Suling Maut

Suling Maut
A Ming Terkena Racun


__ADS_3

Sen Khang, Ouwyang Ping, Chien Wan, serta Kui Fang tiba di Wisma Bambu seminggu sebelum upacara peringatan setahun wafatnya anggota Wisma Bambu. Kedatangan mereka disambut oleh Hauw Lam dan Kam Sien yang tengah berbincang-bincang berdua di ruang depan.


“Tuan Muda! Nona!” Hauw Lam dan Kam Sien bergegas menyambut mereka.


“Paman Hauw, Paman Kam, kenapa kalian ada di sini?” tanya Ouwyang Ping senang. Ia segera menghampiri mereka dan wajahnya tampak berseri-seri.


“Tuan Besar menyuruh kami ke Wisma Bambu sesaat sebelum beliau sendiri pergi ke pertemuan para pendekar bersama Nona Siu Hung. Beliau bilang kami harus membantu Tuan dan Nyonya mengurus Wisma Bambu,” terang Hauw Lam.


“Ternyata Kakek begitu penuh perhatian,” timpal Sen Khang terharu.


“Seperti yang selalu kukatakan; Tuan Besar itu hanya mulutnya saja yang galak,” timpal Kam Sien lucu.


Semua tertawa.


“Mari kita masuk,” ajak Chien Wan tenang.


Mereka masuk ke dalam ruangan dalam dan melihat Ouwyang Kuan dan Sui She tengah berbincang-bincang dengan Tuan Chang. Pembicaraan mereka berhenti karena melihat kedatangan keempat anak muda itu.


“Chien Wan! Ping-er!” Sui She bangkit dari duduknya dan bergegas menghampiri anak-anaknya. Ia sangat merindukan mereka.


“Ibu.” Chien Wan tersenyum kecil sambil menggenggam tangan kiri ibunya.


Ouwyang Ping memeluk ibunya dengan hangat tanpa malu-malu. “Ibu!”


Ouwyang Kuan mendekat. “Kalian ini curang. Kenapa hanya merindukan ibu saja? Ayah bagaimana?” godanya.


“Ayah....” Ouwyang Ping tertawa dan melepaskan pelukannya pada ibunya dan menghampiri ayahnya. Seketika kepalanya dibelai oleh ayahnya dengan penuh kasih sayang.


“Ayah,” sapa Chien Wan.


Sen Khang memperhatikan mereka. Ia merasa sedih dan agak iri melihat kebahagiaan mereka sekeluarga. Keadaan mereka saat ini mengingatkannya pada dirinya sendiri dan keluarganya sebelum terjadinya musibah itu.


Setelah kerinduan keluarga itu terhapuskan, Sen Khang dan Kui Fang maju untuk memberi hormat pada Ouwyang Kuan dan istrinya.


“Paman, Bibi,” sapa mereka.


“Sen Khang, Kui Fang, kalian baik-baik saja, kan?” Sui She menghampiri Kui Fang dan menggenggam tangan gadis itu dengan sayang. Ia memang sangat menyayangi gadis itu. Menurut pendapatnya, tidak ada orang lain yang lebih pantas mendampingi putranya selain Kui Fang.


“Baik, Bibi,” jawab Sen Khang.


“Bibi dan Paman juga sehat-sehat saja, bukan?” tanya Kui Fang hangat.


“Tentu saja, Anakku.”


“Ayah, Ibu, sekarang Kakak Luo menjadi Ketua Persilatan,” lapor Ouwyang Ping. Ia tak menyadari bahwa kebanggaan tersirat di wajahnya, membuatnya terlihat bercahaya.


“Oh, benarkah?” seru Ouwyang Kuan senang.


“Sen Khang?” Sui She terperangah.

__ADS_1


Sen Khang sedikit malu mengatakannya. Ia khawatir mereka menganggapnya besar kepala. “Sebenarnya, Chien Wan-lah yang diminta, Paman. Tapi dia menolak. Aku hanya menggantikannya saja.”


“Itu tidak benar. Mereka semua memilihmu!” bantah Ouwyang Ping.


“Selamat, Sen Khang!” Tuan Chang yang sejak tadi diam saja menghampiri dan menepuk bahu anak muda itu. Wajahnya berseri-seri. “Memang tidak ada orang lain yang cocok menggantikan Sung Han selain kau.”


“Ini harus dirayakan!” komentar Kam Sien bergairah.


“Sudahlah, Kakak Kam. Bagaimana pun, sebentar lagi adalah peringatan setahun meninggalnya orangtuaku.”


Perkataan Sen Khang membungkam kegembiraan orang-orang itu.


Saat itulah, Ting Ting muncul di dalam ruangan. Fei Yu mengiringinya dengan wajah berseri.


“Kakak!” seru Ting Ting.


“Ting Ting!” Sen Khang menghampiri adiknya yang langsung memeluknya dengan gembira.


“Kau baik-baik saja, kan?” tanya Ting Ting.


“Tentu saja.”


“Aku sangat rindu,” kata Ting Ting manja.


Sen Khang tersenyum. Ini adalah Ting Ting yang dulu, sebelum terjadinya musibah itu. Gadis lincah dan manja yang disayangi semua orang. Kebahagiaan memancar di wajahnya yang jelita. Dan cahaya itu kembali berkat Fei Yu.


Sen Khang tertawa. “Jangan menggodaku!”


“Menggoda? Aku ini bersungguh-sungguh!” bantah Fei Yu.


“Mana Yi Hang, Ting Ting?” tanya Ouwyang Ping.


“Eh, siapa Yi Hang?” tanya Kui Fang penuh minat.


“Anakku,” jawab Ting Ting bangga. Ia menoleh pada Ouwyang Ping. “Dia ada di kamar, sedang dijaga oleh A Nan dan A Ming.”


“A Ming?” seru Ouwyang Ping dan Sen Khang nyaris berbarengan.


“Ya. Dia datang ke sini kira-kira seminggu yang lalu. Bersama anaknya,” jelas Fei Yu pelan.


“Tapi dia....” Ouwyang Ping tak melanjutkan kata-katanya.


“Sebenarnya dia jauh lebih menderita dari aku, Ping-er,” desah Ting Ting. “Semenjak peristiwa itu, aku jadi lebih banyak memikirkan hal ini. Aku memang sempat merasa hancur karena berpikir aku sangat kotor dan malang. Namun ternyata aku diberi anugerah yang tak terhingga. Aku disayangi oleh kalian semua. Diperhatikan, bahkan dimanjakan. Sedangkan A Ming... Sejak peristiwa itu, dia tidak pernah mendapat kebahagiaan sedikit pun. Terlebih lagi... dia mencintai penjahat itu.”


Ouwyang Ping menghela napas.


Tiba-tiba A Nan bergegas ke depan dengan wajah pucat sekali. Kedua bayi ada di gendongannya, menangis keras-keras. Ting Ting segera mengambil anaknya dari gendongan A Nan dan menenangkannya.


“Celaka! Nona Ming....”

__ADS_1


Tuan Chang mendekat. “Ada apa dengannya?”


“Nona Ming pingsan, Tuan!”


“Berarti racunnya sudah mulai menyerang!” seru Fei Yu gugup.


“Racun apa?” Sen Khang bertanya waspada.


Fei Yu menarik tangan Sen Khang dan setengah menyeretnya ke dalam. “Kuceritakan nanti. Sekarang, tolong selamatkan dia!” pintanya.


Yang lain mengikuti mereka ke dalam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


***


Sen Khang memeriksa nadi A Nan dengan seksama. Ia tertegun merasakan denyut nadi yang tak beraturan itu. Lalu ia membuka kelopak mata A Nan yang terpejam dan membuka mulutnya untuk memeriksa lidahnya. Ia mendesah dan menggeleng-geleng.


“Kena racun apa dia, Kakak Luo?” tanya Ouwyang Ping lirih.


“Racun Biji Merah. Racun ini terbuat dari sejenis tumbuhan yang hanya tumbuh di daerah Khitan.”


“Bisakah kau mengobatinya?” tanya Fei Yu.


Sen Khang mengangguk. Ia berdiri dan pergi ke perpustakaan. Sebelum meninggalkan Pulau Ginseng, gurunya telah membekalinya dengan bermacam-macam racun langka beserta penawarnya. Dan untungnya, jenis racun yang mengenai A Ming adalah salah satu jenis racun langka yang ada dalam daftar racun yang diberikan oleh Dewa Obat.


Dewa Obat menyadari bahwa sebesar apa pun kecerdasan Sen Khang, tidak mungkin ia sanggup mempelajari semua ilmu pengobatan dalam waktu yang sangat singkat. Dibutuhkan banyak pengalaman untuk bisa mendalaminya dengan baik. Dan sampai saat ini, Sen Khang tidak menemui kesulitan dengan masalah racun. Hanya saja ia agak kesulitan jika harus mencari daun dan akar obat serta meramunya menjadi racun atau penawar. Maka itulah Dewa Obat membekalinya dengan bermacam-macam penawar.


Tak lama kemudian, Sen Khang kembali dengan sebotol pil obat di tangannya. Ia menuang isinya sebanyak dua butir. Dengan bantuan air teh, ia memasukkan pil obat ke dalam mulut A Ming.


Terlihat tenggorokan A Ming berdeguk, tanda ia telah menelannya.


Sen Khang berdiri. “Dia akan sadar kira-kira dua jam lagi.”


Tuan Chang lega sekali. Ia menghampiri Sen Khang dan menggenggam tangan pemuda itu.


“Tidak bisa kuungkapkan betapa besarnya rasa terima kasihku, Sen Khang,” kata Tuan Chang. “Dia telah melakukan kekeliruan yang amat besar. Namun dia tetaplah keponakanku. Aku berjanji pada mendiang adikku dan Sung Cen untuk menjaganya. Kalau sampai dia celaka, aku tidak punya muka untuk menemui adikku dan Sung Cen di alam sana.”


“Jangan berkata seperti itu, Paman. Kita ini keluarga. Mana mungkin aku diam saja melihatnya menderita?” Sen Khang tersenyum menenangkan.


Tuan Chang menghela napas.


Chien Wan dan Kui Fang memperhatikan dari luar.


“Fei Yu, apa yang terjadi?” tanya Chien Wan pada Fei Yu yang berdiri tak jauh darinya.


Saat itu pula, Sen Khang dan Ouwyang Ping ke luar dari kamar A Ming.


Fei Yu mengajak mereka berempat ke perpustakaan.


***

__ADS_1


__ADS_2