
Esok harinya, Ketua Wu menjamu tamu-tamunya di ruang sidang. Ia sangat bersyukur karena berkat para tamunya yang sangat dihargainya itu ia dapat mempertahankan Partai Kupu-Kupu dari para pengkhianat dan penjahat. Sebagai wujud dari rasa syukurnya itu, ia mengadakan pesta untuk mereka semua.
Saat itu, Tuan Ouwyang berdiri dan langsung menghampiri Ketua Wu. Gayanya yang angkuh dan pongah membuat kedua cucunya berpandangan cemas. Apa yang hendak dilakukan oleh kakek mereka yang eksentrik itu?
“Aku mau bicara dengamu, Ketua Wu!”
Ketua Wu sudah mendengar cerita putrinya tentang Tuan Ouwyang dan hal itu membuatnya dapat memaklumi keterusterangannya. “Tentu saja, Tuan Ouwyang. Aku sangat senang Anda mau datang ke tempat ini dan membantu kami. Merupakan kehormatan yang sangat besar bagi kami semua di sini.”
“Aku tidak datang untuk menolong partaimu. Aku datang ke sini untuk meminta sesuatu darimu!”
“Oh, apa itu?”
“Yang pertama, aku mau meminta sari madu Kupu-kupu Perak untuk kubawa ke Lembah Nada,” kata Tuan Ouwyang tanpa ragu-ragu. Tak ada sedikit pun kecanggungan dalam suaranya.
“Oh, tentu saja!” Ketua Wu tersenyum. “Aku akan menyuruh anak buahku mengirimkan beberapa guci sari madu ke Lembah Nada.” Ia merasa lega sekali mendengar permintaan ini. semula dia pikir Tuan Ouwyang akan meminta sesuatu yang sulit dipenuhinya. Kalau hanya sari madu, tentu saja ia tidak berkeberatan.
“Ada satu lagi permintaanku. Kali ini lebih berarti daripada tadi.”
“Apa itu, Tuan Ouwyang?”
“Aku mau melamar putrimu untuk menjadi istri cucuku, Ouwyang Chien Wan!”
Permintaan itu bukan hanya mengejutkan Ketua Wu dan istrinya serta seluruh anggota Partai Kupu-Kupu, namun juga semua orang yang berada di sana. Termasuk Chien Wan dan Kui Fang sendiri.
Ketua Wu dan istrinya berpandangan. Sejenak mereka tak mampu mengatakan apa-apa, hanya memandangi putri mereka. Kui Fang tampak ternganga dengan wajah merah padam. Chien Wan yang berdiri di sampingnya tampak sangat terkejut. Tak ada yang menyangka Tuan Ouwyang akan mengatakan semua itu di depan umum.
“Mereka sudah saling mengerti dan kulihat mereka sangat cocok. Cucuku adalah pemuda yang baik dan bertanggung jawab. Putri kalian pasti akan bahagia bersamanya!” lanjut Tuan Ouwyang lugas.
“Kakek,” tegur Chien Wan sambil menghampiri kakeknya.
Namun Tuan Ouwyang tak mengacuhkannya. “Bagaimana? Terima atau tidak?”
Akhirnya Ketua Wu menemukan kembali suaranya. “Wah, Tuan Ouwyang. Ini adalah suatu kejutan untuk kami semua. Aku sangat senang Anda mempunyai perhatian semacam itu untuk anak kami.”
“Sudah jangan berbasa-basi!” Tuan Ouwyang mengibaskan tangan. “Terima atau tidak?”
“Jika mereka memang saling menyukai, mengapa tidak?” Ketua Wu tersenyum memandang putrinya. “Bagaimana, Nak?”
Wajah Kui Fang semakin merah. “Terserah Ayah saja,” ucapnya lirih.
__ADS_1
“Dan kau!” Tuan Ouwyang menyodok cucu laki-lakinya dengan keras. “Apa kau suka pada putri Ketua Wu itu? Jawab dengan tegas!”
Chien Wan menarik napas panjang. Jantungnya berdegup kencang saat ia melirik Kui Fang yang semakin salah tingkah. Namun ia tercekat melihat sinar penuh harap yang melintas di mata gadis itu tatkala ia mengangkat wajahnya.
“Eh, eh, kenapa diam?” Tuan Ouwyang memelototi cucunya.
Chien Wan melirik kakeknya sepintas sebelum memusatkan perhatian pada Ketua Wu dan istrinya. “Paman Wu, Bibi Wu, apa yang dikatakan oleh kakekku memang benar. Aku ingin meminang Kui Fang untuk menjadi istriku. Hanya saja, aku tidak menyangka Kakek akan mengatakannya saat ini juga.”
Kebahagiaan memenuhi wajah Kui Fang membuatnya tampak bercahaya.
Semua orang saling berpandangan. Ouwyang Ping menatap dengan perasaan bercampur-aduk. Inilah pertama kalinya Chien Wan mengungkapkan perasaan di depan umum. Ia sudah berubah. Kini ia jauh lebih terbuka. Cinta telah mengubahnya menjadi laki-laki yang lebih baik dan tegas.
Tuan Ouwyang mengangguk-angguk dengan puas sekali.
Ketua Wu tersenyum. Istrinya tampak terharu sekaligus juga bahagia.
“Kalau begitu, dengan senang hati kami akan menerima pinangan itu,” kata Ketua Wu. “Kami sebagai orangtua akan mengikuti kehendak anak kami. Bila memang kalian berdua sudah saling cocok, apa yang bisa kami lakukan? Ya. Kami merestui kalian berdua.”
“Ha ha ha ha!” Tuan Ouwyang tertawa girang. “Chien Wan, mereka sudah setuju! Sekarang kita tinggal memberitahu orangtuamu, lalu kita adakan pesta pernikahan yang meriah di Lembah Nada!”
“Sebentar, Kek!” Chien Wan mengerutkan kening.
“Pernikahan tidak akan berlangsung dalam waktu dekat. Masih banyak urusan yang harus kuselesaikan.”
“Chi Meng Huan belum dapat kita atasi,” sambung Kui Fang pelan. “Bukan saatnya untuk bersenang-senang.”
Chien Wan mengangguk. Ia selalu kagum pada Kui Fang yang seolah mampu membaca pikirannya.
Sen Khang memandang sahabatnya dengan penuh haru dan kekaguman yang tulus. Memang seperti itulah Chien Wan, seorang pria yang senantiasa berpikir jauh ke depan dan tidak sekadar menuruti keinginan hati. Ia yakin sebenarnya Chien Wan sudah ingin menikahi kekasihnya. Namun ia merasa tidak pantas mengadakan perayaan apa pun di saat masih ada masalah berat yang belum dapat ditangani.
Ketua Wu mengangguk-angguk. “Kalian benar. Sebaiknya pernikahan ditunda sampai semua ganjalan sudah terselesaikan. Tidak baik melangsungkan perayaan bila masih ada beban pikiran yang merasuk.”
Tuan Ouwyang merengut, tapi ia sudah kalah. Semua orang sudah sepakat. Maka ia tidak punya perkataan apa-apa lagi.
Siu Hung menertawakannya. “Ha ha ha! Kakek kalah suara!” godanya.
Kata-kata Siu Hung membuat semua orang tersenyum. Suasana mencair sehingga mereka dapat melakukan pembicaraan yang jauh lebih ringan.
Tuan Ouwyang melotot pada Siu Hung. Tetapi dengan nakal, gadis itu pura-pura tidak melihatnya.
__ADS_1
Para tamu yang hadir saling berbicara satu sama lain. Mereka menyantap hidangan yang tersaji dengan riang gembira. Meneguk minuman manis khas Partai Kupu-Kupu yang bisa membuat orang awet muda.
Siu Hung duduk di dekat ayahnya dan Tuan Ouwyang. Gadis itu berbicara penuh semangat pada ayahnya.
“Mungkin aku akan tinggal di Lembah Nada selamanya, Yah,” celoteh Siu Hung riang. “Dan karena Ayah mau pensiun, mengapa tidak tinggal di Lembah Nada saja bersamaku?”
Pendekar Sung tertawa. “Aku hanya pensiun dari jabatan Ketua Persilatan. Tapi usaha jasa pengawalan barang kita masih berjalan.”
Siu Hung mengangkat bahu. “Yah, kalau begitu sebaiknya Ayah menikah lagi saja!”
Pendekar Sung meringis. “Kau ini bicara apa, sih?”
“Anakmu ini terlalu banyak bicara!” sambar Tuan Ouwyang sengit.
Pendekar Sung tertawa.
“Orang yang bicara apa adanya adalah orang yang paling kuhargai!” lanjut Tuan Ouwyang pongah. “Aku tidak suka pada orang yang kalau bicara sok bermanis-manis. Biasanya orang seperti itu bermuka dua. Di sini bilang begini, di sana lain lagi omongannya!”
Siu Hung melirik ayahnya yang menahan tawa.
“Seperti Chi Meng Huan itu! Sejak dulu aku sudah merasa anak ini pembawa masalah!” lanjut Tuan Ouwyang dengan suara keras.
Ucapan itu membuat Chien Wan, Sen Khang, dan Ouwyang Ping yang duduk tidak jauh dari mereka tercengang.
“Jadi Kakek tidak suka padanya?” tanya Ouwyang Ping. “Dari dulu?”
“Anak itu? Huh!” dengus Tuan Ouwyang.
Chien Wan menghela napas. “Paman Sung Cen dulu juga tak pernah menyukainya. Sejak Meng Huan datang ke Wisma Bambu, sikap Paman Sung tak pernah ramah. Selalu kaku dan menjaga jarak. Aku sangat heran waktu itu.” Ia menggeleng-geleng. “Ternyata Paman Sung tidak keliru. Aku yang keliru tentang Meng Huan karena mengiranya sebagai teman yang sangat baik.”
“Bukan hanya kau yang keliru, Chien Wan,” sela Sen Khang muram. “Keluarga kita, termasuk aku dan Ping-er. Semua keliru mengenai Meng Huan. Kita semua salah menilainya. Sikap manisnya telah membutakan kita semua.”
“Benar,” angguk Ouwyang Ping.
“Tetapi Fei Yu dan aku tidak, tuh!” Siu Hung tertawa. “Fei Yu sangat membenci Chi Meng Huan, walau semua itu karena dia cemburu Ting Ting baik pada Chi Meng Huan. Sedangkan aku... aku tidak suka saja karena dia selalu tersenyum dan mengalah. Mana ada orang yang selalu mengalah pada setiap kesempatan?!”
“Kau memang selalu tak mau kalah!” gerutu Tuan Ouwyang.
Yang lainnya saling berpandangan sambil tersenyum.
__ADS_1
***