
“Apa yang kautemukan?” seru Tuan Chang begitu melihat Fei Yu keluar dari liang itu.
Fei Yu menyumpah-nyumpah saat sudah tiba di luar liang dan melihat dirinya sendiri di bawah terangnya lampion yang dibawa oleh anak buahnya. Tubuhnya kotor penuh lumpur. Pakaiannya yang berwarna putih tampak dekil dan dipenuhi bercak-bercak coklat dan hijau bekas tanah dan lumpur.
“Jalan di dalam sangat gelap dan tanahnya licin dan berlumpur. Aku nyaris saja tergelincir beberapa kali. Aku terus berjalan sambil meraba-raba, ternyata di tengah jalan aku bertabrakan dengan penghalang. Rupanya Cheng Sam sadar dia akan dikejar, maka dia menumpukkan batu dan tanah untuk menghalangi jalanku. Aku tidak membongkarnya karena aku khawatir jalan itu ditimbun sampai ujung,” cerita Fei Yu sambil berusaha menepiskan kotoran yang menempel di wajahnya.
Chien Wan memandangi liang itu. “Sebenarnya liang ini tembusnya di mana?”
“Hutan sebelah utara.”
“Jika lewat jalan normal, berapa lama waktu yang diperlukan?”
Fei Yu mendecakkan lidahnya. “Dua kali lipat daripada lewat sini,” katanya sambil menunjukkan jarinya ke arah liang. “Saat kita tiba di sana, mereka pasti sudah lama pergi.”
Seorang anak buah Tuan Chang berlari-lari. “Tuan Besar, perpustakaan berantakan!”
Semuanya kaget dan bergegas menuju perpustakaan.
Ruangan itu memang berantakan. Buku-buku di lemari semuanya berhamburan. Tetapi tidak ada yang pecah. Lemari penyimpan samaran juga terbuka, namun di dalamnya memang sudah tak ada banyak barang lagi. Sejak peristiwa penjarahan dahulu, Tuan Chang dan Fei Yu sudah berhati-hati untuk tidak menyimpan barang-barang berharga di perpustakaan.
Tuan Chang langsung berlari ke kamarnya untuk memeriksa.
Fei Yu juga menuju kamarnya.
“Ada yang hilang?” tanya Chien Wan setelah mereka berdua kembali ke perpustakaan.
Fei Yu menggeleng. “Semua pusaka yang kusimpan masih utuh. Bagaimana dengan Ayah?”
Tuan Chang menghela napas lega. “Untung saja dia tidak berhasil masuk kamarku. Kitab-kitab yang kusimpan aman.”
“Sebaiknya kita mencari celah-celah rahasia yang memungkinkan orang bisa memasuki Bukit Merak tanpa sepengetahuan kita, Ayah. Kita tutup saja celah itu dan perketat penjagaan!” ujar Fei Yu tegas.
Tuan Chang mengangguk. “Kauatur saja semuanya.”
Keesokkan harinya, Fei Yu memerintahkan anak buahnya untuk menutup semua celah dan jalan rahasia yang ada di Bukit Merak. Ia juga mengatur pembagian tugas jaga dan menambah jumlah anak buah yang menjaga setiap pintu masuk. Ia begitu sibuk sehingga untuk sementara ia melupakan niatnya untuk pergi.
Sebelum itu, ia sendiri memimpin anak buahnya untuk pergi ke hutan di sebelah utara untuk mencari jejak Cheng Sam.
Mereka menemukan bekas-bekas orang menginap di sana. Ada tenda dan bekas api unggun, juga ada sisa-sisa tulang hewan yang agaknya merupakan makanan mereka. Namun selain itu, mereka tidak menemukan apa-apa lagi. Tidak ada petunjuk sedikit pun mengenai keberadaan Cheng Sam.
Mereka sangat kesal dan kembali menemui jalan buntu.
Chien Wan memutuskan untuk berangkat tanpa Fei Yu.
“Bukit Merak sedang membutuhkan pengamanan yang ketat, Fei Yu. Jika kau pergi, mungkin Cheng Sam akan menyerang lagi. Sebaiknya kau di sini dulu.”
Fei Yu mengangguk muram. “Kurasa sebaiknya juga begitu.”
Chien Wan menoleh menatap Lo Hian dan Hauw Lam. “Kakak Lo dan Kakak Hauw sebaiknya membantu Fei Yu saja di sini. Setelah semuanya beres, mungkin sebaiknya kalian kembali ke Lembah Nada. Aku agak mencemaskan keadaan Lembah Nada sepeninggal Kakak berdua,” katanya.
Lo Hian dan Hauw Lam mengerti. Walau tidak diucapkan dengan nada perintah, tetap saja perkataan itu merupakan perintah yang tidak boleh dibantah dari seorang calon pewaris Lembah Nada. Mereka mematuhi perintah itu dengan hormat.
“Aku akan segera menyusul begitu urusan di sini selesai,” kata Fei Yu. “Bagaimana kita bertemu nanti?”
“Kita adakan perjanjian saja. Bulan depan pada tanggal yang sama, kita bertemu di Kotaraja.”
__ADS_1
“Kotaraja?”
“Benar. Aku berharap saat itu masing-masing dari kita sudah menemukan petunjuk lain lagi. Atau lebih bagus lagi, menemukan pelaku sebenarnya.”
“Baiklah. Kita atur saja demikian!” angguk Fei Yu.
Maka Chien Wan dan Kui Fang berpamitan kepada Tuan Chang dan semuanya. Mereka meninggalkan Bukit Merak tiga hari setelah kedatangan mereka.
Chien Wan dan Kui Fang pergi ke Kota Lok Yang untuk menemui Pendekar Sung seperti rencana semula.
***
Pendekar Sung menyambut kedatangan mereka dengan terkejut sekaligus senang. Sudah lama ia tidak bertemu Chien Wan. alangkah lega hatinya melihat Chien Wan berada dalam kondisi baik-baik saja tidak kurang suatu apa pun.
“Chien Wan, senang sekali bisa melihatmu kembali!” seru Pendekar Sung.
Chien Wan memberi hormat. “Aku ingin berterima kasih kepada Paman atas usaha Paman membersihkan nama baikku. Entah bagaimana aku bisa membalas budi Paman.”
“Jangan permasalahkan hal itu. Membersihkan nama baik seseorang yang difitnah merupakan salah satu kewajibanku.”
Mereka duduk di ruang tamu Pendekar Sung.
“O ya, Chien Wan. Beberapa waktu lalu putriku pergi ke Lembah Nada untuk memberitahukan orangtuamu perihal ketidakbersalahanmu. Apakah kau bertemu dengannya?” tanya Pendekar Sung.
Chien Wan mengangguk. “Ya. Sampai saat aku pergi pun dia masih di sana.”
Kening Pendekar Sung berkerut. “Sampai saat ini dia belum juga pulang.”
“Mungkin kakekku mencegahnya,” senyum Chien Wan menenangkan.
“Tenanglah, Paman,” bilang Chien Wan. “Tampaknya kakekku menyukai Siu Hung. Beliau sangat jarang bisa menyukai seseorang yang bukan anggota keluarganya. Agaknya kakekku berniat mengangkat Siu Hung menjadi muridnya.”
Wajah Pendekar Sung berseri. “Benarkah?”
“Kakekku belum mengatakannya secara terang-terangan. Tetapi selama Siu Hung di sana, kakekku selalu melatihnya dengan dasar kungfu Lembah Nada.”
Pendekar Sung mendesah prihatin. “Anakku itu sangat nakal. Ibunya meninggal dunia ketika dia lahir. Aku sendiri selalu sibuk dengan urusan Dunia Persilatan. Jadilah dia besar dikelilingi pengawal-pengawalku yang semuanya laki-laki. Tak ada kelembutan perempuan yang bisa melunakkan sifatnya. Makanya dia bandel begitu. Dia senantiasa menyusahkan guru-gurunya. Jangan-jangan nanti dia menyusahkan kakekmu juga,” katanya cemas.
Chien Wan tersenyum. “Jangan khawatir, Paman. Sifat kakekku aneh. Dan dalam beberapa segi, sangat mirip dengan sifat Siu Hung sendiri. Mereka sering bertengkar, namun sebenarnya saling menyukai.”
Senyum Pendekar Sung merekah mendengarnya. “Anakku nakal, tapi dia sangat lucu dan menggemaskan. Dia mudah sekali untuk disukai,” pujinya. Lalu tersipu. “Astaga! Aku membangga-banggakan anakku sendiri.”
Chien Wan dan Kui Fang bertukar pandang, mengulum senyum.
Kemudian Pendekar Sung menjadi serius. “Nama baikmu sudah dibersihkan. Mudah-mudahan sekarang tak ada lagi orang yang mengancam keselamatan jiwamu, Chien Wan.”
Chien Wan menggeleng. “Jangan khawatir. Justru aku datang ke sini hendak mengemukakan petunjuk yang kami punya. Aku sudah menemui Paman Chang dan Fei Yu untuk minta pendapat. Sebenarnya Fei Yu ingin ikut ke sini, tetapi mereka sedang mengalami musibah.”
“Musibah apa lagi?”
“Tiga hari lalu Cheng Sam menyelinap ke Bukit Merak dan berusaha mencuri lagi,” kata Chien Wan. Lalu ia menceritakan semua yang terjadi tiga hari yang lalu kepada Pendekar Sung.
Pendekar Sung mendengarkannya dengan seksama. Wajahnya tampak gusar sekali.
“Keterlaluan!” serunya sambil menggebrak meja.
__ADS_1
“Untungnya dia tidak sempat mengambil apa-apa karena semua benda berharga sudah diamankan.”
Pendekar Sung mendengus. “Dasar penjahat rendahan!” Lalu ia kembali memusatkan perhatian pada perkataan Chien Wan yang pertama tadi. “Katamu kau menemukan petunjuk. Petunjuk apa yang kaumaksud?”
Chien Wan menunjukkan pedang pembunuh dan cabikan kain itu dan kembali mengulang penjelasan yang sama seperti yang dikemukakannya kepada Tuan Chang dan Fei Yu. Ditambah dengan kesimpulan yang berhasil mereka tarik dari diskusi mereka tiga hari yang lalu.
Pendekar Sung mengusap-usap dagunya dan berpikir.
“Sahabat Cheng Sam? Dan kekasihnya yang direbut pemuda kaya?” gumamnya.
“Kami semua berpikir ada kemungkinan bahwa sahabatnya adalah juga kekasihnya,” ucap Chien Wan.
“Tetapi aku pikir agak aneh,” sela Kui Fang. “Masa Cheng Sam mau bersahabat dengan perempuan yang sudah mengkhianatinya?”
“Bagaimana kalau bukan kekasihnya yang mengkhianatinya?” tanya Pendekar Sung. “Bukankah Cheng Sam bilang kekasihnya direbut pemuda kaya, bukannya berselingkuh dengan pemuda kaya. Bisa jadi sebetulnya kekasihnya itu masih mencintai Cheng Sam, namun karena keadaan terpaksa menikah dengan pemuda itu?”
“Bisa saja begitu!” Kui Fang baru sadar akan kemungkinan itu.
“Yang paling penting sekarang adalah mencari Cheng Sam. Namun ia seperti hilang ditelan bumi. Tak ada yang tahu di mana dia berada,” geram Pendekar Sung kesal.
“Kami juga kehilangan jejaknya,” komentar Chien Wan datar.
Kui Fang menghembuskan napas. “Sebetulnya akan lebih mudah bila kita sudah menemukan Cheng Sam. Dia kan bisa membocorkan semuanya bila kita mengancamnya.”
“Tepat sekali!” angguk Pendekar Sung.
Kui Fang memandang Chien Wan. “Apa yang akan kita lakukan, Kakak Wan?”
“Mencari Cheng Sam.”
Pendekar Sung tertegun mendengar jawaban itu. “Tidakkah kau berkeinginan untuk pergi ke Wisma Bambu?” tanyanya hati-hati.
Chien Wan terdiam.
“Sekarang ini mereka semua sudah menghilangkan kecurigaan mereka, Chien Wan. Bahkan Nona Luo sendiri sudah mengetahui bahwa bukan dirimu pelaku kekejaman terhadap dirinya. Sudah waktunya bagimu untuk menemui mereka.”
“Betul, Kakak Wan!” sambut Kui Fang.
Chien Wan menarik napas.
“Ada yang memberatkan pikiranmu?” desak Pendekar Sung.
Chien Wan mengangguk. “Aku tidak bisa melenggang ke sana hanya karena namaku sudah bersih kembali, Paman. Aku ingin setidaknya sudah mendapat petunjuk tentang siapa pelaku pembunuhan itu sebelum bertemu dengan mereka semua.”
“Sampai kapan?”
Pertanyaan itu membuat Chien Wan tertegun. Ya. Sampai kapan? Bagaimana kalau ia tidak kunjung menemukan pelaku sebenarnya sampai bertahun-tahun? Apakah ia tidak akan pernah datang ke Wisma Bambu?
“Setidaknya sampai aku mendapatkan petunjuk lain lagi tentang peristiwa ini,” kata Chien Wan akhirnya.
Pendekar Sung tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia mengerti tidak ada gunanya mencoba membujuk Chien Wan.
Kui Fang diam-diam melirik Chien Wan.
Pendekar Sung menyadari bahwa kedua tamunya itu tentunya sudah lelah. Maka ia segera menyuruh pelayannya menyiapkan kamar bagi keduanya.
__ADS_1
***