Suling Maut

Suling Maut
Ketulusan Hati Chang Fei Yu


__ADS_3

Ting Ting ada di dalam kamarnya. Ia telah mengganti pakaian pengantinnya dengan pakaian berkabung. Keadaannya tampak mengharukan. Ia sudah tidak menangis lagi. Dia tampak pasrah menghadapi kenyataan. Ia begitu membenci Meng Huan. Ia merasa sangat bodoh karena pernah menganggap Meng Huan orang yang baik. Ia menyesal pernah menganggap cinta Meng Huan padanya sangat suci. Untunglah semuanya belum terlambat. Ia tidak jadi menikah dengan Chi Meng Huan, berkat Chien Wan. Keberuntungannya harus dibayar mahal karena kini Chien Wan terluka parah.


Fei Yu menungguinya di dalam kamar. Ia duduk di meja tak jauh dari tempat tidur Ting Ting. Tak sepatah kata pun diucapkannya. Ia mengerti saat ini tak ada kata-kata hiburan apa pun yang dapat meringankan penderitaan Ting Ting.


Sesekali pandangan Fei Yu melayang pada gadis itu.


Wajah Ting Ting pucat dan lesu. Matanya cekung dan pipinya tirus. Ia tak kelihatan cerah seperti ketika pertama kali Fei Yu melihatnya. Pakaian berkabung yang dikenakannya membuatnya semakin pucat. Ia juga terlalu kurus untuk ukuran perempuan yang sedang mengandung. Namun entah mengapa, di mata Fei Yu dia adalah gadis yang paling anggun di dunia.


Angan Fei Yu melayang-layang ke masa ketika musibah itu belum terjadi. Alangkah senangnya bila ia dapat memutar ulang waktu. Mengembalikan keadaan seperti semula dan berusaha mencegah agah musibah itu jangan sampai terjadi.


“Fei Yu....”


Fei Yu tersentak dari lamunan. Ia menoleh dan melihat gadis itu duduk di atas pembaringan.


“Ting Ting? Kenapa kau bangun?” Fei Yu bergegas menghampiri.


“Kau....” Ting Ting menunduk. “Kau di sini terus?” tanyanya lirih.


Fei Yu mengangguk.


Ting Ting *******-***** kedua tangannya dengan gelisah. “Fei Yu... maafkan aku...,” bisiknya dengan suara gemetar.


Fei Yu tercengang. “Maaf? Kau minta maaf?” tanyanya heran. “Apa itu tidak terbalik? Mestinya aku yang minta maaf. Gara-gara aku... perkawinanmu gagal. Gara-gara aku, kau harus menanggung malu dan sedih!”


Ting Ting mengangkat mukanya. Air mata mengalir di pipinya.


“Ayo, Ting Ting. Marahlah! Marahlah padaku! Maki-maki aku! Pukul aku! Aku pantas mendapatkannya,” katanya dengan penuh kesungguhan, juga penyesalan.


Ting Ting menggeleng lemah. “Tidak, Fei Yu... Tidak,” isaknya. “Aku bersyukur kau datang bersama Kakak Wan. Aku bersyukur kalian menghentikan pernikahan itu. Kalian menyelamatkan hidupku....”


Mendengar kata-kata itu, Fei Yu tak dapat menahan gejolak hatinya. Diraihnya tubuh Ting Ting dan direngkuhnya erat-erat. Sudah lama sekali ia ingin melakukannya. Sudah lama ia menahan perasaannya yang bergelora. Ia sangat mencintai gadis itu! Peristiwa yang menimpa Ting Ting tidak membuatnya menjauhi gadis itu. Malah semakin membuatnya terikat pada Ting Ting untuk selama-lamanya.


Ting Ting sangat terkejut kala dirinya dipeluk. Yang lebih membuatnya terkejut, ia merasa begitu aman berada di sana. Semua ketakutannya sirna terusir oleh dekapan tangan kokoh pemuda itu. Ia ingin pelukan itu berlangsung selamanya. Tetapi....


Ia tidak pantas mengharapkannya. Ia sudah kotor!


Pikiran itu membuatnya malu dan menyesali dirinya sendiri. Dengan panik ia meronta dari pelukan pemuda itu. Wajahnya merah padam.


Fei Yu salah duga. Ia mengira Ting Ting masih tidak menyukainya. Maka ia merasa malu sekali atas kegegabahannya. Ia menyesal karena tak memperhitungkan bahwa saat ini mungkin saja Ting Ting masih merasa benci dipeluk laki-laki. Apalagi mengingat pengalamannya dengan Chi Meng Huan.


“Maaf....”


Ting Ting mengangkat wajahnya. “Mengapa...?”


Fei Yu tertegun. Ia menggeleng dan meraih tangan Ting Ting, menggenggamnya erat-erat. “Ting Ting, aku... aku akan menjagamu!” katanya penuh kesungguhan. “Aku berjanji akan selalu baik padamu. Sekarang ini aku mengerti kau masih tidak menyukaiku karena peristiwa yang lalu. Tetapi aku yakin, seiring berlalunya waktu kau akan mengerti bahwa aku tidak sejahat yang kaukira. Aku....”


“Fei Yu!” Ting Ting sedih sekali Fei Yu mengira ia membencinya. “Aku bukannya tidak menyukaimu. Hanya saja... sekarang aku sudah kotor. Aku tak pantas menerima kebaikanmu....”


“Hentikan ucapanmu!” hardik Fei Yu. Ia tak tahan mendengar Ting Ting terus menyebut dirinya kotor.


Ting Ting ternganga. Ia tak menyangka Fei Yu akan membentaknya demikian rupa. “Kau... kau marah padaku?” tanyanya sedih. Ia tak mau dimarahi oleh Fei Yu.


“Tidak!” Fei Yu menyesal telah membentaknya. “Aku tidak marah. Aku hanya tidak suka mendengar kau mengata-ngatai dirimu sendiri seperti itu.”


Ting Ting menunduk lagi.


“Dengarkan aku, Ting Ting. Jangan sekali-kali kau menganggap bahwa semua yang telah terjadi sebagai kesalahanmu. Kau sama sekali tidak bersalah! Semua ini adalah takdir. Kau adalah korbannya. Jadi jangan menganggap dirimu lebih rendah dari orang lain,” kata Fei Yu serius.


Ting Ting menghela napas. Ia mengalihkan pembicaraan. “Kau sudah melihat Kakak Wan?”


Fei Yu mendesah, lalu mengangguk. “Dia masih tak sadarkan diri.”

__ADS_1


Ting Ting melihat keluar jendela. Hari sudah gelap. “Sudah lama sekali dia pingsan, kan?” tanyanya cemas.


“Ya. Paman Sung sudah memeriksanya. Ada gumpalan darah beku yang tak bisa dikeluarkan dari paru-parunya.”


Ting Ting terdiam.


Tok tok tok!


“Masuk!” perintah Fei Yu.


Masuklah A Nan membawa sebaki makanan. “Nona Ting Ting, Tuan Muda, Tuan Besar menyuruh saya mengantarkan makan malam kalian. Kalian belum makan apa-apa sejak tadi.”


“Aku tidak selera, A Nan.” Ting Ting menggeleng lesu.


A Nan menghampiri. “Nona, kau sedang hamil. Kau harus menjaga kondisi tubuhmu.”


“A Nan benar, Ting Ting. Lihat, ini ada tumis daging dan sayur asin. Kesukaanmu, kan? Biar kuambilkan, ya?” Fei Yu mengambil mangkuk nasi dan menuangkan tumis itu ke dalamnya.


Ting Ting tak enak hati untuk terus menolak. Maka ia memaksakan diri untuk menelan beberapa suapan.


***


Semua orang sudah lelah, maka Sen Khang mempersilahkan semua beristirahat di kamar masing-masing. Namun Kui Fang tidak mau pergi dari sisi Chien Wan. Ia ingin menjadi orang pertama yang dilihat Chien Wan setelah pemuda itu sadar. Tak ada seorang pun yang berdaya menyuruhnya beristirahat.


Sui She pun tadinya ingin menunggui putranya, namun dengan halus suaminya mengajaknya pergi. Ia ingin membiarkan Chien Wan berduaan dengan Kui Fang.


Tuan Ouwyang menugaskan Siu Hung berjaga di depan kamar Chien Wan. Ia tak mau seseorang mengambil kesempatan dalam kesempitan dan mencelakakan Chien Wan selagi semuanya beristirahat. Ia mempercayai Siu Hung karena ia tahu gadis itu nyaris tak pernah tidur.


Siu Hung memang mempunyai masalah tidur. Bila orang lain membutuhkan enam sampai delapan jam per hari untuk tidur, bagi Siu Hung cukup satu jam saja. Energinya sangat besar dan ia tidak pernah lelah. Ia tidak bisa tidur, dipaksakan pun percuma saja. Ayahnya tahu kebiasaan putrinya ini sudah berlangsung sejak kecil. Namun karena tidak mengganggu kesehatan, ia membiarkan saja.


Ia telah berjaga semalaman dan tetap waspada. A Te yang menemaninya sudah dua kali jatuh tertidur. Ia mendengus melihat pengawalnya yang mendengkur sambil bersandar pada pilar. Sambil berkacak pinggang, ia menyentuhkan ujung kakinya ke paha A Te.


“Bangun! Disuruh berjaga malah tidur melulu!” omelnya.


“He! Jangan mengigau!”


Barulah A Te benar-benar terjaga. Ia menyengir malu dan menggaruk-garuk kepalanya, menatap nonanya dengan kocak.


Siu Hung mendengus lagi.


Hari sudah pagi menjelang siang. Sui She telah datang ke sana bersama suaminya, bermaksud menggantikan Kui Fang yang mungkin sudah letih karena berjaga semalaman. Namun ternyata Kui Fang juga tidak mau menyingkir dari sana. Jadilah mereka bertiga menunggui Chien Wan di dalam.


Ting Ting datang ke kamar Chien Wan diiringi Fei Yu. Sebenarnya hati Fei Yu masih diliputi perasaan cemburu melihat perhatian yang diberikan Ting Ting kepada Chien Wan. Namun ia berkeras tak menampakkannya. Ia juga berusaha memakluminya. Cinta pertama memang selalu berkesan dan tak bisa hilang semudah membalikkan telapak tangan.


Kedatangan mereka dihadang Siu Hung.


“Berhenti!” perintah Siu Hung galak.


Ting Ting dan Fei Yu berhenti melangkah tepat di hadapan Siu Hung di depan pintu kamar Chien Wan. Mereka merasa heran melihat kegalakan Siu Hung.


Fei Yu mendecak kesal. “Siu Hung, jangan bertingkah!”


Siu Hung merengut. “Aku disuruh berjaga. Tidak boleh membiarkan orang lain mendekati kamar Kakak Ouwyang. Jangan salahkan aku. Semua ini perintah si Kakek Cerewet!”


A Te meringis. “Nona, sebenarnya kan yang dimaksud Tuan Besar itu....”


“Ya itu! Memang apa lagi?” potong Siu Hung seenaknya.


“Ya ampun!” Fei Yu menepuk dahinya. “Yang dimaksud oleh Kakek Ouwyang adalah orang lain yang tak dikenal. Bukan kami! Kau ini lugu atau bodoh, sih?”


“Enak saja!” pelotot Siu Hung. “Aku ini sangat pintar dan hebat! Lagi pula, mana buktinya kalau kalian ini Ting Ting dan Fei Yu yang asli?”

__ADS_1


Fei Yu tercengang. “Hah?”


Ting Ting mengernyit.


“Bisa saja kan, kalian musuh yang menyamar menjadi Ting Ting dan Fei Yu? Sebagai orang yang cerdas, aku harus berhati-hati!”


“Dasar anak kurang ajar!” maki Fei Yu kesal.


Siu Hung tertawa geli. “Omonganmu makin lama makin mirip si Kakek. Lihat saja mukamu! Sudah ada keriputnya, persis Kakek!”


“Hah! Anak bandel! Sini, kujewer kau!” Fei Yu mengulurkan tangan dan menjewer telinga Siu Hung.


Gadis itu berteriak-teriak heboh. “Aduh! Aduh! Kau ini kenapa sih sukanya menjewer telinga orang lain? Kalau marah jewer saja telingamu sendiri! Aku ini pendekar sakti, bukannya anak ingusan! Dasar kau! Kuadukan kau pada ayahku!”


Fei Yu melepaskan jewerannya karena khawatir teriakan Siu Hung akan mengganggu Chien Wan di dalam. “Kau ini!”


“Aku kenapa? Aku pintar, ya?” sela Siu Hung bangga.


Fei Yu garuk-garuk kepala.


Tiba-tiba Ting Ting tertawa. Tawa pertama semenjak kejadian tiga bulan lalu. Tawa ini mengejutkan Fei Yu karena terdengar begitu tulus dan tak dipaksakan.


“Ting Ting....” Perasaan Fei Yu menghangat mendengarnya.


Ting Ting memandang mereka berdua dengan perasaan geli yang tak bisa ditahan. Senyum lebar membuat wajahnya cerah. Kedua belah pipinya yang tadi begitu pucat kini tampak agak kemerahan. Matanya yang sendu sekarang berbinar. Ia tampak sangat geli sekaligus terhibur.


Siu Hung mengangkat kepalanya dengan pongah. Kebanggaannya semakin meluap-luap karena ia berhasil membuat Ting Ting tertawa. Ditatapnya Fei Yu. Badannya membelakangi lorong dan sisi kanan tubuhnya berhadapan dengan pintu kamar Chien Wan.


“Kau mau tanya apa lagi? Aku akan menjawab semua perkataanmu. Dan aku yakin kau takkan menang adu mulut denganku! Kau kenal guruku, kan? Seorang kakek yang ceriwis—“ A Te menarik bagian belakang bajunya. “—judes, cerewet, jahil, omong besar—“ A Te menariknya semakin keras dan memanggil, “Nona!” namun tak dipedulikannya sama sekali. “—sombong, sok pintar, dan punya seribu satu macam alasan—hei kenapa kau?” Siu Hung mengerutkan kening melihat Fei Yu bengong. Yang makin membuatnya heran adalah pandangan mata Fei Yu tidak melihat dirinya, tetapi arah belakangnya.


Ia meringis. “Eng... Fei Yu, ada dia, ya...?” tanyanya memelas.


“Ayo, apa lagi?!” tanya suara ketus di belakangnya.


Siu Hung berbalik. Ia melihat Tuan Ouwyang sudah ada di depannya, sedang mengusap-usap jenggotnya yang seputih salju.


“Kakek! Wah, jenggotmu bagus sekali!” pujinya spontan.


Ting Ting tertawa lagi. Ia benar-benar geli melihat tingkah polah Siu Hung. Siu Hung memang lucu, nakal, banyak tingkah, serta punya seribu satu macam alasan untuk mengelak dari hukuman. Anak itu memang tidak pernah berubah. Sejak pertama mengenalnya, Ting Ting tak pernah bisa menahan tawa bila melihat tingkahnya.


Fei Yu memandangnya dengan senang.


Sebenarnya Tuan Ouwyang tidak marah, tapi ia pura-pura marah besar. “Siu Hung! Kau memang keterlaluan!”


Siu Hung memandang dengan memelas. “Tapi jenggot Kakek memang bagus, kok. Sumpah! Aku tidak bohong!” serunya sambil mengangkat sebelah tangannya dengan serius.


Tuan Ouwyang mendengus. “Bukan masalah jenggot!”


“Habis apa?” Siu Hung memandang bingung, seolah sungguhan.


Belum sempat Tuan Ouwyang membuka mulut, pintu kamar Chien Wan terbuka. Ouwyang Kuan muncul di sana dengan wajah berseri.


“Ayah, Chien Wan sudah sadar!”


“Bagus!” seru Tuan Ouwyang girang. Ia melupakan pertengkarannya dengan Siu Hung. Ia mendahului mereka semua masuk ke dalam kamar.


Ouwyang Kuan tersenyum memandangi Ting Ting dan Fei Yu. “Kalian masuklah. Tadi Chien Wan menanyakan keadaan kalian.”


Ting Ting dan Fei Yu masuk mengikuti Ouwyang Kuan. Siu Hung tidak ikut masuk karena ia ingin mengabarkan berita gembira ini pada yang lainnya. Ia tahu semua orang sudah menanti dengan cemas.


Terutama Ouwyang Ping dan Sen Khang.

__ADS_1


***


__ADS_2