
Setelah melakukan perjalanan selama beberapa hari, tibalah mereka di gerbang depan Lembah Nada. Ouwyang Ping sangat bahagia. Ia tersenyum puas sambil menghirup udara Lembah Nada sebanyak-banyaknya.
“Aku telah kembali!” seru gadis itu gembira.
Chien Wan dan yang lainnya tersenyum menyaksikan tingkah Ouwyang Ping.
Saat itu, Hauw Lam dan Kam Sien menghampiri mereka untuk bergabung dengan Fu Ming dan Lo Hian.
“Chien Wan, Nona Ping-er, selamat kembali ke rumah!” Empat Tambur Perak memberi hormat.
Chien Wan memberi hormat sementara Ouwyang Ping tersenyum manis.
Setelah itu, Empat Tambur Perak segera mendekat dan ribut menepuk-nepuk bahu Chien Wan. Memberi selamat kepadanya karena telah berhasil mengharumkan nama Lembah Nada dengan menunjukkan kebolehannya meniup suling pada pertemuan para pendekar. Julukan Suling Maut yang diterima Chien Wan kini sudah tersebar di kalangan Dunia Persilatan.
Empat Tambur Perak sangat heboh sehingga sulit bagi Chien Wan dan Ouwyang Ping untuk menyela. Untunglah saat itu terdengar suara lembut dan berwibawa menyela mereka.
“Empat Tambur Perak, beri mereka kesempatan bernapas.”
Serentak mereka semua menoleh. Ouwyang Kuan telah tiba di sana sambil menyunggingkan senyum haru. Matanya tampak berkaca-kaca melihat putrinya yang tampak sehat dan segar bagaikan bunga yang baru mekar. Selama ini ia begitu rindu pada putrinya. Betapa bahagia hatinya mendapati putrinya kembali dengan selamat.
Ouwyang Ping melihat ayahnya yang tersenyum bahagia. Ia menggigit bibirnya. Hatinya begitu bahagia bisa melihat ayahnya kembali. Air mata haru mengambang di sudut matanya yang indah. Ia melihat ayahnya mengembangkan kedua tangannya. Maka ia berlari hendak menyerbu ke dalam pelukan ayahnya. Namun ketika sudah dekat, ia berhenti tiba-tiba. Dengan canggung ia melihat harpanya. Bagaimana ia bisa memeluk ayahnya sambil memegang harpa?
Lo Hian menghampiri dan meraih harpa itu. Dikedipkannya matanya.
Ouwyang Ping tersenyum kecil dan membiarkan Lo Hian memegangi harpanya. Ia langsung menghambur ke dalam pelukan ayahnya tanpa ragu-ragu lagi. Pelukan ayahnya erat dan hangat, penuh kerinduan.
“Ayah!” bisik Ouwyang Ping terharu.
Ouwyang Kuan membelai-belai rambut Ouwyang Ping yang indah dan halus. “Ping-er, anakku.... Ayah rindu padamu,” ucap Ouwyang Kuan lembut dan penuh kasih sayang.
Ouwyang Ping mengangkat wajah untuk mengamati ayahnya dengan lebih jelas. “Ayah kurusan,” komentarnya. “Lihatlah, pipi Ayah sampai cekung begitu.”
Ayahnya tersenyum. “Ayah memikirkanmu,” katanya. Lalu ia menyentuh hidung putrinya dengan sayang. “Sebaliknya kau sendiri bertambah ceria. Apa kau tak pernah memikirkan Ayah, hm?”
“Ayah, aku memikirkanmu kok!” bantah Ouwyang Ping manja.
__ADS_1
Ouwyang kuan melepas pelukannya, namun ia masih merangkul pundak putrinya. Ia memandang Chien Wan yang masih berdiri agak jauh, tengah memperhatikan mereka saling melepas rindu.
“Sudah sewajarnya kalau kau tidak memperhatikan dan memikirkan ayahmu. Bukankah di sampingmu sudah ada Chien Wan?” goda Ouwyang Kuan.
Wajah Ouwyang Ping memerah. Dipukulnya lengan ayahnya dengan gemas. “Ayah!”
“Sebentar lagi kau akan meninggalkan Ayah untuk pergi bersamanya. Ayah akan kesepian karena kau adalah satu-satunya milikku sejak ibumu tiada. Ayah pasti akan merana,” keluh Ouwyang Kuan setengah bercanda. Bagaimana pun semua ini memang menjadi ketakutannya semenjak Chien Wan datang ke tempat itu dan menjalin hubungan dengan putrinya.
Tatapan Ouwyang Ping melembut. “Ayah jangan bilang begitu. Mana mungkin aku meninggalkan Ayah?”
Ouwyang Kuan tertawa. “Anak manis, aku cuma bergurau!”
Segera saja putrinya mencubit lengannya dengan gemas. “Ayah memang terlalu! Senang sekali menggoda aku!”
Ouwyang Kuan mengacak-acak rambut putrinya, lalu memberi isyarat pada Chien Wan agar mendekat.
Chien Wan pun mendekat. Ia memberi hormat. “Aku sudah kembali, Paman.”
“Terima kasih telah menjaga putriku dengan baik, Chien Wan,” kata Ouwyang Kuan dengan nada tulus.
“Guru di mana, Paman?”
“Ayahku sedang pergi entah ke mana. Biasalah, beliau memang senang menghilang. Kau ingat? Waktu kau datang ke tempat ini, beliau sedang mengembara. Kemudian tiba-tiba saja muncul. Kali ini pun pasti begitu. Tidak lama lagi pasti beliau muncul,” kata Ouwyang Kuan tenang.
Chien Wan mengangguk.
“Ayo kita masuk ke dalam!”
Mereka melangkah masuk ke dalam lembah dan terus menuju ke gedung. Namun sebelum mereka semua sempat bereaksi, sesosok tubuh berkelebat ke arah mereka dan langsung duduk di kursi di tengah ruangan. Sosok itu menyunggingkan senyum sinis yang sudah amat dikenal oleh mereka semua.
Mereka semua terkejut karena kemunculan tiba-tiba itu namun sama sekali tak merasa heran. Mereka sudah terbiasa dengan tingkah laku Tuan Ouwyang Cu.
Chien Wan mendekat sambil memberi hormat. “Guru, aku pulang.”
Tuan Ouwyang Cu mendengus. “Aku tahu kau sudah pulang, Anak Bodoh! Kalau kau belum pulang, mana mungkin kau ada di sini sekarang?!” ketusnya.
__ADS_1
Diam-diam semua orang tersenyum dalam hati. Mereka semua telah kenal tabiat Tuan Ouwyang Cu.
Ouwyang Ping mendekati kakeknya. “Kakek, mau dengar cerita kami selama pergi?” tanyanya penuh semangat.
Tuan Ouwyang Cu menguap dan mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. “Tak usahlah. Petualangan kalian pasti tidak menarik!”
Ouwyang Ping cemberut. “Kakek jahat!”
Tuan Ouwyang Cu tertawa mengejek. “Apa kau pikir kisah kalian disandera di Bukit Merak, diselamatkan Kelelawar Hitam, dan pergi ke Wisma Bambu itu menarik?”
Ucapan Tuan Ouwyang Cu membuat Chien Wan dan Ouwyang Ping kaget. Chien Wan menatap gurunya lekat-lekat dan seketika paham. Rupanya selama ini Tuan Ouwyang Cu mengikuti perkembangan mereka! Begitu mereka pulang, ia pun ikut pulang.
Mata Ouwyang Ping yang indah menyipit. Ia menoleh pada ayahnya. “Ayah, sejak kapan Kakek menghilang?”
Ouwyang Kuan berpikir sejenak. “Mmm... beberapa hari setelah kalian pergi,” jawabnya pelan karena ia mencoba untuk mengingat dengan cermat kapan persisnya Tuan Ouwyang Cu pergi.
“Kakek mengikuti kami!” seru Ouwyang Ping. Lalu ia tertawa. “Jadi ternyata Kakek mencemaskan kami, ya? Waaah, Kakek benar-benar baik, sampai-sampai waktu kami mengalami bahaya, Kakek tidak menolong!” sindirnya.
Tuan Ouwyang Cu berpura-pura melihat ke arah lain dengan salah tingkah.
Ouwyang Kuan terkejut. “Bahaya? Bahaya apa?”
Ouwyang Ping tertawa. “Bukan apa-apa, Yah. Kami mampu mengatasinya,” hiburnya. Lalu ia mulai bercerita tentang kejadian di pertemuan para pendekar, tentang kejadian di Bukit Merak, dan peristiwa lainnya yang terjadi. Chien Wan tidak menimpali sedikit pun, hanya memperhatikan gadis itu bercerita sambil tersenyum kecil.
Ouwyang Kuan dan Empat Tambur Perak mendengarkan dengan penuh minat. Mereka sangat terkesan dengan pengalaman Ouwyang Ping dan Chien Wan.
Tuan Ouwyang Cu menampakkan ekspresi bosan, namun sebenarnya ia tertarik juga. Diam-diam ia mendengarkan cerita itu dengan penuh perhatian. Ia memang mengikuti mereka secara diam-diam. Namun memutuskan untuk tak ambil bagian karena ingin melihat sejauh mana kemampuan mereka mempertahankan diri.
Hanya satu kali ia memutuskan untuk ikut campur, yakni ketika Ouwyang Ping yang dalam keadaan pingsan dibawa oleh orang Bukit Merak ke kamar Cheng Sam. Ia memalang pintu kamar Cheng Sam hingga orang itu harus melepaskan Ouwyang Ping sebentar untuk membuka palang. Ia sudah akan membawa Ouwyang Ping pergi kalau saja matanya tidak menangkap gerakan cepat seseorang yang langsung menyambar tubuh Ouwyang Ping dan harpanya.
Tentu saja Tuan Ouwyang Cu cemas. Ia menganggap Chien Wan dan kawan-kawan tidak apa-apa dan memutuskan untuk mengikuti orang berbaju hitam itu. Ia melihat cucunya dibawa ke sebuah gua. Namun ternyata orang itu tidak melakukan sesuatu yang kurang ajar, sebaliknya ia malah menolong Ouwyang Ping. Maka ia memutuskan untuk mengawasi dari jauh. Dan ia baru tahu bahwa penolong Ouwyang Ping itulah yang berjuluk Kelelawar Hitam.
“Wah! Benar-benar pengalaman yang menarik sekali!” puji Ouwyang Kuan.
Tuan Ouwyang segera tersadar dari ingatannya. Ia pura-pura menguap. “Bosan! Bosan!” gerutunya.
__ADS_1
Tentu saja Ouwyang Ping cemberut. Tetapi Chien Wan sejak tadi memperhatikan Tuan Ouwyang Cu dan tahu bahwa gurunya itu mendengarkan cerita itu dengan penuh perhatian. Chien Wan tersenyum dalam hati. Kadang kala tabiat Tuan Ouwyang tak berbeda dengan anak kecil yang suka merajuk.