Suling Maut

Suling Maut
Buah Dewa


__ADS_3

Waktu berjalan cepat dan tanpa terasa sudah dua bulan rombongan Tuan Ouwyang berada di Pulau Ginseng. Sesuai perjanjian, setelah dua bulan mereka akan pergi meninggalkan pulau itu.


Latihan yang dilakukan Chien Wan dan Sen Khang sudah selesai. Kemajuan yang mereka dapatkan sangat luar biasa. Karena sudah memiliki dasar ilmu silat yang tinggi, ilmu-ilmu yang diajarkan Dewa Obat dapat mereka kuasai dengan baik.


Ouwyang Ping dan Kui Fang juga mendapat kemajuan yang sangat pesat. Kini kepandaian mereka meningkat melebihi dua bulan yang lalu. Khususnya Kui Fang. Dua bulan yang lalu kepandaiannya biasa saja. Kini ilmu silatnya bertambah maju. Kemungkinan sekarang ia sudah dapat menandingi anggota senior partainya sendiri.


Namun di antara mereka semua, yang paling luar biasa adalah kemajuan Siu Hung. Siu Hung telah menguasai seperempat bagian dari Ilmu Genderang Surgawi. Padahal Tuan Ouwyang sendiri membutuhkan hampir setahun untuk mencapai kemajuan seperti itu!


Kemajuan ini tentu saja mengejutkan Tuan Ouwyang. Ia memang tahu Siu Hung sangat berbakat. Namun ia tak menduga bakatnya sehebat itu.


Melihat keheranan Tuan Ouwyang, Dewa Obat menertawakannya.


“Kaupikir kau mendidik anak ajaib, ya?” ejeknya pada Tuan Ouwyang saat mereka tengah berada di ruang depan, menunggu kepulangan Chien Wan dan Sen Khang dari tempat latihan.


“Tentu saja!” kata Tuan Ouwyang pongah. Seolah ia tidak heran akan kemajuan Siu Hung. Dan seolah kemajuan Siu Hung adalah berkat dirinya.


“Salah!” Dewa Obat terbahak-bahak. Kelihatan sangat puas dengan dirinya sendiri.


“Apa maksudmu?” tanya Tuan Ouwyang gusar.


“Siu Hung memang luar biasa cerdas. Tapi bukan berarti dia ajaib. Aku juga punya andil dalam kemajuannya, kau tahu?”


“Omong kosong!”


“Aku memberinya sebutir buah dewa,” aku Dewa Obat senang.


“Apa?” Tuan Ouwyang berdiri dan memandang gusar. “Padahal anak itu sudah kupesan agar tidak memakan obat penambah tenaga apa pun juga!”


“Aku punya pohon Buah Dewa yang sudah lama punah di dunia ini. Kebetulan aku menemukan pohon itu di pulau ini tiga puluh tahun lalu. Buah ini bisa menambah kecerdasan dan menghasilkan hawa murni berlipat ganda. Makan sebutir Buah Dewa menambah tenaga sama dengan latihan selama sepuluh tahun,” kata Dewa Obat senang.


“Mana pohon itu? Mengapa aku tak pernah melihatnya?”


“Tersembunyi di tengah-tengah rumpun Bunga Dewi Siluman. Kau tahu, pohon itu berbuah setiap lima puluh tahun sekali. Sejak aku menemukannya belum pernah berbuah sekali pun. Entah mengapa sejak kalian datang pohon itu mulai berbunga dan berbuah. Buahnya hanya ada lima. Aku memberikan satu pada Siu Hung.”


“Mengapa kau melakukannya?”


“Karena aku ingin punya andil dalam keberhasilan anak itu!”


Tuan Ouwyang memberengut kesal. “Pasti ada hal yang lain lagi!”


Dewa Obat mendesah dan mengakui, “Memang.”


Tuan Ouwyang menyipitkan mata dan menggeram. “Siu Hung!” teriaknya sambil berkacak pinggang.


Siu Hung yang sedang berada di taman bersama Ouwyang Ping dan Kui Fang terlonjak mendengar panggilan ini. Ia segera berkelebat masuk ke ruang depan.


“Ada apa?” Siu Hung menyembulkan kepalanya di balik pintu. Wajahnya penuh seri.

__ADS_1


“Masuk!” perintah Tuan Ouwyang.


Siu Hung masuk dan menghampiri Tuan Ouwyang. Ia heran melihat wajah pria tua itu tampak garang sementara Dewa Obat tampak begitu senang.


“Ada apa, sih?”


“Kau makan Buah Dewa, kan!” semprot Tuan Ouwyang.


“Iya!” jawab Siu Hung tanpa dosa.


Tuan Ouwyang menggebrak meja. “Sudah kubilang kau tidak boleh meminum ramuan penambah tenaga, kau malah bandel!”


“Ramuan penambah tenaga apaan? Itu kan hanya buah! Enak lagi!”


“Tapi itu Buah Dewa! Pantas saja kemajuanmu berlatih Ilmu Genderang Surgawi sangat pesat. Itu curang namanya!” bentak Tuan Ouwyang.


“Tentu saja tidak!” bantah Siu Hung tidak kalah keras. “Curang itu kalau disengaja. Aku kan tidak tahu itu buah apa dan apa khasiatnya. Dewa Obat memberikannya padaku. Karena rasanya enak, ya kumakan. Kakek sendiri juga suka makan enak, kan?’


Tuan Ouwyang sangat dongkol. “Buah itu berkhasiat menambah tenaga dalam setara dengan sepuluh tahun latihan!”


“Wah!” belalak Siu Hung takjub. Lalu ia memandang Dewa Obat. “Kalau begitu, aku minta dua lagi. Kalau tenaga dalamku menjadi setara dengan tiga puluh tahun latihan, aku kan tidak harus berlatih keras lagi!”


Dewa Obat terpaksa harus menahan tawanya sementara Tuan Ouwyang merah padam menahan jengkel.


“Siu Hung!”


“Dasar bandel!” gerutu Tuan Ouwyang.


“Ha ha ha!” Dewa Obat tertawa. “Karena sekarang kau sudah makan Buah Dewa, berarti kau mempunyai khasiat yang sama dengan buah itu.”


“Maksudmu?” Tuan Ouwyang cemberut.


“Maksudku, sekarang darah dan daging Siu Hung telah tercampur sari pati Buah Dewa. Berarti darah dan dagingnya sekarang adalah obat yang sangat mujarab. Berhati-hati saja. Jangan sampai ada orang yang menangkapmu!” peringat Dewa Obat.


“Hah?” Siu Hung terperanjat. “Ja... jadi orang yang ingin menjadi kuat bisa mencariku, lalu... memakan aku?” serunya tergagap-gagap. “Hi... aku tidak mau menjadi santapan!”


“Jangan bodoh! Tak ada orang yang akan tahu kau sudah makan Buah Dewa, kecuali kalau kau sesumbar di depan orang banyak!” hardik Tuan Ouwyang.


“Dia benar. Kau jangan mengatakan hal ini pada siapa pun. Termasuk pada keluarga dan teman-temanmu,” timpal Dewa Obat.


Siu Hung mengangguk-angguk penuh semangat. “Ya! Aku tak akan mengatakannya pada siapa-siapa. Aku, kan tidak mau jadi santapan. Hii... mengerikan! Menjijikkan!” Ia bergidik ngeri.


“Bagus!” angguk Tuan Ouwyang.


“Bahkan Chien Wan, Sen Khang, Ping-er, dan Kui Fang pun tak usah tahu,” lanjut Dewa Obat.


“Eng... masalahnya....”

__ADS_1


“Apa?” sambar Tuan Ouwyang waspada.


“Saat aku menerima Buah Dewa....” Siu Hung meringis ragu. “Aku memberikan segigit kecil pada Kui Fang.”


“Apa?” teriak Tuan Ouwyang dan Dewa Obat bersamaan.


“Cuma sedikit sekali!” kata Siu Hung cepat-cepat.


Dewa Obat dan Tuan Ouwyang berpandangan.


“Ya sudah,” desah Dewa Obat akhirnya. “Sebaiknya kau juga jangan mengatakan apa-apa pada Kui Fang. Segigit kecil tak akan menimbulkan perbedaan apa-apa.” Ia menggeleng. “Semoga.”


Tuan Ouwyang mengelus jenggotnya. “Aku sudah memutuskan bahwa kita semua akan pulang ke daratan besok pagi,” katanya. Ia melihat pada Dewa Obat. “Kau tidak keberatan? Atau kau ingin menahan muridmu di sini?”


Dewa Obat menggeleng. “Aku takkan menahan siapa-siapa. Sen Khang sudah mempelajari hampir semua ilmuku, termasuk ilmu pengobatan. Dia tinggal memperdalamnya saja. Namun itu pun tidak membutuhkan pengawasanku. Aku sudah mewariskan ilmu-ilmuku pada orang-orang muda yang memang layak.”


Tuan Ouwyang mendengus, tapi tak membantah. Ia menoleh melihat Siu Hung yang sejak tadi tersenyum lebar. “Sana berkemas-kemas, Anak nakal!” perintahnya.


“Baiklah!” jawab Siu Hung riang. Lalu ia berlari keluar dan melihat Sen Khang dan Chien Wan sudah ada di taman.


“Siu Hung!” Kui Fang melambaikan tangannya.


Siu Hung menghampiri sambil tertawa. “Kakak Ouwyang, Kakak Luo!” serunya. “Akhirnya kita semua berkumpul lagi. O ya, Kakek menyuruhku berkemas. Katanya kita pergi besok pagi,” beritahunya.


“Apa Guru sudah mengizinkan?” tanya Sen Khang ragu.


“Tentu!” jawab Siu Hung mantap. “Kata Kakek Pai, dia takkan menahan siapa-siapa. Kita semua, kan sudah mendapatkan apa yang kita perlukan darinya. Jadi katanya kita tak punya kepentingan lagi dengannya,” jelasnya penuh semangat.


“Oh, begitu.”


Saat itu, Tuan Ouwyang dan Dewa Obat keluar.


Sen Khang dan Chien Wan menghampiri dan memberi hormat.


“Guru,” sapa Sen Khang. “Kakek Ouwyang.”


“Tetua Pai, Kakek,” sapa pula Chien Wan.


Dewa Obat mengangguk-angguk. “Kalian berdua sudah menguasai ilmu-ilmu yang kuajarkan. Sekarang kalian berdua, terutama kau Sen Khang, tinggal memperdalamnya saja.”


Sen Khang mengangguk patuh.


“Ayo kita ke ruangan obat. Ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu.” Dewa Obat melangkah meninggalkan tempat itu.


Sen Khang mengikutinya.


“Kita berkemas, yuk!” ajak Siu Hung pada Kui Fang dan Ouwyang Ping. Kemudian ketiga gadis itu beranjak meninggalkan Chien Wan berdua dengan Tuan Ouwyang.

__ADS_1


***


__ADS_2