
Peristiwa pengkhianatan Cheng Sam terhadap Dewa Seribu Wajah telah tersebar ke mana-mana. Semua pendekar aliran putih mengutuk perbuatan itu. Cheng Sam adalah anak buah Dewa Seribu Wajah yang telah mengabdi di Bukit Merak selama lebih dari dua puluh tahun. Dia telah menjadi orang kepercayaan Dewa Seribu Wajah. Namun ternyata, di balik kepatuhan dan pengabdiannya selama ini tersembunyi suatu rencana busuk.
Pendekar Sung mengirimkan kabar ke setiap penjuru Dunia Persilatan dan meminta bantuan dari semua perguruan silat untuk mencaritahu keberadaan Cheng Sam. Bahkan bila perlu, menangkapnya dan membawanya ke Bukit Merak.
Kabar ini pun sampai ke Partai Kupu-Kupu.
“Terlalu!” geram Ketua Wu sengit. “Ini tidak boleh dibiarkan! Kita harus membantu Ketua Persilatan mencari bajingan itu!”
Wie Yun Cun—penasihat kedua Ketua Wu—menghampiri dan bertanya, “Ketua, bijaksanakah bila kita ikut campur? Maksudku, ini adalah masalah di dalam Bukit Merak sendiri. Apakah pantas bagi kita sebagai orang luar untuk mencampurinya?”
Ketua Wu tertegun, lalu menggeleng. “Entahlah—“
Sam Hui—penasihat pertama—menyela, “Bila masalahnya tentang pelanggaran dan sebagainya, tentu kita tidak berhak. Tetapi, bahkan Ketua Persilatan sendiri meminta bantuan untuk menangkap Cheng Sam. Tentu hal ini sudah menjadi masalah Dunia Persilatan. Dengan demikian kita wajib membantunya. Kita memang memilih untuk tidak mencampuri urusan dunia luar. Namun sebagai anggota masyarakat Dunia Persilatan yang dimintai pertolongan, sudah sewajarnya bila kita menolongnya.”
Senyum mengembang di wajah Ketua Wu. “Betul! Betul sekali!”
Wie Yun Cun melemparkan pandangan tajam pada Sam Hui, namun ia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Ketua Wu menggeleng. Ia merasakan permusuhan di antara penasihatnya itu, namun selama hal itu tidak dilakukan terang-terangan tentu bukan masalah besar baginya.
“Cepat kirim orang untuk menyelidiki keberadaan Cheng Sam!” perintah Ketua Wu.
“Bagaimana caranya?” tanya Wie Yun Cun. “Tidak ada seorang pun dari kita yang mengetahui bagaimana rupa Cheng Sam.”
“Sebaiknya kita mengirimkan orang ke Bukit Merak untuk meminta ciri-ciri Cheng Sam. Dengan begitu, akan lebih mudah mengetahui keberadaan Cheng Sam,” usul Sam Hui.
“Kau benar, Sam Hui.” Ketua Wu mengangguk. “Pergilah dan siapkan beberapa orang untuk pergi ke Bukit Merak. Sementara itu, kita siapkan beberapa mata-mata untuk mencari keterangan.”
“Jangan lupa, Ketua. Sebaiknya kita juga menyelidiki daerah kita. Bukan tidak mungkin Cheng Sam diam-diam menyelinap di daerah kita tanpa ketahuan,” kata Sam Hui tenang.
“Tidak mungkin!” sergah Wie Yun Cun berang. “Anak buahku bertanggungjawab untuk mengamankan Partai Kupu-Kupu. Kami pasti sudah tahu bila ada penyusup!”
“Bukankah kita tidak tahu bagaimana rupa Cheng Sam?” tangkis Sam Hui pelan.
Wie Yun Cun mengetatkan gerahamnya. Ia sangat gusar karena tampaknya Sam Hui selalu tahu bagaimana cara untuk membuatnya kelihatan tidak berarti di mata ketuanya. Sayangnya ketuanya selalu mempercayai perkataan Sam Hui.
“Sudahlah. Usul itu tidak jelek. Laksanakan saja apa yang perlu kaulaksanakan, Sam Hui!” perintah Ketua Wu.
“Baik.” Sam Hui memberi hormat sebelum pergi meninggalkan ruangan.
Wie Yun Cun menghembuskan napas.
Ketua Wu menoleh. “Ada apa, Yun Cun?”
__ADS_1
Dengan kaget, Wie Yun Cun menoleh. “Tidak apa, Ketua. Hanya....”
“Hanya apa?”
“Peristiwa ini menunjukkan betapa berbahayanya mempercayai seseorang. Buktinya Cheng Sam yang sudah sedemikian lama mengabdi dan dipuji-puji kesetiaannya bisa mengkhianati majikannya,” kata Wie Yun Cun penuh arti.
Kening Ketua Wu berkerut. “Kau mempunyai maksud tertentu?”
“Tentu Ketua sudah tahu apa yang aku maksudkan.”
Kening Ketua Wu berkerut semakin dalam.
***
“Bukit Merak mendapat musibah?” seru Sen Khang.
Ia dan Ouwyang Ping tengah berbicara dengan Kui Fang di taman kala Sam Hui bergegas melewati mereka dan memanggil anak buah yang kebetulan melintas untuk memberi perintah. Awalnya Sen Khang tidak terlalu memperhatikan perintah itu. Namun mendengar Bukit Merak disebut-sebut, ia menjadi waspada.
Sam Hui menoleh dan menghampiri. “Benar, Saudara Luo. Kabarnya Tuan Chang terluka oleh racun dan harta benda mereka dijarah habis-habisan.”
Sen Khang dan Ouwyang Ping berpandangan kaget.
Kui Fang mengerutkan kening. “Apa sudah tahu siapa yang melakukannya, Paman?”
“Pasti Cheng Sam!” rutuk Sen Khang.
Sam Hui terkejut. “Memang betul itu orangnya!” serunya. “Saudara Luo mengenalnya?”
Sen Khang menggeram. “Bukan cuma kenal. Kami pernah berseteru dengannya di masa lalu!”
“Jadi kalian bermusuhan. Tentunya kau pernah berhadapan dengannya dan tahu bagaimana rupanya!” Sam Hui berkata gembira.
“Tentu saja. Mengapa memangnya?”
“Pendekar Sung mengirimkan kabar kepada semua pendekar di Dunia Persilatan dan meminta kami mencari keberadaan Cheng Sam. Masalahnya kami tidak mengenalnya dan tidak tahu bagaimana rupa orang itu. Jika kau bisa melukiskan rupanya, hal itu akan sangat membantu,” jelas Sam Hui.
Sen Khang mengangguk-angguk.
“Cheng Sam bertubuh sedang, tidak terlalu tinggi. Badannya agak gempal. Ia berjenggot kelabu tetapi tanpa kumis. Hidungnya agak bengkok dan matanya sipit. Menurutku, sorot matanya agak licik. Salah satu ciri yang masih kuingat sampai sekarang adalah adanya tanda berwarna hitam di dekat telinganya.” Sen Khang berusaha mengingat-ingat.
Sam Hui mengingat informasi ini dengan gembira. “Kau sangat membantu. Aku pergi dulu. Permisi, Nona-nona.” Ia pun pergi dengan terburu-buru.
Ouwyang Ping tercenung. “Rupanya Fei Yu sedang dalam masalah.”
__ADS_1
“Benar. Dia pasti butuh bantuan kita,” angguk Sen Khang.
“Siapa Fei Yu?” tanya Kui Fang. Ia tidak tahu menahu akan Bukit Merak maupun berbagai masalah Dunia Persilatan umumnya karena hidupnya sangat terlindung.
“Chang Fei Yu adalah putra pemilik Bukit Merak. Dia teman kami,” jawab Sen Khang. “Dan dia sedang kesusahan saat ini.”
“Sebaiknya kita pergi ke sana dan mencaritahu apa yang dapat kita lakukan, Kak,” usul Ouwyang Ping sambil berdiri.
Sen Khang mengangguk. “Ya. Kau benar, Ping-er.”
Kui Fang ikut berdiri. “Bolehkah aku ikut kalian ke Bukit Merak?”
Sen Khang dan Ouwyang Ping berpandangan. Lalu Sen Khang menatap gadis itu. “Kami tidak berani mengajakmu, Kui Fang. Ayahmu tidak akan mengizinkan.”
“Aku akan meminta izin dari ayahku,” kata Kui Fang tenang.
Sen Khang dan Ouwyang Ping tidak bisa mengatakan apa-apa saat gadis itu berbaik dan pergi untuk menghadap ayahnya.
Tentu saja seperti dugaan Sen Khang, Ketua Wu tidak mengizinkan putrinya meninggalkan partai. Namun Kui Fang berargumentasi dengan tenang dan membalikkan setiap kata ayahnya dengan suara lembut namun membujuk.
“Ayah, aku sudah dewasa dan ingin mencari pengalaman di dunia luar. Bagaimana aku dapat mengetahui segala macam hal bila aku terus terkurung di tempat ini?” bujuk Kui Fang .
“Dunia luar bukan tempat yang menyenangkan seperti pikiranmu!” seru Ketua Wu.
“Dengarkan kata-kata ayahmu, Kui Fang!” tegur ibunya.
“Ayah,” senyum Kui Fang lembut. “Aku ingin pergi bukan hanya untuk mencari pengalaman. Aku ingin datang sebagai putri ayah dan memberikan simpatiku kepada Tuan Chang. Beliau sedang tertimpa kesusahan dan alangkah baiknya bila kita sebagai sesama anggota Dunia Persilatan memberikan perhatian kita. Dan beliau akan semakin merasa dihargai bila yang datang adalah anggota keluarga kita sendiri dan bukan hanya utusan saja.”
Ketua Wu tercenung.
“Itu akan membuat partai kita semakin harum di mata dunia luar, bukan?”
Ucapan Kui Fang masuk akal. Ketua Wu berpandangan dengan istrinya yang menggeleng-geleng cemas. Namun akhirnya ia mengangguk juga.
“Baiklah, kau kuizinkan,” kata Ketua Wu.
Senyum Kui Fang mengembang lebar.
“Tetapi kau harus berjanji satu hal,” tekan Ketua Wu.
“Apa itu, Ayah?”
“Ayah tahu betul bahwa kau bukan hanya ingin pergi ke Bukit Merak. Kau juga ingin mengembara untuk memperluas pengalaman. Itu juga Ayah izinkan. Tetapi berjanjilah bahwa kau tidak akan terlalu lama pergi dan membuat kami semua mengkhawatirkanmu!”
__ADS_1
Wajah Kui Fang berseri-seri. “Ayah memang selalu penuh pengertian. Terima kasih, Ayah!”