Suling Maut

Suling Maut
Pulang


__ADS_3

Esok harinya mereka berpamitan pada Dewa Obat. Kemudian, perahu mereka bertolak meninggalkan Pulau Ginseng. Chien Wan, Kui Fang, Ouwyang Ping, Sen Khang, dan Siu Hung melambai-lambaikan tangannya pada Dewa Obat yang tengah berdiri di dermaga menyaksikan mereka pergi. Tuan Ouwyang sendiri berdiam diri di dek perahu sambil melipat tangannya dan mengawasi kemudi.


Setelah berada di tengah samudera, Tuan Ouwyang memerintahkan Sen Khang dan Chien Wan untuk mengurusi pelayaran mereka. Dia sendiri akan mengawasi dari jauh sambil memberi petunjuk bilamana diperlukan.


Perahu melaju menuju Daratan Tionggoan.


“Wah, tak terasa ya?” seru Siu Hung saat melihat daratan yang samar-samar di kejauhan.


“Tak terasa apanya?” tanya Sen Khang tersenyum.


“Sudah dua bulan kita meninggalkan Wisma Bambu. Bagaimana kabar mereka semua, ya?”


Wajah Sen Khang menjadi murung. Ia teringat akan adiknya. Saat ini usia kandungan Ting Ting sudah menginjak bulan kelima. Pasti perutnya sudah terlihat membesar. Entah bagaimana perasaannya saat ini.


Ouwyang Ping memperhatikannya. “Kakak Luo, ada apa?”


Sen Khang menghela napas panjang. “Kandungan Ting Ting... sekarang ini pasti sudah terlihat.”


Ouwyang Ping tak mengatakan apa-apa untuk menanggapinya.


“Bila teringat itu anak Chi Meng Huan, rasanya aku ingin....” Mata Sen Khang menyala, menampakkan dendam yang membara dalam hatinya.


“Tapi anak itu darah daging Ting Ting,” kata Chien Wan pelan.


“Kau benar. Hanya saja... setiap teringat bahwa Chi Meng Huan ayahnya, dadaku seolah mau meledak!” geram Sen Khang.


“Aduh! Kakak Luo ini bagaimana, sih? Kalau kau terus ingat pada iblis itu, tentu saja kau tidak bisa menerima si bayi. Makanya supaya kau tidak benci, jangan diingat lagi! Chi Meng Huan ya Chi Meng Huan, si bayi ya si bayi. Jangan disamaratakan. Mudah, kan?” timpal Siu Hung santai.


Sen Khang terdiam. Kedengarannya Siu Hung selalu menyepelekan segala urusan. Namun bila dipikir secara masak, semua yang dikatakannya benar. Dalam kata-kata ringan Siu Hung terkandung makna yang mendalam. Bahwa seorang anak tidak bisa disamakan dengan ayahnya. Bahwa kejahatan itu tidak diturunkan. Apa yang dilakukan oleh ayahnya bukan tanggung jawab anaknya. Karena itu seorang anak tidak patut menanggung dosa orangtuanya.


Setelah itu tak ada yang berbicara lagi. Semua orang memusatkan perhatian pada tugasnya masing-masing. Chien Wan dan Sen Khang bertanggung jawab atas pelayaran ini maka perhatian mereka terpusatkan pada pelayaran. Gadis-gadis itu membantu semampu mereka dan menyediakan makanan yang dibutuhkan.


Setelah berlayar selama beberapa hari, mereka tiba di daratan.


Ternyata kedatangan mereka disambut oleh beberapa orang berpakaian warna-warni di tepi pantai. Mereka adalah orang Partai Kupu-Kupu. Wen Chiang ada di antara mereka, agaknya dialah yang memimpin rombongan tersebut.


“Salam, Tuan Ouwyang.” Wen Chiang memberi hormat diikuti oleh yang lain.


Tuan Ouwyang mengernyit memandang mereka. Tentu saja ia mengenali mereka.


“Kakak Wen.” Kui Fang mendekat. “Ada apa?”


“Kami telah mendengar Nona pergi ke Pulau Ginseng, maka kami menunggu di sini.” Wen Chiang tampak prihatin. “Begini, Nona. Sudah sejak dua minggu yang lalu Nyonya Wu sakit keras.”


“Ibu sakit?” seru Kui Fang cemas. “Sakit apa?”


“Tabib sendiri tak bisa mengatakan apa nama penyakit beliau. Namun yang jelas, beliau selalu saja memanggil-manggil nama Nona. Maka itu Ketua mengutus kami untuk menjemput Nona di Wisma Bambu. Tapi mereka di Wisma Bambu mengatakan bahwa Nona sedang pergi ke Pulau Ginseng. Maka kami menunggu di pantai. Tadinya bila dalam seminggu ini Nona belum kembali, kami akan menyusul ke sana,” jelas Wen Chiang panjang-lebar.


“Aku harus pulang!” kata Kui Fang. Ia memandang Chien Wan. “Kak....”


“Pergilah bersama Saudara Wen, Kui Fang. Nanti setelah aku menemui orangtuaku, aku akan menyusulmu ke Partai Kupu-Kupu.” Chien Wan berkata lembut.


Kui Fang mengangguk pelan. Ia berpamitan kepada Tuan Ouwyang dan yang lainnya.


“Semoga ibumu baik-baik saja, Kui Fang,” kata Ouwyang Ping tulus.


“Terima kasih, Ping-er.”


“Jangan cemas soal Kakak Ouwyang!” seru Siu Hung riang. “Pasti tak lama lagi dia akan segera menyusulmu. Mana tahan dia lama-lama jauh darimu!”

__ADS_1


Wajah Kui Fang merona.


Tuan Ouwyang menjitak kepala Siu Hung, menyuruhnya diam. Siu Hung merengut sambil mengusap-usap kepalanya.


Kui Fang menatap Chien Wan, matanya berkaca-kaca. “Jangan lupa, sampaikan salamku untuk orangtuamu dan yang lainnya, ya?”


Chien Wan mengangguk. “Jaga dirimu.”


Wen Chiang mengajak Kui Fang pergi.


Chien Wan melepasnya dengan tatapan mata. Ia tak melepaskan pandangannya dari Kui Fang. Bahkan sampai sosok gadis itu menghilang dari jangkauan pandangannya pun, ia tetap menerawang ke arah perginya Kui Fang. Betapa inginnya ia pergi bersama Kui Fang. Namun ia sadar, ia harus menemui orangtuanya dahulu sebelum pergi ke tempat lain.


“Ayo kita berangkat!” ajak Tuan Ouwyang. Ia sengaja menunggu sampai Kui Fang lepas dari pandangan, memberi waktu pada cucunya untuk termenung.


Mereka pun berangkat menuju Wisma Bambu.


***


“Chien Wan!”


Sui She menerjang dan menubruk putranya dengan perasaan terharu dan bahagia yang bukan kepalang. Dipeluknya putra sulungnya itu dengan kegembiraan yang meluap-luap.


“Ibu, sudahlah.” Chien Wan agak risih dipeluk di hadapan orang banyak oleh ibunya.


“Kau sudah sehat? Dadamu sudah sembuh?” tanya Sui She beruntun.


Chien Wan mengangguk.


Ouwyang Ping yang berdiri di dekat ayahnya segera menghampiri Sui She begitu ibunya selesai menumpahkan kebahagiaannya melihat kesembuhan Chien Wan. “Ibu,” sapa gadis itu.


“Ping-er, kau baik-baik saja, kan?” Sui She ganti merangkul putri tirinya itu dengan hangat.


Sen Khang melihat kehadiran Tuan Chang di dekat Ouwyang Kuan. Setelah menyapa paman dan bibinya, ia menghampiri Tuan Chang dan tersenyum. “Paman Chang, kau datang juga.”


Tuan Chang tersenyum dan menepuk bahu Sen Khang.


“Aku di sini sudah hampir sebulan,” katanya.


“O ya, mana Kui Fang?” tanya Ouwyang Kuan. “Dua minggu lalu, utusan dari Partai Kupu-Kupu datang untuk menjemputnya. Tapi karena kalian tidak ada, maka mereka pergi lagi.”


“Mereka menunggu di pantai, Ayah. Kui Fang pergi bersama mereka,” jawab Chien Wan.


“Mana Ting Ting dan Fei Yu?” tanya Siu Hung.


“Di sini!”


Siu Hung menoleh. Dilihatnya Fei Yu dan Ting Ting berjalan beriringan. Fei Yu menggendong A Lee di bahunya. Wajah mereka tampak cerah.


“Kakak!” Ting Ting bergegas menghampiri Sen Khang.


“Ting Ting!”


Sen Khang memandangi adiknya dengan seksama. Wajah Ting Ting terlihat jauh lebih segar dan kemerahan. Tubuhnya juga lebih berisi. Namun kehamilannya tidak begitu jelas terlihat walau sudah lima bulan. Ting Ting beruntung karena pinggangnya panjang sehingga kehamilan tidak membuatnya membulat.


Diusapnya rambut Ting Ting dengan lembut.


“Kau sehat-sehat saja, kan?” tanya Sen Khang halus.


Ting Ting mengangguk. Senyumnya merekah. “Kakak lebih kurus dari biasanya. Dan lebih gelap.”

__ADS_1


“Aku berlatih keras di sana.”


“Kakak Luo diangkat menjadi murid Dewa Obat!” lapor Siu Hung. “Diajari berbagai macam hal! Kakak Ouwyang juga! Ping-er dan Kui Fang juga! Cuma aku yang tidak!”


“Kenapa? Kau terlalu bandel sehingga tidak disukai Dewa Obat?” sindir Fei Yu. Sudah lama ia tidak bertengkar dengan Siu Hung. Diam-diam ia kangen juga.


“Enak saja! Justru dia sangat menyukai aku!” bantah Siu Hung keras. “Dia tidak mengajariku karena Kakek jahil ini tidak mengizinkannya!”


“Hah!” balas Tuan Ouwyang.


Fei Yu tergelak. Senang rasanya mendengarkan pertengkaran mereka. Selama dua bulan ini suasana sepi sekali tanpa mereka.


“Jadi itu kabar yang sangat baik!” seru Ouwyang Kuan senang. “Selain menyembuhkan Chien Wan, Dewa Obat juga mengangkat kalian menjadi murid?”


“Cuma Kakak Luo yang diangkat jadi murid,” ralat Ouwyang Ping. “Tetua Pai tidak mau menerima kami menjadi murid karena kami cucu kakek. Tetapi tetap saja beliau mengajari kami berbagai hal.”


“Bagus kalau begitu!” angguk Ouwyang Kuan senang.


“Huh!” gerutu Tuan Ouwyang sebal.


“Bicara soal kabar baik, kami juga punya kabar baik.” Tuan Chang menyela.


Kontan wajah Ting Ting merona dan kepalanya ditundukkan. Ia tahu pasti apa yang hendak dibicarakan oleh Tuan Chang.


“Apa, Paman?” sambar Siu Hung.


Tuan Chang tersenyum. “Ting Ting sudah setuju untuk menikah dengan Fei Yu dan menjadi menantu keluarga Chang.”


Sen Khang terbelalak.


“Benarkah?” seru Ouwyang Ping gembira. Ditatapnya Ting Ting yang tampak malu-malu. Lalu pandangannya beralih pada Fei Yu yang tampak agak salah tingkah. “Itu kabar yang luar biasa bagus!”


“Hore!” Siu Hung bertepuk tangan. “Bagus sekali!”


Chien Wan tersenyum ikut bergembira bersama semua orang.


Sen Khang menatap adiknya. “Kau yakin, Ting Ting?” tanyanya lembut.


Ting Ting mengangguk pelan.


“Fei Yu?”


“Aku selalu ingin menikah dengan adikmu, Sen Khang,” kata Fei Yu terus-terang. “Aku siap menghadapi apa pun asal bisa menikahinya.”


Perkataan itu begitu tegas. Semua terpana dan terharu mendengarnya. Apalagi Ting Ting.


Sen Khang menghembuskan napas lega. Sebagian beban yang menghimpit dadanya terangkat begitu mendengar berita ini. Selama ini, selain memikirkan bagaimana cara membalas dendam pada pembunuh orangtuanya, masalah Ting Ting adalah yang paing membebaninya. Beban itu semakin berat kala menyadari bahwa hampir saja Ting Ting menikahi pembunuh orangtua mereka. Sekarang mendengar bahwa adiknya dipinang oleh Fei Yu membuatnya lega.


Sikap Tuan Chang-lah yang paling melegakannya. Tadinya ia mengira meski Fei Yu menginginkan Ting Ting, ayahnya pasti tidak mengizinkan. Namun kini ia mendapati bahwa Tuan Chang bukan hanya mengizinkan, tapi juga merestui dengan sepenuh hati.


“Kalau begitu, sebagai kakak aku merestui.” Sen Khang berdiri dan menghampiri Fei Yu. “Kuserahkan adikku ke tanganmu. Bahagiakanlah dia.”


“Pasti!”


“Ting Ting.” Sen Khang meraih tangan adiknya dan menyatukannya dengan tangan Fei Yu. “Aku merestui kalian. Aku harap kalian bisa berbahagia mulai sekarang. Aku akan selalu memberikan bantuan bila kalian membutuhkannya.”


“Kakak....” Ting Ting menangis terharu.


Fei Yu tersenyum.

__ADS_1


***


__ADS_2