
“Chi Meng Huan!” Sen Khang melangkah ke hadapan Meng Huan. Ia berdiri berdampingan dengan Chien Wan. Tadi ia sengaja menahan diri karena ingin memberi kesempatan pada Tuan Ouwyang dan Siu Hung untuk menghajar orang yang telah menghina Lembah Nada. Namun sekarang adalah saatnya menuntaskan urusan dengan Chi Meng Huan.
Chi Meng Huan menatap dengan sinis.
“Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatan kejammu pada seluruh anggota Wisma Bambu, orangtuaku, dan Paman Sung!” bentak Sen Khang dengan suara berwibawa.
Meng Huan tertawa mengejek. “Jadi Luo Sen Khang yang sekarang adalah Luo Sen Khang yang dengan mudahnya dibakar oleh dendam? Begitu mudahkah kau melupakan ajaran yang diberikan mendiang Guru terhadap kita? Bahwa laki-laki sejati adalah orang yang tidak memelihara dendam. Kalau begitu, kau bukanlah laki-laki sejati?”
Sen Khang tidak menanggapi ucapan itu. Ia hanya memandang Chi Meng Huan dengan tatapan tajam dan penuh wibawa. “Tapi saat ini, aku tidak ingin membalas dendam. Aku hanya menuntut keadilan. Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu.”
Meng Huan menggeleng-geleng dengan kesedihan yang dibuat-buat. “Kau adalah putra guruku, Sen Khang. Artinya kau kakak seperguruanku.”
“Justru karena aku kakak seperguruanmu, maka aku harus meminta pertanggungjawabanmu. Dan aku tidak akan membunuhmu bila kau mau bertobat, Meng Huan.”
“Bertobat?” Chi Meng Huan tertawa terbahak-bahak. “Lucu benar perkataanmu!”
“Kalau kau tidak mau bertobat dan menyesali segala perbuatanmu, aku tidak akan segan-segan terhadapmu, Meng Huan!” kata Sen Khang tajam.
“Oh, oh!” Meng Huan tergelak-gelak. “Begitu, ya? Padahal waktu itu aku sudah hendak bertanggung jawab terhadap Ting Ting.”
Rahang Sen Khang mengeras. Kemarahannya timbul mendengar cara Chi Meng Huan membicarakan adiknya. “Jangan menyebut nama adikku!” geramnya.
“Lho, aku kan suaminya?” senyum Meng Huan sinis.
“Jahanam kau!” Sen Khang tak dapat lagi menahan dirinya.
Chi Meng Huan menatapnya dengan sedih. “Aku benar-benar tak ingin membunuhmu, Sen Khang. Kau ini kakak seperguruan dan juga kakak iparku,” katanya dengan penuh perasaan. Kemudian ia mengalihkan pandang kepada Chien Wan dan tatapannya berubah ganas. Raut wajahnya menampakkan dendam, benci, dan kekejian. “Hanya ada satu orang yang ingin kubunuh....”
“Kau...?”
“Ouwyang Chien Wan, kau harus mati!” bentak Meng Huan sambil menerjang tepat ke arah Chien Wan.
Chien Wan tidak terkejut karena ia sudah bersiaga sejak tadi. Didorongnya Kui Fang menjauh sementara ia menyambut serangan Meng Huan. Dan kali ini ia sudah menyiapkan senjatanya yang paling ampuh di tangannya. Ia tidak meniup sulingnya karena ia yakin Meng Huan pasti tidak akan terpengaruh oleh suara sulingnya karena ilmu kesaktiannya yang begitu tinggi. Maka ia mulai melakukan jurus-jurus dalam Ilmu Pedang Pelangi.
Meng Huan kaget karena gerakan Chien Wan lain dari biasanya. Ilmu silatnya bukan seperti ilmu dari Lembah Nada. Sulingnya dipakai sebagai pengganti pedang. Dan setiap kali bergerak, suling itu mengeluarkan bunyi yang sangat indah seperti musik. Hal itu membuat Meng Huan geram dan tidak mengerti. Mengapa dalam waktu dua bulan saja kepandaian Chien Wan berkembang demikian pesat?
Karena merasa tak mampu mengalahkan Chien Wan hanya dengan menggunakan ilmu tangan kosong, Meng Huan mencabut pedang di punggungnya dan mulai mengerahkan Ilmu Pedang Bayangan.
__ADS_1
Ilmu Pedang Bayangan memang amat hebat. Pedang di tangan Meng Huan seolah menjelma menjadi ribuan. Hal ini sangat membingungkan pandangan Chien Wan dan membuatnya kewalahan. Ia tidak tahu pasti mana pedang yang asli karena bayangannya begitu banyak.
Bilah pedang yang berkilau saking tajamnya berubah menjadi ribuan dan mengepung Chien Wan ke mana pun ia pergi. Chien Wan berputar dan mengibaskan sulingnya sehingga suling itu beradu dengan batang-batang pedang dan menimbulkan percikan bunga api yang menyilaukan.
Meng Huan mundur saat suling Chien Wan nyaris menembus barikade pedang ciptaannya. Saat itulah Chien Wan melempar sulingnya ke angkasa, diikuti oleh pengerahan tenaga sakti. Suling berputar-putar di angkasa diselubungi oleh cahaya-cahaya indah yang berwarna-warni menyerupai cahaya pelangi.
Lawannya tak mau kalah. Dilemparnya pedangnya ke angkasa ke dekat suling itu. pedang tersebut berubah menjadi banyak sekali dan mengepung Suling Bambu Hitam. Suling itu tak bisa didekati karena dilindungi oleh cahaya-cahaya halus yang mengelilinginya.
Meng Huan melompat mengambil pedangnya. Lalu dengan bernafsu, ia mencoba menghancurkan suling Chien Wan. Namun begitu ia hendak mengulurkan tangan, cahaya-cahaya yang menyerupai tali beraneka warna yang keluar dari lubang suling, menerjang dan menyengat tangannya.
“Ah!” Meng Huan mundur. Tangannya seolah terbakar. Ia sangat murka. Rahangnya mengeras melihat Chien Wan yang tengah berkonsentrasi mengendalikan sulingnya. Dan ia tahu bagaimana cara melumpuhkan suling itu.
“Kalian!” seru Meng Huan pada Enam Khitan Bersaudara, “habisi dia!”
Enam Khitan bersaudara serentak menyerbu dan hendak membokong Chien Wan. “Mampus kau!” bentak salah seorang dari mereka sambil menusukkan tombak berujung mata pisau ke punggung Chien Wan. Chien Wan tidak siap menerima serangan itu. Dan sesungguhnya tubuhnya sendiri memang sudah terlindung oleh ilmunya karena sinar-sinar halus itu bukan hanya melindungi suling, melainkan juga majikannya.
“Kakak Wan!” teriak Kui Fang dan Ouwyang Ping bersamaan.
Ujung tombak menyentuh punggung Chien Wan. Namun tidak bisa melukainya karena tubuh Chien Wan dilindungi oleh perisai cahaya yang tak kentara. Enam Khitan Bersaudara ramai-ramai menyerangnya.
Saat itulah Sen Khang, Tuan Ouwyang, dan Pendekar Sung bergerak bersamaan untuk menyerang mereka. Terjadilah pertempuran yang panas antara Enam Khitan Bersaudara dengan Sen Khang, Tuan Ouwyang, dan Pendekar Sung.
Chien Wan melompat dan meraih sulingnya. Ia langsung diserang oleh beberapa anak buah Meng Huan, sementara Meng Huan dengan liciknya beralih menyerang Sen Khang yang tengah dikeroyok oleh dua orang dari Enam Khitan Bersaudara.
Sen Khang berbalik dan melayangkan tinjunya dengan tenaga Ilmu Pukulan Badai.
Akibatnya, Meng Huan yang sudah kehabisan tenaga akibat melawan Chien Wan tadi, kini menjadi lengah. Selain itu, ia memang meremehkan Sen Khang. Ia tak menyangka bahwa ternyata ilmu kepandaian Sen Khang pun bertambah maju.
Pukulan Sen Khang tepat mengenai dadanya.
“Aaaah!” teriak Meng Huan. Tubuhnya terjengkang dan terjatuh.
“Putraku!” Cheng Sam menghampiri dan memapahnya.
Namun Meng Huan marah sekali. Didorongnya ayahnya minggir. “Menyingkirlah kau!” bentaknya. Cheng Sam pun segera menyingkir. Tak ada gunanya memperhatikan Meng Huan saat ia sedang dikuasai amarahnya.
Luka Meng Huan tidak parah. Teriakannya tadi lebih disebabkan oleh kekagetannya saja. Ia sangat murka, terutama kepada Sen Khang. Dianggapnya Sen Khang telah berani mengacaukan rencananya. Dengan Tendangan Penghancur Jiwa yang dipadukan dengan Ilmu Pedang Bayangan, diserangnya Sen Khang.
__ADS_1
Sen Khang tidak lengah sedikit pun. Ia menyambut serangan Meng Huan dengan sigap.
Gerakan mereka sama-sama cepat dan keras. Tendangan Meng Huan menderu-deru mendesak Sen Khang yang juga tampak gesit dan kuat dengan tinjunya yang bertubi-tubi. Namun Meng Huan menggabungkan kedua ilmu sakti yang dimilikinya sekaligus. Maka lama-kelamaan Sen Khang mulai terdesak. Sen Khang berusaha keras untuk mengalahkan Meng Huan namun ternyata tingkat kesaktian Meng Huan beberapa tingkat lebih unggul dibandingkan Sen Khang.
Akhirnya sebuah tendangan yang cepat dan keras menghajar rahang Sen Khang. Pemuda itu terjungkal dan darah menitik dari sudut mulutnya. Untung saja tendangan itu tidak melukai organ berbahaya tubuhnya seperti yang dahulu dialami Chien Wan. Dengan cepat ia berdiri kembali dan mengatur napas.
Chien Wan melompat dan mendekati Meng Huan.
“Chi Meng Huan!” serunya dingin. “Bertobatlah sebelum semuanya terlambat!”
Meng Huan membelalakkan matanya penuh penghinaan. “Kaupikir siapa dirimu, berani berkotbah di depanku?!” bentaknya.
“Aku tidak berkotbah. Aku hanya memperingatkanmu. Kalau kau tak mau bertobat, kau akan menerima hukuman yang setimpal!” kata Chien Wan dengan tajam.
“Jangan banyak omong!” Meng Huan kembali menyerang Chien Wan dengan gabungan Tendangan Penghancur Jiwa dan Ilmu Pedang Bayangan.
Chien Wan mendekatkan ujung suling ke mulutnya dan memainkan Musik Pengacau Sukma. Suara sulingnya diharapkan bisa mengacaukan konsentrasi Meng Huan hingga gerakannya menjadi kacau. Dan untuk sementara itu memang berhasil. Konsentrasi Meng Huan agak terganggu. Namun tidak membuatnya kehilangan kekuatan.
“Matilah kau, Ouwyang Chien Wan!” maki Meng Huan sambil menusukkan pedangnya.
Saat itulah Sen Khang menyerang Meng Huan dengan cara yang bisa dibilang bukan cara ksatria. Ia melakukan serang di belakang punggung Meng Huan tanpa sepengetahuannya. Buk! Buk! Dua pukulan keras sekaligus bersarang di punggung Meng Huan.
Meng Huan terhuyung dan berbalik seketika. Darah menyembur dari mulutnya.
Cheng Sam berlari menghampiri dan memapahnya. “Anakku!”
Meng Huan menatap tajam. “Kau curang, Luo Sen Khang!” makinya. “Membokong orang dari belakang bukanlah perbuatan seorang laki-laki sejati! Tak tahu malu, berani mengaku pendekar besar!” ejeknya.
Sen Khang benar-benar marah. “Untuk membunuhmu, seseorang tidak harus menjadi pendekar!”
“Tetapi Tuan Ouwyang tak akan terima bila calon cucu menantunya bukan pendekar sejati,” seringai Meng Huan. “Dan orangtuamu akan malu mempunyai anak seorang pembokong! Ouwyang Ping juga tidak akan mau menerimamu dengan tulus karena kau bukan laki-laki sejati!” katanya licik. Ia tahu betul kata-kata itu akan menyakiti hati Sen Khang.
Sen Khang terperangah dan mundur.
Cheng Sam memberi isyarat agar anak buahnya mundur. Ia sendiri memapah putranya meninggalkan tempat itu, sama sekali tidak mempedulikan Wie Yun Cun dan Lan Sie yang memandangnya penuh permohonan.
Meng Huan mendengus ketika ia melewati Sen Khang dan Chien Wan.
__ADS_1
Tak ada seorang pun yang berminat mengejarnya karena mereka merasa masalah Partai Kupu-Kupu harus dibenahi terlebih dahulu.
***