Suling Maut

Suling Maut
Luo Sen Khang Terjebak


__ADS_3

Sen Khang membuka pintu kamarnya karena ingin pergi mengunjungi adiknya. Ia tidak tahu bahwa saat ini di ruang depan dan pekarangan rumahnya tengah terjadi keributan. Ia tidak peduli tamu-tamunya tidak ditemani olehnya selaku tuan rumah. Ia terlalu marah untuk mau bergabung dengan mereka. Ia tak sabar lagi menunggu sampai mereka semua meninggalkan rumahnya dan ia bisa sendirian lagi.


Ia berjalan pelan menuju kamar Ting Ting. Entah siapa yang menjaga Ting Ting sekarang ini, pikirnya. Mungkin salah seorang pelayan....


Alangkah malangnya nasib Ting Ting! Seolah penderitaannya belum cukup, kini ditambah lagi dengan penghinaan yang akan datang dari dunia luar. Mereka mengetahui bahwa kehormatannya terenggut. Meski itu bukan kesalahan Ting Ting, namun bagi perempuan, hal itu tetap saja merupakan aib.


Sen Khang tahu bahwa ia tidak dapat melakukan apa-apa. Hal yang bisa dilakukannya hanyalah menjaga adiknya itu dan tidak membiarkannya keluar dari Wisma Bambu. Mungkin suatu hari nanti, orang akan melupakan kejadian ini.


Mendadak matanya yang tajam menangkap bayangan seseorang. Ia tidak begitu jelas melihat orang itu karena gerakannya begitu cepat. Ia hanya melihat sosok itu memakai baju putih-kelabu. Yang membuatnya terkejut, sosok itu berkelebat dengan membawa sesuatu berwarna keemasan di tangannya—yang nampaknya merupakan sosok manusia juga.


Seketika jantungnya berdebar.


Hanya ada satu orang yang dikenalnya yang suka mengenakan pakaian berwarna emas: Ouwyang Ping!


Tanpa pikir panjang, ia berlari mengejar.


Ia terus berlari melewati jalan setapak yang menuju Hutan Bambu. Tak dipedulikannya apa pun juga karena ia berpikir Ouwyang Ping dalam bahaya. Betapa pun ia membenci keluarga Ouwyang sekarang ini, Ouwyang Ping tetaplah satu-satunya gadis yang dicintainya. Ia tak rela sesuatu terjadi pada Ouwyang Ping!


Entah mengapa sosok itu tampak seperti mempermainkannya. Bila ia kehilangan jejak, sosok itu muncul lagi dengan gerakan yang teramat cepat dan seolah memamerkan tubuh terbalut pakaian warna emas di gendongannya.


Sen Khang tahu ilmu meringankan tubuhnya tidak sehebat orang itu, namun ia tetap mengejar karena semakin yakin bahwa orang itu menyandera Ouwyang Ping. Yang membuatnya khawatir, mengapa Ouwyang Ping tidak bergerak sedikit pun? Jangan-jangan....


Ia cepat-cepat menghentikan kekhawatirannya yang berlebihan itu dan meneruskan larinya.


Ia tiba di Hutan Bambu.


Jantungnya berdebar makin kencang karena ia melihat sosok berbusana emas tergeletak di dekat sebuah gundukan yang tampaknya masih baru. Ia tidak tahu bahwa gundukan itu adalah kuburan Sung Cen karena ia tak pernah menginjakkan kakinya keluar dari Wisma Bambu lagi semenjak peristiwa itu.


Ia mendekat.


Seketika jantungnya seperti berhenti berdetak. Ia terpaku tak percaya melihat pemandangan di depannya.


Ouwyang Ping tergolek tak bernyawa. Lehernya miring ke kiri dan dapat terlihat bekas goresan benda tajam di bagian bawah rahangnya di sebelah kanan. Goresan itu bersimbah darah segar. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Sepasang matanya terpejam dan wajahnya pucat sekali.


Sen Khang melompat ke sisi Ouwyang Ping dan mengguncang-guncang tubuh gadis itu. Rasanya seperti seseorang mencabut jantungnya dari dadanya dan membuangnya. Ia merasakan kepedihan dan kemarahan yang mencabik-cabik.


“Ping-er! Ping-er!” serunya gugup.


Ouwyang Ping tidak bergerak sedikit pun.


Sen Khang tidak bisa memeriksa urat nadinya karena bagian itulah yang justru penuh dengan darah. Ia menyentuh luka di leher Ouwyang Ping, namun ketika tangannya menyentuh darah yang lengket, ia segera menarik kembali tangannya.


“Ya Tuhan, siapa yang melakukan hal ini?!” serunya penuh amarah. Air mata menggenang tak terasa. Tak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi!

__ADS_1


Bagaimana Ping-er bisa mati? Siapa yang begini tega mencelakai Ping-er? Sen Khang terus berusaha membangunkan Ouwyang Ping. Namun sia-sia karena tubuh gadis itu tetap tak bergerak.


Tiba-tiba matanya tertumbuk pada sebatang pisau panjang di dekat tubuh Ouwyang Ping. Dengan penuh amarah, diambilnya pisau yang berlumuran darah itu.


“Ping-er, siapa yang melakukannya?” desis Sen Khang pedih.


Tepat sesaat setelah Sen Khang meraih pisau itu, puluhan orang bermunculan ke tempat itu.


Sen Khang menoleh dan melihat mereka semua adalah tamu-tamunya ditambah Meng Huan.


Ouwyang Kuan gemetar melihat tubuh putrinya tergolek berlumuran darah. Ia tidak tahan lagi.


“Luo Sen Khang! Kau membunuh putriku!” raungnya murka.


Sui She terhuyung-huyung.


Sen Khang terperanjat dan sejenak melupakan kesedihannya. “Aku tidak...!”


Para pendekar menatap Sen Khang penuh keterkejutan dan kejijikan.


“Saudara Luo, tidak kusangka....” Pendekar Can menatap Sen Khang tidak percaya, lalu melihat tubuh Ouwyang Ping.


“Saudara Luo, dapat kami maklumi jika kau mau membunuh Suling Maut. Kami mengerti kau mendendam padanya. Tetapi mengapa kau malah membunuh Nona Ouwyang yang tidak berdosa? Di hadapan kami?” Pendekar Fu tampak sangat kecewa.


“Kami melihat sendiri kau menyandera Nona Ouwyang di pekarangan!” seru Pendekar Hua geram.


“Aku tidak pergi ke pekarangan sedetik pun!” teriak Sen Khang.


“Mengapa kau menyimpan senjata pembunuh?” tukas Pendekar Lei.


“Aku memungutnya barusan. Pisau ini tergeletak di samping... jenasah Ping-er...!” Sen Khang terpana. Kesadaran seketika menamparnya. Wajahnya memucat.


“Pembohong! Kami melihat kau di pekarangan beberapa saat yang lalu. Menyandera Nona Ouwyang! Kami semua melihatnya! Kau mau bilang kami bohong!” seru Pendekar Cin dari Perkumpulan Naga Langit.


Sen Khang betul-betul terpojok. Ia berusaha menyangkal dan mencoba memberi keterangan, namun semua orang tak memberinya kesempatan.


Meng Huan mencoba membelanya, namun suaranya dikalahkan oleh yang lain.


Pendekar Sung melangkah ke tengah-tengah arena, dan berdiri di samping Sen Khang. “Tenang, Saudara-saudara!” teriaknya berwibawa sehingga mereka semua langsung menutup mulut. “Sebaiknya kita selesaikan saja masalah ini di rumah. Aku akan membawa jenasah Nona Ouwyang untuk disemayamkan di sana.”


“Putriku!” seru Ouwyang Kuan, hendak menubruk jenasah Ouwyang Ping. Namun Sam Hui menghalanginya dengan lembut namun tegas. Ouwyang Kuan tak dapat bergerak karena Sam Hui memegangi lengannya.


Sui She yang lemas dan menangis tengah dipegangi oleh Wen Chiang.

__ADS_1


Mereka beramai-ramai kembali ke rumah induk.


Sen Khang diiringi oleh mereka semua yang mengawasinya dengan rapat. Mereka tak ingin Sen Khang meloloskan diri.


***


“Aku tidak membunuh Ping-er!” Sen Khang ngotot. Ia memandang berkeliling untuk memohon pengertian. “Untuk apa aku membunuhnya?”


Mereka semua berkumpul di pekarangan karena ruang dalam tidak bisa menampung mereka semua. Sementara jenasah Ouwyang Ping dibawa masuk oleh Tuan Chang dan diurus olehnya dibantu A Nan dan Kui Fang.


Semua pendekar berdiri mengelilingi Sen Khang. Mereka menatap Sen Khang dengan penuh amarah bercampur ketidakpercayaan.


“Kau ingin membalas dendam!” tukas Pendekar Hua. “Karena Suling Maut tidak ada, adiknyalah yang kaujadikan sasaran!”


“Itu tidak benar!”


“Lantas apa pembelaanmu?”


“Aku melihat orang berkelebat membawa Ping-er. Aku khawatir jadi aku mengejarnya. Saat aku tiba di Hutan Bambu, Ping-er sudah tewas. Pisau itu aku lihat tergeletak di dekatnya dan aku mengambilnya untuk memeriksanya. Itu saja!” Sen Khang menjelaskan.


“Lalu bagaimana kau menjelaskan kehadiranmu di pekarangan sambil menyandera Nona Ouwyang?” tanya Pendekar Fu.


“Aku tidak pernah pergi ke pekarangan. Sejak tadi aku ada di kamar!”


“Jangan berdusta!” hardik Ouwyang Kuan. “Kami semua melihat kau di sana!”


Sen Khang tertegun. Ia menatap mereka semua dengan rasa tak percaya. Mengapa mereka semua meragukannya? Ia betul-betul tidak melakukannya! Bagaimana mungkin ia tega menghabisi nyawa orang yang penting baginya di dunia ini? Dan, bagaimana mungkin Ouwyang Kuan tega menuduhnya seperti itu? Pria itu tahu bahwa Sen Khang menyukai putrinya!


“Kau benar-benar kejam, Saudara Luo!” dengus Pendekar Can. “Kami salah menilaimu!”


“Selama ini kami selalu menghargaimu. Tak disangka kau orang semacam ini!”


“Kami sangat kecewa telah berada di pihakmu selama ini!”


Tuduhan demi tuduhan terus dilontarkan oleh para pendekar itu. Mereka sama sekali tidak mendengarkan penjelasan Sen Khang maupun pembelaan Meng Huan. Mereka benar-benar memojokkan Sen Khang.


Sen Khang putus asa. Siapa yang mau mempercayainya sekarang?


Pendekar Sung menghela napas. “Ironis sekali, bukan? Yang dialami Chien Wan sekarang kaualami sendiri, Sen Khang.”


Sen Khang terperangah. Setitik penyesalan merambati hatinya.


***

__ADS_1


__ADS_2