
Suasana di Lembah Nada terasa tidak menyenangkan sejak kepergian Chien Wan. Tidak ada lagi seseorang yang selalu meniup suling dengan irama lagu yang memukau dan sangat merdu. Dan karena suara suling tidak ada, tak diragukan lagi si pemetik harpa pun enggan memetik harpanya.
Ouwyang Ping selalu murung. Tak ada yang bisa menghibur hatinya. Kerinduannya terhadap Chien Wan semakin memuncak dari hari ke hari. Dan jika sudah demikian, ia akan mengeluarkan leontin bergambar burung hong dari saku bajunya dan memandanginya sepenuh hati.
Ia berjalan-jalan ke kaki bukit di sebelah selatan Lembah Nada, tempatnya dan Chien Wan biasa bermain musik bersama-sama. Tak ada yang menemaninya karena ia sendiri memang tak ingin ditemani.
Sudah hampir sepuluh hari Chien Wan meninggalkan Lembah Nada. Memang baru sepuluh hari, namun bagi Ouwyang Ping rasanya sudah seperti sepuluh tahun. Ia begitu merindukan Chien Wan.
“Kakak Wan..., kapan kau akan kembali?” desahnya resah.
Ia mengeluarkan leontin pemberian Chien Wan dan memandanginya. Entah sudah berapa kali hal itu dilakukannya. Namun kali ini ia memandangi leontin itu dengan hati resah. Entah mengapa sejak Chien Wan pergi, perasaannya tidak enak dan gelisah terus-menerus. Perasaan itu semakin bertambah aneh setiap kali ia melihat leontin burung hong itu. Aneh sekali!
“Ping-er,” panggil Ouwyang Kuan yang entah bagaimana sudah berada di tempat itu. Ia diam-diam memperhatikan gerak-gerik putrinya dan maklum. Ia pernah muda. Dan jika ditanya apa artinya rindu, ia adalah orang yang paling tepat untuk menjawab karena ia adalah orang yang sangat mengerti apa itu rindu.
Ouwyang Ping kaget mendengar panggilan ayahnya. Ia menoleh dan melihat ayahnya tengah berjalan ke arahnya dengan senyum penuh kasih sayang.
“Ayah.”
Ouwyang Kuan tersenyum setengah menggoda. “Ayo, sedang melamun, ya? Melamunkan siapa? Pasti Chien Wan!”
Ouwyang Ping langsung tersipu-sipu.
Ayahnya tersenyum lebar. Pandangan matanya bertumbuk pada benda yang tengah digenggam Ouwyang Ping. Senyumnya surut. “Ada apa di tanganmu, Ping-er?”
Tangan kiri Ouwyang Ping seperti biasa sedang menggenggam harpa. Dan tangan kanannya menggenggam leontin. Gadis itu tahu tangan mana yang dimaksud ayahnya. Ia tersenyum sambil mengulurkan leontin itu supaya ayahnya bisa melihatnya.
Begitu melihatnya, wajah Ouwyang Kuan berubah pucat. “Leontin siapa itu?” tanyanya gugup. Dengan gerakan cepat, diambilnya leontin itu dari tangan putrinya.
“Kakak Wan memberikannya padaku,” jawab Ouwyang Ping tanpa curiga sedikit pun.
“Chien Wan!”
“Kata Kakak Wan, ibunya memberikan kalung itu padanya sepuluh tahun yang lalu. Sejak itu kalung ini tak pernah lepas dari leher Kakak Wan. Tapi beberapa bulan yang lalu, dia menyerahkannya padaku untuk kusimpan,” beritahu Ouwyang Ping dengan nada bangga.
“Se... sepuluh tahun yang lalu?” Ouwyang Kuan mulai terdengar lega.
“Iya!” angguk Ouwyang Ping. “Menurut ibunya, kalung itu diberikan oleh ayah Kakak Wan!”
Pemberitahuan ini bagaikan geledek di telinga Ouwyang Kuan. Ya Tuhan...!
Ouwyang Ping baru menyadari betapa pucat wajah ayahnya. “Ayah?”
Ouwyang Kuan menatap putrinya. “Ping-er, ayo kita ke Wisma Bambu!” ajaknya.
“Sekarang?”
“Ya! Ayo cepat berkemas!”
Sebelum Ouwyang Ping bertanya lagi, ayahnya sudah bergegas meninggalkannya untuk menuju kamarnya. Ouwyang Ping tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah ayahnya. Walau bingung, ia senang sekali karena akhirnya ia dapat bertemu dengan Chien Wan!
Selesai berkemas, mereka meninggalkan Lembah Nada tanpa pamit lagi pada Tuan Ouwyang Cu yang sedang bersemedi di ruang khusus. Mereka hanya menitipkan pesan kepada Empat Tambur Perak untuk menyampaikan kepergian mereka.
***
Perjalanan mereka lakukan dengan cepat, dan dalam waktu empat hari saja mereka telah tiba di gerbang Wisma Bambu. Ouwyang Kuan memandangi gerbang bambu itu. Tiba-tiba saja hatinya dihinggapi keraguan.
Sebaliknya, Ouwyang Ping sangat bersemangat karena akan berjumpa dengan Chien Wan. “Ayah, ayo kita masuk!”
Ouwyang Kuan hendak menggeleng, namun tangannya yang menggenggam leontin tiba-tiba menegang. Ia pun menetapkan hatinya. Bagaimana pun ia harus meminta penjelasan dari Chien Wan tentang leontin itu.
Mereka mengetuk gerbang Wisma Bambu.
Pintu gerbang terbuka dan muncullah seorang pemuda berbaju merah hati yang tampan. Pemuda itu adalah Chi Meng Huan. Ia kaget dan juga gembira melihat kedatangan Ouwyang Ping.
__ADS_1
“Nona Ouwyang?” seru Meng Huan gembira melihat gadis itu lagi.
Ouwyang Ping tersenyum gembira. “Kakak Chi!”
“Nona Ouwyang, bagaimana keadaanmu? Dan mengapa kau datang ke sini? Apa untuk menjemput Chien Wan?” tanya Meng Huan beruntun. Pertanyaan terakhir tentu saja ia maksudkan untuk menggoda.
Ouwyang Ping tersipu. Lalu ia cepat-cepat mengalihkan pembicaraan. “Kakak Chi, ini ayahku.”
Meng Huan terkejut, lalu cepat memberi hormat. “Salam, Tuan Ouwyang. Aku Chi Meng Huan.”
Ouwyang Kuan balas memberi hormat.
“Anak Muda, apakah Tuan Luo ada di dalam?”
Meng Huan mengangguk. “Guru ada di ruang tengah.”
“Bisakah aku menemuinya? Ini penting sekali!”
“Tentu saja bisa. Silakan masuk, Tuan Ouwyang.”
Mereka melangkah menuju ruang tengah di mana Tuan Luo, Sen Khang, dan Chien Wan tengah duduk. Saat itu Nyonya Luo, Sui She, dan Ting Ting tengah pergi ke kuil untuk bersembahyang dan berderma.
Tuan Luo sangat terkejut melihat kedatangan Ouwyang Kuan. Mau apa dia?
Ouwyang Kuan memberi hormat pada Tuan Luo. “Salam, Tuan Luo. Maafkan kedatanganku yang tiba-tiba ini dan membuatku harus menganggu pembicaraanmu,” ucapnya santun. “Tapi aku ada keperluan dengan Chien Wan. Ada sesuatu yang harus kami bicarakan.”
Tuan Luo membalas penghormatan itu dengan sopan. Ia tidak dapat menyuruh tamunya pergi begitu saja walau ia sangat tidak menginginkan Ouwyang Kuan di sini. Ia hanya berharap pembicaraan selesai dilakukan sebelum adiknya datang. Ia tidak ingin Sui She bertemu dengan Ouwyang Kuan!
“Tentu saja, Tuan Ouwyang. Silakan.”
Ouwyang Ping menatap Chien Wan dengan sinar mata penuh kerinduan. “Kakak Wan!” serunya lembut sambil menghampiri Chien Wan dan memegang lengannya. Sen Khang memperhatikan mereka dengan perasaan tidak enak.
Chien Wan tersenyum memandangnya. Lalu ia menghampiri Ouwyang Kuan dan memberi salam. “Paman Ouwyang, ada apa? Apakah terjadi sesuatu di Lembah Nada?”
tanyanya.
“Ada apa, Paman?”
Ouwyang Kuan mengulurkan leontin yang sejak tadi digenggamnya dengan sangat erat. Chien Wan menatap leontin itu dengan tercengang. Ia mengerutkan kening karena tak mengerti mengapa leontin itu bisa ada pada Ouwyang Kuan. Chien Wan memandang Ouwyang Ping dengan penuh tanda tanya. Namun agdis itu juga tak mengerti dan mengangkat bahu.
“Chien Wan, dari mana kau memperoleh leontin ini?”
Tuan Luo memperhatikan mereka dan kesal karena urusan penting itu ternyata hanya masalah kalung. “Tuan Ouwyang, kalau hanya untuk masalah leontin, semestinya Anda tak perlu jauh-jauh datang. Kan bisa dibicarakan setelah Chien Wan kembali.”
Ouwyang Kuan menghela napas. Ia dapat merasakan ketidaksukaan Tuan Luo akan kedatangannya. Namun ia harus segera mendapatkan penjelasan.
“Maaf, Tuan Luo. Leontin ini sangat penting artinya,” kata Ouwyang Kuan memohon pengertian. Dan Tuan Luo tidak berkomentar lagi.
“Leontin itu diberikan oleh ibuku. Katanya itu diberikan oleh ayahku.”
“Siapa nama ibumu?”
“Namanya Nyonya Chien.”
“Dan ayahmu?”
Chien Wan terperangah. “Saya... saya tidak tahu, Paman.”
“Masa kau tidak tahu, Chien Wan?” sela Sen Khang.
Ouwyang Ping juga terkejut sekali. Ternyata Chien Wan menyembunyikan sesuatu darinya. Chien Wan memang menceritakan perihal leontin itu, namun tidak sepenuhnya. Ia tahu bahwa leontin itu diberikan oleh ayah Chien Wan, namun ia mengira Chien Wan tahu siapa ayahnya.
“Chien Wan, masalah ini belum pernah kami dengar.” Tuan Luo mau tak mau menjadi penasaran.
__ADS_1
Chien Wan menunduk. Ia sudah akan melupakan masa lalunya. Selama ini tak pernah menjadi masalah bagi dirinya dan semua orang walau dirinya tak punya ayah dan tak punya marga. Mengapa sekarang menjadi masalah?
“Saya juga baru tahu sepuluh tahun yang lalu, Tuan. Saat itu, ibu saya sekarat. Ia meminta saya pergi ke Wisma Bambu. Ternyata ia bukanlah ibu kandung saya. Ia mengambil saya dari seseorang yang hampir mati di Hutan Bambu. Sebelum kematiannya, orang itu menyerahkan kalung itu dan saya kepada mendiang ibu dan menyuruhnya ke Wisma Bambu. Tetapi ibu tidak membawa saya, malah membesarkan saya sendiri,” kisahnya.
Tuan Luo terperangah. “Dia bilang, ayahmu ada di Wisma Bambu?”
“Tidak begitu, Tuan. Ibu tidak bilang apa-apa lagi. Ibu langsung meninggal kala itu.”
“Jadi itulah sebabnya kau nekad datang ke Wisma Bambu dalam keadaan hujan deras!” seru Sen Khang, teringat kejadian sepuluh tahun lalu. “Tapi, apa hubungannya dengan kalung itu?”
“Erat sekali!” Ouwyang Kuan berkata gemetar.
Semua menoleh ke arah Ouwyang Kuan yang tampak sangat pucat dan gemetar. Wajahnya penuh duka dan tampak amat sangat terpukul. Sepasang matanya berkaca-kaca.
“Paman...,” tegur Chien Wan.
Tanpa sempat dicegah, Nyonya Luo dan yang lainnya memasuki ruangan. Mereka sangat heran karena banyaknya orang dalam ruangan.
“Suamiku....” Ucapan Nyonya Luo terputus karena suaminya menggeleng muram.
Luo Sui She berhenti di ambang pintu dengan terpana. Ia bertatapan dengan pria yang sangat dikenalnya. Matanya nanar memandangi orang itu. Sorot matanya tampak bingung, sedih, tapi juga menyimpan kerinduan teramat sangat. Ouwyang Kuan pun tercengang memandangi perempuan yang setelah sekian lama berlalu tetapi masih tetap cantik menawan itu. Mereka terpaku, diam seribu bahasa.
Tiba-tiba saja, kaki Sui She menjadi lemas tak bertenaga dan ia terjatuh.
“Sui She!” seru Tuan Luo dan menyerbu.
Namun Tuan Luo tidak sempat menyentuh adiknya karena Ouwyang Kuan lebih dahulu melesat dan menangkap tubuh ramping Sui She. “Sui She....”
Amarah Tuan Luo timbul. “Jangan sentuh adikku!” bentaknya sambil mendorong Ouwyang Kuan dan merebut Sui She dari dalam pelukannya.
Ouwyang Kuan terjungkal.
“Ayah!” pekik Ouwyang Ping. Bersama Chien Wan, ia segera membantu ayahnya berdiri. Gadis itu memandang marah. “Paman Luo! Anda sangat kuhormati. Mengapa Anda berubah menjadi orang yang begini kasar? Apa salah ayahku?!”
“Apa salahnya?!” sergah Tuan Luo. “Sebaiknya kau tanyakan sendiri pada ayahmu!”
“Ayah?”
“Cukup, Ping-er!” Ouwyang Kuan menatap tajam putrinya.
Sui She menggeliat dan melepaskan diri dari kakaknya. Pandangan matanya kini terarah pada Ouwyang Ping. Wajahnya menjadi pias. “Kau... kau... siapa kau? Mengapa mirip sekali dengan Sie Hui Lun?”
“Sie Hui Lun adalah ibuku!”
Mata Sui She terpejam. “Ya Tuhan! Ya Tuhan!”
Tuan Luo melangkah mendekati Ouwyang Kuan. “Tuan Ouwyang, sebaiknya Anda tidak di sini. Adikku baru saja sembuh dari sakit berkepanjangan. Kehadiran Anda membuatnya sakit lagi.”
Ouwyang Kuan terpaku. “Sakit?”
“Benar!”
“Aku sudah sembuh,” sela Sui She dengan nada lembut. “Aku sudah sembuh berkat anakku.”
“Anakmu....”
“Ini anakku,” ujar Sui She lembut dan menghampiri Chien Wan. Dengan hangat ia memegang lengan Chien Wan. “Selama dua puluh tahun aku hilang akal dan ingatan. Namun sekarang aku sembuh berkat anakku.”
Chien Wan tahu ia tidak bisa berdiam diri lagi. Ia tidak bisa membiarkan Sui She terus hidup dalam khayalannya. Ia tidak bisa menipu dirinya sendiri lebih lama lagi. Walaupun ia sangat sayang pada perempuan itu dan berharap bisa menjadi anaknya, namun ia bukanlah anaknya!
“Nona Sui She!” tukas Chien Wan. “Tolong sadarlah.”
Sui She tertegun, lalu tertawa lembut. “Anakku selalu melantur. Lagi-lagi kau panggil aku ‘Nona Sui She’. Aku ini ibumu, Nak.”
__ADS_1
“Sui She....” Tuan Luo memandang gelisah. “Kau jangan bicara apa-apa lagi....”
“Biar dia bicara!”