Suling Maut

Suling Maut
Masa Lalu Sung Cen I


__ADS_3

Ada sesuatu yang tidak diberitahukan Sung Cen kepada Chien Wan dan teman-temannya, yakni bahwa dirinya dan Ketua Persilatan adalah kakak beradik. Ia adalah kakak dari Pendekar Sung. Maka ketika Ouwyang Kuan menceritakan hal ini kepada Sen Khang—yang memang pengagum Pendekar Sung, pemuda itu menjadi sangat terkejut dan juga gembira. Ia bergegas mendatangi Sung Cen untuk menanyakan kebenaran itu.


Sung Cen tengah bersama Chien Wan ketika Sen Khang bergegas datang dan menanyakan hal itu. Ia menghela napas.


“Memang benar. Sung Han adalah adikku. Tetapi kami tidak bertemu selama lebih dari dua puluh tahun. Kurasa sekarang dia pasti mengira aku sudah mati,” kata Sung Cen tenang.


“Apakah Paman tidak mau menemuinya?” tanya Sen Khang.


“Entahlah. Aku tidak pernah memikirkannya,” jawab Sung Cen dengan kening berkerut.


“Dia pasti ingin bertemu dengan Paman!” tukas Sen Khang. “Bagaimana pun kalian adalah saudara sedarah.”


“Mungkin dia marah padaku.”


“Mengapa?”


“Sejak menjadi anggota Lembah Nada, kesetiaanku mutlak kuberikan pada tempat ini. Aku nyaris tidak pernah lagi mengunjungi keluargaku. Bahkan sewaktu aku menikah pun, Guru-lah yang kumintai restu dan bukan ayahku. Sejak menjadi anggota Lembah Nada, aku hanya dua kali pulang ke rumah. Yakni pada saat ibuku sakit dan meninggal, serta saat memberitahu bahwa aku akan menikah. Bahkan pada saat ayahku meninggal, aku tidak pulang,” kisah Sung Cen dengan pandangan menerawang.


“Apakah saat itu Paman sudah mulai menjadi Paman Khung?”


“Ya. Ayahku meninggal saat aku sudah tiga tahun menyamar. Waktu itu Sung Han belum menjadi Ketua Persilatan. Aku tahu dia mencariku, namun waktu itu aku tak punya pilihan.”


“Sebaiknya Paman menemuinya,” timpal Chien Wan.


“Betul! Betul!” sambung Sen Khang. “Kalau Paman mau, kami akan menemanimu.”


Sung Cen memandang kedua pemuda itu. Dalam hati ia bingung. Betapa berbedanya sifat mereka. Yang satu periang dan penuh semangat, yang lain pendiam dan pemurung. Namun kedekatan mereka nyaris menyerupai saudara kandung. Mengingatkannya akan dirinya dan adiknya.


“Sebaiknya kalian membicarakan dulu dengan orangtua kalian. Aku bisa pergi sendiri jika mereka tidak memberi izin.”


“Aduh, Paman! Kami ini sudah dewasa! Kami tidak memerlukan izin,” bantah Sen Khang.


“Bagaimana pun juga mereka harus tahu niat kalian.”


Keputusan Sung Cen tidak dapat diubah. Maka Sen Khang dan Chien Wan pun menghadap orangtua mereka untuk menceritakan niat mereka.

__ADS_1


Setelah mendapat persetujuan dari seluruh keluarga, mereka bertiga pun meninggalkan Lembah Nada. Awalnya Meng Huan dan Ting Ting ingin ikut, namun Tuan Luo tidak mengizinkan.


***


Bukit Merak tampak tenang dan asri. Suasana di sana tenang dan tak tampak kegiatan yang berarti. Keributan yang beberapa waktu lalu terjadi di sana ternyata tidak berdampak apa-apa terhadap irama kehidupan di sana.


Sempat terjadi pertengkaran antara Fei Yu dan ayahnya mengenai kekacauan yang terjadi beberapa bulan lalu gara-gara ulah Cheng Sam, orang kepercayaan Dewa Seribu Wajah Chang Cin Te. Kini mereka sedang mengadakan semacam gencatan senjata, dan memutuskan untuk berbaikan kembali karena tidak ada gunanya meributkan semua hal yang telah berlalu. Dan Cheng Sam pun telah meminta maaf dengan bersungguh-sungguh, dengan cara yang mengharukan Tuan Chang dan membuat Fei Yu mendengus sebal karena ia masih tidak bisa mempercayai ular berkepala dua itu..


Kedamaian yang terjadi di antara Fei Yu dan ayahnya sudah berlangsung selama berbulan-bulan. Herannya lagi, Cheng Sam pun tidak berulah macam-macam lagi sehingga Fei Yu tidak sering marah-marah. Mungkin Cheng Sam sudah kapok dengan kejadian tidak mengenakkan dulu, pikir Fei Yu puas.


Hari itu masih pagi dan udara terasa sejuk. Fei Yu sudah terjaga dan tengah berjalan-jalan di dekat pintu luar kediamannya. Ia dikejutkan oleh kedatangan seorang biksuni yang membawa kebutan halus.


Saat biksuni itu mendekat, Fei Yu menyadari bahwa dugaannya tadi agak keliru. Ia mengira biksuni itu sudah berumur, ternyata masih muda sekali dan cantik. Bahkan agaknya ia belum resmi menjadi biksuni karena rambutnya belum dicukur gundul. Hanya saja rambut itu ditutup oleh topi khas biksuni.


Saat biksuni muda itu mendekat dan memberi hormat, Fei Yu membalasnya dengan cara sama.


“Bisakah saya bertemu dengan Tuan Chang Cin Te?” tanya biksuni itu sopan.


“Tentu saja. Beliau adalah ayahku,” jawab Fei Yu. Dipandangnya biksuni itu dengan heran. “Maaf, boleh aku tahu Anda ini siapa?”


“Di biara, saya dipanggil A Ming.”


“Ayah Anda yang meminta saya datang ke sini lewat surat yang dikirimnya melalui kurir.”


Fei Yu menatapnya dengan semakin heran. Namun ia tidak bertanya lagi. Diantarnya biksuni itu menuju ruang kerja ayahnya.


Saat itu Tuan Chang sudah bangun dan sudah mulai bekerja di ruangannya. Ia tengah melukis sesuatu di selembar kertas. Biasanya sebelum membuat topeng kulit yang menyerupai wajah seseorang, ia terlebih dahulu menggambar sketsa wajah orang itu untuk mempelajari detilnya. Ia mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam hal detil, nyaris tak tertandingi oleh siapa pun.


Sayang sekali putra semata wayangnya tidak tertarik dengan ilmu menyamar ini. Ia tidak tahu kepada siapa keahlian ini akan diwariskannya. Mungkin nanti jika putranya memiliki anak.


Pintu ruang kerjanya terbuka dan Fei Yu masuk. “Ayah, ada seorang biksuni ingin menemui Ayah.”


Wajah Tuan Chang menegang. Akhirnya dia datang juga....


“Ayah?”

__ADS_1


Tuan Chang berdehem. “Suruh dia masuk, Fei Yu.”


Fei Yu keluar dan masuk lagi diiringi biksuni muda itu. Biksuni itu memberi hormat dengan sangat sopan.


“Salam saya, Paman Te.”


“A Ming, kau sungguh-sungguh A Ming?” Tuan Chang berdiri. Ditatapnya biksuni itu dengan penuh perasaan.


“Benar, Paman. Saya datang atas permintaan Paman.”


“Kau tahu sudah saatnya?”


“Ya, saya tahu.”


“Aku mendengar sekarang dia sudah kembali ke rumah ayahnya. Kita bisa menjumpainya di sana,” kata Tuan Chang.


“Ya.”


“Dan meminta pertanggungjawabannya atas perbuatannya selama ini!”


“Ya.”


Fei Yu menatap biksuni itu dan ayahnya berganti-ganti. Ia merasa heran sekali. Ada apa antara ayahnya dengan biksuni itu? Mengapa keduanya kelihatan begitu tegang dan juga sedih? Terutama sekali, biksuni itu begitu pucat dan sepasang matanya membara.


Akhirnya Tuan Chang mengalihkan pandangannya dari biksuni itu dan memandang putranya.


“Fei Yu, kau tahu siapa dia?”


“Tentu saja tidak!” gerutu Fei Yu kesal. “Aku baru kali ini melihatnya.”


“Dia sepupumu. Namanya Sung Lien Ming.”


Fei Yu terkejut sekali. “Putri Bibi Mei? Bukankah Ayah bilang dia sudah meninggal?”


“Bibimu yang sudah meninggal. Sebelum meninggal, dia meminta Ayah menitipkan putrinya di tempatnya belajar semenjak remaja, yakni Biara Welas Asih. Dan sekarang, sudah saatnya dia pulang untuk menemui seseorang,” jelas Tuan Chang dengan wajah muram.

__ADS_1


“Seseorang?”


“Ayahku.” Sung Lien Ming menjawab dingin. “Ayahku yang telah meninggalkan kami!”


__ADS_2