Suling Maut

Suling Maut
A Ming Melarikan Diri


__ADS_3

Chi Meng Huan dipapah oleh ayahnya. Luka yang dideritanya kali itu lebih ringan dari sebelumnya. Namun itu membuatnya sangat gusar karena ternyata Chien Wan dapat mengimbanginya. Ia pikir ilmu silatnya bisa mengalahkan Chien Wan dengan mudah. Namun ternyata Chien Wan mempelajari ilmu yang mengerikan itu!


Kalau saja tenaganya tidak terlebih dahulu terkuras dalam pertempuran melawan Luo Sen Khang, ia pasti bisa membunuh Ouwyang Chien Wan!


“Kita mau ke mana?” tanya Meng Huan sebal. “Ke tempat guru lagi?”


“Tidak. Kita ke Hutan Bunga.”


“Lagi?” seru Meng Huan kesal. “Bukankah dulu tempat kita sudah diobrak-abrik oleh orang Partai Kupu-Kupu?”


“Justru itu. Di sanalah tempat persembunyian yang paling aman. Mereka tidak akan menduga kita akan kembali lagi ke tempat yang pernah mereka obrak-abrik, kan?”


Meng Huan tidak membantah. Dalam urusan strategi, Cheng Sam memang nomor satu. Sayang ilmu silatnya biasa-biasa saja.


“Nanti kita akan jemput guru dan istrimu.”


“Apa? Siapa istriku?” bentak Meng Huan gusar.


“Meng Huan,” tegur Cheng Sam. “Bagaimana pun A Ming sudah melahirkan putramu. Tidak apa-apa kalau kau tidak menginginkan dia. Tapi Sien Lung adalah anakmu. Jangan sampai kau menyesal karena tidak mau mengakuinya.”


Meng Huan mendengus.


“Lagi pula, dia bisa menjadi senjata kita di masa depan. Semakin banyak orang yang setia kepada kita kan semakin baik!”


Meng Huan tidak mengatakan apa-apa lagi.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju Hutan Bunga. Tentu saja mereka melakukan perjalanan itu dengan sangat hati-hati dan tidak mau menampakkan diri di depan orang lain. Jangan sampai ada orang yang melihat mereka.


Di tengah jalan, anak buah mereka yang tidak ikut menghadiri pertemuan menyambut mereka. Tanpa mengatakan apa-apa, mereka bergabung dengan rombongan Chi Meng Huan.


Mereka tiba di Hutan Bunga.


“Brengsek!” maki Meng Huan melihat kondisi tempat persembunyian mereka sudah porak-poranda.


“Jangan khawatir. Kita bisa membangunnya lagi,” kata Cheng Sam menenangkan.


“Aku ingin mengobrak-abrik Partai Kupu-Kupu dan Wisma Bambu!” geram Meng Huan.


“Nanti. Kita tunggu saat yang tepat.”


“Kapan?”


“Saat upacara peringatan setahun kematian Tuan dan Nyonya Luo. Saat itu mereka semua pasti berkumpul di Wisma Bambu,” kata Cheng Sam licik.


“Itu masih bulan depan!” tukas Meng Huan tak sabar.


“Anakku, segala sesuatu harus direncanakan dengan seksama. Kalau tidak, bisa berantakan.”


Meng Huan kembali mendengus. Namun sekali ini ia tidak membantah.

__ADS_1


Cheng Sam mengutus dua orang anak buahnya untuk menjemput Tonggu dan A Ming.


Namun hanya Tonggu yang datang. Ia mengatakan bahwa A Ming telah melarikan diri. Hal itu membuat Cheng Sam geram dan gusar.


“Mengapa kau tidak mengejarnya?”


“Dia pergi saat aku sedang mencari obat. Kukira dia tidak berniat melarikan diri lagi setelah kuancam dengan racun. Tapi jangan khawatir. Aku sudah memberinya racun yang akan menewaskannya jika dalam waktu sebulan dia tidak menelan penawarnya. Dia pasti kembali.”


“Apa dia tahu dirinya keracunan?”


“Ya. Dia juga tahu bahwa dirinya akan mati jika tidak secepatnya menemuiku. Seperti yang kubilang, dia hanya punya waktu sebulan.”


Memang benar yang dikatakan Tonggu, A Ming berhasil kabur dengan membawa anaknya. Tujuannya jelas: Wisma Bambu. Dia tahu dirinya akan segera mati, namun ia tak sudi membiarkan anaknya berada dalam pengasuhan Cheng Sam. Ia bermaksud menyerahkan anaknya kepada Fei Yu. Ia tahu bahwa tindakannya benar-benar tak mengenal malu. Namun ia tak peduli lagi dengan rasa malu. Yang penting anaknya selamat dan tidak bersama ayah dan kakeknya yang sangat jahat.


Meng Huan marah-marah saat mengetahui kepergiannya.


***


Di Wisma Bambu, keadaan tampak tenteram dan damai. Para pelayan mengerjakan kesibukannya masing-masing pada hari yang masih gelap. Percakapan dilakukan dengan suara ringan dan pelan.


Di kamar Ting Ting dan Fei Yu, suasana tidak sedamai biasanya.


Tangis bayi mungil mereka memenuhi ruang kamar. Kedua orangtuanya tampak sibuk berusaha menenangkan putra mereka. Entah apa yang terjadi dengan bayi itu, tidak seperti biasanya ia menangis seperti itu.


“Cup, cup, Sayang,” bujuk Ting Ting.


Fei Yu memain-mainkan kerincingan di atas muka Yi Hang. Biasanya cara itu berhasil mendiamkan si bayi, namun kali ini tidak. Yi Hang tetap menangis keras dan gelisah.


“Apa giginya sudah mau tumbuh?” duga Fei Yu.


Mau tak mau Ting Ting tertawa. “Fei Yu! Dia masih berusia dua bulan lebih. Mana mungkin giginya secepat itu tumbuhnya?”


“Siapa tahu?” bantah Fei Yu. “Dia kan anak yang hebat!”


Lama kelamaan, Yi Hang berhenti menangis karena kelelahan. Ia mengeluarkan suara berdeguk dan memandangi orangtuanya yang tampak letih sekali. Sepasang matanya yang bulat dan basah tampak mengibakan.


Fei Yu mengambil bayi itu dari gendongan ibunya dan memeluknya dengan hangat. “Ada apa, Jagoan kecil? Kau gelisah, ya?”


Yi Hang terisak manja, namun tangisnya tidak keras lagi.


Fei Yu menimang dan menciumi kepalanya dengan penuh kasih sayang.


Ting Ting memandangi keduanya dengan hati terharu. Cinta Fei Yu kepadanya tidak perlu diragukan lagi. Namun kasih sayangnya kepada Yi Hang sungguh mengagumkan! Padahal bayi itu bukan anak kandungnya.


“Nanti setelah kita pindah ke Bukit Merak, dia akan menjadi kesayangan semua orang.” Fei Yu mengelus kepala Yi Hang. “Dia bisa manja.”


“Tidak jika kita segera memberinya adik,” sela Ting Ting.


Sedetik kemudian Fei Yu sudah berada di samping istrinya. “Kau yakin?” tanyanya dengan suara bergetar.

__ADS_1


Dengan malu-malu Ting Ting mengangguk. “Aku ingin mengandung anakmu,” katanya lirih. Pipinya merona menambah kecantikannya.


Terpesona, Fei Yu mencondongkan tubuh untuk mengecup istrinya. Namun gerakannya ternyata mengusik Yi Hang yang mulai tertidur, membuatnya terjaga kembali. Dan tangisnya kembali melengking.


“Astaga, anak ini!” Fei Yu melompat berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir menenangkan putranya.


Ting Ting tertawa geli melihatnya.


“Dua minggu lagi peringatan setahun kematian orangtuamu.” Fei Yu berhenti bergerak dan memandang istrinya dengan seksama. Wajah cantik istrinya tampak keruh, membuatnya menjadi agak menyesal karena telah mengungkit masalah itu.


Ting Ting menghela napas dan mengangguk.


“Kakakmu belum kembali.”


“Mungkin urusannya belum selesai.”


“Entah apa yang terjadi pada pertemuan para pendekar itu. Dan entah siapa yang terpilih untuk menggantikan kedudukan Paman Sung.” Kening Fei Yu berkerut.


“Kau sebenarnya ingin datang ke sana, kan?”


Fei Yu cepat menggeleng. “Tidak. Aku lebih suka di sini. Bersama kalian.” Ia memandangi istri dan putranya dengan penuh sayang.


“Ya, tapi... kami jadi menghambatmu.”


“Jangan begitu. Urusan Dunia Persilatan tidak menarik lagi bagiku,” tukas Fei Yu.


Apa yang dikatakan Fei Yu memang benar. Semenjak mengenal Ting Ting, ia memang tidak lagi peduli akan apa yang terjadi di Dunia Persilatan. Baginya semua hal menjadi tidak penting jika bukan berkaitan dengan Ting Ting. Kasih sayangnya terhadap Ting Ting tidak bisa dibandingkan dengan apa pun juga.


Dan Ting Ting menyadari hal ini. Membuatnya merasa begitu bahagia dan bersyukur akan keberuntungan nasibnya kali ini. Dan membuatnya teringat akan nasib A Ming, gadis yang begitu malang. Ia menyadari bahwa A Ming jauh lebih menderita dibanding dirinya. Sebabnya karena A Ming mencintai seorang penjahat. Dan hal itu membuatnya sedih. Tak sedikit pun ia membenci A Ming walau gadis itu telah membantu Chi Meng Huan melaksanakan tindak kejahatan terhadap keluarganya.


Tiba-tiba, terdengar suara teriakan.


“Hei, siapa itu!”


Fei Yu langsung waspada. Ia menyerahkan Yi Hang ke tangan istrinya yang ketakutan. “Jangan ke mana-mana!” perintahnya.


Ting Ting mengangguk.


Fei Yu bergegas ke luar kamar. Ia menuju halaman tengah di mana para penjaga gerbang tengah mengepung seseorang. Sosok itu tidak terlihat dengan jelas karena berada dalam posisi membungkuk.


“Ada apa?” tanya Fei Yu.


Ouwyang Kuan juga sudah berada di sana. “Fei Yu, ada apa?”


“Tidak tahu, Paman.”


“Orang itu menyusup masuk lewat jalan setapak di sana, Tuan!” lapor penjaga.


Fei Yu menyibak kerumunan dan menghampiri orang itu. Ia berjongkok dan memaksa orang itu melihatnya. Dan seketika ia tertegun.

__ADS_1


“A Ming!” serunya terperanjat.


***


__ADS_2