
Di pintu gerbang, Cheng Sam dan beberapa pengawal sudah menanti mereka. Fei Yu menatapnya dengan hati mendongkol. Rupanya Cheng Sam sudah mengamati gerak-geriknya. Bahkan mungkin dia juga tahu aku membawa Ting Ting ke Bukit Merak kemarin, pikir Fei Yu sebal.
“Selamat datang di Bukit Merak, para pendekar muda. Aku mewakili Dewa Seribu Wajah menyambut kalian semua,” sapa Cheng Sam sambil merangkapkan tangannya memberi hormat.
Sen Khang mengira mereka akan diserang setibanya di Bukit Merak, jadi ia sudah mempersiapkan diri. Ia tak menduga mereka akan disambut dengan demikian ramah. Mau tak mau ia membalas penghormatan itu.
“Kami datang untuk meminta kalian melepaskan adik seperguruanku,” kata Sen Khang.
“Hal itu bisa kita bicarakan nanti,” elak Cheng Sam. “Sekarang, kalian pasti letih. Masuklah. Kami sudah mempersiapkan jamuan untuk kalian.”
“Aku pergi dulu,” gumam Fei Yu sambil membalikkan tubuh.
Cheng Sam melihat Fei Yu yang melangkah pergi. Senyum licik tersungging di bibirnya. “Terima kasih atas bantuannya mengantarkan mereka ke sini, Tuan Muda!” serunya.
Fei Yu mengepalkan tinjunya dengan geram, namun tidak meladeninya.
Chien Wan melirik arah perginya Fei Yu. Hatinya curiga bahwa yang dikatakan Fei Yu tentang hubungannya dengan Cheng Sam memang benar. Namun ia tak punya kesempatan untuk mengatakan apa-apa karena para pengawal sudah mempersilahkan mereka memasuki pintu gerbang, berjalan melewati taman yang luas untuk mencapai ruang utama tempat mereka akan dijamu.
Bukit Merak sangat indah. Bahkan bisa dibilang lebih indah dari Lembah Nada. Taman yang ada di sana ditata dengan sangat berseni dan merupakan tanaman-tanaman khas daerah dingin. Banyak sekali bunga-bunga yang indah yang langsung memikat hati para gadis.
Tidak seperti Wisma Bambu yang hanya berupa satu rumah induk yang luas yang dikelilingi taman, dan hanya ada satu ruang yang terpisah terletak di bagian belakang—yang adalah paviliun taman belakang. Atau Lembah Nada yang memiliki gedung luas tanpa gerbang yang seolah diletakkan begitu saja di lembah luas. Bukit Merak memiliki penataan bangunan yang unik, ditata sedemikian rupa mengikuti bentuk tanah yang tidak datar. Bentuk bangunannya juga indah dan megah, seperti rumah-rumah bangsawan. Ada paviliun-paviliun kecil yang indah yang saling dihubungkan dengan jalan kecil semacam jembatan berpagar, dengan gedung besar sebagai pusatnya.
Mereka dibawa ke sebuah ruang yang luas dan indah. Ruangan itu berbentuk memanjang dengan deretan meja dan kursi di sisi kiri-kanannya. Tengah-tengahnya kosong untuk tempat berjalan. Pada pusat ruangan, terdapat kursi besar berukir. Ternyata mereka diajak ke ruang rapat yang kini difungsikan sebagai ruang perjamuan.
Cheng Sam mempersilahkan mereka duduk. Mereka duduk berdua-berdua. Chien Wan dengan Ouwyang Ping, sedang Sen Khang dengan Ting Ting. Tak lama kemudian, datanglah para pelayan membawakan bermacam-macam hidangan mewah untuk mereka.
“Silakan menikmati hidangan,” ujar Cheng Sam ramah.
Keempat pemuda-pemudi itu menatap ragu. Mereka teringat kejadian di kediaman Pendekar Sung beberapa hari yang lalu. Bagaimana kalau kali ini pun mereka diracuni?
Rupanya Cheng Sam bisa membaca pikiran mereka. Ia segera menghampiri meja mereka masing-masing. “Hidangan ini tidak beracun. Kalian jangan curiga pada kami.” Lalu ia mengambil sumpit dan mencicipi hidangan di setiap piring. Kemudian meminum anggur dan teh di setiap teko. “Nah, kalian bisa tenang. Aku sudah mencicipi semuanya. Kalau memang beracun, aku pasti sudah mati sekarang.”
Sen Khang dan Chien Wan berpandangan, lalu mengangguk. Mereka semua lalu menyantap hidangan yang ada, termasuk Chien Wan. Walau tidak diucapkan, mereka semua memang merasa sangat lapar. Apalagi setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Ketika selesai, Sen Khang mewakili teman-temannya mengucapkan terima kasih.
“Aku sangat senang kalian mau datang ke Bukit Merak. Tuan mudaku suka bertindak semaunya sendiri. Kadangkala aku tak sanggup mencegahnya bertindak gegabah. Dia putra majikanku, aku cuma pelayannya, aku bisa apa?” Cheng Sam menghela napas.
“Kami akan sangat berterima kasih jika Anda mau melepaskan saudaraku,” kata Sen Khang.
“Tentu saja. Mari ikut denganku.”
Keempatnya lantas berjalan mengiringi Cheng Sam keluar dari ruangan. Mereka kembali melintasi jalanan yang menyerupai jembatan ke salah satu paviliun yang ada.
“Tuan Muda berencana mengambil alih Dunia Persilatan, untung saja aku berhasil menghentikannya.” Cheng Sam kembali berbicara saat mereka sudah tiba di paviliun yang letaknya terpencil.
__ADS_1
Chien Wan terkejut. Seingatnya Cheng Sam pernah berkata lain di pertemuan para pendekar beberapa hari lalu. Cheng Sam bilang bahwa tuan mudanya sangat naif, dan bahwa dia tidak tahu mereka bermaksud mengambil alih Dunia Persilatan. Jadi mengapa sekarang dia berkata begitu?
Perkataan yang bertolak belakang itu juga disadari oleh Sen Khang.
“Tuan Cheng Sam, waktu itu Anda bilang.... Aduh!” Tiba-tiba Sen Khang merasa kepalanya pening sekali. Ia sampai harus berpegangan pada pagar jembatan untuk mencegah dirinya terjatuh. Tubuhnya lemas dan gemetar.
Bersamaan dengan itu, Chien Wan dan kedua gadis itu pun merasakan hal yang sama.
Cheng Sam tertawa terbahak-bahak. “Kalian benar-benar bodoh!” serunya. “Dengan mudah kalian masuk jebakanku!”
“Kau... kau meracuni kami!” geram Chien Wan.
“Benar!”
“Tapi... tapi tadi kau juga makan....” Ouwyang Ping berkata terbata-bata.
Cheng Sam mengangguk puas. “Benar. Tapi kalian tidak tahu. Bukan pada makanan aku membubuhkan racun, melainkan pada sumpit yang kalian pakai. Ternyata kalian tidak sepandai yang kuperkirakan!”
Keempatnya tidak sempat berkomentar karena ketidaksadaran mulai menyerang mereka. Akhirnya, satu per satu terkulai lemas.
Cheng Sam menepuk kedua tangannya. Beberapa pengawal muncul. “Bawa mereka ke tempat tersembunyi!” perintahnya. Ia menatap keempat anak muda itu dengan puas. Pandangannya bertumbuk pada Ouwyang Ping. Dan ia tertegun melihat wajah cantik itu. Ia terpikat. “Tunggu!” serunya saat anak buahnya memondong Ouwyang Ping. “Bawa gadis ini ke kamarku!”
Anak buahnya menyeringai dan berbelok memisahkan diri dari yang lain. Ia memondong Ouwyang Ping menuju kamar Cheng Sam. Langkahnya agak terengah. Ouwyang Ping memang ringan, namun selain tubuh Ouwyang Ping ia juga harus membawa harpa emas yang cukup berat. Aneh sekali gadis secantik dan selembut ini sanggup membawa-bawa harpa yang begitu berat ke mana-mana, pikirnya.
Untuk memasuki ruang khusus penasihat, ia mesti melewati pintu berpalang. Dan kebetulan, pintu itu tidak terbuka. Ia menatap heran. Biasanya pintu itu tidak pernah tertutup apalagi dipalangi dari luar begitu. Namun ia tak ambil pusing. Barangkali saja Cheng Sam sendiri yang memalangnya. Ia meletakkan Ouwyang Ping dan harpanya di lantai karena harus membuka palang.
“Astaga. Tuan Cheng!” serunya panik sambil berlari menghampiri Cheng Sam.
***
Sen Khang mengerjap-ngerjapkan matanya yang berat. Samar-samar, dilihatnya sekelilingnya. Ia membuka matanya lebih lebar. Ia mendapati dirinya berbarik di lantai beralaskan jerami kering. Ia langsung duduk dengan dada berdegup kencang. Dilihatnya Chien Wan terbaring pingsan di sudut ruangan. Ting Ting ada di sudut lain.
Sen Khang mendekati Chien Wan. tubuhnya penat dan nyeri namun ia tak peduli. Diguncang-guncangnya tubuh Chien Wan.
“Chien Wan! Chien Wan!” panggilnya sambil terus mengguncang-guncang tubuh temannya.
Chien Wan tersadar, bukan hanya karena panggilan Sen Khang namun lebih karena pengaruh racun sudah hilang. Ia membuka matanya, kaget melihat Sen Khang. Cepat ia bangkit, matanya liar mencari-cari.
“Ping-er!” serunya cemas karena tak melihat Ouwyang Ping di sana.
Sen Khang juga mencari Ouwyang Ping. Namun di ruangan yang tertutup rapat itu hanya ada mereka bertiga.
Chien Wan menghela napas dengan wajah murung. Lalu tangannya meraba pinggang, tempat di mana sulingnya biasa diselipkan. Ternyata suling itu pun lenyap! Ia melompat bangun dengan wajah memancarkan kepanikan luar biasa. “Sulingku! Di mana sulingku?!” serunya.
Sen Khang menggeleng-geleng. Di saat begini pun, Chien Wan masih peduli pada sulingnya. Dia bukannya khawatir akan keselamatan dirinya sendiri, malah mencemaskan sulingnya.
__ADS_1
Saat itu Ting Ting tersadar, lalu menggeliat sambil merintih, “Kakak....”
Sen Khang bergegas menghampirinya. “Ting Ting, kau tak apa-apa?” tanyanya cemas sambil membantu Ting Ting duduk.
Ting Ting menggeleng pelan. Ia mencari Chien Wan dan melihat pemuda itu duduk di sudut dengan wajah murung sekali. Ia ingin memanggil, namun kakaknya mencegah dan membisikkan bahwa Suling Bambu Hitam telah hilang.
Chien Wan menggigit bibir dan memejamkan mata. Ia telah kehilangan dua hal yang paling dicintainya di dunia. Sulingnya dan Ouwyang Ping! Ia telah melalaikan mereka. Ia merasa sangat bersalah dan menyesal sekali.
Ting Ting menoleh kian-kemari dengan bingung. “Di mana Ouwyang Ping, Kak?”
Sen Khang menggeleng sedih.
“Aku juga tidak tahu. Entah di mana mereka menempatkannya,” keluh Sen Khang. Lalu ia mengepalkan tinju dengan rahang mengeras. “Mereka benar-benar bajingan!” geramnya. “Awas kalau sampai ada apa-apa dengannya, aku tak akan mengampuni mereka!”
Mendengar ini, Chien Wan membuka mata. Perasaannya yang peka menangkap nada aneh pada suara Sen Khang. Ya, sejak dulu Chien Wan merasa bahwa Sen Khang selalu aneh bila bicara tentang Ouwyang Ping. Jangan-jangan....
Pintu terbuka lebar.
Ketiga orang dalam kamar itu menoleh dan mendapati Cheng Sam berdiri di sana bersama beberapa anak buahnya, serentak mereka berdiri. Cheng Sam menyeringai penuh kemenangan.
“Tidak sulit untuk mengurung kalian!” cibir Cheng Sam pongah.
“Itu karena kau curang!” bentak Sen Khang tajam.
Chien Wan menyela dingin, “Di mana kau sembunyikan temanku?”
Cheng Sam mengangkat bahu dengan sikap acuh walau sebenarnya ia mengutuk dalam hati karena kehilangan gadis secantik Ouwyang Ping. “Aku tak memerlukannya. Jadi dia kubunuh,” ujarnya kejam.
“Jahanam!” Chien Wan kehilangan kendali dirinya yang dingin. Ia menerjang hendak menyerang Cheng Sam. Namun Cheng Sam mundur dan mengulurkan sesuatu di hadapan mata Chien Wan, membuatnya menghentikan gerakan dengan mata terbelalak. Suling Bambu Hitam!
“Sulingku!” seru Chien Wan kaget dan marah. Ia mencoba meraihnya, namun kalah cepat oleh Cheng Sam. Cheng Sam segera mundur ke pintu dan anak buahnya membentuk pagar melindunginya. Ia menyeringai mengejek sambil melambai-lambaikan suling itu.
“Berani menyerangku, akan kuhancurkan suling ini!” ancam Cheng Sam.
Chien Wan menggertakkan giginya dengan geram, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Ia begitu sayang pada sulingnya, ia tak bisa bertahan bila suling itu sampai rusak.
“Di mana Meng Huan?!” seru Sen Khang. Ia sangat gusar ketika mendengar Ouwyang Ping terbunuh, juga sangat sedih. Maka ia mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan Meng Huan.
Cheng Sam mendengus. “Ia kutempatkan di kamar lain. Jangan khawatir. Bila saatnya tepat, akan kupersatukan kalian!” katanya sambil tersenyum mengejek.
“Apa maumu sebenarnya?” teriak Sen Khang gemas.
Cheng Sam berjalan ke pintu. “Aku ingin kalian mati! Tapi kalian boleh bersyukur karena aku belum berniat membunuh kalian sekarang. Tunggulah dengan sabar. Ha ha ha ha!!!”
Ia menghilang di balik pintu, namun suara tawanya yang menyebalkan masih tetap terdengar.
__ADS_1
Mereka terdiam. Suasana sunyi sepeninggal Cheng Sam. Ketiganya tenggelam dalam lamunan masing-masing. Chien Wan duduk di sudut dengan kesedihan yang luar biasa. Benarkah Ping-er telah tiada? Benarkah itu? Demikian tanyanya dalam hati, berulang-ulang. Dengan kalut ia *******-***** rambutnya, tangannya menggigil. Ia telah diberi tanggung jawab untuk menjaga gadis itu, dan kini ia telah gagal. Kepedihannya begitu dalam, membuatnya tak mempedulikan keadaan sekitar.
Sen Khang dan Ting Ting memandanginya dengan resah, namun tak mengusiknya.