Suling Maut

Suling Maut
Ketua Persilatan Mengundurkan Diri


__ADS_3

Setelah ramuan penawar selesai dibuat, Sen Khang membagikannya pada semua anggota Partai Kupu-Kupu yang terkena racun. Hampir semuanya kena racun itu sehingga Sen Khang membutuhkan cukup banyak daun dan akar obat untuk membuat penawar. Untung saja cukup sehingga semuanya kebagian.


Para pendekar sengaja tidak langsung kembali ke kediaman mereka masing-masing karena mereka ingin melihat sejauh mana Partai Kupu-Kupu membutuhkan bantuan mereka.


Wie Yun Cun dan Lan Sie sudah dijebloskan ke penjara bersama-sama dengan anak buah mereka. Mereka menunggu keputusan selanjutnya yang akan dibuat oleh sang ketua. Mereka sangat marah dan kesal. Mereka juga sangat menyesal karena telah mau mendengar hasutan Cheng Sam untuk mengkhianati partai mereka.


Sam Hui kembali menduduki jabatannya sebagai wakil ketua. Semua kesalahpahaman antara dirinya dengan Ketua Wu dan anggota partai lainnya sudah terselesaikan.


Setelah dua hari, semua anggota partai sudah pulih kembali dan mereka sudah kembali ke tugas masing-masing.


Saat itulah, Pendekar Sung mengatakan sesuatu yang mengejutkan mereka semua:


“Seperti yang Anda sekalian ketahui, aku sudah menduduki jabatan sebagai Ketua Persilatan selama hampir dua puluh tahun. Sudah cukup bagiku melaksanakan kewajibanku. Aku sudah tidak muda lagi. Aku ingin menenangkan diri. Jadi aku memutuskan untuk menyerahkan jabatan ini kepada kandidat lain yang lebih pantas.”


Seisi ruangan menjadi riuh mendengar semua ini. Tak ada seorang pun yang menduganya. Selama ini bila ada seseorang yang menyebut-nyebut Ketua Persilatan, semua langsung memikirkan Pendekar Sung. Tak ada yang menduga bahwa sebenarnya Pendekar Sung sendiri sudah lelah menjalankan kewajibannya.


“Lalu apa yang akan Anda lakukan?” tanya Pendekar Lei.


“Aku akan mengadakan pertandingan untuk memperebutkan gelar ini. Pertandingan akan diadakan di Bukit Ayam Emas. Aku sedang menyiapkan semuanya dan pertandingan itu akan kuadakan sekitar empat bulan lagi.”


“Apa Anda sudah memikirkannya masak-masak?” tanya Pendekar Fu khawatir.


Pendekar Sung mengangguk mantap.


“Anda punya calon kuat untuk jabatan ini?” tanya Ketua Wu penuh minat.


Senyum Pendekar Sung mengembang dan mengangguk. “Aku memikirkan beberapa nama. Namun kita akan lihat nanti.”


“Bagaimana bentuk pertandingannya?”


“Mencari yang terkuat. Satu orang ditantang oleh lainnya. Memang bukan sistem yang biasa.” Pendekar Sung mengelus dagunya. “Tetapi menurutku, cara itu bisa dianggap sebagai cara yang paling adil.”


Semua mengangguk-angguk.


“Empat bulan lagi...,” gumam Pendekar Fu. “Apa tidak terlalu cepat?”


“Menurutku tidak,” sela Pendekar Sung. “Dalam empat bulan ini kita bisa mulai menyebarkan berita ini ke seluruh negeri dan mereka mempunyai cukup waktu untuk menghadirinya.”


“Rasanya aneh bila Ketua Persilatan bukan Anda,” komentar Sen Khang.


Pendekar Sung tersenyum. “Hidup ini terus berputar, Sen Khang. Kadang di atas dan kadang di bawah. Bukan hal yang baik jika seseorang terus berada di atas saja atau di bawah saja. Aku sudah lama menjadi Ketua Persilatan. Sejak muda, aku tak pernah punya waktu untuk diriku sendiri. Bahkan anakku sampai menjadi sebadung itu karena aku tak pernah memberikan perhatian penuh padanya.” Ia menghela napas. “Sudah waktunya aku berhenti.”


Selama percakapan itu, Chien Wan diam saja. Ia selalu bingung jika semua orang sedang berkumpul seperti itu.


***


Malamnya, Chien Wan dan Kui Fang tengah duduk berdua di taman bunga. Berpuluh jenis kupu-kupu mengelilingi mereka karena terpengaruh oleh harumnya bunga beraneka ragam yang tumbuh di taman itu. Kupu-kupu itu tidak mengganggu sepasang sejoli yang tengah bercakap-cakap pelan. Sebaliknya, mereka menjadi latar yang manis bagi keduanya.


Kui Fang meminta Chien Wan menceritakan pernikahan Ting Ting dan Fei Yu. Maka Chien Wan mengisahkannya dengan singkat dan jelas. Ia tidak bertele-tele mengenai betapa cantiknya mempelai putri dan betapa gagahnya mempelai pria, ia juga tidak mengungkapkan dengan bahasa yang berbunga-bunga tentang keindahan suasana yang terjadi pada malam pernikahan itu. Yang diceritakannya hanyalah bahwa pernikahan itu berlangsung dengan lancar dan tak kurang suatu apa pun.


“Syukurlah kau bisa datang tepat pada waktunya, Kakak Wan. Kalau tidak....” Kui Fang menggeleng sedih.


“Sebenarnya aku sudah berada di dekatmu sebelum pertemuan itu. Aku mengawasi gerak-gerik semua orang sekaligus melindungimu. Sayangnya aku lalai mengawasi dapur sehingga kalian semua keracunan,” terang Chien Wan.


“Oh? Benarkah?”


Chien Wan mengangguk. “Kemarin malam kau melihat ada bayangan di dekat kamarmu, kan?”


“Jadi itu kau!” seru Kui Fang gembira. “Aku sempat takut waktu itu. Kupikir bayangan itu hantu.”


“Maafkan aku bila aku menakutimu.” Chien Wan menatap penuh penyesalan. Digenggamnya tangan gadis itu dengan lembut.


Kui Fang menatap pemuda itu dengan penuh sayang.

__ADS_1


“Bagaimana kabar orangtuamu? Dan A Lee?” tanya Kui Fang.


“Ayah dan Ibu baik-baik saja. Mereka mengirim salam padamu,” jawab Chien Wan. “Sedang A Lee... anak itu sekarang semakin lincah dan nakal.”


“A Lee pasti akan mirip sekali dengan Kakek Ouwyang,” tawa Kui Fang. “Sekarang saja sudah mirip, kok.”


Chien Wan tersenyum setuju.


“Tetapi, kulitnya agak gelap, ya? Lebih gelap darimu dan Ping-er.”


Chien Wan kembali mengangguk. “Kakek bilang, kulitnya yang gelap itu mirip dengan mendiang kakek buyutku.”


“O, begitu rupanya.”


Chien Wan menghembuskan napasnya. “Aku berharap dia yang akan memimpin Lembah Nada di kemudian hari.”


Kui Fang memandangnya dengan penuh perhatian.


“Aku tidak berbakat menjadi pemimpin. Lembah Nada tidak akan maju bila dipimpin olehku,” lanjut Chien Wan.


“Lalu, apa pendapat Kakek?’


“Kakek tidak mengatakan apa-apa. Tetapi jauh di lubuk hatinya, aku yakin beliau juga tahu bahwa aku tidak cocok menjadi majikan. Kami akan mendidik A Lee sekuat tenaga. Lembah Nada akan menjadi miliknya.”


Dengan lembut Kui Fang menyentuh lengan pemuda itu. Senyumnya tampak polos dan menenangkan.


“Kau tidak berkeberatan bila aku tidak menjadi Majikan Lembah Nada?” tanya Chien Wan pelan.


Kui Fang menggeleng. “Bagiku, semua keputusan yang membuatmu bahagia, adalah juga kebahagiaanku. Jangan berpikir aku bersamamu hanya karena kedudukanmu sebagai calon pewaris Lembah Nada, Kakak Wan. Itu menghinaku.”


“Maafkan aku.”


Jemari keduanya bertautan erat, menandakan pertautan kedua hati yang saling mencintai. Mereka tak berkata apa-apa lagi selanjutnya. Hanya diam sambil saling berpegangan tangan dan berpandangan. Rasanya seolah dunia milik berdua. Mereka tidak memerlukan apa pun atau siapa pun selama bisa bersama.


Deheman keras itu menyadarkan keduanya. Langsung saja keduanya melepaskan genggaman masing-masing. Wajah Kui Fang merah padam manakala menyadari bahwa di dekat pohon bunga persik di dekat mereka telah berdiri Tuan Ouwyang Cu. Entah sejak kapan pria tua itu berdiri di sana mendengarkan percakapan mereka.


Wajah Tuan Ouwyang tampak kaku, namun sepasang matanya berkilat jahil. Ia sama sekali tidak merasa menyesal telah mengusik kemesraan sepasang kekasih itu.


“Kakek!” sapa Chien Wan dan Kui Fang bersamaan.


Tuan Ouwyang menghampiri mereka dan berkacak pinggang.


“Dasar kau!” tuding Tuan Ouwyang pada cucunya. “Tidak mau jadi Majikan Lembah Nada. Huh!”


Chien Wan meringis.


“Dan kau.” Tuan Ouwyang melirik Kui Fang. “Bukannya membujuk Chien Wan supaya mau mewarisi Lembah Nada, eh malah mendukungnya.”


Kui Fang salah tingkah.


“Jangan dengarkan!”


Siu Hung melompat entah dari mana mendekati mereka.


“Jangan ikut campur!” geram Tuan Ouwyang.


Siu Hung tak mau kalah. Ia melotot pada Tuan Ouwyang. “Kakek jangan memaksakan kehendak! Bukankah kau sendiri yang menyuruhku berlatih Ilmu Genderang Surgawi supaya bisa kuwariskan pada A Lee? Jadi dia bisa menjadi Majikan Lembah Nada kalau kau sudah tidak ada!”


Tuan Ouwyang merengut.


Siu Hung berbalik dan menatap Kui Fang. “Kau jangan dengarkan dia! Dia itu mulutnya memang jahat. Sebenarnya dia sudah tahu bahwa Kakak Ouwyang tidak mau menjadi Majikan Lembah Nada. Dia hanya mau menggodamu saja! Dasar Kakek genit! Tidak bisa melihat gadis cantik!” omelnya.


Kui Fang ternganga, lalu tertawa.

__ADS_1


Wajah tua Tuan Ouwyang langsung merah padam. Ia melotot pada muridnya yang badung itu.


Chien Wan sebenarnya juga sudah tahu sejak tadi. Namun mendengar sendiri kata-kata itu dari mulut Siu Hung tak urung membuatnya tersenyum juga.


“O ya, Kakek. Sampai saat ini aku belum mengerti mengapa Kakek datang ke sini bersama Siu Hung, Sen Khang, dan Ping-er. Bukankah Kakek bilang akan pulang ke Lembah Nada. Dan bukankah sekarang ini Sen Khang dan Ping-er dibutuhkan di wisma Bambu?” tanya Chien Wan serius.


“Aku punya firasat tidak enak tentang kau,” elak Tuan Ouwyang.


“Hah! Firasat!” Siu Hung berseru. “Dia datang ke sini ingin meminta sari madu Kupu-kupu Perak! Katanya sari madu itu bisa untuk membuat awet muda.”


“Hush!” Tuan Ouwyang menjitak kening Siu Hung.


Chien Wan dan Kui Fang berpandangan.


“Sari madu Kupu-kupu Perak memang terdapat di sini, Kek. Dalam jumlah banyak pula. Tapi aku baru tahu bahwa cairan itu bisa membuat awet muda,” kata Kui Fang.


“Bagaimana dengan Sen Khang dan Ping-er?” tanya Chien Wan pada Siu Hung.


“Kami bertemu di jalan. Kakak Luo dan Ping-er hendak pergi ke sini juga untuk bertemu denganmu.”


“Kalian punya banyak?” tanya Tuan Ouwyang pada Kui Fang. Wajahnya berbinar gembira. “Aku meminumnya sewaktu muda. Waktu itu Kupu-kupu Perak jumlahnya masih banyak. Namun sekarang sudah langka sekali. Banyak orang tahu bahwa meminum cairan yang diperas dari tubuh kupu-kupu itu bisa memanjangkan umur dan membuat awet muda. Heran kalian tidak tahu.”


“Karena kami meminumnya sebagai minuman pesta.”


Tuan Ouwyang mendengus iri. “Orang lain bersusah payah mendapatkan cairan itu. Kalian meminumnya sebagai minuman pesta?”


“Aku akan mengambilkannya untuk kita minum sekarang,” kata Kui Fang. “Siu Hung, bantu aku ya?”


“Baik!”


Tuan Ouwyang dan Chien Wan duduk di kursi taman menunggu kedatangan kedua gadis itu.


Mereka menyaksikan serombongan kupu-kupu berwarna perak melintas menerangi malam. Kedatangan mereka diikuti rombongan kupu-kupu lain yang beraneka warna. Betapa indahnya pemandangan itu.


“Pantas saja mereka menikmatinya sebagai minuman pesta. Ternyata di sini jumlah kupu-kupu itu ribuan!” gerutu Tuan Ouwyang.


Kui Fang dan Siu Hung kembali membawa seguci cairan madu dan beberapa cawan.


Kedua gadis itu sibuk menuangkan sari madu ke dalam masing-masing cawan dan membagikannya.


“Bersulang!” kata Tuan Ouwyang dengan suara menggelegar.


Semua meminum minuman itu dengan senang.


“Enak sekali!” kata Siu Hung kagum.


“Apa kubilang!” kata Tuan Ouwyang puas.


Hanya Chien Wan yang tak dapat merasakan apa-apa. Baginya minuman itu tak ada bedanya dengan air biasa, hanya lebih kental dan baunya harum.


“Sebetulnya untuk mendapatkan cairan itu, tidak perlu memeras kupu-kupu, Kek.” Kui Fang melambaikan tangan dan seekor kupu-kupu berwarna perak hinggap di ujung jarinya. Bagian perut kupu-kupu itu menggembung tanda penuh cairan. Ia mengusapkan ujung jarinya pada bagian perut kupu-kupu itu. Sang kupu-kupu menggeliat dan sayapnya mengepak bergetar. Lalu keluarlah cairan berwarna keemasan dari salah satu bagian tubuhnya. Kui Fang mengangkat guci dan menampungnya. Lalu ia membiarkan kupu-kupu itu terbang kembali.


"Wah!” Tuan Ouwyang berseru sambil memukulkan tinjunya ke telapak tangan. “Kalau saja kami tidak begitu dungu, pasti jumlah Kupu-kupu Perak masih tetap banyak sampai sekarang!”


“Akhirnya kau mengakui dirimu dungu,” gumam Siu Hung sambil menghirup kembali minumannya.


“Apa?” bentak Tuan Ouwyang.


“Tidak apa-apa!”


Tak lama kemudian, minuman seguci itu sudah tandas. Kui Fang dan Siu Hung mengembalikan guci dan cawan-cawannya ke dapur. Lalu mereka melanjutkan pembicaraan mereka.


***

__ADS_1


__ADS_2