
Kedatangan Cheng Sam mengagetkan semua orang dalam ruangan itu, namun tidak demikian halnya dengan Meng Huan sendiri. Ia bahkan tidak mempedulikan Cheng Sam sama sekali. Pandangan matanya terarah pada Chien Wan dengan kemarahan membabi-buta. “Ouwyang Chien Wan, kubunuh kau!” serunya. Lalu ia menyambar pedang yang tergantung belakang salah seorang anak buahnya. Ia melompat dan dengan gerakan luar biasa lihay, ia mulai menyerang Chien Wan.
Chien Wan mengelak dan untungnya berhasil. Pedang itu hampir saja menebas lehernya, dan elakannya hanya berjarak beberapa inci saja dari lehernya. Ia sama sekali tak sempat mencabut sulingnya. Serangan Meng Huan begitu bertubi-tubi. Pedang di tangannya seolah berubah menjadi banyak dan Chien Wan tak bisa melihat mana yang asli.
Itulah kehebatan Ilmu Pedang Bayangan yang berhasil dikuasai Meng Huan. Ia mempelajari ilmu itu dari empat jilid yang dicuri Cheng Sam dari Bukit Merak. Belum sempurna karena Cheng Sam gagal mengambil jilid kelima. Namun itu saja sudah cukup untuk menjadikan Meng Huan begitu hebat.
Chien Wan hanya mampu mengelak-elak. Ia sama sekali tak punya kesempatan untuk mencabut sulingnya. Meng Huan telah bergaul bersamanya selama bertahun-tahun dan tahu betul bahwa tanpa sulingnya Chien Wan tidak terlalu lihay. Maka ia selalu menyerang tangan Chien Wan, membuatnya sibuk hingga tak sempat mengambil sulingnya.
Tendangan Meng Huan sama berbahayanya dengan ilmu pedangnya. Kakinya menyambar-nyambar dan tak bisa dielakkan oleh Chien Wan.
Blar!!
Chien Wan terkena tendangan di dadanya. Lalu pedang melukai rusuk kirinya. Ia terlempat dengan bersimbah darah, baik dari rusuk maupun dari mulut.
“Chien Wan!!” teriak ayah dan ibunya bersamaan.
“Kakak Wan!” Kui Fang berlari mendekat dan menubruk Chien Wan yang tergeletak di lantai.
Ouwyang Ping begitu marah. Tadi Sen Khang yang terluka, sekarang kakaknya. Ia menjentik harpanya dan dentingannya melengking tajam. Sambaran tenaga petikan Ouwyang Ping membentuk bidikan tajam yang mengarah ke arah Meng Huan. Meng Huan melompat menghindar dan lantai di dekat Meng Huan meledak.
Meng Huan melotot dan hendak menyerang Ouwyang Ping, namun Tuan Ouwyang sudah melesat dan berdiri di hadapannya. Pria tua itu melayangkan tangannya yang tampak membara.
Bang! Bang!
Dua tepukan keras Tuan Ouwyang menampar udara menimbulkan suara seperti tabuhan genderang perang. Gelombang tenaga dalam tingkat tinggi itu melesat tanpa mampu dihindari dan tepat mengenai dada Meng Huan.
Blar!!
Tubuh Meng Huan terlempar dan darah muncrat dari mulutnya.
Itu adalah Ilmu Genderang Surgawi. Ilmu pusaka Lembah Nada yang hanya boleh diturunkan kepada satu orang di tiap generasi. Ilmu yang luar biasa sulit dan tak semua orang sanggup menguasainya.
Cheng Sam memberi isyarat pada anak buahnya untuk menolong Meng Huan, kemudian mundur. Ia sangat ngeri melihat kehebatan Tuan Ouwyang Cu. Untung saja saat itu perhatian Tuan Ouwyang terpusat pada luka Chien Wan sehingga tak mau mengejar mereka.
Kepergian Meng Huan tak sempat dicegah karena mereka semua sibuk mengurusi Chien Wan yang ternyata terluka sangat parah.
Semua merasa begitu terpukul dengan kejadian ini. Hati yang semula begitu indah kini telah berubah menjadi bencana. Kini pelaku kekejaman itu telah terungkap, namun tak ada seorang pun yang merasa lega. Siapa yang menduga Meng Huanlah pelakunya!
Tuan Ouwyang menotok beberapa titik di tubuh Chien Wan untuk menghentikan aliran darah. Keadaan Chien Wan amat mengkhawatirkan. Wajahnya pucat pasi. Darah mengucur dari lukanya walau tidak sederas tadi. Keringat bermunculan di wajahnya karena menahan sakit yang teramat sangat.
“Chien Wan... Chien Wan...,” isak Sui She sambil memeluk putranya tanpa peduli dengan darah yang bercucuran.
Tangan Chien Wan digenggam erat oleh Kui Fang yang juga menangis.
Chien Wan berusaha membalas genggaman tangan Kui Fang. Dengan susah payah ia berusaha menyunggingkan senyum. “Ibu... Kui Fang.... jangan menangis....”
__ADS_1
“Chien Wan,” panggil Ouwyang Kuan sedih.
Ouwyang Ping mendekat. Ia menggigit bibirnya. “Kakak....”
Ting Ting yang tengah berada dalam pelukan Fei Yu dan menangis dengan sedih, tiba-tiba meronta melepaskan diri. Ia berlari menghampiri Chien Wan dan berlutut di sisinya.
“Kakak Wan... Kakak Wan...,” ratapnya.
Chien Wan menatap gadis itu dengan sedih. “Maafkan aku... Gara-gara aku pernikahanmu batal...,” sesalnya.
Ting Ting menggeleng-gelengkan kepalanya. Air matanya bercucuran. “Tidak, Kakak Wan, tidak...,” isaknya. Anehnya kali ini tersirat kelegaan di matanya. “Kau menyelamatkan hidupku, Kakak Wan. Seandainya....” Ia menelan air matanya, “seandainya kau tidak datang, saat ini aku pasti sudah menjadi istri dari pembunuh orangtuaku dan anggota Wisma Bambu lainnya....”
Chien Wan hendak menyunggingkan senyum, namun lukanya terlampau parah. Ia tak kuat lagi menahan sakit. Ia pun terkulai pingsan.
“Kakak Wan!”
“Chien Wan!”
***
Pendekar Sung memeriksa Chien Wan dengan seksama. Untunglah ia punya kemampuan pengobatan yang cukup baik. Sui She dan Kui Fang berkeras menungguinya di dalam kamar.
“Bagaimana putraku, Adik Sung?” tanya Sui She cemas.
Pendekar Sung tampak sangat khawatir.
“Jadi?”
“Untungnya Chien Wan punya daya tahan yang luar biasa. Luka luarnya cukup dalam, namun bisa diobati. Yang menjadi masalah sekarang adalah darah beku itu. Sangat sulit untuk mengeluarkan darah beku yang menyumbat itu,” jelas Pendekar Sung.
“Bagaimana caranya?”
Pendekar Sung mengernyit. “Mungkin bisa dengan pengerahan tenaga dalam. Tetapi kita jangan terlalu berharap.”
Tuan Ouwyang yang sejak tadi berdiri di pintu mendengarkan penjelasan itu dan menerobos masuk. “Aku akan mengeluarkan darah beku itu!”
Pendekar Sung mengangguk. “Memang sebaiknya Anda yang melakukannya.”
Kui Fang membimbing Sui She. “Bibi, sebaiknya kita keluar,” ajaknya pelan.
Sui She mengangguk.
Keduanya keluar diikuti oleh Pendekar Sung, meninggalkan Tuan Ouwyang di dalam.
Ketika pintu kamar ditutup, Tuan Ouwyang membangkitkan tubuh cucunya yang pingsan hingga pemuda itu berada dalam posisi bersila. Tuan Ouwyang bersila di belakangnya. Ia menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Chien Wan yang telanjang.
__ADS_1
Ia mengerahkan tenaga dalamnya.
Sementara itu di luar kamar, orang-orang menanti dengan cemas.
Sui She dan Kui Fang berdiri bersisian di depan pintu kamar. Sedikit pun mereka tak mau meninggalkan tempat itu. Ouwyang Ping juga berdiri tak jauh dari sana. Ouwyang Kuan mondar-mandir dengan cemas sambil menggumamkan sesuatu yang tak ditujukan kepada siapa pun.
Sen Khang—yang juga terluka walau tak separah Chien Wan—berdiri tak jauh dari mereka. Tuan Chang dan Pendekar Sung berbicara dengan suara pelan tak jauh dari Sen Khang. Sedangkan A Ming diam menyendiri di sudut taman.
Siu Hung sedang mengajak A Lee. Ia tak mau A Lee menangis dan merepotkan semua orang yang sedang repot saat ini. A Te bersama mereka.
Beberapa waktu kemudian, pintu kamar terbuka.
Tuan Ouwyang Cu keluar dengan ekspresi serius. Ia tampak agak cemas. Sui She menghambur ke hadapannya. “Ayah...?”
“Aku sudah berusaha mengeluarkan darah beku itu. Tetapi ternyata darah beku itu tak bisa keluar. Rupanya pembekuannya begitu keras sehingga aliran tenaga dalamku sia-sia saja. Tak ada setetes pun yang keluar!” gerutu Tuan Ouwyang kesal.
Pendekar Sung mendengarkan keterangan itu dan mengerutkan kening. “Aku sudah menduga. Agaknya Chi Meng Huan menguasai ilmu aneh yang langsung membekukan aliran darah pada paru-paru. Agaknya ia mengincar saluran pernapasan Chien Wan untuk membuatnya sulit bernapas.”
“Dan orang yang sulit bernapas akan sulit meniup suling!” Tuan Ouwyang Cu memukul telapak tangannya dengan jijik. “Sungguh diperhitungkan dengan cermat! Dia tahu bahwa bagi seorang pemusik, tidak bisa menggunakan alat musik kesukaan bagaikan hidup dalam neraka!”
“Apakah itu membahayakan jiwanya?” tanya Sui She pada Pendekar Sung.
Pendekar Sung mengangguk.
“Oh!” Sui She terhuyung-huyung.
“Ibu!” Ouwyang Ping memeluk ibunya.
“Bibi jangan lemah begini. Kakak Wan itu orang yang kuat. Dia tidak akan apa-apa. Dia tidak akan meninggalkan kita semua karena dia tahu itu akan menyakiti kita.” Kui Fang berkata tegas.
Sui She menahan tangis dan memandangi gadis yang dicintai putranya itu dengan penuh permohonan. Seolah keyakinan Kui Fang bisa membuat segalanya menjadi beres.
Sen Khang menyaksikan semua orang mengerumuni Sui She. Ia menghela napas dan menyelinap masuk ke dalam kamar Chien Wan.
Dipandanginya Chien Wan yang terbaring pingsan di atas pembaringan. Matanya terpejam rapat di wajah yang sangat pucat. Napasnya terdengar sangat berat dan tersengal. Dadanya telanjang, menampakkan memar membiru bekas tendangan kaki Meng Huan. Rusuknya di bagian kiri kini sudah diperban.
Sen Khang duduk di samping tempat tidur Chien Wan.
“Chien Wan, dulu kau selalu meyaksikan keharmonisan keluargaku. Walau kau tak pernah bilang apa-apa, aku tahu bahwa dalam hatimu... kau iri padaku,” desahnya. Ia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Chien Wan yang dingin.
“Sekarang keadaannya berbalik. Keluargaku sudah hilang. Ayah dan ibuku telah tiada. Adikku begitu menderita. Aku seorang diri harus menjaga keluarga ini. sekarang aku yang iri padamu. Kau punya orangtua, punya kakek yang menyayangimu, punya adik yang begitu memperhatikanmu secara istimewa, punya adik kecil yang lucu. Bahkan punya seorang kekasih yang begitu memujamu. Kau sangat beruntung....”
Sen Khang menengadah dan menghembuskan napasnya. “Kau punya keluarga yang sangat mencintaimu. Kumohon padamu, Chien Wan... jangan tinggalkan mereka. Dulu kau mendambakan keluarga yang harmonis. Kini kau mendapatkannya. Maka jangan kaulepaskan mereka! Kau bodoh jika kau melepaskan kebahagiaan ini. sadarlah, Chien Wan! Demi keluargamu... demi aku, sahabatmu....” suara Sen Khang agak bergetar kala mengucapkannya.
Sen Khang begitu sedih dan serius. Betapa berbedanya dia dari sebelum terjadinya musibah ini. Sen Khang yang gembira, Sen Khang yang selalu memandang hidup dengan ceria dan penuh semangat, ternyata bisa berubah karena kepedihan yang mendalam.
__ADS_1
Kesedihan membuat semua indera Sen Khang tertutup sehingga ia tak dapat menyadari keadaan sekitarnya. Ia tak menyadari kehadiran Ouwyang Ping yang masuk hampir bersamaan dengan dia. Gadis itu mendengarkan semua kata-katanya. Perkataan Sen Khang begitu menusuk hatinya. Ouwyang Ping menggigit bibirnya.
***