Suling Maut

Suling Maut
Cemburu


__ADS_3

Malam itu Ouwyang Ping tengah duduk di taman sambil memetik harpanya pelan-pelan. Wajahnya kosong, namun sepasang matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. Ia selalu seperti itu saat sedang sendirian dan tak seorang pun yang memperhatikannya. Benaknya dipenuhi dengan berbagai masalah dan ia tidak suka membaginya dengan orang lain, termasuk keluarganya sekalipun.


Sen Khang—yang tidak dapat tidur—mendengar dentingan harpa yang lembut, dan ia memutuskan keluar. Ia mendapati Ouwyang Ping tengah melamun di taman.


Selama beberapa lama, Sen Khang hanya diam saja. Ia tak mau mengusik gadis itu. Hatinya sedih melihat betapa murung dan kesepian tampaknya gadis itu. Ia ingin sekali menghiburnya. Namun ia menyadari, tak ada satu kata penghiburan pun yang akan dapat membuat gadis itu melupakan kepedihannya.


Ouwyang Ping menyadari kehadiran seseorang di belakangnya. Ia menghentikan permainan harpanya dan menoleh.


“Kakak Luo,” tegurnya.


Sen Khang menghampiri. “Tidak bisa tidur, Ping-er?”


Ouwyang Ping mengangguk.


Tanpa disuruh, Sen Khang duduk di kursi di sebelah Ouwyang Ping. “Malam yang indah.”


“Ya.”


Sen Khang menghela napas. “Kau tahu...,” mulainya, “aku memikirkan perkataanku beberapa hari yang lalu dan aku merasa menyesal sekali karena begitu tidak peka akan perasaanmu. Salah satu kekuranganku adalah aku ini terlalu berterus terang hingga tak menyadari bahwa keterusteranganku kadang bisa membuat orang terluka. Aku minta maaf.”


Perkataan itu mengejutkan Ouwyang Ping. Seketika ia menggeleng. “Jangan minta maaf, Kakak Luo. Hal itu bukan masalah besar.”


“Itu masalah besar!” Sen Khang berkeras. “Aku telah menyakitimu.”


“Kakak Luo, kau tidak menyakitiku. Kalau ada orang yang membuatku sakit, maka itu adalah diriku sendiri. Aku sudah memikirkan perkataanmu waktu itu dan kurasa... kurasa kau mungkin tidak salah. Mungkin tanpa kusadari aku memang seperti itu. Aku belum bisa sepenuhnya melupakan impian masa laluku....”


Kejujuran ini mengejutkan. Sen Khang terpaku.


Ouwyang Ping mendesah. “Sayangnya, walau aku sudah menyadarinya, hatiku... hatiku belum sepenuhnya menerima. Butuh lebih banyak waktu bagiku untuk bisa melupakan masa lalu. Untuk menyadari... Kakak Wan adalah kakakku....” Suaranya sedikit bergetar kala mengucapkan kalimat terakhir. Namun sorot matanya tampak tegar dan penuh tekad. Ada ketabahan yang memilukan di sana.


Sen Khang menghela napas. Kemudian ia menyentuh lengan Ouwyang Ping dengan lembut.


Gadis itu tersentak dan memperhatikan tangan yang menyentuh lembut lengannya itu dengan perasaan kacau balau. Ia menengadah menatap mata Sen Khang. Mata itu bersinar lembut dan penuh perhatian. Bukan itu saja, mata itu juga memancarkan kemesraan yang melimpah.


Sentuhan tangan Sen Khang hangat, namun tidak membuat hatinya bergetar. Berbeda dengan perasaannya dulu tatkala Chien Wan menyentuhnya.


Tidak mudah bagi Ouwyang Ping untuk melupakan kenangan itu. Lebih sulit lagi untuk jatuh cinta pada orang lain. Ia menghormati dan menghargai Sen Khang. Namun untuk mencintainya? Itu suatu hal yang tidak mudah untuk dilakukan.


***

__ADS_1


A Ming menyandarkan tubuhnya di tembok yang membatasi taman dengan bangunan rumah. Wajahnya pucat dan sepasang matanya basah. Perasaannya terpukul dengan begitu dalam menyaksikan kemesraan kedua sejoli di taman. Ia tidak dapat mendengarkan mereka, namun berdasarkan apa yang dilihatnya ia menduga mereka tengah saling menyatakan cinta. Ia tidak menyangka dirinya akan dilanda kecemburuan yang mengoyak-ngoyak dada.


Sejak pertama bertemu dengan Sen Khang, ia terpesona dengan kharisma dan ketampanan Sen Khang. Itulah salah satu alasan mengapa ia membatalkan niatnya menjadi biksuni—alasan yang paling mendasar. Biksuni tidak semestinya jatuh cinta pada seorang pria. Itulah yang dirasakannya.


Selama dua tahun ia berjuang memperbaiki penampilan serta mempelajari ilmu silat supaya dapat mengimbangi Sen Khang. Ia ingin Sen Khang terpesona padanya saat melihatnya berubah dari seorang gadis berpenampilan seperti biksuni menjadi seorang gadis cantik dan terpelajar.


Kala bertemu Sen Khang kembali dan melihat kekaguman di matanya, hatinya melambung bahagia. Namun saat melihat Ouwyang Ping, melihat kecantikan dan keanggunan gadis itu, melihat perhatian Sen Khang terhadapnya, ia tahu semua perjuangan dan perasaan yang dipendamnya itu sia-sia.


Kepedihan mengoyak dadanya, membuatnya ingin menjerit. Namun sejak kecil, ia diajarkan untuk menyimpan semua perasaan dalam hati. Pantang bagi seorang biksuni untuk menampilkan emosi di muka umum. Maka ia menelan jeritan dan air matanya.


Masihkah ada harapan baginya?


A Ming melihat Sen Khang bergerak meninggalkan Ouwyang Ping. Ia tidak ingin pemuda itu melihatnya, maka ia cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Namun gerakannya kurang cepat karena Sen Khang lebih dulu melihatnya.


“Nona Ming,” tegur Sen Khang. “Malam-malam begini mengapa kau belum tidur?”


A Ming berbalik. Ia lupa matanya masih basah dan merah. “Aku... belum mengantuk.”


Sen Khang mengerutkan kening. “Kau habis menangis, ya?”


A Ming menggeleng dan cepat-cepat menunduk untuk menyeka air matanya.


A Ming kembali menggeleng. “Tidak ada.”


“Jika ada yang mengganjal di hatimu, sebaiknya kau mengatakannya. Keresahan yang dipendam akan menjadi penyakit.” Dengan ramah Sen Khang menepuk bahu gadis itu, tanpa menyadari A Ming menjadi sesak napas karena perlakuan itu.


Jantung A Ming memukul kencang. Sekarang saatnya!


“Tuan Luo....”


“Panggil saja namaku,” potong Sen Khang cepat.


A Ming menelan ludah dan memulai kembali, “Sen Khang.”


“Ya?”


“Apakah... apakah kau dan Nona Ouwyang... punya hubungan...?” A Ming terbata-bata.


“Maksudmu?” Sen Khang tertawa kecil.

__ADS_1


“Kau kelihatan sangat memperhatikan dia.”


“Memangnya salah, ya? Aku mengenal Ping-er sejak lama. Aku sangat menyukainya dan menyayanginya.”


“Melebihi gadis lain?” A Ming tergagap.


Sen Khang mengangkat bahu, berpikir-pikir. Ia masih belum menyadari keanehan pertanyaan A Ming. “Ping-er itu sangat istimewa. Dia berbeda dengan gadis lain yang pernah kukenal.”


“Bagaimana denganku?” tanya A Ming pelan. Wajahnya merah padam.


Sen Khang terpaku. Tanpa sadar ia mundur.


A Ming menatapnya dengan terluka.


Sebuah pengertian menghantam benak Sen Khang, membuatnya terperanjat. Ia sama sekali tidak menyangka A Ming akan memiliki perasaan romantis terhadapnya! Apa yang telah dilakukannya? Apakah mungkin selama ini ia pernah sekali saja memberikan harapan pada A Ming? Tetapi... cinta bisa muncul di mana saja dan terhadap siapa saja. Ia tidak memberi harapan pada A Ming. Namun gadis itu ternyata menyimpan cinta terhadapnya.


A Ming menunduk. “Aku tidak bermaksud....”


“Tidak apa,” potong Sen Khang. Ia pun tersenyum kembali dengan ramah.


A Ming mengangkat wajahnya kembali.


“Sebenarnya, di antara kami hanya ada persahabatan....”


“Benarkah?” Wajah A Ming langsung bersinar.


Tetapi Sen Khang mengerutkan keningnya. “Namun aku memang menyukainya lebih dari sekadar teman. Aku berharap kelak dia akan menerima perasaanku.”


Mendengar hal ini, A Ming kembali merasa amat terpukul. Bibir bawahnya mulai bergetar. Hatinya amat sakit.


Sen Khang menghela napas. “Nona Ming, aku mengerti perasaanmu. Aku sangat tersanjung kau menyukaiku. Tetapi aku tidak bisa membalasnya. Aku tidak ingin bersikap jahat terhadapmu dan menyakitimu seperti ini. Aku sendiri tidak mengerti mengapa kau menyukaiku.”


“Aku... kau sangat baik padaku....” Mata A Ming basah.


“Maaf jika aku terkesan memberi harapan padamu. Aku selalu ingin bersikap baik terhadap siapa pun. Tidak kusangka sikap baikku akhirnya malah membuatmu terluka.” Sen Khang menatap gadis itu dengan pandangan menyesal.


A Ming tidak sanggup lagi berada di sana. Ini sangat menyakitkan baginya. Cintanya ditolak secara lugas seperti itu! Bagi seorang gadis, hal itu amat sangat melukai perasaan. Ia mulai berlari menjauh.


Ia tidak tahu apakah ia bisa melupakan Sen Khang!

__ADS_1


Sen Khang memandangi kepergiannya dengan sedih.


__ADS_2