
Markas Partai Kupu-Kupu adalah sebuah rumah yang menyerupai istana kecil. Di sekitar istana kecil itu terdapat pemandangan yang indah dan penuh dengan warna-warni bunga. Udara di sana sangat harum, membawa aroma bunga-bungaan yang beraneka macam menjadi satu aroma yang luar biasa. Itulah sebabnya mengapa kupu-kupu tertarik untuk bermukim di sana. Ribuan kupu-kupu aneka warna beterbangan di sekitar istana kecil itu.
Sen Khang dan Ouwyang Ping berhenti melangkah, terpukau melihat pemandangan yang terhampar di depan mata mereka. Seandainya saja waktu berhenti berputar saat itu....
Kui Fang menanti mereka dengan sabar. Ia sudah terbiasa dengan reaksi para pendatang yang baru pertama kali mengunjungi rumahnya. Kediamannya merupakan salah satu tempat yang paling menakjubkan di Daratan Tionggoan. Entah mengapa ia terkenang saat Chien Wan tiba di tempat ini beberapa bulan yang lalu. Seperti itu pula reaksinya menyaksikan pemandangan serupa.
Sen Khang tersadar dari keterpanaannya. “Jadi ini sebabnya mengapa kalian menyebut diri Partai Kupu-Kupu!” katanya takjub.
“Salah satunya,” senyum Kui Fang. “Leluhur kami menemukan tempat ini dan membangun pemukiman di sini. Beliau juga menciptakan berbagai variasi ilmu silat berdasarkan gerak kupu-kupu. Boleh dibilang, kupu-kupu menjadi sumber inspirasi serta pengetahuan kami yang tak ada habis-habisnya.”
Mereka diantar masuk ke dalam ruangan di mana Pendekar Wu Tai Hung—ketua Partai Kupu-Kupu—tengah duduk bersama istri dan beberapa penasihatnya.
“Ayah, Ibu,” sapa Kui Fang.
Pendekar Wu melihat putrinya datang bersama dua orang yang tidak dikenalnya. “Siapa orang-orang ini, Kui Fang?”
“Mereka adalah Luo Sen Khang dari Wisma Bambu dan Harpa Kencana dari Lembah Nada.”
Nama Luo Sen Khang tidak begitu menggugah mereka seperti layaknya Harpa Kencana. Mereka tertegun menatap gadis bergaun keemasan yang membawa harpa itu.
Pendekar Wu segera bangkit dan memberi hormat diikuti semuanya.
“Senang sekali bisa berjumpa dengan kalian berdua,” ujarnya ramah.
“Seharusnya kamilah yang mengucapkan terima kasih karena Anda sekalian telah menyambut kami dengan begini ramah walau kami datang tanpa pemberitahuan.” Sen Khang merangkapkan kedua tangannya di depan dada.
“Silakan duduk!” Pendekar Wu melambaikan tangan ke arah kursi-kursi.
Mereka berdua dijamu dengan ramah oleh orang-orang di Partai Kupu-Kupu. Mereka bercakap-cakap ringan tentang kejadian yang berlangsung di Dunia Persilatan. Saat itulah Pendekar Wu menyinggung soal kedatangan Chien Wan ke tempat itu beberapa waktu lalu.
“Chien Wan?” seru Sen Khang kaget.
Ouwyang Ping langsung waspada.
“Benar, Kakak Luo.” Kui Fang menimbrung. “Tadi aku ingin mengatakannya namun perhatianku terpecahkan. Kakak Ouwyang memang datang ke tempat ini beberapa bulan lalu. Dia menolongku ketika aku diserang beberapa orang dari golongan hitam, dan aku merasa sangat berterima kasih, jadi kuajak dia ke sini.”
“Kau mengenalnya, Pendekar Luo?” tanya Pendekar Wu tertarik. Ia memang belum tahu akan hubungan Chien Wan dengan Sen Khang dan Ouwyang Ping, walau ia tahu Chien Wan juga berasal dari Lembah Nada.
Sen Khang agak risih dipanggil ‘pendekar’ oleh Pendekar Wu. “Tolong jangan panggil aku seperti itu, Pendekar Wu. Panggil saja aku Sen Khang,” pintanya. “Dan ya. Aku memang mengenal Chien Wan sebab dia sepupuku. Ibunya adalah adik kandung ayahku.”
__ADS_1
“Oh?”
“Dan nona ini—“ Sen Khang menunjuk Ouwyang Ping yang sejak tadi diam saja, “bernama asli Ouwyang Ping. Dia adalah adik Chien Wan.”
“Begitu rupanya!” seru Kui Fang. “Sejak tadi aku bertanya-tanya apa hubungan antara Harpa Kencana dengan Kakak Ouwyang. Ternyata kakak beradik. Pantas saja ilmu silat kalian serupa.”
Ouwyang Ping tersenyum tipis. Hatinya merasa sedih. Sekarang orang-orang akan selalu menganggap kami bersaudara, bukan lagi pasangan yang serasi seperti dahulu.
Sen Khang meliriknya.
“Sen Khang, Nona Ouwyang,” kata Pendekar Wu ramah dan akrab, “aku akan senang sekali jika kalian mau tinggal di sini untuk beberapa waktu. Aku ingin berbincang-bincang dengan kalian lagi.”
“Bagaimana, Ping-er?” tanya Sen Khang pada Ouwyang Ping dengan suara pelan.
Ouwyang Ping mengangguk.
Sen Khang lega dan ia pun mengiyakan permintaan Pendekar Wu.
***
Kui Fang merasa senang dengan kehadiran kedua teman barunya. Ia selalu bercakap-cakap dengan mereka, mengemukakan pendapatnya serta mendengarkan pendapat mereka mengenai berbagai macam hal.
Di matanya, mereka berdua sangat mengagumkan. Sama seperti Chien Wan.
Ouwyang Ping juga membuatnya kagum. Gadis itu begitu anggun dan rupawan. Permainan harpanya mengagumkan. Usianya hanya setahun lebih tua dari Kui Fang yang baru delapan belas, namun tampak jauh lebih dewasa. Gadis itu punya sifat tidak jauh berbeda dari kakaknya, pikir Kui Fang geli, sama-sama pendiam dan pemurung. Ia akan sangat terkejut bila mengetahui bahwa dulunya Ouwyang Ping sangat ceria.
Menurut pandangan Kui Fang, kedua teman barunya itu sangat serasi satu sama lain. Ia tidak tahu apakah mereka pasangan atau bukan, dan ia terlalu sopan untuk menanyakannya. Namun bila mereka betul-betul pasangan, mereka akan menjadi pasangan yang membuat iri orang lain.
Beberapa hari sudah Sen Khang dan Ouwyang Ping berada di Partai Kupu-Kupu. Suatu malam, mereka berdua tengah duduk di taman yang letaknya persis di depan pintu kamar mereka.
“Kau kerasan di sini, Ping-er?” tanya Sen Khang. Beberapa hari ini ia melihat wajah gadis itu tampak tenang dan damai.
Ouwyang Ping mengangguk.
Sen Khang menarik napas. “Tempat ini memang indah.”
“Ya.”
“Tuan rumahnya juga sangat ramah.”
__ADS_1
Ouwyang Ping memalingkan wajah, menatap kolam teratai yang terletak di dekatnya. “Bagaimana pun ini bukan rumah kita sendiri.”
Sen Khang menoleh dan menatapnya lekat-lekat. Hatinya bimbang. Ouwyang Ping belum mengetahui bahwa orangtua mereka bermaksud menjodohkan mereka. Ia sedang menimbang-nimbang, haruskah ia menceritakannya pada gadis itu.
Selagi ia sibuk menimbang-nimbang, datanglah Kui Fang.
“Kakak Luo, Ping-er.”
Ouwyang Ping menoleh. Ia menyukai gadis itu. Sejak mereka bertemu, gadis itu telah menunjukkan kehangatan dan ketulusan hatinya. Ia juga tanpa ragu langsung memanggilnya dengan sapaan yang akrab, padahal mereka sesungguhnya belum saling mengenal secara dekat.
“Nona Wu,” senyum Sen Khang.
“Malam yang indah.” Kui Fang mendekat. “Aku tidak mengganggu kalian, kan?”
“Tentu saja tidak.” Sen Khang tertawa.
Kui Fang duduk di hadapan mereka. Wajahnya tampak serius. “Sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu pada kalian... kalau kalian tidak keberatan.”
“Apa itu?” Sen Khang memandangnya penuh minat.
Wajah Kui Fang agak merona. “Eh, ini tentang Kakak Ouwyang....”
Ouwyang Ping terperanjat. Bagaikan disambar petir rasanya. Ia menatap Kui Fang dengan tajam. “Apa yang ingin kauketahui?”
Kui Fang kaget karena wajah Ouwyang Ping begitu kelam. “Aku hanya ingin tahu di mana dia sekarang....”
“Mengapa?”
Kui Fang kebingungan. “Eh, kalau kau tidak senang aku bertanya begitu... aku akan diam saja.”
“Ping-er.” Sen Khang menyentuh tangan Ouwyang Ping, menenangkannya.
Kui Fang menelan ludahnya. Aneh. Mengapa Ouwyang Ping tidak senang dia menanyakan Chien Wan? Apakah gadis itu tipe adik yang sangat tergantung pada kakaknya sehingga tidak senang bila kakaknya berhubungan dengan gadis lain?
“Nona Wu, kami sendiri tidak tahu di mana Chien Wan sekarang. Dia pergi mengembara dan sampai sekarang kami belum menerima kabar darinya,” jelas Sen Khang.
“Oh, begitu.” Kui Fang merasa lega. Rupanya sikap Ouwyang Ping tadi karena dia khawatir akan keberadaan kakaknya, pikirnya. Ia tersenyum penuh penyesalan pada Ouwyang Ping. “Maaf, ya Ping-er. Aku menanyakan kakakmu tanpa mengerti bahwa kau sekarang mencemaskannya. Aku memang suka tidak berpikir panjang.”
Ouwyang Ping menarik napas dalam-dalam, merasa malu akan reaksinya tadi. Entah apa yang terjadi dengan dirinya. Mengapa ia merasa begitu terpukul hanya karena ada gadis yang menunjukkan ketertarikkannya pada Chien Wan? Siapa pun gadis yang tertarik maupun menarik hati Chien Wan, itu bukan lagi masalahnya. Toh dia hanyalah adik Chien Wan, bukan kekasihnya.
__ADS_1
“Tidak apa. Aku juga minta maaf,” kata Ouwyang Ping singkat.
“Kita bicara yang lain saja,” sela Sen Khang. Ia mengalihkan pembicaraan dan berusaha agar tak ada orang yang menyebut-nyebut Chien Wan lagi. Diam-diam ia merasa lega karena belum menyinggung soal perjodohan antara dirinya dengan Ouwyang Ping karena ternyata gadis itu masih belum mampu melupakan masa lalu.