Suling Maut

Suling Maut
Rencana Pendekar Sung


__ADS_3

Singkat cerita, Kui Fang dan kedua pengawalnya tiba di Bukit Merak. Di sana mereka disambut oleh Fei Yu dan ayahnya. Rupanya Pendekar Sung saat itu tengah kembali ke Kota Lok Yang untuk mengurus berbagai permasalahan yang terjadi saat ini. Pendekar Sung bermaksud menenangkan kemarahan semua orang yang tengah berkobar saat ini.


Dengan penuh perhatian mereka mendengarkan cerita Kui Fang mengenai peristiwa itu dari sudut pandangnya. Cerita yang dikisahkan gadis itu sama persis dengan yang diceritakannya kepada ayahnya.


Fei Yu sangat tertarik mendengarkan bahwa ternyata apa yang disaksikan oleh Luo Sen Khang dan Ouwyang Ping juga disaksikan oleh Kui Fang. Namun bedanya, Kui Fang meyakini bahwa yang mereka lihat itu bukanlah kejadian yang sesungguhnya. Dan bahwa mereka tidak boleh menuduh Chien Wan sebelum mengetahui kejadian yang sesungguhnya.


Tuan Chang lain lagi. Ia lebih tertarik pada cerita Kui Fang tentang apa yang dikisahkan Chien Wan padanya. Yakni tentang kemunculan seorang pria yang wajahnya persis Chien Wan.


“Begitulah, Paman Chang, Kakak Chang.” Kui Fang mengakhiri ceritanya dengan kisah penyerangan dan upaya pembunuhan yang dilakukan oleh para pendekar. Bahwa jika bukan karena keahlian Chien Wan meniup suling, mereka tidak akan mungkin berkali-kali lolos dari maut.


“Pria yang wajahnya persis Chien Wan,” gumam Tuan Chang.


“Di dunia ini tidak mungkin ada orang yang berwajah mirip sekali selain kembar. Kecuali....” Tuan Chang tersenyum kecil.


“Menggunakan samaran!” seru Fei Yu, pikirannya jernih kembali. Entah bagaimana kemungkinan ini terlewatkan olehnya. Tetapi tanpa penjelasan Kui Fang, memang tidak ada seorang pun yang akan memikirkan kemungkinan ini. “Cheng Sam!”


“Cheng Sam?” Kui Fang membelalak dan seketika berseri. “Jadi maksudmu, Cheng Sam si pengkhianat itu yang....”


“Tunggu dulu,” sela Tuan Chang. Keningnya berkerut. “Cheng Sam dan Chien Wan memiliki tinggi dan bentuk tubuh yang sangat berbeda. Cheng Sam berbadan gempal dan tidak terlalu tinggi. Sedangkan Chien Wan tinggi kurus. Selihay apa pun seseorang dalam menyamar, tidak mungkin dia yang menyamar jadi Chien Wan.”


“Jadi menurut Ayah?” tanya Fei Yu bingung.


“Mungkin saja Cheng Sam yang membuat samaran itu dengan keahlian yang dicurinya dariku. Tetapi pelaksananya pasti orang lain.”


“Siapa?” sambar Kui Fang.


“Inilah yang mesti kita cari tahu.”


Saat mereka semua tengah membahas berbagai kemungkinan, masuklah Pendekar Sung yang tampak letih. Siu Hung dan A Te—pengawal Pendekar Sung—mengiringinya. Mereka terkejut melihat kehadiran Kui Fang.


Dengan cepat Fei Yu mengulangi cerita Kui Fang tadi untuk didengarkan Pendekar Sung. Ia juga mengemukakan kecurigaannya mengenai Cheng Sam dan seseorang yang mungkin saja merupakan rekan Cheng Sam dalam melakukan kejahatan ini.


“Begitu rupanya. Tetapi mengapa Sen Khang tidak memikirkan kemungkinan ini?” tanya Pendekar Sung heran. “Aku mengirimkan seseorang untuk menemui Sen Khang dan memberitahunya mengenai serangan orang-orang Dunia Persilatan terhadap Chien Wan. Ternyata Sen Khang begitu marah sehingga ia mengatakan bahwa ia tidak peduli jika Chien Wan dibunuh oleh mereka. Bahkan bila memungkinkan, dia sendiri akan menghabisi Chien Wan.”


“Lebih sulit bagi orang yang terlibat secara emosional untuk mempercayai hal lain selain yang dilihatnya sendiri, Adik Sung,” kata Tuan Chang. “Sen Khang melihat Chien Wan berada di lokasi kejadian bertepatan dengan kesadarannya bahwa ayah dan ibunya tewas. Baginya Chien Wan bersalah. Dia tidak mau mendengarkan kemungkinan lain.”


“Kakak Luo tidak memberikan satu kesempatan pun bagi Kakak Wan untuk menjelaskan,” tukas Kui Fang sedih.


Pendekar Sung mengangguk-angguk. “Tetapi,” katanya kemudian dengan putus asa, “kita tidak bisa memberikan keterangan ini kepada para pendekar yang sedang marah. Mereka tidak akan mempercayai kita sedikit pun. Salah-salah, justru kita akan dianggap mengarang cerita untuk menyelamatkan Chien Wan karena mereka tahu kita menghargai Chien Wan.”


“Aku akan memaksa mereka mendengarkanku!” seru Siu Hung berapi-api. Ia hampir saja berlari keluar kalau saja Fei Yu tidak menangkap lengannya. Fei Yu sudah sangat terbiasa dengan kelakuan Siu Hung yang suka mendadak pergi. Maka refleksnya pun terlatih dengan baik.


“Kau ini bisa apa?” dengus Fei Yu.


“Lho? Aku ini kan sangat hebat! Tidak ada duanya di Dunia Persilatan! Mereka akan tunduk padaku dan mendengarkan perkataanku!” seru Siu Hung pongah sambil meronta dan berusaha melepaskan diri dari Fei Yu.


“Hebat apanya?” Mata Fei Yu melotot. Ia menyerahkan lengan Siu Hung pada A Te yang sudah siap menyambutnya.


“Kau duduk saja, Nona!” A Te menyeret Siu Hung ke kursi sambil nyengir.


Siu Hung memberengut.


Sam Hui dan Wen Chiang yang baru pertama kali melihat Siu Hung terkaget-kaget melihat kelakuan gadis remaja itu. Keduanya merasa tertarik sekaligus geli melihat kelakuannya.


Pendekar Sung menghela napas dan memandang putrinya dengan putus asa.

__ADS_1


“Pendekar Sung, aku punya usul.” Sam Hui berdiri dan menatap Pendekar Sung.


Pendekar Sung mengernyitkan alis melihat orang yang belum dikenalnya itu. Orang itu sebaya dengannya, mengenakan lambang khas Partai Kupu-Kupu. Wajah orang itu bijak dan tegas, wajah orang yang dapat dipercaya. “Katakanlah.”


“Kalau perhitunganku tidak salah, sebentar lagi adalah peringatan empat puluh hari kematian Tuan dan Nyonya Luo. Kita sebarkan kabar ini kepada semua orang di Dunia Persilatan agar mereka datang ke Wisma Bambu. Dengan demikian, semua orang akan berkumpul di sana.”


“Lalu?”


“Kita ciptakan situasi yang serupa dengan yang dialami Pendekar Ouwyang dan tetapkan seseorang sebagai korbannya. Saat semua orang menuduh orang itu, barulah kita menjelaskan semuanya. Dengan mengacu pada peristiwa itu, kita bisa menjelaskan bahwa seperti itulah yang dialami Pendekar Ouwyang. Mungkin mereka akan menyadari kekeliruan mereka.”


Semua orang berpandangan. Usul ini sangat luar biasa!


“Aku setuju sekali!” angguk Tuan Chang tanpa pikir panjang. “Aku yang akan menyiapkan samarannya.”


Semua sibuk berbicara dan mengemukakan usul. Mereka sepakat untuk membersihkan nama baik Chien Wan sesegera mungkin. Dengan demikian semua orang akan sadar dan tidak akan menyia-nyiakan tenaga untuk memburu Chien Wan sementara pembunuh yang sebenarnya masih berkeliaran.


Siu Hung menyaksikan semua ini dengan asyik. Lalu ia teringat sesuatu.


“Yuuhuu, semuanya!”


Serempak mereka berhenti bicara dan memandangi gadis remaja nakal itu dengan heran.


“Ada apa, Siu Hung?” tanya ayahnya agak kesal.


“Saat ini yang paling khawatir pasti orang-orang di Lembah Nada. Mereka pasti tahu Kakak Ouwyang dituduh membunuh dan dikejar-kejar orang banyak. Sebaiknya kita beritahu mereka bahwa kita sudah menyimpulkan bahwa Kakak Ouwyang tidak bersalah,” kata Siu Hung santai.


Pendekar Sung tersentak. Betul juga.


“Kau benar!” Fei Yu mengangguk. “Terlebih dulu kita harus memberitahu Paman dan Bibi Ouwyang.”


“Siapa yang akan pergi?” tanya Tuan Chang.


“Aku!” sahut Siu Hung pongah. “Ada yang keberatan?”


Pendekar Sung meringis. Tak ada gunanya melarang Siu Hung. Jika dia sudah punya mau, tak ada seorang pun yang akan mampu menghalanginya. Dia punya seribu satu macam cara untuk melaksanakan keinginannya. Punya berbagai akal untuk melarikan diri.


“Ajak A Te bersamamu,” kata Pendekar Sung.


Siu Hung langsung menyengir lebar. Sementara A Te tampak pucat dan menatap Pendekar Sung dengan memelas.


***


Chien Wan berlari ke arah utara menghindari penyerang-penyerangnya. Keringatnya membanjiri tubuhnya yang letih. Ia tidak tahu bagaimana ia bisa bertahan menghadapi serangan dan kejaran seluruh Dunia Persilatan terhadapnya. Ia tidak bisa pergi ke suatu daerah tanpa menghadapi sekelompok pendekar yang menyerangnya.


Betapa ia sangat sedih dan putus asa. Mengapa semua orang tak ada ketika ia butuhkan? Kini sahabatnya tidak mempercayainya, adiknya juga merasa jijik melihatnya. Di mata mereka ia hanyalah sampah yang kotor, yang telah membunuh dan mencemarkan kesucian seorang gadis!


Semua orang menyerangnya. Tak ada seorang pun yang mempercayainya kecuali Kui Fang. Namun bahkan gadis itu pun tidak diperbolehkan bersamanya lagi. Ia amat sendirian. Tak pernah ia sesepi ini.


Ia memejamkan mata dan terus berlari. Ia ingin menghilang dari dunia ini. Tak ada seorang pun yang mempercayainya! Tak ada seorang pun yang menantinya! Bahkan kini keluarganya pun menganggapnya bersalah. Ia tidak tahu bahwa saat ini ada sekelompok sahabat yang tengah berusaha menjernihkan nama baiknya.


Chien Wan tiba di lembah sunyi yang jauh dari mana pun.


“Aaaaaa!!!!” teriaknya keras-keras. Ia ingin melegakan perasaannya yang tertekan. Kepedihan menggumpal di dadanya. Kepedihan, kemarahan, dan kekecewaan yang dirasakannya semejak ia meninggalkan Wisma Bambu. Juga kesepian yang menerpanya sejak Kui Fang direnggut dari sisinya.


Ia butuh penghiburan!

__ADS_1


Ia butuh kehangatan!


Ia butuh... Kui Fang!


Chien Wan terjatuh di bawah sebuah pohon. Tenggorokannya terasa sakit akibat teriakan kerasnya tadi. Namun hatinya agak lega sekarang.


Dihelanya napas dalam-dalam. Ia teringat Ouwyang Ping. Namun bukan gadis itu yang dibutuhkannya sekarang. Bukan gadis itu yang sekarang ini menghuni hatinya seperti dua tahun lalu. Perasaannya tak pernah seyakin ini. Ternyata cinta sedemikian dalam yang dirasakannya terhadapnya Ouwyang Ping perlahan-lahan sirna. Dan baginya kini, Ouwyang Ping adalah....


“Adikku....” desahnya lirih.


Dan Kui Fang.


Tanpa terasa, kehadiran Kui Fang telah mengisi ruang di hatinya. Kehangatan dan kepolosan gadis itu membuat dunianya nyaman. Ia tidak tahu bagaimana perasaan Kui Fang terhadapnya. Namun kepercayaan yang diberikan gadis itu menghangatkan jiwanya. Sementara semua orang mengutuknya, gadis itu mencurahinya dengan kepercayaan yang tak bernilai.


Perasaan tenang menguasai hatinya.


Chien Wan mengangkat sulingnya, lalu meniupnya. Alunan nada yang amat indah pun mengalun membuai lembah sunyi itu. Namun tiba-tiba terbayang jenasah-jenasah Tuan dan Nyonya Luo serta seluruh anggota Wisma Bambu yang menjadi korban. Terbayang pula wajah pucat Ting Ting yang kesakitan dan menunjuknya sebagai orang yang telah menodainya. Terbayang sorot mata Sen Khang yang penuh amarah serta kata-kata menyakitkan yang dituduhkan kepadanya. Ketenangannya lenyap berganti dengan ketegangan. Konsentrasinya buyar dan nada terakhir sulingnya menjadi akcau tak beraturan.


Ia kaget mendengarnya. Dihentikannya tiupannya dan diturunkannya sulingnya. Diusapnya wajahnya dengan putus asa. Ya Tuhan... siapa sebenarnya yang telah mencelakakan Wisma Bambu dan memfitnah dirinya?


“Tuan Muda!”


Chien Wan menoleh dan melihat kedatangan Fu Ming dan Kam Sien. Wajah mereka tampak serius dan sedih. Mereka sudah hampir tiga minggu meninggalkan Lembah Nada. Mereka berhasil melacak jejak Chien Wan. Cukup dengan melihat rombongan pendekar yang bergegas menuju suatu tempat, bisa dipastikan mereka sedang memburu Chien Wan.


“Kakak Fu, Kakak Kam.”


Fu Ming mendekat. “Kakekmu meminta kami mencarimu dan membawamu pulang.”


Chien Wan menatap dengan cemas. Ia menduga bahwa keluarganya pastilah telah tahu kejadian itu. Dan mungkin saja mereka juga sama seperti Sen Khang—yakin bahwa dia memang bersalah. Bagaimana mereka bisa memaafkannya? Bagaimana ibunya bisa mengampuninya? Bagaimana caranya menjelaskan bahwa dirinya tidak bersalah?


“Pasti Kakek menugaskan kalian mencariku karena mereka mendengar kejadian itu, kan?” tanya Chien Wan.


“Betul.”


“Bagaimana ibuku?”


“Nyonya sangat terpukul, Tuan Wan. Beliau menangis dan meratap,” beritahu Kam Sien.


“Oh,” gumam Chien Wan sambil membalikkan tubuh, tak mau menatap mereka dan melihat sorot jijik yang sama seperti yang ada di mata Ouwyang Ping. “Mereka semua pasti sangat marah dan jijik padaku. Aku tak menyalahkan Kakek bila beliau membunuhku. Tetapi aku ingin kalian tahu; aku tidak bersalah. Sekarang aku sedang berusaha mencari bukti. Namun semua orang menyerangku sehingga aku tak bisa bergerak bebas.”


“Tuan Wan!” Kam Sien memegang bahu Chien Wan dan membalikkan tubuhnya. Wajahnya tampak serius. “Kami Empat Tambur Perak tidak percaya sedikit pun bahwa kau melakukan semua itu!


“Betul, Tuan Wan. Kau tenang saja. Kami siap membelamu dengan sepenuh kemampuan kami!” bilang Fu Ming.


Senyum kecil tersungging di bibir Chien Wan. Selama ini ia sudah kehilangan kemampuannya untuk tersenyum.


“Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang!” ajak Kam Sien.


Chien Wan mengangguk.


Mereka pun segera meninggalkan lembah sunyi itu. Kali ini mereka tidak menemukan satu halangan pun. Agaknya para penyerang Chien Wan memutuskan bahwa Chien Wan tidak mungkin kembali ke Lembah Nada sehingga mereka tidak mengusik Lembah Nada.


Selain itu, para pendekar itu agak segan bila harus berhadapan dengan Tuan Ouwyang Cu. Sebab bagaimana pun juga, Tuan Ouwyang Cu adalah sesepuh yang berilmu tinggi dan sangat mereka hormati.


***

__ADS_1


__ADS_2