Suling Maut

Suling Maut
Kebencian yang Mendalam


__ADS_3

“Ha ha ha ha!!!!”


Semua orang di dalam ruangan itu memusatkan perhatian pada Meng Huan. Pandangan mata mereka penuh kengerian dan kegeraman. Orang ini benar-benar sudah gila!


Meng Huan mengangkat wajahnya dan tawanya menghilang. “Benar! Akulah yang melakukannya!”


“Oh!” Ting Ting tersengal-sengal menahan perasaannya. “Kau... kau...!” Dadanya berdebar, jantungnya memukul bertalu-talu. Perasaannya bercampur aduk. Marah, dendam, kecewa, tidak percaya, semua berbaur menjadi satu. Namun yang pasti, ia sangat terguncang. Meng Huan yang melakukannya! Meng Huan yang selama ini begitu baik...!


Sen Khang maju dan meraih adiknya, menyingkirkannya agar tak berada dekat-dekat Meng Huan. Pandangan matanya penuh amarah dan kepedihan. “Kau yang melakukannya?” bisiknya tak percaya. “Selama ini kau melakukan segalanya untuk kami dan Wisma Bambu. Kau juga mencintai Ting Ting. Kau... kau... yang melakukannya...?”


“Ya!” jawab Meng Huan sinis. “Aku memang merayu A Ming agar mau membantuku menghabisi nyawa 23 orang di Wisma Bambu! Aku menyamar menjadi Ouwyang Chien Wan agar dia yang dituduh melakukannya! Aku ingin kalian semua menderita!” Kini wajah Meng Huan amat menyeramkan. Sinar kejam terlukis di wajahnya. Matanya memancarkan kekejian yang belum pernah terlihat.


Suara tangisan Ting Ting meledak tak terkendali. Ia dipeluk oleh Ouwyang Ping dan Sui She.


“Mengapa...? Mengapa...?” jerit Ting Ting pilu.


Meng Huan mendengus tanpa rasa iba. “Mengapa? Kau harus menanyakannya pada dirimu sendiri!”


Ting Ting tersengal. Terpana.


“Sejak remaja, aku selalu mencintaimu. Tetapi dalam hatimu hanya ada si keparat Chien Wan!” kata Meng Huan geram. Lalu ia menoleh dan menatap Chien Wan dengan tajam dan sorot keji yang kini begitu gamblang dipamerkannya. “Semua orang di Wisma Bambu selalu memperhatikanmu. Semua orang menyukaimu. Aku tidak dianggap sama sekali!”


Chien Wan menggeleng. “Itu tidak benar. Semua orang juga memperhatikanmu. Kau hanya tidak pernah mensyukurinya!”


Meng Huan tertawa sinis. “Aku benci padamu, Ouwyang Chien Wan!” katanya tajam. “Itulah sebabnya aku ingin menimpakan seluruh kesalahan padamu agar semua orang mengejarmu! Yang tak pernah kuperhitungkan adalah kau mendapat banyak dukungan dari teman-temanmu!”


“Bajingan!” maki Sen Khang murka. “Mengapa kaubunuh orangtuaku yang selalu menyayangimu? Mengapa kaulakukan ini pada Ting Ting yang katanya kaucintai?”


Meng Huan menyeringai. “Karena mereka ingin membicarakan kemungkinan pernikahan Ting Ting dengan dia!” Ia menunjuk Chien Wan. “Padahal dulu mereka ingin menjodohkan aku dengan Ting Ting. Orang-orang yang tak punya pendirian itu harus dilenyapkan!”


“Keparat!” Sen Khang mencengkeram leher Meng Huan. “Kubunuh kau!”


Namun Meng Huan memiting tangan Sen Khang dan mendorongnya dengan gerakan sangat lihay sehingga mencengangkan orang-orang itu. “Jangan gegabah, Sen Khang! Ilmu silatku jauh lebih tinggi daripadamu sekarang!” ancamnya.

__ADS_1


“Kau...!”


Meng Huan menyeringai tajam. “Ada untungnya aku tahu Cheng Sam ayah kandungku. Dia merasa sangat bersalah karena telah meninggalkan aku sebatang kara. Dia membunuh Chi Kian, tetapi pada hari pemakaman Chi Kian dia mendatangiku dan menerangkan segalanya. Dia juga menjanjikanku bahwa dia akan menjadikan aku pendekar nomor satu. Dia menyerahkan sejumlah kitab sakti yang diambilnya dari Bukit Merak dan tempat-tempat lain. Maka aku mempelajarinya tanpa sepengetahuan siapa pun. Jangan dikira cuma Chien Wan saja yang punya rahasia!”


“Kau mempelajari Ilmu Pedang Bayangan!” sentak Fei Yu. “Dasar pencuri! Kau tidak berhak mempelajari pusaka kami!”


Meng Huan mendengus. “Chang Fei Yu! Kau adalah orang kedua yang kubenci setelah Ouwyang Chien Wan. Jangan pikir bahwa selama ini aku tak pernah meladenimu karena aku takut padamu! Ilmu silatku jauh lebih tinggi dari kau! Selain Ilmu Pedang Bayangan, aku juga mempelajari ilmu-ilmu lain dari sahabat-sahabat ayahku. Sekarang ini aku yang paling hebat dibanding kalian semua!”


“Binatang!” Fei Yu hendak menerjang, namun gerakannya ditahan oleh Chien Wan yang ingin mendengar lebih banyak lagi.


“Untung saja kau punya sepupu yang bodoh yang mau saja termakan hasutanku!” Meng Huan melirik A Ming yang pucat pasi. “Kalau dipikir-pikir, tidak heran Sen Khang tidak mau padamu! Selain kecantikan yang tak seberapa, kau juga tak bisa menggunakan otakmu,” ejeknya pedas.


“Kau kejam!” A Ming merangsek dan mendorong Meng Huan. “Orang jahat! Aku benci padamu!” tangisnya marah. Ia terus mendorong dan memukuli dada Meng Huan.


Plak!


Sebuah tamparan keras dari tangan Meng Huan menghentikan gerakan A Ming, membuat gadis itu terhuyung.


“Kurang ajar!” Tuan Chang melompat berdiri. Kemarahannya mendengarkan pembicaraan tadi semakin tersulut melihat cara Meng Huan memperlakukan keponakannya.


Tubuh A Ming gemetar hebat. “Aku... aku telah mencelakakan ayahku sendiri! Aku... aku....”


“Anak tak berbakti!” ejek Meng Huan.


“Manusia tak tahu balas budi!” bentak Sen Khang marah. “Orangtuaku begitu baik padamu. Dan ini balasannya! Kubunuh kau!” Ia menyerang dengan mengerahkan seluruh kepandaiannya.


Meng Huan tertawa mengejek. Diraihnya sehelai kain merah yang menghiasi ruangan, lalu ditangkisnya serangan Sen Khang. Kain di tangannya seolah mengeras. Dan begitu kain yang telah menjadi keras itu digerakkan, kain itu seolah menjadi berpuluh-puluh. Semuanya mengurung Sen Khang.


TARRR!!!


Sen Khang terpelanting terdorong oleh lecutan kain itu. Ia berusaha bangkit dan memegangi dadanya yang nyeri dengan rasa tak percaya.


“Kakak Luo!” Ouwyang Ping melesat menghampiri Sen Khang dan memegangi lengannya. “Kau tak apa-apa?”

__ADS_1


Sen Khang menggeleng-geleng.


“Luo Sen Khang, kau bukan tandinganku!” ejek Meng Huan pedas.


Tuan Ouwyang Cu yang sejak tadi diam saja, melompat mendekat dan berkacak pinggang. “Manusia bejat! Lawan aku kalau berani!”


Meng Huan mendengus. “Kau sudah tua bangka! Selayaknya masuk ke liang kubur! Jangan coba-coba menghalangiku, atau aku takkan segan-segan membunuhmu!”


“Eh, bocah besar mulut!” maki Tuan Ouwyang Cu. “Kau ini masih ingusan tapi sudah berani mengancam aku! Tahukah kau, waktu kau belum lahir aku sudah malang melintang di Dunia Persilatan!”


“Itu kan dulu! Sekarang kau hanya seorang kakek tua bangka yang lemah!”


“Sialan!”


Namun sebelum Tuan Ouwyang Cu menyerang, Chien Wan terlebih dahulu melompat menghalangi kakeknya. Dengan lembut ia mendorong kakeknya ke pinggir. Pandangan matanya memohon pengertian, dan Tuan Ouwyang Cu tidak membantah. Pria tua itu menyingkir.


Chien Wan melangkah ke hadapan Meng Huan.


“Chi Meng Huan, kau membenciku bukan? Kau mendendam kepadaku, kan? Karena itu akulah yang semestinya kausakiti. Mengapa kau tega menyakiti orang lain?”


Meng Huan tertawa keras. “Salahkan dirimu sendiri, Chien Wan! Kenapa kau harus ada di dunia ini? Kalau kau tidak ada, aku tak perlu membunuh orang lain. Semua ini salahmu!” Matanya mencorong tajam dan mengerikan.


“Kau sinting!” teriak Ting Ting. Dengan kalap dia menerjang Meng Huan. Gerakannya ini mengejutkan Meng Huan yang sama sekali tak menduga akan mendapat serangan membabi-buta dari Ting Ting. Ting Ting memukul dan menendang tak terkendali.


Meng Huan mengibaskan tangan. Ting Ting terpukul dan terlempar. Meng Huan kaget sekali. “Ting Ting...!”


Sebelum Meng Huan sempat menyentuh Ting Ting, Fei Yu terlebih dahulu melompat dan menyambut gadis itu. Ting Ting menangis dan meronta-ronta hendak menerjang Meng Huan lagi, namun Fei Yu menenangkannya. Ting Ting pun menyerah dan tersedu-sedu dalam pelukan Fei Yu.


Meng Huan melihat kejadian ini dengan kemarahan yang tidak terkira. Ia memandang Chien Wan, Fei Yu, dan A Ming bergantian dengan tatapan seram. Pandangannya seolah hendak menelan mereka. Gara-gara mereka rahasianya terbongkar! Kalau mereka tidak datang, tentu saat ini ia dan Ting Ting sudah resmi menjadi suami-istri. Dan tak ada lagi yang dapat mereka lakukan.


Saat itu terdengar suara yang sudah sangat mereka kenal.


“Anakku, jangan khawatir. Aku datang membantumu!”

__ADS_1


***


__ADS_2