
Selama beberapa hari di Lembah Nada, Chien Wan menghabiskan sebagian waktunya untuk merenung dan berpikir. Ia telah menunjukkan pedang pembunuh itu pada kakek dan ayahnya, kalau-kalau mereka tahu sesuatu mengenainya. Namun semua orang di Lembah Nada bukanlah ahli pedang, jadi tidak ada seorang pun yang tahu.
Chien Wan mulai gelisah. Berada di Lembah Nada dalam perlindungan orangtua dan kakeknya tidak menyelesaikan masalah. Untuk mencari bukti yang bisa membersihkan nama baiknya tentu memerlukan tindakan. Ia harus pergi dari sini.
Namun bagaimana caranya mencari petunjuk bila ke mana pun ia pergi selalu ada rombongan pendekar yang menghadang dan ingin menghabisinya? Ia mendesah dan terus mengamati pedang itu.
“Masih juga mengamati pedang itu?” tegur Fu Ming yang saat itu melintas.
Chien Wan menoleh. “Kakak Fu.”
“Mengenai masalah pedang, tak ada orang di Lembah Nada yang bisa kautanyai, Tuan Wan. Kau harus menanyakannya pada ahlinya.”
Chien Wan menghela napas. “Masalahnya aku tak punya kesempatan.”
“Aku mengenal seseorang yang dikenal tahu segalanya mengenai Dunia Persilatan, dia tinggal tak jauh dari sini,” kata Fu Ming setengah berpikir. “Dia juga merupakan ahli dalam masalah pedang.”
Chien Wan langsung waspada. “Siapa?”
“Namanya Tung Pei. Dia dijuluki si Kamus Silat. Begitu ahlinya dia sampai-sampai dia harus mengasingkan diri karena tidak ingin terus-menerus ditemui orang yang ingin meminta nasihat darinya.”
“Kau tahu di mana dia tinggal?” desak Chien Wan.
“Tidak tahu pasti. Hanya saja, aku pernah mendengar dia tinggal di dekat Lembah Nada.”
“Si Kamus Silat tinggal di hutan dekat Kuil Abadi!”
Chien Wan dan Fu Ming menoleh dan melihat Tuan Ouwyang berjalan mendekati mereka. Segera keduanya bangkit berdiri. Fu Ming memberi hormat pada Tuan Ouwyang.
“Aku ingin menemuinya, Kek.”
Tuan Ouwyang mengangguk. “Pergi saja. Dia akan menerimamu kalau tahu kau cucuku!”
Chien Wan mengangguk. Ia memberi hormat pada kakeknya sebelum melangkah meninggalkan mereka.
Sepeninggal Chien Wan, Tuan Ouwyang Cu. memalingkan tubuh dan menatap tajam Fu Ming.
“Maafkan kelancangan saya, Tuan Besar. Saya tidak bermaksud mengungkit masalah Nyonya Tung,” ujar Fu Ming penuh sesal.
Tuan Ouwyang mengerutkan kening. “Aku justru senang kau mengungkitnya. Aku sendiri sudah hampir lupa Tung Pei tinggal di sini!”
Fu Ming mendesah lega.
Kepergian Chien Wan ke kediaman si Kamus Silat dilakukannya dengan diam-diam. Ia tidak ingin siapa pun mengikutinya, apalagi Siu Hung. Tanpa diketahui kakeknya, setelah berhasil menemui si Kamus Silat ia ingin pergi ke Wisma Bambu. Sekali lagi saja ia ingin mencoba meyakinkan Sen Khang bahwa dirinya tidak bersalah.
Semoga saja dengan bukti-bukti yang didapatnya kelak, Sen Khang akan mempercayainya. Setelah itu mereka bersama-sama akan mencari pelaku yang sebenarnya. Dan persahabatan yang retak ini, mudah-mudahan saja dapat kembali utuh seperti dulu.
***Tung Pei adalah seorang perempuan tua yang memiliki pengetahuan luas tentang Dunia Persilatan. Ia sangat jeli dan mengetahui seluruh hal di Dunia Persilatan yang orang lain tidak tahu. Ingatannya tajam dan otaknya sangat cemerlang dan sama sekali tidak terkikis oleh usianya yang semakin tua. Ia bisa mengingat apa pun yang dibacanya dan dilihatnya dalam sekejap. Dan sekali diingat, selamanya tidak akan dilupakannya.
Chien Wan terkejut melihatnya.
__ADS_1
Sejak pertama kali mendengar tentang Tung Pei, ia selalu mengira bahwa Tung Pei adalah seorang pria. Ia tak dapat menyembunyikan keterkejutannya melihat sosok Tung Pei.
Perempuan tua itu kira-kira sebaya Tuan Ouwyang, mungkin hanya lebih muda beberapa tahun saja. Ia mengenakan pakaian sederhana namun sangat rapi. Wajahnya berkerut-kerut termakan usia, namun masih menyisakan pesona masa mudanya. Sorot matanya masih jernih dan menampakkan kebijaksanaan yang semakin tajam seiring pertambahan usia.
Tung Pei tersenyum melihat keterkejutan Chien Wan.
“Heran melihatku, Anak Muda?”
Chien Wan tersadar dari keterpakuannya. Ia memberi hormat dengan malu menyadari bahwa ia tadi bersikap tidak sopan. “Maafkan kedatangan saya yang tanpa pemberitahuan ini, Sesepuh.”
“Ouwyang Cu yang menyuruhmu?” tanya Tung Pei tenang.
“Sebenarnya saya datang atas kehendak saya sendiri. Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan.”
Tung Pei tertawa ringan. “Semua orang yang menemuiku memang selalu ingin menanyakan sesuatu,” katanya riang. “Masuklah!”
Chien Wan mengikuti perempuan itu masuk ke dalam pondoknya yang mungil dan terbuat dari bambu. Rumah itu sangat kecil, terdiri dari sebuah kamar serta ruang tamu yang tidak luas. Dapurnya terletak di bagian belakang dan menguarkan aroma masakan yang sangat enak.
Tung Pei tertawa melihat ekspresi Chien Wan. “Aku baru memasak tumis sayuran dengan daging untuk makan siang. Kau mau makan siang denganku?”
Chien Wan tersenyum juga. “Mungkin saya tidak dapat menghargai kelezatan masakan Anda.”
“Bukan salahmu kalau indera pengecapmu tak berfungsi.”
Betapa terkejutnya Chien Wan. Keanehan indera pengecapnya hanya segelintir orang yang tahu. Bagaimana...?
Kembali Tung Pei tertawa. “Aku tidak akan dipanggil si Kamus Silat bila hal ini saja aku tidak tahu. Tidak ada satu pun rahasia Dunia Persilatan yang lolos dariku. Jadi, Suling Maut, duduklah.”
Setelah selesai, Tung Pei membereskan semuanya sambil bersenandung. Chien Wan tidak bisa berbuat apa-apa. Agaknya perempuan tua ini punya sifat yang juga aneh, seperti kakeknya sendiri.
Tung Pei kembali.
“Nah, Tuan Ouwyang, apa yang ingin kautanyakan?”
Chien Wan tidak siap dan ia tergagap. “Eh, begini....”
“Aku adalah si Kamus Silat. Aku tahu apa yang terjadi di Dunia Persilatan. Aku juga tahu mengenai peristiwa yang tengah kaualami. Tetapi aku bukan dewa yang tahu segalanya. Aku juga tidak tahu apakah kau bersalah atau tidak. Jadi mulailah bertanya dan aku akan menjawab,” kata Tung Pei.
“Anda tahu kabar itu dan Anda tidak mau membunuhku seperti semua pendekar itu?”
Tung Pei mengangkat bahu. “Untuk apa? Tidak ada gunanya bagiku.”
“Bahkan bila aku bersalah sekali pun?”
“Bersalah atau tidak, membunuhmu tidak ada untungnya bagiku. Urusanku hanyalah menjawab pertanyaanmu dan selesai. Mengenai permusuhan atau pembalasan dendam apa pun yang kalian semua lakukan, bukan masalahku.”
Perkataan Tung Pei melegakan hati Chien Wan. Maka ia mengeluarkan pedang yang disembunyikannya di balik jubahnya. Disodorkannya pada Tung Pei.
“Aku mencabut pedang ini dari tubuh Paman Luo. Bisakah Anda meneliti pedang ini?” tanya Chien Wan.
__ADS_1
Tung Pei menyambut pedang itu dan mengamatinya dengan cermat. Keningnya berkerut kala ia menelusuri setiap jengkal pedang itu dengan ujung-ujung jarinya yang keriput. “Hmm... pedang yang cukup bagus. Matanya terbuat dari baja dan gagangnya dari kayu yang tua.”
Setelah mengemukakan hal itu, Tung Pei kembali terdiam.
“Kaulihat mata pedang ini, Tuan Ouwyang?” kata Tung Pei setelah beberapa lama.
Chien Wan melihat mata pedang yang ditunjukkan Tung Pei. Ditajamkannya penglihatannya untuk melihat apa yang dimaksud Tung Pei. Dan ia melihat mata pedang itu ternyata tidak mulus. Ada sedikit patahan yang begitu kecil sehingga jika tidak diperhatikan tidak akan kentara.
“Saya melihatnya.”
“Ini menandakan bahwa sebelum ditusukkan ke tubuh Tuan Luo, sempat terjadi pertarungan pedang melawan pedang. Kikisan mata pedang ini menunjukkan baik Tuan Luo maupun penyerangnya memiliki tenaga dalam yang kuat. Hanya saja, mungkin tenaga dalam si penyerang lebih kuat. Pedang ini hanya terkikis dan tidak patah,” jelas Tung Pei.
“Berarti si penyerang memiliki ilmu pedang yang hebat!”
“Benar. Coba lihat gagangnya!”
Chien Wan kembali menunduk memperhatikan gagang pedang itu.
“Gagang pedang ini tidak mulus. Seharusnya gagang ini berbentuk lurus dan tebal, memenuhi genggaman tangan. Tetapi gagang ini berlekuk, tanda penggunanya mencengkeramnya dengan pengerahan tenaga dalam yang sangat tinggi sehingga lekukan jarinya tercetak di sini.”
“Apakah itu berarti, pembunuh itu merupakan orang yang berilmu pedang amat tinggi?” tanya Chien Wan.
Tung Pei mengangguk.
Chien Wan menghembuskan napas.
“Dan yang pasti, pengguna pedang ini bukan si Suling Maut yang hanya mau berlatih silat bila berhubungan dengan sulingnya,” senyum Tung Pei.
Chien Wan memandangnya penuh rasa terima kasih. “Teri....”
“Belum, Tuan Ouwyang.” Tung Pei menukas tegas. “Kau tidak ingin tahu yang lainnya?”
“Masih ada yang lainnya?”
Tung Pei kembali menekuri pedang itu. “Sepanjang pengetahuanku, di Daratan Tionggoan ini ada beberapa macam ilmu pedang yang sangat terkenal kehebatannya. Ilmu-ilmu itu sangat sulit untuk dikuasai. Maka bila seseorang berhasil menguasainya, maka ia bisa menjadi pendekar yang sulit ditandingi.
“Dari ilmu-ilmu hebat itu, ada dua macam ilmu pedang yang paling hebat dan terkenal di Dunia Persilatan sebagai ilmu-ilmu langka. Yang pertama adalah Ilmu Pedang Pelangi, namun ilmu itu sudah lama lenyap dari Dunia Persilatan. Selain itu, sifat dari Ilmu Pedang Pelangi berbeda dengan ilmu pedang pada umumnya. Sifat ilmu itu cenderung pasif dan ilusif. Seperti kau lihat, pedang ini terkikis, tanda telah terjadi bentrokan hebat. Satunya lagi adalah Ilmu Pedang Bayangan—“
“Ilmu Pedang Bayangan! Itu pusaka Bukit Merak!”
Tung Pei melirik sekilas dan mengangguk. “Betul. Keluarga Chang sudah memilikinya sejak lama sekali. Kemungkinan ilmu itulah yang dikuasai oleh pembunuh itu.”
Chien Wan tertegun. “Kitab itu dicuri oleh Cheng Sam. Mungkinkah dia orangnya?”
“Itulah yang harus kau selidiki, Tuan Ouwyang.”
Chien Wan mengangguk. Ia pun berdiri sambil menyembunyikan kembali pedang itu ke balik jubahnya. “Kalau begitu, terima kasih banyak, Sesepuh. Maaf telah mengusik waktu Anda.”
Tung Pei mengangguk.
__ADS_1
Chien Wan pun meninggalkan rumah Tung Pei dengan berbekal pengetahuan baru ini. Ia bertekad untuk menemukan pelaku sebenarnya. Mungkin setelah ini, ia bisa membersihkan nama baiknya.
***