Suling Maut

Suling Maut
Dua Tahun Kemudian


__ADS_3

Sudah dua tahun berlalu semenjak terbukanya rahasia jati diri Chien Wan. Dan selama dua tahun itu pulalah Chien Wan tak pernah lagi melihat Ouwyang Ping. Bukan berarti ia tidak mendengar apa-apa tentang Ouwyang Ping. Selama dua tahun ini, Dunia Persilatan ramai membicarakan sepak-terjang seorang gadis pendekar yang senantiasa membawa harpa emas. Setiap kali ada kesusahan, gadis itu selalu muncul diiringi dentingan dawai harpa yang amat merdu. Orang mulai mengenalnya sebagai Harpa Kencana.


Semua orang di Lembah Nada merasa sangat yakin bahwa gadis itu adalah Ouwyang Ping. Hanya saja mereka tak pernah bertemu dan melihat langsung kemunculan gadis itu.


Selama dua tahun ini, Chien Wan digembleng habis-habisan oleh Tuan Ouwyang Cu dengan ilmu-ilmu sakti Lembah Nada. Semua kepandaiannya diturunkannya kepada Chien Wan. Ia merasa puas karena Chien Wan sangat berbakat dan semakin lama semakin hebat.


Namun kian hari Tuan Ouwyang kian ragu. Apakah bisa Chien Wan menjadi pewaris Lembah Nada? Bakat dan kemampuan Chien Wan tidak diragukan lagi. Tetapi pemuda itu terlalu pendiam dan pemurung. Tuan Ouwyang ragu, apakah Lembah Nada akan mengalami kemajuan jika dipimpin oleh majikan yang kurang bersemangat seperti itu?


Segala kekhawatiran Tuan Ouwyang mereda saat Sui She memberitahukan dirinya tengah mengandung. Dan ketika bayi yang dilahirkannya ternyata adalah laki-laki, segala kecemasan Tuan Ouwyang pun lenyap. Jika Chien Wan gagal, toh masih ada adiknya!


Anak laki-laki itu kini sudah berumur hampir setahun. Anak itu sangat tampan dan lucu. Ia merupakan cahaya baru dalam keluarga Ouwyang. Tuan Ouwyang Cu menamainya Ouwyang Lee. Anak itu langsung menjadi kesayangan seluruh penghuni Lembah Nada. Bahkan Tuan Ouwyang yang biasanya sinis dan ketus, langsung jatuh hati padanya semenjak ia dilahirkan.


A Lee sangat montok dan lincah. Sifatnya yang periang ditandai dengan senyum yang nyaris selalu tersungging di bibirnya. Kedua orangtua dan kakaknya sangat menyayanginya. Apalagi Tuan Ouwyang Cu.


“Tak ada bayi yang seganteng A Lee!” seru Tuan Ouwyang Cu dengan puas dan bangga setiap kali cucunya itu selesai dimandikan.


“A Lee belum bisa disebut ganteng, Ayah,” kata Ouwyang Kuan geli.


Tuan Ouwyang bersikeras, “Kau salah! Aku berani bertaruh, A Lee adalah bayi terganteng di dunia. Lihatlah lima belas tahun lagi, pasti semua perempuan akan bertekuk lutut di hadapannya!”


Sui She menggeleng. “Ayah, aku tidak ingin A Lee menjadi seperti itu. Dia tidak perlu tampan, tetapi dia harus mempunyai kepribadian yang luhur dan berbudi,” katanya pelan.


“Kau tenang saja! A Lee keturunan keluarga Ouwyang. Dia pasti akan tumbuh seperti harapan kita!” sergah Tuan Ouwyang Cu pongah. Lalu ia meminta A Lee untuk digendongnya. “Aku ingin menggendongnya. Kemarikan dia!”


Sui She menyerahkan anaknya yang baru saja dipakaikan baju.


Tuan Ouwyang Cu menimang-nimangnya dengan girang. “Bocah lucu!” pujinya. Namun tiba-tiba wajahnya berubah. “Setan cilik!” makinya membuat Sui She dan Ouwyang Kuan kaget.


“Ayah, ada apa?” tanya Sui She cemas.

__ADS_1


Wajah Tuan Ouwyang tampak geram. “Anakmu ini betul-betul setan kecil, Sui She! Masa dia mengompoli aku!” serunya.


A Lee menatap wajah kakeknya yang masam itu sambil terkekeh-kekeh.


Kemarahan Tuan Ouwyang langsung lenyap. Ia pun terbahak-bahak, membuat Ouwyang Kuan dan Sui She berpandangan geli.


Chien Wan masuk ke dalam ruangan. Hatinya senang melihat kegembiraan keluarganya dengan kehadiran putra yang baru ini.


Tuan Ouwyang melihatnya. “Hei, Chien Wan! Ke sini kau!”


Chien Wan menghampiri. “Ya, Kek?”


“Hari ini kau akan mulai berlatih Ilmu Genderang Surgawi!” kata Tuan Ouwyang. “Kau harus menyepi di kaki bukit untuk mempelajari teori ilmu ini!”


Chien Wan terpaku.


Lembah Nada memang tidak ditemukan oleh seorang Ouwyang. Penemunya bernama Lauw Cin, seorang ahli silat dan musik yang nyaris tanpa tanding pada zamannya. Sayangnya ia tidak memiliki istri maupun putra untuk meneruskan kedudukannya. Ia memiliki murid bermarga Ouwyang yang sangat berbakat dan disayanginya, maka Lembah Nada diwariskan kepadanya. Sejak itulah, keluarga Ouwyang turun-temurun menjadi pewaris Lembah Nada.


“Kakek, sepertinya aku tidak mampu mempelajarinya.”


Kata-kata itu diucapkan dengan sangat tenang oleh Chien Wan. Sebelumnya ia memang sudah memikirkannya masak-masak. Dan ia memutuskan untuk tidak mempelajari ilmu itu. Ilmu itu hanya boleh diwariskan kepada satu orang dari tiap generasi. Dari guru ke satu murid. Jika ia mewarisinya, hilanglah kesempatan A Lee. Padahal belum tentu ia sanggup menguasai ilmu itu.


“Apa katamu?!” bentak Tuan Ouwyang gusar.


“Aku hanya tertarik kepada ilmu yang menggunakan suling sebagai dasar. Kakek sendiri tahu itu, bukan? Aku tidak tertarik mempelajari ilmu tangan kosong. Biarlah ilmu itu diwariskan kepada A Lee,” kata Chien Wan tenang.


Tuan Ouwyang mengernyitkan alisnya. “Kau yakin?”


Chien Wan mengangguk mantap.

__ADS_1


Ouwyang Kuan angkat bicara. “Anakku, kau akan diangkat menjadi Majikan Lembah Nada. Seharusnya kau yang mempelajari ilmu itu, bukan A Lee.”


Chien Wan menoleh dan melihat ayahnya tampak khawatir. Dipandangnya A Lee yang tengah bermain-main sendiri di pangkuan ibunya. Saat dipandangi oleh Chien Wan, tiba-tiba saja A Lee mengangkat wajah. Pandangan mereka bertemu dan Chien Wan bergidik. Mata adiknya itu tajam dan bersinar, persis mata kakeknya. Tidak diragukan lagi, A Lee lah yang paling pantas menjadi Majikan Lembah Nada.


“Aku tidak pernah berkeinginan menjadi Majikan Lembah Nada, Ayah.”


Ouwyang Kuan terperanjat. “Apa maksudmu?” serunya.


Sui She menatap Tuan Ouwyang Cu, khawatir ayah mertuanya marah mendengar pernyataan Chien Wan. “Jangan bicara begitu, Nak.”


“Ayah, Ibu, Kakek.” Chien Wan menatap mereka satu per satu. “Sejak A Lee lahir, aku merasa beban di pundakku terlepas. Tadinya aku tidak bisa menolak tugas sebagai pewaris Lembah Nada karena memang yang ada hanya aku. Tapi setelah A Lee lahir, aku merasa dia lebih cocok mengemban tanggung jawab ini. Sejak kecil aku tidak dididik untuk memimpin. Terus-terang, aku merasa tidak sanggup. Sedang A Lee... jika sejak kecil ia dididik untuk menjadi pemimpin, dia akan mengemban tanggung jawab ini dengan senang hati dan tidak menganggapnya sebagai beban.


“Dengan begitu, dia akan menjadi Majikan Lembah Nada yang jauh lebih baik dibandingkan aku. Tentu saja aku akan senantiasa membantunya jika dia membutuhkan bantuan. Namun Lembah Nada tidak akan mengalami kemajuan jika aku yang mewarisinya karena aku tidak mempunyai kemampuan.”


Orangtua dan kakeknya tercengang mendengarnya. Baru kali ini Chien Wan berbicara sepanjang itu.


Ketegasan Chien Wan membuat mereka tak bisa lagi mengatakan apa-apa.


“Jadi apa yang kauinginkan, Chien Wan?” tanya Tuan Ouwyang akhirnya.


“Izinkan aku mengembara, Kek. Aku ingin mencari Ping-er.”


Tak ada seorang pun yang bisa mengucapkan apa-apa karena terlalu terkejut. Selama dua tahun ini, tak sekali pun Chien Wan menyebut-nyebut nama Ouwyang Ping. Kini bahkan bilang mau mencarinya. Apakah itu berarti Chien Wan sudah tidak menganggap Ouwyang Ping sebagai kekasihnya lagi?


Tak ada yang bisa dilakukan oleh orangtua dan kakeknya selain mengizinkannya. Mereka lega karena akhirnya Chien Wan bisa melupakan kisah masa lalunya.


Namun sebenarnya tidaklah semudah itu.


Jauh di lubuk hatinya, Chien Wan masih memiliki perasaan yang mendalam terhadap Ouwyang Ping. Walau ia sadar bahwa perasaan itu sangat terlarang, ia tidak dapat menghindarinya. Setiap saat ia berharap supaya cintanya pada Ouwyang Ping menghilang, namun harapannya sia-sia. Cinta tidak semudah itu hilang, tidak semudah itu berubah.

__ADS_1


__ADS_2