Suling Maut

Suling Maut
Duka yang Mendalam


__ADS_3

Upacara pemakaman Ketua dan Nyonya Wu berlangsung dalam suasana duka yang teramat sangat. Sam Hui sendiri yang memimpin jalannya upacara. Ia terlihat amat berduka. Bahkan kedukaannya melebihi semua anggota lainnya karena baginya Ketua Wu bukan sekadar ketuanya, melainkan sudah seperti saudaranya sendiri.


Kui Fang sudah lebih tenang dan pasrah dibanding saat pertama kali ia mengetahui keadaan partainya. Ia mengenakan pakaian berkabung yang dibuat seadanya. Air mata tak henti-hentinya berjatuhan di pipinya yang pucat seolah tak berdarah.


Tangan Chien Wan selalu menggenggam tangannya, menjadi penguat hatinya yang lemah. Ia bersyukur karena ia masih memiliki Chien Wan di sisinya kala ia membutuhkan perlindungan dan pendukung. Hasrat balas dendamnya mereda setelah ditenangkan oleh Chien Wan. Pemuda itu benar. Sekarang bukan saatnya untuk balas dendam. Urusan kedua orangtuanya masih harus diselesaikan.


Chien Wan melihat gadisnya yang tampak begitu terpukul dan lunglai. Dan ia bersyukur karena diberikan kekuatan sehingga bisa menjadi penopang bagi orang yang amat dicintainya.


Dalam kedukaannya, Kui Fang teringat betapa gelisahnya ibunya sewaktu ia berpamitan untuk pergi ke pertemuan para pendekar untuk memilih Ketua Persilatan. Agaknya ibunya sudah punya firasat bahwa hari itu adalah terakhir kalinya mereka bersama-sama.


Air mata kembali berjatuhan di pipinya yang pucat.


Tangan Chien Wan menggenggam tangannya dengan erat dan penuh kehangatan, membuatnya menyadari bahwa tinggal Chien Wan-lah satu-satunya miliknya di dunia ini. Oh, jangan sampai ia kehilangan pemuda ini juga!


Kui Fang dan Chien Wan melakukan penghormatan terakhir sebagai putri dan menantu. Memang Chien Wan belum resmi menjadi menantu Ketua dan Nyonya Wu, namun hubungannya dengan Kui Fang sudah mendapat restu yang sebesar-besarnya. Maka ia melakukan penghormatan terakhir itu bersama Kui Fang.


Kedua jenasah dimakamkan di lahan perkuburan milik Partai Kupu-Kupu.


Dua hari kemudian, Sen Khang datang bersama Ouwyang Ping dan Fei Yu. Mereka datang secepat mungkin setelah dikabari. Namun karena perjalanan yang jauh, mereka tidak bisa tiba secepat yang mereka inginkan.


“Chien Wan!” Sen Khang berseru dan menghampiri Chien Wan yang saat itu tengah berada di ruang depan.


“Sen Khang....” Chien Wan tertegun dan menatap sahabatnya dengan sedih. Lalu ia melihat adiknya. “Ping-er....”


“Kakak Wan....” Ouwyang Ping mendekat dan menggenggam tangan kakaknya erat-erat. “Kami mendengar kabar itu dan langsung datang ke sini. Bagaimana Kui Fang?”


“Dia sangat terpukul,” gumam Chien Wan putus asa. “Aku tak tahu bagaimana harus menghiburnya.”


“Chi Meng Huan pelakunya!” tukas Fei Yu geram.


Chien Wan mengangguk dan mengulangi cerita Sam Hui untuk didengarkan oleh mereka bertiga.


“Keparat!” maki Sen Khang.


“Mereka tidak juga jera!” gerutu Fei Yu.

__ADS_1


“Mana Kui Fang?” tanya Ouwyang Ping pada kakaknya.


“Ada di kamarnya.”


Chien Wan mengantarkan Ouwyang Ping menuju kamar Kui Fang. Ia terlebih dahulu mengetuk pintu kamar gadis itu dan memanggil dengan lembut, “Kui Fang.”


Terdengar sahutan lemah, “Masuk.”


Chien Wan membuka pintu dan melangkah masuk diikuti Ouwyang Ping.


Kui Fang tengah duduk di atas pembaringan dengan memeluk kedua lututnya yang ditekuk hingga pahanya menekan dada. Ia meringkuk bagaikan bola dan tampak begitu kecil dan rapuh. Pakaian berkabungnya kusut, rambutnya berantakan. Wajahnya pucat seolah tak berdarah. Dan dalam waktu beberapa hari saja, berat badannya susut banyak sekali sehingga kini ia menjadi sangat kurus. Wajahnya itu menunduk separuh tersembunyi di antara lututnya


“Kui Fang, lihat siapa yang datang.”


Kui Fang mengangkat wajahnya. Ia melihat Ouwyang Ping berdiri di samping Chien Wan. Perasaannya bergejolak antara pedih bercampur lega. Dagunya mulai gemetar pertanda sesaat lagi tangisnya akan meledak.


Cepat Ouwyang Ping mendekat dan duduk di sisi Kui Fang di atas pembaringan.


“Kui Fang....” Ouwyang Ping memeluk bahu ringkih gadis itu.


Ouwyang Ping tidak mengatakan apa-apa. Tidak sanggup mengatakan apa-apa. Ia hanya mengelus-elus bahu Kui Fang dengan lembut, berusaha menghibur tanpa kata. Ia tidak mengatakan bahwa ia memahami kesedihan Kui Fang. Sebab itu sama saja dengan berbohong karena dirinya belum pernah mengalami kepedihan ditinggalkan kedua orangtua sekaligus—bukan berarti ia menginginkannya!


Diam-diam, Chien Wan meninggalkan mereka dan kembali ke ruang depan di mana Sen Khang dan Fei Yu tengah menunggu.


***


“Kita harus mencari di mana mereka bersembunyi!” geram Fei Yu sambil berjalan mondar-mandir.


Sen Khang mengerutkan kening, namun tidak menanggapi.


“Ke mana kita harus mencarinya?” Wen Chiang yang menimpali.


“Ke mana saja! Kalau perlu ke Khitan!”


“Khitan!” Sen Khang bangkit dan tersadar. “Fei Yu, kita bisa meminta bantuan Kelelawar Hitam untuk mengantarkan kita ke tampat guru Chi Meng Huan di perbatasan Khitan!”

__ADS_1


Fei Yu menepuk keningnya. “Kelelawar Hitam! Betul juga!”


“Masalahnya, kita juga tidak tahu di mana Kelelawar Hitam sekarang ini.”


Chien Wan telah tiba di ruangan dan mendengarkan percakapan mereka. Ia yang mengucapkan perkataan itu.


“Tentu saja tidak. Dan aku juga tidak tahu bagaimana menghubunginya....”


Mereka semua langsung patah semangat.


“... tapi Ouwyang Ping tahu!”


Seketika semangat mereka semua bangkit.


“Ping-er tahu?” sela Chien Wan.


“Kenapa Ping-er tak pernah mengatakan apa-apa padaku?” tukas Sen Khang heran. Ia tak menduga Ouwyang Ping mempunyai rahasia yang tidak dikatakan padanya namun didiskusikannya dengan Fei Yu.


“Aku yakin Ouwyang Ping sendiri lupa akan hal itu. Yah, dengan banyaknya permasalahan yang kita hadapi akhir-akhir ini.” Fei Yu mengangkat bahu.


“Kalau begitu, mana Nona Ouwyang sekarang?” tanya Sam Hui bersemangat. Ia berdiri dan hendak menemui Ouwyang Ping. Wen Chiang ikut berdiri untuk menyiapkan pasukan Partai Kupu-Kupu yang masih tersisa.


“Sedang menghibur Kui Fang.”


Jawaban Chien Wan yang tenang dan datar ini menyurutkan semangat Sam Hui dan Wen Chiang. Mereka pun duduk lagi.


Chien Wan menghela napas dan memandang langit-langit. Tragedi demi tragedi terjadi dalam kehidupan mereka. Dan semua itu terjadi hanya karena kecemburuan Chi Meng Huan terhadap dirinya yang membabi-buta! Akibat kemarahan yang terpendam selama bertahun-tahun dan akhirnya menjadi dendam kesumat yang terus bertahan. Chi Meng Huan menggunakan berbagai cara untuk menyakiti dirinya, yakni dengan menyakiti orang-orang yang mencintainya.


“Chien Wan,” tegur Sen Khang pelan. “Jangan menyalahkan dirimu.”


Chien Wan tidak menanggapi. Ia hanya memejamkan mata mendengar pengertian yang terkandung dalam nada suara Sen Khang. Sen Khang adalah sahabat yang paling mengenalnya selama bertahun-tahun. Dia tahu apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran Chien Wan. Dia tahu Chien mempersalahkan dirinya atas berbagai tragedi yang menimpa mereka. Dan dia meminta supaya Chien Wan tidak menyalahkan dirinya sendiri karena semua itu bukan kesalahannya.


Chi Meng Huan-lah yang berdosa!


***

__ADS_1


__ADS_2