Suling Maut

Suling Maut
Para Pendekar di Wisma Bambu


__ADS_3

Ouwyang Kuan dan Sui She terkejut karena Meng Huan mengajak mereka ke ruang perpustakaan. Ia mengosongkan ruangan itu, menyuruh semua pelayan keluar dan menutup pintu. Lalu ia berbalik dan memberi hormat pada suami-istri itu.


“Aku minta maaf untuk kekasaran Sen Khang pada kalian, Paman dan Bibi. Mohon dimaklumi, ia sedang sangat marah.” Meng Huan mendesah dan menggeleng.


Sui She mendekat dan memegang lengan Meng Huan. “Chien Wan tidak bersalah, Meng Huan. Dia dijebak.”


Meng Huan mendesah. “Aku tahu, mungkin Paman dan Bibi mengira demikian. Aku juga tidak akan menuduhnya bila aku tidak melihat sendiri dengan mata kepalaku. Chien Wan-lah yang melakukannya, Bibi. Maafkan aku. Itu kenyataannya.”


“Tetapi....”


“Maaf, Bibi. Aku tetap menganggap demikian.”


“Lalu mengapa kau begitu baik pada kami?” tanya Ouwyang Kuan.


Meng Huan mendesah lagi. “Karena kalian berdua tidak bersalah. Bukan Paman dan Bibi yang melakukan perbuatan terkutuk itu. Tidak ada alasan bagiku membenci kalian.”


Ouwyang Kuan dan istrinya terpana.


“Hanya saja..., meski demikian aku tidak berdaya mencegah Sen Khang membenci kalian. Dukanya terlampau berat. Aku sendiri bisa memahami kepedihannya. Aku juga sama. Tetapi pikiranku jernih, Paman. Yang bersalah-lah yang kubenci dan ingin kubalas. Aku tidak mau membenci orang lain yang tidak bersalah hanya karena mereka kebetulan memiliki hubungan keluarga dengannya.” Meng Huan membalikkan tubuhnya. Bahunya gemetar. “Tetapi, bila Chien Wan ada di sini sekarang... aku tetap akan membunuhnya! Tidak peduli bagaimana pun perasaan Paman dan Bibi.”


“Meng Huan...!”


Seruan tertahan Sui She membuat Meng Huan membalikkan tubuh. Air mata membasahi pipinya yang pucat.


“Maafkan aku, Bibi.”


“Oohh!!” Sui She tersedu dan membenamkan mukanya di bahu suaminya. Ia sangat terpukul. Mengapa mereka semua tidak mau memberikan kesempatan padanya dan suaminya untuk memberikan penjelasan tentang ketidakbersalahan Chien Wan?


Ouwyang Kuan menepuk-nepuk bahu istrinya. Ia pun sedih dan gundah. Apa pun yang dikatakannya agaknya tidak ada gunanya. Mau tidak mau mereka harus menunggu sampai Chien Wan sendiri yang datang ke sana dan membawa bukti bahwa ia tidak bersalah.


“Satu hal lagi, Paman, Bibi....”


“Ya?”


“Tolong jangan menampakkan diri di hadapan Ting Ting. Dia baru saja pulih dari deritanya. Jangan menambah kepedihannya,” peringat Meng Huan datar.


Ouwyang Kuan dan Sui She berpandangan sementara Meng Huan membalikkan badan dan meninggalkan sepasang suami istri itu dalam kepedihan mereka.


***


Rombongan Pendekar Sung tiba di Wisma Bambu saat tempat itu sudah penuh orang. Kedatangan mereka tidak sempat diperhatikan karena mereka langsung membaurkan diri dengan orang-orang itu.


Mereka tidak menemui tuan rumah sampai hari peringatan itu tiba.


Semua tamu bergantian menyembahyangi arwah Tuan dan Nyonya Luo. Sen Khang dan Meng Huan melayani mereka. Setelah itu semua pendekar berkumpul di ruang depan untuk berbincang-bincang.


Setelah membereskan altar yang sempat berantakan akibat senggolan tangan para tamu, Sen Khang kembali ke ruang utama dan menemani para tamu yang sudah datang jauh-jauh itu mengobrol. Ia melihat Ouwyang Kuan dan Sui She yang terkucil di antara para tamu, namun tak dipedulikannya. Ting Ting tidak menampakkan batang hidungnya. Sejak kedatangan para tamu ia menyembunyikan dirinya di kamar.

__ADS_1


Ketika Pendekar Sung beserta rombongan memasuki ruangan—tanpa Ouwyang Ping dan Kui Fang, Sen Khang dan Meng Huan berdiri untuk menyambutnya.


“Paman Sung, Paman Chang,” sapa Sen Khang. Lalu ia mengantarkan mereka menuju ruang sembahyang dan menunggu sampai mereka selesai memasang hio. Kemudian ia kembali ke ruang depan bersama mereka untuk berkumpul kembali dengan para tamu.


“Sen Khang, kami turut berduka cita.” Pendekar Sung menepuk bahu Sen Khang, dapat dirasakannya ketegangan anak muda itu.


Tuan Chang memandang sekeliling dan melihat para pendekar tengah duduk sambil bercakap-cakap. Di sudut, ia melihat sepasang suami-istri yang tampak murung dan membisu. Mereka adalah sepasang suami-istri yang menarik hati walau saat ini kesedihan membayangi wajah mereka.


Itu pasti Ouwyang Kuan dan istrinya! pikir Tuan Chang yakin.


Tanpa mengatakan apa-apa, rombongan Pendekar Sung mengambil tempat di ruangan itu.


Tak lama kemudian pembicaraan mulai memanas, memperdebatkan peristiwa itu dan hukuman apa yang seharusnya mereka berikan kepada Chien Wan. Mereka berbicara dengan sengit tanpa mempedulikan perasaan orangtua Chien Wan yang tengah berada di ruang yang sama.


“Perbuatan Suling Maut sungguh kejam!” rutuk Pendekar Tang dari Hua San.


“Tidak bisa dimaafkan!” timpal Pendekar Cung dari Kun Lun.


Pendekar Fu menatap Sen Khang. “Kami semua sudah berusaha mengejar dan ingin menghukumnya semampu kami. Tetapi herannya dia selalu bisa meloloskan diri,” beritahunya penuh sesal.


Sen Khang mengerutkan kening. “Mengejar siapa?” tanyanya.


“Suling Maut tentu!” sambar Pendekar Can. “Sekarang semua pendekar di Dunia Persilatan sedang mengejarnya dan ingin membunuhnya untuk membalaskan dendam Anda sekeluarga!”


Sui She harus mati-matian menahan tangisannya. Ia mencengkeram lengan suaminya erat-erat.


Pendekar Sung dan Tuan Chang tidak mengatakan apa-apa. Mereka lebih tertarik memperhatikan gerak-gerik Sen Khang. Mereka sudah mendengar kekesalan hati Ouwyang Ping yang menilai Sen Khang terlalu gegabah karena menyebarkan aib keluarga kepada kalangan luas.


“Bukankah penghuni Wisma Bambu sendiri yang mengabarkannya kepada masyarakat?” sela Pendekar Lei. “Berita semacam itu akan langsung menyebar dengan cepat.”


Sen Khang mengernyitkan alis. “Aku tidak pernah pergi ke mana-mana setelah kejadian ini. Tidak ada seorang pun dari kami yang pernah meninggalkan Wisma Bambu. Jadi bagaimana mungkin kami bisa memberitakan peristiwa ini?”


“Lalu...?”


Tiba-tiba wajah Sen Khang pucat. “Berita sudah tersebar.... Apakah secara keseluruhan?” serunya.


“Tentu saja!” angguk Pendekar Can tegas. “Termasuk kejadian yang menimpa Nona Luo.”


Brak! Wajah Sen Khang dan Meng Huan langsung merah padam.


Pendekar Sung berdiri. “Sen Khang, kau tidak tahu apa-apa? Tidak ada seorang pun dari kalian yang menyebarkan berita ini?”


“Tidak, Paman!” tukas Sen Khang, ikut berdiri. “Apalagi... itu aib keluarga! Mana mungkin kami...?” Ia memelankan suaranya karena tidak mau yang lain mendengarkan.


“Kalau begitu... ada orang lain yang juga tahu kejadian ini dan tega menggembar-gemborkannya,” angguk Pendekar Sung.


Raut wajah Sen Khang mengeras. “Chien Wan!” geramnya.

__ADS_1


“Tidak!” Sui She tidak tahan lagi. Ia ikut berdiri. “Sudah cukup, Sen Khang! Kau harus mendengarkanku! Chien Wan tidak bersalah!”


Semua pendekar berdiri dan terkejut mendengar pembelaan terhadap penjahat itu.


“Sui She!” Ouwyang Kuan cemas sekali.


Wajah Sen Khang begitu kaku sehingga menyerupai topeng. “Jangan berani-berani membelanya! Aku melihat dengan mata kepala sendiri!”


“Sen Khang...!”


“Diam!” bentak Sen Khang murka dan memelototi Sui She. “Jangan sekali-kali menyebut namaku!”


Semua orang yang hadir di sana serentak berbicara dan memojokkan Sui She, membuat perempuan itu akhirnya tidak mampu mengatakan apa-apa lagi.


“Tenang! Tenang!” seru Pendekar Sung berwibawa. Semua membungkam seketika.


Tuan Chang mendekati sepasang suami-istri yang terpukul itu dan membawa mereka untuk kembali duduk.


Pendekar Sung menekan bahu Sen Khang untuk menenangkannya. “Duduklah, Sen Khang.”


Sen Khang duduk. Raut wajahnya tampak keras kepala.


“Waktu aku bilang orang lain, yang kumaksud bukan Chien Wan,” kata Pendekar Sung.


“Lantas?” seru Sen Khang panas. “Mana mungkin bukan dia?”


“Sebab sekarang ini justru dia adalah orang yang paling sial akibat pemberitaan ini. Semua orang di seluruh penjuru dunia sedang mengejarnya untuk membunuhnya. Mana mungkin dia mau menggali lubang untuk kuburannya sendiri?” kata Pendekar Sung tenang.


Sen Khang terpaku. Betul juga, pikirnya. “Lantas siapa?”


Pendekar Sung tercenung. Lalu ia berkata hati-hati, “Pernahkah terlintas dalam benakmu bahwa... mungkin saja kalian dijebak? Mungkin saja kalian sengaja diadu domba?”


Perkataan ini membuat suasana kembali riuh.


Hati Sen Khang kembali memanas. “Paman mau bilang bahwa Chien Wan mungkin tidak bersalah? Aku melihat sendiri, Paman! Aku lihat dia membunuh ibuku!”


Sui She menangis mendengarnya.


“Tenanglah, Sen Khang. Jangan salah paham. Aku hanya bermaksud menjernihkan keadaan,” kata Pendekar Sung pelan.


“Jika ingin menjernihkan keadaan, tolong jangan memancing kemarahanku!” Sen Khang berdiri dan meninggalkan mereka semua.


Lagi-lagi Meng Huan yang terpaksa harus memintakan maaf untuk Sen Khang.


Pendekar Sung dan Tuan Chang saling berpandangan.


***

__ADS_1


__ADS_2