Suling Maut

Suling Maut
Pulang ke Lembah Nada


__ADS_3

Di Lembah Nada, Empat Tambur Perak tengah bermain-main dengan Ouwyang Lee. Jika sedang tidak ada kesibukkan, mereka suka mengasuh anak itu dan membiarkan anak itu bertingkah sesuka hatinya bersama mereka.


Ouwyang Lee sudah bisa berjalan tertatih-tatih dan bicara sepatah-dua patah kata. Ia mungil dan menggemaskan. Ia sangat jarang menangis dan selalu tersenyum menampakkan lesung pipit di pipinya yang sebelah kiri. Sepasang matanya bulat dan bersinar tajam bagai mata elang.


Anak itu menjadi curahan perhatian seluruh penghuni Lembah Nada.


Kam Sien tengah menjunjungnya di atas bahu dan mengajaknya berlarian mengelilingi lembah. Ketiga saudaranya memukul-mukul tambur masing-masing dan menimbulkan irama menghentak.


A Lee melonjak-lonjak gembira di atas bahu Kam Sien.


“Waduh! Waduh!” erang Kam Sien. “Kamu berat sekali, ya?”


“Ha ha!” A Lee tertawa sampai terpekik-jerit.


Fu Ming, Lo Hian, dan Hauw Lam menertawakan Kam Sien yang tampak kewalahan menenangkan A Lee. Mereka bertiga sudah sering menggendong A Lee dan selalu saja repot dibuatnya. A Lee tak pernah bisa diam bila digendong oleh siapa saja. Cuma dalam pelukan ibunya sajalah ia bisa diam dan meringkuk dengan manja.


Mereka memang sedang bermain-main dengan A Lee, tetapi mereka sama sekali tidak melalaikan kewajiban menjaga Lembah Nada. Karena itu saat dua orang mendekat, mereka langsung waspada.


Namun saat keduanya mendekat, mereka langsung gembira.


Keempatnya segera saja mendekat dan mengerumuni Ouwyang Ping. Mereka bahkan tidak memperhatikan pemuda yang bersama Ouwyang Ping karena terlalu bahagia melihat gadis itu lagi.


“Nona Ping-er!” seru Fu Ming.


Lo Hian menghembuskan napas lega. “Wah! Aku hampir tak percaya!” serunya. “Akhirnya Nona pulang juga!”


“Ya, Nona. Kami sudah sangat rindu padamu. Kau pergi begitu lama,” sambung Hauw Lam sambil menatap penuh perhatian. “Mengapa badanmu begini kurus dan pucat?” tambahnya cemas. Dari mereka berempat, dialah yang paling menyayangi Ouwyang Ping.


Kam Sien sejak tadi tidak dapat kesempatan bicara karena dimonopoli saudara-saudaranya. Maka ia menghampiri Sen Khang yang memperhatikan mereka sambil tersenyum geli. Ia menyaksikan Ouwyang Ping kerepotan menjawab pertanyaan beruntun itu.


“Tuan Khang, rupanya kau datang bersama Nona Ping-er.” Kam Sien berdiri di hadapan Sen Khang, lengkap dengan A Lee yang masih di bahunya.


Sen Khang tidak menjawab. Ia malah tertegun memandangi bocah yang tampan dan montok itu. Ia makin tercengang karena tiba-tiba saja bocah itu menoleh dan memandanginya dengan tatapan tajam lewat matanya yang persis Tuan Ouwyang Cu. Dan tatapan tajam itu menghilang kemudian digantikan senyum lebar yang menggemaskan.


Kam Sien memperhatikan keheranan Sen Khang dan tertawa. “Tuan Khang, rupanya kau kaget melihatnya. Kau ingat? Waktu kau pulang ke Wisma Bambu dulu, kan Nyonya sedang mengandung. Ini Ouwyang Lee, putranya. Panggilannya A Lee, tapi kami memanggilnya Tuan Muda Lee.”


Senyum Sen Khang melebar. Ia menghampiri Ouwyang Ping. “Ping-er, kau sudah punya adik!” katanya.

__ADS_1


Sejenak semuanya terdiam. Ouwyang Ping ternganga dan menoleh melihat bocah yang ada di atas bahu Kam Sien. Ia terpana memandangi A Lee. A Lee membalas pandangannya dengan matanya yang bulat dan bersinar tajam. Kemudian bocah itu tersenyum lebar dan memperlihatkan lesung pipitnya. Pipinya yang montok dan berwarna kemerahan membukit dengan lucunya.


“Adikku...?” gumam Ouwyang Ping pelan. “Jadi aku punya seorang adik....” ia terus mengamati adiknya lekat-lekat.


Adiknya sangat tampan dan lucu, montok dan menggemaskan. Matanya bersinar tajam, namun senyumnya sangat menawan. Hati Ouwyang Ping langsung luluh dan hangat. Ia meletakkan harpanya di rumput—yang segera saja diambil oleh Hauw Lam, lalu menghampiri Kam Sien.


Gadis itu mengulurkan kedua tangannya kepada A Lee. Bocah itu nyaris melompat dari bahu Kam Sien dan menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan kedua tangan Ouwyang Ping. Keduanya berpelukan erat dan hangat.


Sen Khang dan Empat Tambur Perak memperhatikan mereka dengan tercengang dan terharu. Betapa lembut dan penuh kasihnya ekspresi wajah Ouwyang Ping saat ini! Dan lihatlah, betapa manja dan manisnya A Lee terhadap kakak perempuan yang sebenarnya sama sekali tak dikenalnya itu! Rupanya ikatan persaudaraan membuat keduanya langsung dekat satu sama lain.


“Ayo kita masuk,” ajak Fu Ming setelah mereka terdiam beberapa saat. “Mereka semua pasti sangat senang melihat kalian!”


Sen Khang menoleh ke kanan-kiri, mencari Chien Wan dan Sung Cen. Namun ia tidak menemukan mereka. Ia menoleh ke arah Lo Hian yang ada di sisinya. “Paman Lo, mana Paman Sung dan Chien Wan?”


Lo Hian melirik ke arah Ouwyang Ping—yang sama sekali tidak mendengar karena jarak mereka cukup jauh—sebelum menjawab, “Kakak Sung sedang mengunjungi putrinya di Bukit Merak. Dan Tuan Wan... dia pergi beberapa minggu yang lalu. Katanya ingin mengembara.”


Sen Khang mendesah kecewa. Padahal dia datang ke Lembah Nada dengan maksud ingin menemui Chien Wan.


***


Ouwyang Kuan dan Sui She tengah bercakap-cakap ringan dengan Tuan Ouwyang Cu. Mereka bicara mengenai Chien Wan. Mereka ingin meminta agar Chien Wan segera mulai memikirkan masa depannya dan mencari gadis yang cocok untuk diajak membina keluarga. Mereka bukannya tidak menyadari kesulitan Chien Wan melupakan masa lalunya. Namun manusia tidak bisa hidup hanya berpatokan pada masa lalu!


“Tuan! Lihat siapa yang datang!”


Tuan Ouwyang, putra, dan menantunya mengerutkan kening, lalu terbelalak melihat Ouwyang Ping masuk sambil menggendong A Lee diikuti oleh Sen Khang.


“Ping-er?” seru Ouwyang Kuan dengan suara agak gemetar. Ia berdiri dan menghambur ke hadapan putri yang dirindukannya itu. “Ping-er, benarkah kau yang datang?”


Ouwyang Ping tersenyum manis pada ayahnya dengan mata tergenang air mata. “Ayah, aku pulang.”


Ouwyang Kuan memeluk putrinya dengan penuh kasih dan kerinduan. A Lee merengek karena terhimpit, membuat ayah dan kakaknya tertawa walau berlinang air mata.


Sui She menghampiri dengan agak malu-malu. Ia masih merasa canggung dan merasa bersalah terhadap putri tirinya ini. Apakah Ping-er benar-benar tidak marah padanya?


Ouwyang Ping menoleh dan tersenyum pada ibu tirinya. “Ibu, bagaimana kabarmu?”


Hati Sui She langsung merasa lega. Ia pun memegang lengan Ouwyang Ping dengan hangat. “Ibu baik-baik saja, hanya... merasa cemas dengan keadaanmu. Kami semua selalu memikirkan keadaanmu, Ping-er. Apakah kau baik-baik saja?”

__ADS_1


“Aku baik-baik saja, Bu.”


“Ping-er!”


Ouwyang Ping menoleh dan melihat kakeknya berdiri sambil berkacak pinggang. “Kakek.”


“Ayya! Ke mana saja kau dua tahun ini? Pergi begitu saja, tak sekalipun memberi kabar! Apakah kau tidak peduli kami di sini cemas setengah mati?” tanya Tuan Ouwyang Cu kesal. “Dasar kau anak nakal!”


Ouwyang Ping memandangi kakeknya. Tampak mata Tuan Ouwyang Cu penuh kerinduan walau kata-katanya ketus. Hatinya terasa hangat. “Maafkan aku, Kakek. Percayalah, aku tidak berbuat sesuatu yang memalukan nama Lembah Nada,” katanya.


Sui She menyela, “Sudahlah, Ayah. Ping-er kan baru saja tiba.”


Tuan Ouwyang cemberut.


Ouwyang Ping melirik A Lee yang ada dalam gendongannya sambil memainkan rambutnya yang panjang. Ia tersenyum lembut melihat kelucuan adiknya itu.


“Ibu, terima kasih karena telah memberiku adik yang semanis ini,” katanya pelan.


Bibir Sui She bergetar sewaktu menyunggingkan senyum. Ia terharu mendengar kata-kata putri tirinya itu. Ia menyayangi gadis ini dengan sepenuh hati. Walau Ouwyang Ping lahir dari rahim saingan cintanya, serta memiliki wajah sangat mirip dengan saingannya itu, namun kemurnian dan ketulusan gadis itu telah sangat menyentuh hatinya.


Sen Khang tersenyum. Lagi-lagi kehadirannya tidak diacuhkan. Tetapi ia tidak keberatan. Ia menunggu sampai semua keharuan mereda sebelum menyapa, “Bibi, Paman, Kakek.”


Ouwyang Kuan menoleh dan tersenyum. “Oh, Sen Khang!” serunya, baru menyadari bahwa pemuda itu datang bersama putrinya.


Sui She ikut menoleh. “Sudah lama kau tidak ke sini, Sen Khang.”


“Maaf, Bi. Pekerjaan di Wisma Bambu tidak ada habis-habisnya,” elak Sen Khang tertawa.


“Mana mungkin pekerjaan bisa habis? Kalau tidak ditinggalkan, sampai tua juga kau tidak akan pernah datang ke sini!” gerutu Tuan Ouwyang.


Sen Khang meringis.


“Apa kalian tidak berselisih jalan dengan Chien Wan? Beberapa minggu lalu dia berpamitan, katanya mau mencari Ping-er!” tanya Tuan Ouwyang.


Ouwyang Ping terperanjat.


Sen Khang meliriknya, dan cepat menjawab, “Tidak, Kek.”

__ADS_1


“Hm! Kalau begitu kalian pasti berselisih jalan!”


Saat mendengar Chien Wan pergi hendak mencarinya, Ouwyang Ping merasa sedih bercampur lega. Ia sendiri belum yakin apakah dia bisa bertemu dengan Chien Wan. Saat ini ia memang sudah berusaha melupakan Chien Wan, dan selama ia tidak berada di dekat Chien Wan agaknya usahanya bisa berhasil. Namun ia tidak yakin apakah ia bisa menahan perasaannya bila bertemu muka dengan Chien Wan. Ia tidak yakin apakah ia sudah berhasil menganggap Chien Wan sebagai kakaknya dan bukan kekasihnya.


__ADS_2