Suling Maut

Suling Maut
Pertarungan


__ADS_3

Chien Wan tidak sempat tiba di kamar Cheng Sam karena tiba-tiba ia dikepung oleh puluhan anggota Bukit Merak yang berpakaian serba kuning. Dan di tengah-tengah mereka ada seorang pria sebaya Cheng Sam yang merupakan anak buah kepercayaan Cheng Sam. Namanya Kai Tung Lok.


“Rupanya kau berhasil meloloskan diri. Mana teman-temanmu?” bentak Kai Tung Lok.


“Bukan urusanmu.”


“Kau cari mati!”


Chien Wan tidak menjawab. Wajahnya tampak murung dan kelabu, pucat karena menahan kemarahan. Dia bukanlah orang yang suka menunjukkan perasaan. Namun kehilangan sulingnya membuatnya nyaris tak bisa menahan diri.


Kai Tung Lok memberi isyarat. “Serang dan tangkap! Hidup atau mati!” perintahnya pada anak buahnya.


Anak buahnya kira-kira berjumlah lima puluh orang. Mereka segera bergerak untuk mengepung Chien Wan. Mereka semua bersenjatakan golok besar yang berkilat-kilat mengerikan. Agaknya golok-golok itu tajam sekali!


Chien Wan menyambut serangan itu dengan gerakan yang amat lihay. Mereka semua ternyata lumayan hebat. Mereka bergerak dengan gerakan-gerakan yang cukup terlatih. Chien Wan sendiri cukup tangguh. Ilmu silatnya sudah cukup tinggi dan merupakan ahsil latihan selama bertahun-tahun. Namun ia tidak terlatih menggunakan tangan kosong, ditambah lagi ia belum berpengalaman. Dan lawan–lawan yang dihadapinya—terutama Kai Tung Lok—merupakan orang-orang yang telah lama berkecimpung di Dunia Persilatan. Pengalaman mereka banyak. Mereka sering melihat ilmu-ilmu lain di Dunia Persilatan. Lagi pula jumlah mereka banyak, sedang Chien Wan hanya sendirian. Sungguh merupakan pertempuran yang sangat tidak seimbang.


Chien Wan mulai kewalahan.


“Chien Wan, tanpa sulingmu kau bukan apa-apa!” ejek Kai Tung Lok.


Chien Wan tak menanggapinya. Ia sudah mandi keringat, namun belum juga berhasil melumpuhkan semuanya. Sekitar sepuluh orang sudah jatuh olehnya, namun yang lain masih banyak. Tangan dan kakinya sudah sangat letih dan ia sudah mengerahkan banyak tenaga. Namun ia tak boleh menyerah.


Traaangng!!


Terdengar suara denting yang sangat melengking dan membuyarkan konsentrasi para penyerang Chien Wan. Mereka terpaksa mundur untuk menutupi telinga.


Chien Wan menoleh. “Ping-er!”


“Kakak Wan, tangkap!”

__ADS_1


Seberkas sinar hitam melayang ke arah Chien Wan. Chien Wan melompat dan bersalto di udara sebelum menyambutnya dengan gembira. Suling Bambu Hitam sudah di tangannya lagi! Segera ia mendekatkan lubang tiup ke mulutnya.


“Ping-er, sumbat telingamu!” seru Chien Wan.


Teriakan Chien Wan itu percuma saja karena sebelum tiba di sana, Ouwyang Ping telah membagikan sumbat khusus pada Sen Khang dan Fei Yu. Mereka telah menggunakannya sebelum tiba di sana. Mereka tahu betul bahwa suara suling Chien Wan sanggup memecahkan genderang telinga, bahkan sanggup meledak-ledakkan benda di bumi!


Chien Wan menempelkan bibirnya dan sebelum semua lawannya menyadari apa yang terjadi, suara suling sudah melengking membunyikan nada-nada tinggi yang menyakitkan. Semua anak buah Bukit Merak yang tadi mengeroyoknya berusaha menyumbat lubang telinga dengan jari masing-masing. Percuma saja. Suara itu menembus genderang telinga mereka dengan sangat menusuk sehingga semua menjerit dengan wajah menampakkan kesakitan yang luar biasa.


“Aaa...!! Hentikan! Tolong hentikan!” jerit mereka bersamaan.


Chien Wan tak peduli dengan jeritan-jeritan minta tolong itu. Ia terus meniup sulingnya dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Wajahnya penuh keringat karena konsentrasinya dicurahkan sepenuhnya dalam permainan suling mautnya ini.


Makin lama, suara suling makin menusuk. Chien Wan mencurahkan seluruh perasaan frustrasi yang dirasakannya sejak ia mendapati bahwa sulingnya dan Ouwyang Ping hilang dari sisinya. Ia tidak melampiaskan kemarahannya dengan lugas seperti yang lain, melainkan memendamnya dalam hati. Sekarang semua dilampiaskan dalam permainan sulingnya. Dan hasilnya mengerikan!


Pohon-pohon bergoyang seolah ada gempa. Daun-daun berguguran dan ranting-ranting patah. Batu-batu yang ada di sekitar mereka terangkat oleh gema suara yang sangat keras dan meledak di angkasa.


Suara itu juga menembus sumbat khusus yang dipakai oleh teman-temannya. Padahal sumbat itu mampu menahan suara sekencang apa pun. Ouwyang Ping merasa kesakitan, demikian pula yang lain.


Seruan itu mampu menyadarkan Chien Wan yang tengah murka. Ia menghentikan tiupan sulingnya. Ia menarik napas dan memandang berkeliling. Ia sangat terkejut melihat akibat yang ditimbulkan oleh permainan sulingnya. Pengeroyoknya yang berjumlah sekitar lima puluh orang, ditambah Kai Tung Lok, bergelimpangan dengan darah mengalir dari hidung dan mulut. Bahkan sebagian besar dari mereka pingsan. Daun-daun dan ranting-ranting pohon berserakan di tanah. Batu-batu hancur membentuk serpihan-serpihan yang tersebar di tanah yang mereka pijak.


Chien Wan terguncang, ngeri dengan perbuatannya sendiri. Ia telah mencurahkan seluruh emosinya dalam permainan sulingnya. Amarah, kebencian, dan kepedihan yang ditahannya meledak tak terkendali. Ia memejamkan mata. Ya Tuhan... seharusnya aku tidak membiarkan amarah dan dendam menguasai diriku. Seharusnya aku lebih mampu mengendalikan diriku. Kalau saja Ping-er tidak memanggilku... aku pasti sudah membunuh mereka semua dengan dingin. Aku tidak ada bedanya dengan mereka. Ampunilah kekhilafanku, Tuhan.... Chien Wan mengusap wajahnya penuh sesal.


Ouwyang Ping mendekat. Tangan kanannya menyentuh lengan Chien Wan yang mengeras. “Kakak Wan, kau tak apa-apa?”


Chien Wan membuka mata, dilihatnya wajah gadis yang dicintainya itu begitu khawatir, begitu cemas. Chien Wan meraih tangan kanan Ouwyang Ping yang menyentuh lengannya. Digenggamnya jemari gadis itu dengan hangat dan penuh rasa terima kasih. Beberapa saat lamanya mereka berpandangan. Dan sinar mata mereka cukup membuktikan ikatan batin yang dalam dan kuat di antara mereka. Itu saja sudah cukup. Cinta tak perlu diungkapkan, cukup dirasakan. Itu jauh lebih berarti.


“Chien Wan.” Sen Khang menghampiri sambil mencopot sumbat telinganya. Ia meringis karena genderang telinga agak nyeri.


Chien Wan menatapnya dengan menyesal. “Maaf.”

__ADS_1


“Maaf?” Fei Yu bergegas menghampiri. “Kau sudah merusak taman Bukit Merak yang indah dan yang kaubilang cuma maaf?” gerutunya. “Kalau tahu begini aku takkan mengambilkan suling itu dari kamar Cheng Sam!”


“Kau yang menemukan sulingku?” Chien Wan mengalihkan pandang pada Fei Yu.


Fei Yu mengangkat bahu.


“Benar, Kak. Tadi dia menyusul kami untuk mengembalikan sulingmu. Tapi karena kau tidak ikut ke perbatasan, kami segera kembali untuk menjemputmu,” kata Ouwyang Ping.


“Terima kasih,” kata Chien Wan pelan.


“Sudahlah! Mana pelayanku?” tanya Fei Yu.


“Tadi dia bilang ingin ke kamarmu untuk mengecek apakah penjaga yang kalian buat pingsan sudah sadar,” jawab Chien Wan.


Seketika wajah Fei Yu berubah khawatir. “Suara sulingmu pasti membuatnya sakit juga.”


“Orang dengan kepandaian rendah biasanya malah selamat dari suara melengking. Guru mengatakan padaku, orang yang tidak memiliki kepandaian atau yang kepandaiannya rendah biasanya sudah pingsan sebelum daya lengking suara alat musik sempat merusak genderang telinga,” kata Chien Wan menenangkan. Ia menunjuk sebagian anak buah Cheng Sam yang pingsan. “Mereka lebih beruntung dari yang masih sadar. Setelah sadar nanti mereka tidak akan kenapa-kenapa. Sementara yang lain akan merasa sakit selama beberapa hari. Tetapi nanti akan sembuh.” Chien Wan menghela napas. “Tapi yang genderang telinganya pecah akan tuli untuk selamanya.”


“Kalau begitu aku akan mengecek A Nan. Kalian sebaiknya segera pergi. Aku mengkhawatirkan Ting Ting dan yang lainnya. Siapa tahu mereka menemukan halangan,” ujar Fei Yu serius. “Kalian masih ingat jalannya, kan?”


Sen Khang mengangguk. Lalu ia memberi hormat dengan cara pendekar, diikuti oleh Chien Wan dan Ouwyang Ping. “Terima kasih atas bantuanmu selama ini.”


Telinga Fei Yu memerah. “Sudahlah!” Lalu ia beranjak pergi.


Chien Wan. Sen Khang, dan Ouwyang Ping beranjak untuk meninggalkan tempat itu. Namun suara erangan dari beberapa orang yang masih sadar menghentikan langkah Ouwyang Ping. Gadis itu merasa sangat kasihan mendengar erangan-erangan itu. Tetapi ia tahu bahwa rasa sakit itu akan hilang dalan beberapa hari.


Chien Wan melihat wajah Ouwyang Ping dan ia mengerti sepenuhnya akan perasaan gadis itu.


“Tidak apa-apa,” hibur Chien Wan. “Jangan cemas.”

__ADS_1


Ouwyang Ping mengangguk patuh.


Mereka pun pergi meninggalkan kediaman Dewa Seribu Wajah.


__ADS_2