
Wu Kui Fang sedang berada di halaman Bukit Merak bersama Tuan Chang, Sam Hui, dan Pendekar Sung. Ia tengah mendengarkan pembicaraan mereka mengenai masalah yang mereka hadapi saat ini. Dengan seksama, didengarkannya rencana mereka untuk membersihkan nama baik Chien Wan.
“Apa Paman bertiga yakin ini bisa dijalankan?” tanya Kui Fang khawatir.
“Pasti bisa!” sahut Tuan Chang bersemangat. “Aku ahlinya dalam masalah seperti ini.”
“Tetapi, bagaimana jika keadaan malah bertambah buruk setelah perbuatan kita?”
Sam Hui menepuk lengan nonanya. “Jangan cemas, Nona. Rencana ini memang berisiko. Namun bila kita semua bekerja sama dan menyusunnya serapi mungkin, rencana ini pasti berhasil,” hiburnya.
Pendekar Sung menambahi, “Ya, Kui Fang. Kau jangan khawatir.”
Kui Fang menghela napas panjang.
Saat itu Fei Yu datang bersama Ouwyang Ping. “Lihat siapa yang bersamaku!” serunya riang.
Mereka semua menoleh dengan waspada.
Kui Fang langsung berdiri. “Ping-er!”
Tuan Chang—yang belum pernah melihat Ouwyang Ping—memandang gadis cantik itu dengan penuh minat.
Pendekar Sung tersenyum menyambut gadis itu. “Nona Ouwyang, lama tidak jumpa.”
Ouwyang Ping memberi hormat. “Apa kabar, Pendekar Sung?”
“Panggil saja Paman,” tukas Pendekar Sung ramah.
Fei Yu memperkenalkan Ouwyang Ping pada ayahnya.
Kui Fang terpaku sambil mengawasi gadis itu. Ia tahu bahwa dulu Ouwyang Ping pun meragukan kejujuran Chien Wan. Apa yang terjadi? Mungkinkah Ouwyang Ping sudah menyadari bahwa dugaannya dulu itu keliru, bahwa Chien Wan tidak mungkin melakukan hal semacam itu?
Agaknya Ouwyang Ping menyadari ketegangan Kui Fang. Ia menatap Kui Fang dengan sorot mata sedih. Kepercayaan gadis itu kepada Chien Wan amatlah besar. Keyakinannya terhadap Chien Wan mengalahkan siapa pun. Bahkan ia sendiri merasa ragu akan kebersihan kakaknya, padahal ia sudah mengenal Chien Wan dengan baik.
“Kui Fang.”
__ADS_1
“Kau sudah percaya?” tanya Kui Fang tanpa basa-basi.
Ouwyang Ping mendesah. “Aku... aku ingin sekali percaya bahwa Kakak Wan tidak bersalah. Tetapi... masa Ting Ting berbohong?” tanyanya sedih.
Kui Fang mendesah. “Baiklah. Kau memang pantas mencurigainya. Tetapi, dengarlah penjelasan ini. Kakak Wan menceritakannya padaku ketika aku bersamanya sesaat setelah kami pergi meninggalkan Wisma Bambu.”
Ouwyang Ping terbelalak mendengarkan cerita Kui Fang tentang seorang pria yang menyamar menjadi Chien Wan, yang berpapasan dengan Chien Wan persis pada saat Chien Wan hendak memasuki Wisma Bambu. Wajahnya merah padam. Jika ia tidak mengenal Chien Wan, mungkin ia akan menganggap cerita itu bualan semata. Namun Chien Wan tidak pernah bohong.
“Me... mengapa dia tidak mengatakan apa-apa waktu itu?” gagapnya.
“Mana bisa?” sergah Kui Fang kesal. “Kakak Luo memukulinya dan tidak membiarkan dia menjelaskan sepatah kata pun!”
Ouwyang Ping menggigit bibirnya dengan hati pedih.
Pendekar Sung memperhatikan kedua gadis itu dan menenangkan mereka. “Bagaimana pun nasi sudah menjadi bubur. Keadaan yang lalu tidak bisa diubah lagi. Sekarang yang harus kita lakukan adalah mengupayakan untuk membersihkan nama baik Chien Wan. Setelah nama baik Chien Wan bersih lagi, semua pendekar tidak akan mengejarnya. Kemudian kita semua akan mulai mencari pelaku sebenarnya.”
“Betul!” angguk Fei Yu. Ia menatap Ouwyang Ping. “Kami sedang merencanakan sesuatu untuk membuka pikiran Sen Khang. Apakah kau mau membantu kami melaksanakan rencana ini?”
Ouwyang Ping memejamkan matanya untuk mengusir perasaan bersalah di hatinya. Lalu ia kembali membuka matanya dan menatap mereka semua dengan tegar. “Ya, aku bersedia.”
***
Berita mengenai Wisma Bambu sudah terlanjur menjadi buah bibir di kalangan pendekar. Mereka semua merasa berkewajiban untuk meringankan penderitaan anggota Wisma Bambu yang masih tersisa—dalam hal ini Luo Sen Khang, Luo Ting Ting, dan Chi Meng Huan. Selama ini mereka berusaha menangkap pelakunya—yang mereka kira Chien Wan, namun tidak pernah berhasil. Pemuda itu selalu berhasil meloloskan diri berkat kepandaiannya meniupkan nada-nada yang sanggup memecah konsentrasi mereka.
Mereka tidak tahu lagi bagaimana caranya melakukan sesuatu untuk meringankan beban ketiga orang muda itu. Maka ketika tersiar kabar peringatan 40 hari kematian Tuan dan Nyonya Luo, mereka berencana untuk pergi ke sana mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya.
Kabar ini pun didengar oleh Ouwyang Kuan dan keluarganya.
“Kita harus pergi ke sana, Kakak Kuan!” kata Sui She tegas.
Ouwyang Kuan ragu-ragu. Sebab walaupun mereka sudah mau menerima Chien Wan tidak bersalah, bukan berarti Sen Khang dan semua pendekar mau menerimanya. Bahkan ia khawatir dalam kemarahannya Sen Khang akan lupa diri dan lupa akan hubungan kekeluargaan mereka. Bukan mustahil Sen Khang akan membalaskan dendamnya dengan mencelakakan mereka.
“Kakak Kuan! Aku harus pergi ke sana!” desak Sui She. “Sewaktu aku sakit, mereka telah merawatku. Belum sempat aku membalas budi, mereka sudah tiada. Setidaknya izinkan aku memberikan penghormatan terakhir pada mereka!”
“Sui She, masalahnya....”
__ADS_1
“Aku tahu!” potong Sui She terisak. “Sen Khang dan Ting Ting pasti tidak mau menerimaku. Mereka akan sangat membenciku karena menganggap anakkulah yang bersalah. Tetapi Chien Wan tidak bersalah. Setelah kujelaskan, mereka pasti mengerti.”
“Tidak semudah itu, Sui She,” geleng Ouwyang Kuan.
“Pokoknya aku mau pergi!”
Ouwyang Kuan tidak tahu bagaimana caranya menasihati istrinya. Ia putus asa mencegah niat Sui She.
“Kita bisa menjaga diri,” kata Sui She lagi. Kali ini sambil menangis pilu. “Aku tidak akan melakukan sesuatu yang gegabah seperti mencoba untuk meyakinkan mereka bahwa Chien Wan tidak bersalah. Tetapi bagaimana pun caranya, kita harus pergi!”
Akhirnya Ouwyang Kuan menyerah. “Baiklah kita pergi!”
Sui She terisak lega.
“Tetapi hanya kita berdua. A Lee tidak boleh ikut, apalagi Chien Wan. Kita juga jangan sampai menarik perhatian orang.”
“Ya, ya! Terserah kau saja!” angguk Sui She kuat-kuat.
Tuan Ouwyang Cu mendengar niat mereka dan tidak mencegah sama sekali. Ia setuju untuk mengasuh A Lee selama sepasang suami istri itu pergi. Lagi pula Siu Hung akan menemaninya, biar saja anak itu yang mengasuh A Lee!
Setelah berpamitan pada Tuan Ouwyang, sepasang suami-istri itu pun pergi. Mereka pergi hanya berdua. Mereka ingin menunjukkan bahwa kedatangan mereka adalah berniat untuk menyembahyangi arwah Tuan dan Nyonya Luo.
Tuan Ouwyang mengawasi A Lee yang tengah diasuh Siu Hung.
Sejak datang ke Lembah Nada beberapa hari yang lalu, Siu Hung sangat lengket dengan A Lee. Mereka selalu bermain bersama di lembah luas. Hanya berdua saja. Siu Hung tahu suasana hati kedua orangtua anak itu dan Chien Wan sedang kacau. Mereka tak punya waktu mengasuh A Lee. Maka Siu Hung yang mengambil alih pengasuhan A Lee.
Melihat Siu Hung hanya main-main saja, Tuan Ouwyang mengomel.
“He, Anak Nakal! Dari pada terus bermain-main, lebih baik kaulatih ilmu silatmu!” omelnya selalu.
Siu Hung akan mencibir. “Dasar cerewet,” gumamnya. Ia mendekat dengan malas-malasan. Sebetulnya Siu Hung sangat menyukai ilmu silat. Ia memiliki tulang baik serta bakat yang luar biasa. Sayangnya, ia lebih suka bermain dari pada latihan.
Sifat Siu Hung ini sangat dimengerti oleh Tuan Ouwyang. Kadang-kadang Tuan Ouwyang tak habis pikir. Mengapa tabiat anak ini sangat mirip dengannya? Cara anak itu mengejek, menyindir, dan mencibir, semuanya sangat mirip dengan dirinya sendiri. Bahkan sampai kemalasannya berlatih walau bakat yang dimilikinya sangat luar biasa. Semua itu adalah masa lalu Tuan Ouwyang sendiri.
Diam-diam, selain memperhatikan dan melatih Siu Hung, Tuan Ouwyang juga memperhatikan Chien Wan. ia menyadari kegelisahan cucunya itu.
__ADS_1
***