Suling Maut

Suling Maut
Meninggalkan Partai Kupu-Kupu


__ADS_3

Hampir empat bulan sudah Chien Wan tinggal di Partai Kupu-Kupu. Ia lega menyaksikan kondisi partai itu sudah kembali seperti semula. Dengan demikian, para anggota telah kembali mengambil alih tugas mereka yang semula ditangani oleh Chien Wan. Maka itu Chien Wan pun bisa melakukan tugasnya yang lain.


Undangan Ketua Persilatan untuk Partai Kupu-Kupu baru saja datang, menyatakan bahwa pertemuan para pendekar untuk memilih ketua baru akan dilangsungkan dua minggu lagi. Saat itu Ketua Wu bingung. Apakah sebaiknya dia datang atau tidak?


Sementara itu, setelah berbulan-bulan selalu bersama, hubungan antara Chien Wan dengan Kui Fang sudah sangat dekat dan mendalam. Tentu saja Chien Wan tetap menjaga jarak dan tak pernah menyentuh apa yang belum menjadi miliknya. Namun perasaan mereka sudah bertaut demikian erat dan tak terpisahkan lagi.


Mereka baru mengetahui perihal undangan itu dan membicarakannya berdua saja.


“Kakak Wan, pemilihan Ketua Persilatan sudah ditentukan. Dua minggu lagi. Bukankah kau mau pergi ke sana?” tanya Kui Fang.


Chien Wan mengangguk.


“Aku ikut, ya?” pinta Kui Fang penuh harap.


Chien Wan menatap gadisnya dengan lembut. Ia sangat ingin mengajak Kui Fang serta, namun tentu saja harus dengan seizin orangtuanya.


“Sepertinya Ayah tidak berminat pergi ke sana. Mungkin Ayah akan mengutus orang untuk mewakilinya. Aku akan mengusulkan supaya aku saja yang mewakilinya,” lanjut Kui Fang bersemangat.


Chien Wan tersenyum dan mengangguk.


Maka mereka segera menemui orangtua Kui Fang.


Ketua Wu dan istrinya tengah duduk berduaan sambil bercakap-cakap di dalam gazebo yang terletak di tengah kolam teratai yang berada tidak jauh dari rumah induk. Suasana di sana amat indah. Air kolam begitu jernih sehingga orang dapat melihat ikan-ikan yang berenang di dalamnya melalui celah-celah di antara tumbuhan air. Pada permukaan air, terdapat hamparan daun teratai di mana saat ini bunga-bunganya tengah bermekaran menebarkan keharuman khas. Seperti halnya di daerah lainnya di Partai Kupu-Kupu, di tempat itu pun kupu-kupu beraneka warna dan jenis beterbangan tanpa mengganggu siapa pun.


“Ayah, Ibu.” Kui Fang mendekati orangtuanya. Chien Wan mengikuti di belakangnya.


Ketua Wu dan istrinya menoleh dan tersenyum berseri menyambut putri dan calon menantu mereka.


“Paman, Bibi,” sapa Chien Wan sopan.


“Duduklah kalian!” suruh Ketua Wu senang.


Kedua anak muda itu duduk mengelilingi meja persegi yang telah terlebih dahulu ditempati orangtuanya. Kini keempat sisi pada meja itu telah terisi.


“Ada keperluan apa menemui kami?” senyum Nyonya Wu. “Biasanya kalian lebih suka berduaan saja,” godanya.


Kui Fang tersipu-sipu mendengar godaan ibunya.

__ADS_1


Ketua Wu terkekeh melihat putrinya salah tingkah dan Chien Wan hanya tersenyum malu. “Ibumu betul. Kalian menemui kami sekarang, pasti karena ada maunya. Iya, kan?”


Kui Fang mengangguk salah tingkah. “Memang ada yang ingin kutanyakan.”


“Apa itu?”


“Ayah sudah mendapat undangan dari Paman Sung, bukan?”


“Betul,” angguk Ketua Wu.


“Ayah mau pergi?”


Ketua Wu tercenung. “Itulah yang sedang kubicarakan dengan ibumu. Aku agak segan bila harus pergi ke sana. Apalagi partai kita baru saja mendapat serangan. Aku tidak akan pergi. Mungkin aku hanya akan mengutus seseorang untuk mewakili partai kita,” katanya.


“Bagaimana bila aku saja yang Ayah tugaskan?” usul Kui Fang antusias.


Ketua Wu tercengang. Ia dan istrinya berpandangan.


“Paman, Bibi.” Chien Wan angkat bicara. “Aku hendak pergi ke Bukit Ayam Emas karena aku sudah berjanji pada Paman Sung. Bila Paman dan Bibi menugaskan Kui Fang ke sana, dia bisa pergi bersamaku.”


Seketika Ketua Wu mengerti. Bukan karena ingin menghadiri pertemuan alasan keinginan Kui Fang mewakilinya, melainkan karena tidak ingin berpisah dengan Chien Wan.


“Ayah, aku kan sudah dewasa. Lagi pula, ada Kakak Wan yang akan melindungiku. Kalian tidak perlu khawatir,” kata Kui Fang.


Nyonya Wu memandang suaminya dengan agak cemas. Ia berkeberatan bila harus berpisah lagi dengan putrinya seperti dulu. Namun ia juga tahu, Kui Fang tidak mungkin bisa dicegah bila suaminya sendiri mengizinkannya.


“Baiklah,” angguk Ketua Wu.


Wajah Kui Fang bercahaya mendengarnya.


“Kalian bisa pergi besok pagi,” kata Ketua Wu lagi.


“Baiklah, Paman,” kata Chien Wan.


Kui Fang segera pergi untuk mengemasi pakaiannya. Ibunya ikut untuk membantunya. Namun Chien Wan ditahan oleh Ketua Wu supaya tidak meninggalkan gazebo.


“Aku mau bicara sebentar, Chien Wan.”

__ADS_1


Chien Wan batal pergi ke kamarnya. “Ada apa, Paman?”


Ketua Wu mendesah. “Kui Fang belum terlalu banyak mempunyai pengalaman di Dunia Persilatan. Aku ingin kau menjaga dan melindunginya. Mulai sekarang dia tanggung jawabmu.”


Chien Wan mengangguk penuh kesungguhan. “Jangan khawatir, Paman. Aku akan melindunginya walau dengan taruhan nyawa.”


“Bagus!” Ketua Wu senang mendengarnya. Hatinya lega. Kini ia bisa mempercayakan putrinya pada Chien Wan. Ia tahu Chien Wan tidak pernah main-main dengan janji. Baginya janji Chien Wan sudah merupakan jaminan.


Sementara itu, Kui Fang tengah memasukkan beberapa pakaian seadanya ke dalam tas kain tebal. Ibunya membantunya sambil membisu.


“Ibu kenapa?” Akhirnya Kui Fang tidak tahan melihat ekspresi wajah ibunya yang murung.


Nyonya Wu menggeleng lemah. “Tidak apa.”


“Ibu khawatir akan kepergianku?”


Nyonya Wu mendesah. “Tentu saja!” katanya akhirnya. “Ibu mana yang tidak selalu merasa khawatir bila putri tunggalnya pergi meninggalkannya? Hati Ibu selalu dipenuhi dengan kecemasan bila kau pergi.”


“Bu....” Kui Fang merangkul ibunya dengan sayang. “Aku akan baik-baik saja. Lagi pula, perjalanan ke Bukit Ayam Emas itu bukannya untuk berperang. Kami hanya ingin menghadiri pertemuan para pendekar. Tidak akan ada apa-apa, Bu. Percayalah!”


Nyonya Wu mendesah lagi. “Aku ingin percaya, tetapi....”


Kui Fang menghela napas. “Aku berjanji akan menjaga diriku baik-baik. Dan Kakak Wan ada di sisiku. Apa itu tidak cukup menjamin bahwa aku akan baik-baik saja?”


Nyonya Wu tidak menyahut. Kehebatan ilmu silat Chien Wan tidak diragukan lagi. Namun yang namanya hati seorang ibu, mana mungkin bisa ditenangkan hanya dengan jaminan semacam itu saja? Kekhawatirannya terhadap Kui Fang bercampur-aduk dan tak bisa dilukiskan.


Kui Fang menggeleng-geleng prihatin. Sejak dahulu ibunya ini memang cenderung mudah merasa cemas. Nyonya Wu selalu saja memikirkan hal yang terburuk yang bisa terjadi.


“Ibu jangan khawatir ya?” Kui Fang menyandarkan kepalanya ke bahu ibunya dengan manja. “Aku pasti baik-baik saja. Justru Ibu yang harus selalu menjaga Kesehatan. Jangan memikirkan yang tidak-tidak.”


Nyonya Wu akhirnya tersenyum. “Rupanya begini kalau anak sudah dewasa. Sudah mau menikah. Jadi bisa menasehati ibunya,” gerutunya sambil menjentik hidung putrinya.


Kui Fang cemberut sambil mengusap-usap hidungnya.


“Baiklah,” ucap Nyonya Wu. “Janji pada Ibu, kau harus menjaga dirimu baik-baik.”


“Aku janji, Ibu.”

__ADS_1


Keesokkan harinya, Chien Wan dan Kui Fang berpamitan pada Ketua Wu dan istrinya. Kemudian mereka berangkat ke Bukit Ayam Emas lewat jalan desa dan hutan-hutan yang jauh dari jalan raya. Sengaja mereka melakukannya karena enggan bertemu dengan orang banyak.


***


__ADS_2