnya dia! Semestinya ia bisa melihatnya. Sejak dahulu Fei Yu memang selalu memperhatikan Ting Ting. Pandangan mata Fei Yu tak pernah lepas dari Ting Ting. Tingkah laku Fei Yu kala berada di dekat Ting Ting selalu menampakkan perasaan kasmaran.
“Betul juga...,” gumam Sen Khang.
“Bahkan sampai sekarang.”
“Tetapi,” Sen Khang menggosok-gosok hidungnya dengan murung, “bagaimana pun dia menyukai Ting Ting, dia pasti berubah pikiran setelah kejadian ini. Ting Ting bukan lagi gadis murni yang dulu.”
“Agaknya kau keliru,” bantah Ouwyang Ping. “Hal pertama yang ditanyakannya padaku adalah bagaimana keadaan Ting Ting. Dia benar-benar mencintai Ting Ting.”
Sen Khang merenung.
“Kalau dipikir-pikir, Ting Ting sungguh beruntung. Walau sudah ternoda dan sekarang mengandung anak haram, orang-orang yang mencintainya tetap tidak berubah. Pertama Meng Huan, dan kini ada Fei Yu. Ah... semoga saja Tuhan menunjukkan jalan yang terbaik kepada adikku,” katanya pelan.
Ouwyang Ping tersenyum dan mengangguk.
Lagi-lagi Sen Khang terpesona. Ia memandangi senyum lembut itu dengan hangat. “Dan juga bagiku...,” gumamnya.
***
Chien Wan tidak tahu bahwa kini semua pendekar sudah tidak mencurigainya lagi dan tidak memburunya lagi, maka ia tetap melakukan perjalanan secara sembunyi-sembunyi.
Setelah mengunjungi makam Sung Cen di Hutan Bambu, ia pergi menyusuri jalan yang terpencil untuk kembali ke Kota Lok Yang. Bagaimana pun ia harus bisa bertemu dengan Pendekar Sung untuk meminta nasihat dari pria itu. Ia yakin, setelah ia mendiskusikan penyelidikannya dengan Pendekar Sung, ia akan bisa menemukan beberapa jalan keluar.
Ia tiba di wilayah Partai Kupu-Kupu. Hatinya terasa ngilu manakala mengingat perpisahannya dengan Kui Fang. Ia tidak bermaksud menginjakkan kaki lagi di wilayah itu, namun entah mengapa kakinya seperti membawanya ke sana.
Ia tiba pada saat yang bersamaan dengan tibanya Kui Fang bersama kedua pengawalnya.
Kui Fang melihatnya.
“Kakak Waan!!” pekik gadis itu bahagia. Tanpa mempedulikan kedua pengawalnya lagi ia berlari menghampiri Chien Wan. Selendangnya melambai-lambai kala ia berlari. Wajahnya kemerahan dan begitu menawan.
Chien Wan terpaku mengawasinya sampai kemudian gadis itu tiba di hadapannya. Tanpa sadar ia mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan gadis itu. Mereka bergenggaman erat penuh kerinduan.
“Kakak Wan, akhirnya kita bertemu lagi.” Kui Fang tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Chien Wan tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya genggamannya semakin erat pada tangan Kui Fang.
Sam Hui dan Wen Chiang menghampiri dan memberi hormat.
“Saudara Ouwyang,” sapa mereka.
Tubuh Chien Wan langsung waspada.
Kui Fang menyadari ketegangan pemuda itu. Ia pun berkata, “Kakak Wan, sekarang semuanya sudah beres. Sekarang semua orang tidak lagi menyalahkanmu. Sekarang semua pendekar di Dunia Persilatan sudah tahu bahwa kau tidak bersalah.”
Chien Wan tertegun. “Bagaimana bisa?”
“Berkat Paman Chang dan Kakak Chang.”
Sam Hui maju. “Sebaiknya kita semua pergi menemui Ketua Wu. Aku yakin Ketua juga pasti ingin mendengarkan cerita ini.”
Chien Wan mengangguk. Ia sangat penasaran. Benarkah Sen Khang dan semua orang sudah tidak menyangkanya sebagai pembunuh? Benarkan mereka semua sudah tahu bahwa ia tidak bersalah? Lantas bagaimana dengan pembunuh yang sebenarnya?
Kedatangan mereka semua disambut oleh Ketua Wu dan seluruh anggota partai. Mereka masih bersikap waspada terhadap Chien Wan sebab meski sudah mendengar cerita Kui Fang, mereka masih agak ragu dengan kebenarannya.
Segeralah Sam Hui mulai bercerita, menceritakan semua hal yang terjadi selama mereka pergi meninggalkan Partai Kupu-Kupu. Ia menceritakan bagaimana mereka menyusun sandiwara yang rumit itu untuk membuka pikiran Sen Khang dan seluruh pendekar yang hadir di sana. Ia juga menceritakan semua yang dilakukan Sen Khang setelah tahu kebenarannya.
“Maksud Anda, Sen Khang meminta maaf pada orangtuaku?” gumam Chien Wan dengan lega. Dari segala hal yang dikhawatirkannya, ia paling cemas akan perlakuan Sen Khang terhadap orangtuanya.
“Ya. Saudara Luo benar-benar pendekar sejati. Ia tidak malu mengakui kesalahannya di hadapan umum. Tanpa ragu ia meminta maaf pada Tuan dan Nyonya Ouwyang,” jawab Sam Hui tenang.
“Kakak Wan seharusnya lega sekarang,” senyum Kui Fang lembut.
Chien Wan menghela napas. Belum. Ia belum lega bila pembunuh itu belum terungkap. Beban di hatinya memang sudah agak ringan, namun ia masih harus berusaha mengungkapkan siapa pembunuh sebenarnya.
Ketua Wu juga mendengarkan semuanya dengan takjub. Ia segera mendekat pada Chien Wan.
“Atas nama Partai Kupu-Kupu, aku meminta maaf atas perlakuan orang-orangku sebelum ini,” ujar Ketua Wu.
“Tidak apa-apa, Paman Wu. Tolong jangan dipermasalahkan lagi,” kata Chien Wan.
Ketua Wu mengangguk.
Mereka tidak banyak bercakap-cakap lagi setelah itu. Ketua Wu meminta Chien Wan untuk tinggal di sana selama beberapa hari.
Chien Wan menyanggupinya.
__ADS_1
***