
Tuan Ouwyang mengikuti kepergian ketiga gadis itu dengan pandangan matanya. Wajahnya tampak datar dan dingin, namun sudut matanya terlihat lembut. Ia sangat puas melihat cucu, calon cucu menantu, dan muridnya. Mereka semua sudah melampaui harapannya.
Ia menoleh menatap Chien Wan.
“Aku bisa melihat sekarang kau sudah jauh lebih maju, Chien Wan,” ujar Tuan Ouwyang. “Ilmu Pedang Pelangi terkenal hebat di Dunia Persilatan. Tapi aku belum pernah melihatnya. Sekarang aku ingin melihatnya, sekaligus ingin tahu sampai di mana kemajuan ilmu silatmu!”
“Aku tak menggunakan pedang.”
“Ya, ya, aku tahu!” potong Tuan Ouwyang tidak sabar. “Kau menggunakan sulingmu. Aku juga!”
Chien Wan menghel napas, dan mengangguk.
“Ayo mulai!” Tuan Ouwyang mencabut suling emasnya dari ikat pinggang. Lalu ia melompat ke arah Chien Wan.
Chien Wan mengelak dambil mencabut sulingnya. Lalu ia mengerahkan Ilmu Pedang Pelangi dengan menggunakan sulingnya sebagai pengganti pedang.
Gerakan Chien Wan indah dan lentur. Ayunan tangan dan kakinya selalu membentuk lengkungan seperti pelangi. Sulingnya yang ia pergunakan sebagai pengganti pedang bergerak dengan cepat dan aneh. Kadang ada, kadang menghilang. Kadang tampak jelas, kadang samar. Seolah bisa disentuh, namun ternyata hanyalah fatamorgana.
Pada akhir gerakan, Chien Wan melompat dengan ringan. Ia melengkungkan tubuhnya seperti pelangi dan sulingnya melayang lepas dari tangannya dan berputar-putar di angkasa menimbulkan dengungan musik lembut.
Tuan Ouwyang hendak menyerang dan meraih suling itu, namun tiba-tiba suling itu menyorotkan tujuh sinar kecil bagai selendang ke arahnya. Tujuh sinar itu berwarna-warni seperti sinar pelangi. Cahayanya menyilaukan mata.
Sebelum Tuan Ouwyang sadar, Chien Wan menarik kembali suling itu menjauh dengan pengerahan tenaga dalam. Suling itu menjauh sehingga tidak sampai melukai Tuan Ouwyang. Sinar berwarna-warni itu menuju sebongkah batu besar, mengurung dan membelitnya. Membawa batu itu ke angkasa dan....
BLAR!
Tuan Ouwyang mencelat mundur menghindari serpihan batu yang hancur berkeping-keping itu. Ia kaget dan kagum. Betapa hebatnya! Hampir setara dengan Ilmu Genderang Surgawi.
Chien Wan melompat meraih sulingnya.
“Bagus, Chien Wan!” puji Tuan Ouwyang tanpa bisa menyembunyikan kekaguman dan kebanggaannya. Ia tidak pernah memuji siapa pun sebelumnya. Namun kali ini ia benar-benar dibuat takjub oleh kehebatan cucunya.
“Aku masih harus berlatih lagi untuk benar-benar menguasainya.”
“Hm... ternyata si Tua itu punya ilmu sehebat ini. Anehnya, mengapa dia mengajarkannya padamu dan bukan pada muridnya?” gumam Tuan Ouwyang sambil mendengus. “Dasar Pai Tin Fung aneh!”
“Menurut Tetua Pai, Sen Khang lebih berbakat mempelajari ilmu tangan kosong.”
__ADS_1
Tuan Ouwyang menggeleng kesal. “Pai Tin Fung mengajarkan ilmu yang hebat pada cucuku. Artinya dia ingin aku memberikan sesuatu pada muridnya!”
Chien Wan memandang kakeknya dengan wajah cerah. “Kakek, mengapa kau tidak mengajarkan Ilmu Genderang Surgawi pada Sen Khang?” usulnya. “Sen Khang berbakat dalan ilmu tangan kosong. Sedangkan Ilmu Genderang Surgawi memang ilmu tangan kosong.”
“Ilmu itu hanya boleh diturunkan kepada satu orang dari tiap generasi. Aku sudah memilih Siu Hung sebagai pewaris dari generasi di bawahku. Sebagai muridku, artinya dia satu generasi dengan ayahmu. Bisa saja kuminta Siu Hung mengajarkannya kepada Sen Khang karena bila diurutkan, Sen Khang adalah generasi di bawahnya. Dia sendiri sudah memutuskan untuk mewariskan ilmu itu pada A Lee. Aku sudah terlalu tua. Saat A Lee dewasa mungkin aku sudah mati.”
Chien Wan pun paham.
“Atau begini saja. Aku akan mengajarinya Ilmu Tujuh Nada!”
“Hei, Ouwyang Cu!” panggil Dewa Obat yang baru keluar dari ruang obat diiringi oleh Sen Khang.
Tuan Ouwyang menoleh dengan tampang masam.
“Kau harus menepati janji, ya? Ilmu Tujuh Nada harus kauturunkan pada Sen Khang!” Dewa Obat tertawa.
Sen Khang diam saja. Sebenarnya ia tidak tahu ilmu macam apakah Ilmu Tujuh Nada itu. Mengapa Dewa Obat kedengarannya sangat senang? Apakah ilmu itu memang sangat hebat?
Chien Wan tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Sen Khang. “Ilmu Tujuh Nada adalah ilmu yang hanya akan diturunkan kepada menantu laki-laki keluarga Ouwyang,” terangnya.
Sen Khang ternganga. “Apa...?” gumamnya tak percaya.
Sen Khang hanya bisa terpaku. Wajahnya tampak bodoh. Namun perlahan-lahan wajahnya menampakkan kebahagiaan tak terkira.
Saat itu terdengar suara tak jauh dari mereka. Semuanya menoleh dan melihat Ouwyang Ping berdiri beberapa meter dari mereka. Wajah gadis itu merah dan dagunya bergetar. Matanya berkaca-kaca. Ia kelihatan sedih dan malu sekali. Lalu ia berbalik pergi.
“Ping-er!” seru Chien Wan.
Sen Khang tak mempedulikan yang lainnya. Tanpa pikir panjang, ia melompat dan mengejar Ouwyang Ping. Ia berlari ke arah tebing karang di tepi laut. Tempat itu sangat curam dan Sen Khang merasa khawatir.
***
Ouwyang Ping berdiri menghadap laut di tepi tebing yang curam. Rambut dan pakaiannya berkibar-kibar tertiup angin. Ia berdiri terlalu dekat ke tepi tebing sehingga Sen Khang tak berani mengusiknya. Takut jika ia memanggil, Ouwyang Ping akan kaget dan jatuh. Maka pemuda itu hanya diam saja dan memandang dari belakang.
Gadis itu membalikkan tubuhnya. Ia terkejut melihat Sen Khang memandangnya dengan sedih. Tanpa sadar ia mundur.
“Awas!” Sen Khang menyerbu.
__ADS_1
Ouwyang Ping kehilangan keseimbangan dan hampir saja terjatuh apabila Sen Khang tidak segera meraih tubuhnya. Kini gadis itu ada di dalam pelukan Sen Khang yang membawanya menjauhi tebing.
“Gadis bodoh!” Sen Khang berseru marah. “Kalau kau memang tidak sudi padaku, tolak saja. Aku tidak akan marah padamu. Tidak ada seorang pun yang akan marah bila kau tidak mau. Tidak ada yang akan memaksamu. Tapi jangan melarikan diri seperti ini. ke tepi jurang lagi! Bagaimana kalau kau jatuh? Bagaimana kalau...?” Sen Khang tak kuasa melanjutkannya. Tadinya ia akan mengatakan, ‘bagaimana kalau kau mati?’ Tapi ia tak bisa mengucapkannya.
Ouwyang Ping tertegun mendengar kemarahan Sen Khang. Sen Khang yang selalu baik, ramah, dan bijaksana. Dahulu Sen Khang pernah sangat marah, dan kemarahannya wajar karena peristiwa yang menimpa keluarganya begitu mengerikan. Namun sekarang kemarahannya berbeda. Sen Khang marah karena mencemaskannya.
“A... aku....” Ouwyang Ping gugup manakala menyadari dirinya ada di dalam dekapan Sen Khang.
Sen Khang tersadar dan melepaskan pelukannya dengan resah.
Ouwyang Ping menggigit bibirnya. “Kakak Luo, tadi Kakek bilang...,” desisnya.
“Kalau kau tidak mau, aku akan mengatakannya pada kakekmu. Tapi aku ingin mengatakan bahwa... aku bahagia sewaktu tahu arti dari ucapan kakekmu. Aku sudah lama menginginkannya. Selama ini aku hanya bisa bermimpi karena kau tak mau melihatku sedikit pun. Aku sadar bahwa kau masih menyimpan kenangan masa lalu. Tapi selama ini aku memberanikan diri untuk berharap.” Sen Khang menghela napas.
Ouwyang Ping diam sambil menunduk.
“Agaknya aku tak boleh berharap lagi, ya?” Sen Khang memaksakan sebuah senyum. “Sudahlah. Mari kita kembali. Kau tidak membenciku saja aku sudah merasa senang.”
“Kakak Luo, aku... aku tak tahu harus bilang apa....” Ouwyang Ping mengangkat wajahnya. Sepasang matanya tampak agak basah. “Selama ini kau baik padaku, dan....”
“Aku tak mengharapkan pamrih. Aku baik padamu karena aku suka. Bukan demi imbalan,” tukas Sen Khang cepat.
Ouwyang Ping mengangguk. “Kebaikanmu selalu membuatku tersentuh. Bahkan tiga tahun yang lalu saat aku masih bersama Kakak Wan, aku pernah berpikir... Seandainya aku mengenalmu lebih dulu daripada Kakak Wan, mungkinkah aku akan memilihmu? Aku memang merasa begitu hancur saat mengetahui bahwa Kakak Wan adalah kakakku. Aku pernah memutuskan untuk menyendiri dan tak mau menemui siapa pun.
“Namun kita dipertemukan kembali oleh takdir. Kau selalu ada setiap kali aku menemui kesulitan dan membutuhkan penghiburan. Tanpa kusadari, kenangan masa lalu mulai memudar dari ingatanku. Aku bebas menatap masa depanku tanpa dibayangi masa lalu.
“Kakak Wan sudah menemukan Kui Fang. Dan mereka bahagia. Aku berharap aku bisa sebahagia mereka. Tadi... saat Kakek mengatakan hal itu... aku lari. Tapi bukan karena aku tidak mau....” Ouwyang Ping menggigit bibirnya lagi. Kali ini ia tersipu. “Aku... aku malu. Kakek mengatakan hal itu... seolah di sana tidak ada orang. Aku....”
Wajah Sen Khang yang keruh berangsur-angsur cerah mendengarkan pengakuan gadis itu. Tanpa sanggup menahan diri, ia meraih tubuh Ouwyang Ping dan membawanya ke pelukannya. Pelukan yang begitu erat seolah ia hendak memasukkan seluruh tubuh gadis itu ke dalam hatinya.
“Kakak Luo....” Ouwyang Ping tidak berusaha melepaskan diri dari pelukan itu.
Sen Khang sangat bahagia. Mau rasanya ia bersorak menyuarakan rasa bahagia di hatinya. Selama tiga tahun ia memendam cintanya pada gadis ini. Akhirnya gadis ini menjadi miliknya! Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan membuat gadis itu bahagia. Ia akan melakukan apa saja untuk memastikan kebahagiaannya.
Selama beberapa saat mereka berpelukan. Akhirnya Ouwyang Ping menarik dirinya dari pelukan Sen Khang. Ditatapnya pemuda itu dengan mata berkaca-kaca dan senyum tersungging di bibirnya. Senyum yang telah merebut hati Sen Khang selama ini. senyum yang indah dan menawan yang telah membuat Sen Khang jatuh cinta. Senyum yang selalu dirindukan Sen Khang kala mereka berpisah. Senyum yang begitu mempesona.
Ouwyang Ping merasakan pemuda itu menggenggam erat tangannya. Ia membiarkan saja. Ia sudah menerima Sen Khang dengan setulus hati. Kenangan masa lalu takkan diingatnya lagi. Yang akan dipikirkannya sekarang adalah masa depannya bersama Sen Khang. Ia yakin mereka akan berbahagia.
__ADS_1
***