Suling Maut

Suling Maut
Luo Sen Khang Galau


__ADS_3

Sen Khang termangu-mangu di tempatnya berdiri. Ia bahkan tidak menyadari bahwa Chi Meng Huan sudah meninggalkan tempat itu. Ia tidak sadar bahwa sekarang semua orang sedang bergerak membereskan kekacauan yang terjadi, bahwa mereka yang keracunan perlu diobati.


Kata-kata Meng Huan tadi terus terngiang di telinganya. Ia bukan pendekar. Orangtuanya akan sangat malu terhadapnya. Tuan Ouwyang akan memandang rendah padanya. Dan Ouwyang Ping tidak akan sudi menerimanya sebagai pendamping hidupnya. Perbuatannya tadi sangat tercela dan tak pantas dilakukan oleh seorang pendekar.


Ouwyang Ping memandangnya dengan sedih. Ia mengerti apa yang sedang berkecamuk di benak tunangannya.


“Kakak Luo,” tegur gadis itu sambil menyentuh lembut lengannya. “Sudahlah. Jangan kau pedulikan kata-katanya tadi.”


Sikap Sen Khang menjadi kaku. “Bagaimana dengan yang lain?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.


“Seluruh anggota Partai Kupu-Kupu terkena racun. Lan Sie tak mau memberikan penawarnya,” bilang Ouwyang Ping. “Kakak Luo, kau kan murid Dewa Obat. Bisakah kau memeriksa mereka untuk mendiagnosa sebenarnya mereka terkena racun apa?”


Sen Khang mengangguk. Lalu ia mendekati salah satu anggota. Dikeluarkannya jarum panjang dari kotak peralatan pertabiban yang diberikan Dewa Obat padanya. Ditusuknya tengkuk anggota yang keracunan itu dengan jarum tersebut. Ketika dicabut, tampaklah ujung jarum itu menghitam. Ia mengendusnya.


“Ini Racun Pelumpuh Tenaga. Bukan jenis racun yang membinasakan. Tetapi cukup berbahaya karena siapa pun yang terkena racun ini tidak akan bisa memulihkan kembali tenaganya dalam waktu singkat.”


“Apa ada penawarnya, Sen Khang?” tanya Pendekar Sung.


“Aku bisa membuat penawarnya bila menemukan dedaunan obat yang tepat.”


“Di dekat sini ada lembah kecil yang subur, Pendekar Luo,” beritahu salah seorang anggota Partai Kupu-Kupu. “Tabib kota sering mencari daun dan akar obat di sana. Mungkin Anda bisa menemukan bahan-bahannya di sana.”


Sen Khang menelan ludahnya yang terasa pahit. Sebutan ‘Pendekar Luo’ kini tak menyenangkan baginya. Ia bukan pendekar. Ia hanyalah seorang pengecut yang hobi membokong orang.


“Aku akan menemanimu, Kakak Luo.” Ouwyang Ping tersenyum padanya.


Namun Sen Khang memalingkan muka. “Tak usah. Kau di sini saja. Aku akan pergi sendiri.”


Ouwyang Ping termangu memandangi kepergian pemuda itu. Sikap dingin Sen Khang membuatnya sedih. Rupanya kata-kata Chi Meng Huan tadi benar-benar mempunyai pengaruh atas diri Sen Khang. Padahal itu tidak betul. Ia tak peduli dengan kata-kata Meng Huan. Omongan Meng Huan hanyalah omong kosong belaka.


Bahkan seandainya itu betul pun, bukan masalah bagi Ouwyang Ping. Lagi pula, ia tidak pernah ingin mempunyai suami seorang pendekar sejati. Yang diinginkannya hanyalah kehidupan damai bersama orang yang mencintainya.


“Ping-er,” tegur Chien Wan.


Ouwyang Ping menoleh.


“Pergi dan susullah dia. Katakan padanya bahwa kau tak peduli dengan kata-kata Meng Huan,” suruh Chien Wan halus. “Atau... kau memang peduli?”

__ADS_1


“Tentu saja tidak!” bantah Ouwyang Ping. “Kakak Luo sama sekali tak bersalah. Bagiku...,” suaranya melemah, “bagiku dia tetap seorang pendekar sejati. Chi Meng Huan mengatakan hal-hal yang membuatnya resah. Namun aku tahu itu tidak benar.”


Chien Wan tersenyum kecil dan menepuk bahu adiknya.


Ouwyang Ping segera berlari menyusul Sen Khang.


***


Sen Khang tengah sibuk memetiki daun-daun obat yang akan dipakainya untuk membuat ramuan penawar racun. Benar seperti yang dikatakan anggota Partai Kupu-Kupu itu. Tempat ini memiliki begitu banyak jenis tumbuhan yang dapat dibuat menjadi obat penawar untuk berbagai jenis penyakit. Akar-akar obat yang manjur juga terdapat pada celah-celah batu karang yang banyak terdapat di tempat itu.


Ia terus memetik dan mencungkil untuk mendapatkan cukup banyak penawar untuk semuanya. Namun ia tidak melakukan pekerjaannya dengan hati senang. Ia melamun dan murung.


Ia diperhatikan oleh seseorang yang sejak tadi rupanya mengikutinya.


“He, Sen Khang!”


Sen Khang terkejut. Ia melihat Tuan Ouwyang sudah berada di dekatnya. Sungguh mengejutkan karena telinganya sama sekali tidak menangkap gerakan orang tua itu. Yang lebih membuatnya terkejut adalah kenyataan bahwa pria tua itu mengikutinya. Cepat-cepat ia menghampiri. “Kakek Ouwyang,” sapanya penuh hormat.


“Kau ini memang keterlaluan!” dengus Tuan Ouwyang. Tatapan matanya membara dan wajahnya kemerah-merahan.


“Maafkan aku, Kakek Ouwyang. Aku tadi telah bersikap pengecut. Aku tahu aku tidak semestinya menyerang Chi Meng Huan dari belakang. Aku telah bersikap seperti jagoan pasar yang tidak segan-segan membokong orang dari belakang,” aku Sen Khang pelan. “Kurasa... aku memang bukan seorang laki-laki sejati....”


“Lalu apa kau ini perempuan?” tukas Tuan Ouwyang.


“Ha?” Sen Khang terkejut. “Tentu saja bukan.”


“Lalu kenapa kau bilang bukan laki-laki sejati? Bocah dungu!” omel Tuan Ouwyang.


Sen Khang tercengang.


“Aku tidak peduli dengan omong kosong tentang pendekar sejati seperti yang kalian orang muda ocehkan! Hah! Aku tak pernah sependapat dengan ***** bengek Dunia Persilatan. Tidak boleh membokong!” gerutu Tuan Ouwyang sewot. Ia berjalan mondar-mandir. “Hah! Hahh! Memangnya ada pertarungan yang adil di dunia ini? Semua pertarungan itu gunanya untuk melumpuhkan lawan! Memangnya kalian berkelahi di arena pertandingan?”


Wajah Sen Khang mulai cerah mendengar semua ini.


“Aku juga sering mengeroyok orang! Kalau tidak percaya, kau tanyalah pada gurumu itu! Aku mengeroyok orang juga bersama dia!”


“Lalu, mengapa Kakek bilang aku keterlaluan?” tanya Sen Khang tak mengerti.

__ADS_1


“Tentu saja!” semprot Tuan Ouwyang tiba-tiba. Ia berbalik dan tepat berhadapan dengan Sen Khang yang terkejut. “Aku sudah memberikan cucu kesayanganku padamu! Kenapa tadi kau tidak bersikap baik padanya, ha? Kenapa kau bersikap dingin padanya? Jawab!” bentaknya gusar.


Sen Khang gelagapan disemprot seperti itu. “Eh, itu...,” gugupnya. “Aku tak bermaksud begitu. Cuma... aku sedang memikirkan kata-kata Chi Meng Huan. Aku terpengaruh oleh kata-katanya. Aku mengira Ping-er akan memandang rendah diriku karena....” Ia terdiam karena tidak tahu lagi harus mengatakan apa.


“Omong kosong! Kami keluarga Ouwyang selamanya bukan orang yang gila hormat. Kalau memang Ping-er mencintaimu, biar kau pendekar atau pengecut, dia akan mengikutimu!” kata Tuan Ouwyang tajam.


“Ya, aku mengerti. Maafkan aku, Kek.”


“Mulai sekarang, aku harus baik pada cucuku! Kalau tidak, aku tak akan memaafkanmu!” dengus Tuan Ouwyang.


Sen Khang tersenyum dengan kelegaan yang luar biasa.


“Aku berjanji, Kek.”


“Sebaiknya begitu, Bocah!” Tuan Ouwyang melompat pergi. Telinga tuanya menangkap langkah kaki lembut di kejauhan. Dari gerakannya, ia tahu itu Ouwyang Ping. Ia tak mau cucu kesayangannya memergokinya sedang memarahi tunangannya.


Sen Khang kembali melanjutkan pekerjaannya. Kali ini ia melakukan tugasnya dengan lebih bersemangat. Kata-kata Tuan Ouwyang telah membuka pikirannya tentang makna pendekar sejati. Kepercayaan dirinya telah kembali.


Ouwyang Ping tiba di sana.


“Kakak Luo!”


Sen Khang tersenyum gembira menyambut kedatangan gadis itu. “Ping-er. Kemarilah!” katanya sambil melambaikan tangan.


Ouwyang Ping mendekat dan ia kembali merasa heran. Tampaknya Sen Khang sudah kembali seperti biasa. Sen Khang telah kembali menjadi orang yang gembira, tenang, berwibawa, penuh kharisma, dan percaya diri. Sifat-sifat yang senantiasa dikaguminya dalam diri Sen Khang.


Sen Khang menurunkan tas obatnya dan meraih jemari Ouwyang Ping. Dengan lembut, digenggamnya jemari yang halus dan hangat itu. “Maafkan sikapku tadi, Ping-er.”


Ouwyang Ping ternganga.


“Mulai saat ini,” lanjut Sen Khang, “aku berjanji bahwa aku akan selalu baik padamu. Aku akan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia,” ucapnya penuh kesungguhan. Tatapan matanya begitu mesra.


Bibir gadis itu bergetar. Ia menggigitnya dan menunduk untuk beberapa lama. Ia sangat terharu mendengar kata-kata pemuda itu. ia tidak berkata apa-apa, hanya genggaman tangannya saja yang semakin erat pada tangan pemuda itu.


Sen Khang menarik gadis itu dan membawanya ke dalam pelukannya.


***

__ADS_1


__ADS_2