Suling Maut

Suling Maut
Dewa Seribu Wajah


__ADS_3

Dewa Seribu Wajah bernama asli Chang Cin Te. Ia dijuluki Dewa Seribu Wajah karena sangat ahli dalam hal menyamar. Jarang ada orang yang pernah melihatnya tampil di depan umum dengan wajah asli. Bahkan anaknya sendiri pun jarang melihat wajah aslinya. Keahlian Chang Cin Te dalam menyamar memang amat menakjubkan. Namun ia kecewa karena putra tunggalnya sama sekali tidak tertarik dalam hal menyamar. Ia tak ingin meninggal sebelum mewariskan keahliannya pada seseorang. Hanya saja sampai saat ini, ia tak menemukan pewaris yang tepat. Kekecewaannya kepada putranya mengakibatkan hubungan keduanya agak terganggu.


Fei Yu tiba di ruangan itu dan mendekati ayahnya. “Ayah. Ayah baru pulang?”


Selama dua minggu Chang Cin Te meninggalkan Bukit Merak untuk suatu urusan. Ia baru saja kembali dan mendapat laporan dari penasihatnya. Untuk itulah ia memanggil Fei Yu ke ruang rapat, bukannya ke kamarnya seperti biasa.


“Fei Yu. Cheng Sam baru saja melaporkan kejadian di kediaman Ketua Persilatan,” kata Chang Cin Te. Ia bukan orang yang suka berbasa-basi.


Fei Yu menoleh dan melihat Cheng Sam yang berdiri tak jauh dari mereka. Ia menatap pria setengah baya itu dengan sengit. Ia tidak takut pada kemarahan ayahnya, namun ia tidak ingin Cheng Sam mengadukan hal yang tidak-tidak pada ayahnya, membuat hubungannya dengan sang ayah semakin buruk. Ia tidak pernah suka pada Cheng Sam. Menurutnya Cheng Sam itu ular.


“Aku memang datang ke kediaman Pendekar Sung untuk menantangnya bertanding!” Fei Yu mengangkat dagunya dengan angkuh. “Memangnya kenapa? Toh, selama ini Ayah tidak pernah melarangku menantang tanding siapa saja.”


“Bukan apa-apa. Aku tak peduli kau mau menantang siapa saja. Aku juga tak peduli urusan Dunia Persilatan. Menurutku, itu omong kosong. Tapi mengapa kau berencana mengambil alih Dunia Persilatan dengan mengatasnamakan Bukit Merak?”


Pertanyaan ini mengagetkan Fei Yu. “Apa? Siapa yang bilang aku mau mengambil alih Dunia Persilatan?” Ia seketika melihat Cheng Sam dengan murka. “Pasti ular ini yang mengatakannya!” tuduhnya sengit.


“Fei Yu! Sopanlah sedikit!” hardik Chang Cin Te berwibawa.


“Ayah jangan hanya mendengarkan penjelasan sepihak dari dia!” seru Fei Yu.


“Bukan hanya Cheng Sam yang mengatakannya, Fei Yu.” Chang Cin Te menatap putranya dengan kecewa. “Aku mendapat penjelasan dari pihak lain. Dan, ia juga mengatakan bahwa kau telah meracuni peserta pertemuan dengan bubuk pelemah otot. Apa itu benar?”


“Bohong! Aku tidak main racun!”


Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari pintu, membuat ketiga orang yang ada di dalam melihatnya. Anak buah Cheng Sam muncul sambil menyeret seorang pemuda berbaju merah hati yang meronta-ronta sengit.


“Lepaskan aku!” hardik pemuda itu marah.


Fei Yu terperanjat. “Chi Meng Huan!” serunya tak sengaja. Ia tak pernah melupakan nama Meng Huan maupun sosoknya. Entah mengapa, sejak pertama bertemu ia sudah menyimpan ketidaksukaan yang teramat sangat pada Meng Huan. Oleh karena itu ia selalu ingat saat Meng Huan memperkenalkan namanya.


Meng Huan memandang marah. “Ternyata kau tidak cukup hanya mengacau di kediaman Pendekar Sung dan memberi kami racun! Kau juga berniat busuk terhadap kami!” teriaknya gusar.


“Aku tidak berniat busuk terhadapmu!”


“Lalu untuk apa kau menculikku?!”


“Aku tidak menculikmu!”


“Sudah, diam kalian!” lerai Chang Cin Te berwibawa.


Kedua pemuda itu diam. Meng Huan karena terkesan akan wibawa yang terkandung dalam suara pria setengah tua itu, sedang Fei Yu karena mendongkol.


“Fei Yu....”


“Aku memang mengacau pada pertemuan para pendekar!” tukas Fei Yu. “Tetapi aku tidak meracuni mereka. Aku juga tidak menculik orang ini! Aku tidak berencana mengambil alih Dunia Persilatan, apalagi mengatasnamakan Bukit Merak.”


“Fei Yu,” desah ayahnya kesal.

__ADS_1


“Tuan Besar, jangan memarahi Tuan Muda,” sela Cheng Sam. “Saya yang bersalah karena terlalu menuruti kehendak Tuan Muda. Seharusnya saya mencegah Tuan Muda pergi ke kediaman Pendekar Sung.”


“Diam kau!” raung Fei Yu murka. “Jangan coba-coba membelaku atas kesalahan yang tidak kulakukan!”


“Fei Yu!”


“Kalau Ayah lebih percaya pada apa yang dikatakan Cheng Sam, terserah! Pokoknya aku tidak pernah melakukan apa-apa!” tukas Fei Yu. “Sekarang apa yang akan Ayah lakukan terhadap Chi Meng Huan?”


Chang Cin Te menatap putranya dengan tajam. “Mengapa tanya padaku? Kau sendiri yang mencari masalah!”


“Sudah kubilang bukan aku!” bantah Fei Yu dengan wajah merah padam karena gusar. Ia sangat kecewa karena apa pun yang dikatakannya, sepertinya ayahnya tidak percaya. Ia dapat melihat ketidakpercayaan ayahnya pada raut wajahnya. Akhirnya ia menyerah. “Ya sudah. Bebaskan saja dia. Biarkan dia pergi!”


Chang Cin Te tidak sempat menanggapi karena Cheng Sam sudah menyela, “Maaf, Tuan Besar. Boleh saya bicara?”


“Silakan.”


Mengabaikan tatapan gusar Fei Yu, Cheng Sam mulai bicara. “Begini, Tuan Besar. Anak muda ini sudah terlanjur dibawa ke Bukit Merak. Jika kita melepaskannya, dia akan bicara panjang lebar dan membuat nama Bukit Merak ini tercoreng. Kita memang tidak bersalah karena Tuan Muda bertindak sendiri. Tapi tetap saja setiap tindakan Tuan Muda dianggap atas perintah Tuan Besar. Maka daripada nama kita rusak, biar anak muda ini di sini dahulu.”


“Memangnya kau punya rencana, Cheng Sam?”


“Perlahan-lahan saya akan memberi pengertian pada anak muda ini tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dengan begitu, ia akan mengerti dan takkan membocorkan kejadian memalukan ini ke mana-aman.”


“Baiklah,” putus Chang Cin Te.


Cheng Sam menoleh ke arah anak buahnya. “Bawa dia ke ruang tahanan!”


“Cheng Sam sudah berusaha menyelesaikan kesulitan yang kaubuat, Fei Yu. Seharusnya kau berterima kasih padanya,” ujar Chang Cin Te.


Mata Fei Yu menyipit. “Aku tidak bersalah. Tidak pernah! Semua ini cuma akal-akalannya saja.”


“Fei Yu!”


“Semua yang dikatakannya bohong! Segala yang Ayah tuduhkan padaku selama ini tidak pernah benar! Ayah hanya mendengarkan laporan sepihak darinya. Ayah tidak pernah mempercayaiku. Sekarang akan kukatakan pada Ayah. Cheng Sam punya rencana busuk terhadap kita semua! Ayah terlalu buta untuk dapat menyadarinya!” seru Fei Yu.


“Jangan kurang ajar, Fei Yu!”


“Ayah harus tahu. Teman-teman Chi Meng Huan pasti akan datang untuk menyelamatkannya. Mereka akan menemui Ayah.”


“Bagaimana kau tahu?


“Karena Chi Meng Huan punya saudara-saudara seperguruan yang gagah. Aku pernah


bertanding dengan satu dari mereka, namanya Luo Sen Khang. Dia berilmu tinggi dan aku hampir saja kalah darinya.” Sekilas bayangan Ting Ting melintas di benak Fei Yu.


“Saya sudah menyelidiki, Tuan Besar,” sela Cheng Sam hormat, matanya berkilau licik. “Luo Sen Khang dan Chi Meng Huan berasal dari Wisma Bambu. Sedangkan teman-temannya yang lain, Chien Wan dan Ouwyang Ping, berasal dari Lembah Nada.”


Chang Cin Te berdiri dengan kaget. “Lembah Nada!” serunya.

__ADS_1


Fei Yu terpana. “Bukankah Bibi Mei menikah dengan orang Lembah Nada?”


Chang Cin Te tercenung. “Ya.”


“Dan dia meninggal karena nelangsa ditinggal oleh suaminya yang orang Lembah Nada itu,” tambah Cheng Sam licik.


Raut wajah Chang Cin Te mengeras.


“Ayah jangan dengarkan ular ini!” seru Fei Yu. Lalu ia menoleh dan memandang marah. “Jangan lancang berkomentar! Kau bukan siapa-siapa!” bentaknya.


Cheng Sam bungkam dengan dongkol.


“Kau yakin mereka akan datang untuk membebaskan Chi Meng Huan?” tanya Chang Cin Te pada putranya. “Apa mereka tahu Chi Meng Huan ada di sini?”


Fei Yu mengangkat bahu. “Mungkin saja.”


“Pasti mereka tahu, Tuan Besar,” sela Cheng Sam lagi. “Mereka mendapat surat dari Tuan Muda.”


“Surat apa?” seru Fei Yu bersamaan dengan Chang Cin Te.


“Surat yang menyatakan bahwa Chi Meng Huan diculik oleh kita, ditandatangani oleh Tuan Muda.”


“Astaga kau sungguh gegabah, Fei Yu!” seru Chang Cin Te.


“Tapi aku—“ Fei Yu terdiam seketika. Percuma saja. Membantah sesengit apa pun, ayahnya tetap akan lebih percaya pada Cheng Sam daripada dirinya.


“Lalu, apa yang akan kita lakukan, Cheng Sam? Bukankah lebih baik kita bebaskan saja tawanan itu?” tanya Chang Cin Te.


“Jangan dulu, Tuan Besar. Lebih baik kita biarkan saja mereka datang.”


“Untuk apa?”


“Kita akan undang mereka sebagai tamu kita untuk beberapa hari. Kita harus membersihkan nama kita di kalangan Dunia Persilatan. Mereka masih muda dan masih bisa menerima penjelasan kita. Lewat merekalah akhirnya kita bisa membersihkan nama kita yang terlanjur tercoreng di mata para pendekar golongan putih,” ungkap Cheng Sam bersemangat.


“Memangnya semua itu salah siapa?” gumam Fei Yu sengit.


Chang Cin Te dan Cheng Sam tak mempedulikannya.


“Usulmu baik juga,” kata Dewa Seribu Wajah.


Fei Yu tercengang mendengar ayahnya memuji usul Cheng Sam.


“Terima kasih, Tuan Besar. Saya akan menyambut mereka di pintu utama dan kemudian mengantarkan mereka sebagai tamu Tuan Besar. Kita beri mereka kamar tamu yang bagus dan kita layani dengan baik. Mereka pasti akan terkesan dengan kita dan akan membicarakan hal-hal yang baik tentang Bukit Merak. Dengan demikian nama kita akan bersih lagi.”


“Bagus!” puji Chang Cin Te. “Kau segera laksanakan rencanamu itu.”


“Baik, Tuan Besar.” Cheng Sam memberi hormat dan berbalik keluar. Sebelum mencapai pintu, ia menoleh ke arah putra majikannya. Matanya berkilau saat menyunggingkan senyum penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2