
Paman Khung berbaring di tempat tidurnya di dalam pondok dengan berselubung selimut tebal. Ia menggigil dan terus meracau menyebut-nyebut nama Chien Wan. Wajahnya pucat pasi dan matanya terpejam. Ia menolak tabib, juga obat yang dibuatkan Tuan Luo. Keadaannya sungguh menyedihkan.
Karena ia menolak dipindahkan ke Wisma Bambu dan berkeras tetap di pondok, Tuan Luo menyuruh seorang pelayan untuk menemaninya. Namun Paman Khung sangat keras kepala. Ia tidak mengizinkan pelayan itu menginap.
Saat itu, Ting Ting dan Meng Huan mengunjunginya.
Ting Ting telah memasak bubur kentang manis untuk Paman Khung. Ia mendengar bahwa Paman Khung tak berselera makan, maka ia sengaja membuat bubur lezat itu khusus untuk memancing selera makan Paman Khung.
“Paman, mari makan dulu,” bujuk Ting Ting.
“Tidak, Nona....” tolak Paman Khung dengan suara gemetar.
“Paman, bubur ini manis dan enak. Ting Ting membuatnya khusus untuk Paman,” timpal Meng Huan.
Paman Khung menggeleng lagi.
Ting Ting dan Meng Huan berpandangan cemas.
Meng Huan memandang keadaan sekeliling pondok kecil itu. Tempat itu tampak gelap dan sumpek. Orang sakit mana pun tidak akan kerasan tinggal di tempat seperti ini. Ia menggeleng-geleng. “Paman, sebaiknya kami membawa Paman ke rumah induk. Di sana lebih nyaman. Kami bisa dengan mudah menghampiri Paman setiap kali Paman memanggil.”
“Tidak usah....”
“Kakak Huan benar, Paman. Di sini sangat sumpek. Bagaimana Paman bisa cepat sembuh?” tambah Ting Ting.
“Chien Wan... Chien Wan....”
Kembali Ting Ting dan Meng Huan berpandangan.
Pelayan laki-laki yang menunggui Paman Khung menghampiri. “Selalu begini, Nona, Tuan Muda. Paman Khung selalu memanggil-manggil Chien Wan,” lapornya.
Meng Huan menghampiri. “Paman, sebentar lagi Chien Wan akan pulang,” beritahunya.
Mata Paman Khung berseri. “Betul?”
“Betul, Paman. Paman jangan cemas. Sen Khang sedang menjemputnya sekarang.”
Wajah Paman Khung tetap pucat pasi, namun sepasang matanya berbinar-binar. Ia pun akhirnya mau menyantap bubur kentang manis sampai habis dan meminum obatnya dengan senang hati, membuat kedua anak muda itu lega.
Setelah Paman Khung tidur, Ting Ting dan Meng Huan pun meninggalkan pondok itu.
“Kakak Huan ini bagaimana?” Ting Ting mengerutkan kening. “Belum tentu Kakak Wan diizinkan pergi oleh orang Lembah Nada. Kau sudah menjanjikan kedatangannya pada Paman Khung. Kalau Kakak Wan tidak datang-datang juga bagaimana?”
Meng Huan menarik napas. “Habis mau bagaimana lagi?” keluhnya. “Kalau tidak bilang seperti itu, Paman Khung takkan mau makan dan minum obat. Bersiasat sedikit tidak apa-apa, yang penting dia membaik.”
__ADS_1
Ting Ting tampak resah.
“Sudahlah, tidak apa-apa. Chien Wan pasti pulang!” kata Meng Huan menenangkan.
“Apa kau yakin?”
“Tentu saja!”
***
Keyakinan Meng Huan bukan omong kosong. Saat ia dan Ting Ting pergi ke pondok dan sibuk membujuk Paman Khung, Chien Wan dan Sen Khang telah tiba di muka Hutan Bambu.
“Kita langsung ke pondok Paman Khung saja!” usul Sen Khang.
Chien Wan menggeleng. “Sebaiknya aku saja yang ke sana. Kau pergi mengabari ayah-ibumu.”
“Baiklah.”
Mereka berpencar. Sen Khang langsung pergi ke rumahnya untuk melaporkan kedatangan Chien Wan pada ayah dan ibumya. Dan Chien Wan langsung melangkah lebar menuju pondok Paman Khung.
Setibanya di pondok, Chien Wan langsung masuk ke dalam dan berpapasan dengan pelayan.
“Chien Wan!”
“Bagaimana Paman Khung, A Kui?” tanya Chien Wan tanpa basa-basi.
“Apakah dia mau makan obat?”
“Cuma hari ini. Tadi Nona Ting Ting datang membawakan makanan dan obat. Tadinya Paman Khung tidak mau makan dan tidak mau minum obatnya. Untung saja Tuan Muda Huan mengatakan kau akan segera pulang, jadi Paman mau minum obat,” kisah A Kui bersemangat.
Chien Wan mengangguk.
“Kau baru saja tiba? Kenapa tidak beristirahat dulu?”
“Tidak usah. Sebaiknya kau pulang ke rumah induk. Aku yang akan menunggui Paman Khung,” suruh Chien Wan halus.
“Baiklah,” kata A Kui lega. “Sebenarnya aku sendiri kurang suka di sini,” bisiknya. “Kadang-kadang aku mencium bau yang tidak enak dari arah kamar Paman Khung.”
Kening Chien Wan berkerut. “Bau yang tidak enak?”
“Ya. Tapi aku sendiri kurang yakin, soalnya baunya hanya samar-samar.”
“Ya sudah. Biar aku yang menungguinya.”
__ADS_1
A Kui pun pergi.
Chien Wan melangkah perlahan-lahan ke kamar Paman Khung. Selama bertahun-tahun kunjungannya ke pondok Paman Khung, ia tak pernah memasuki kamarnya. Ia selalu berada di depan pondok, paling jauh hanya sampai ruang depan. Hidungnya menangkap bau yang tak enak.
Karena indera pengecapnya tak berfungsi, otomatis inderanya yang lain menjadi sangat tajam, termasuk penciuman. Apa yang dibilang A Kui sebagai bau tak enak yang samar-samar, bisa dirasakannya sebagai bau karet mentah yang terbakar. Keningnya berkerut. Mengapa bau semacam ini bisa ada di kamar Paman Khung?
Perlahan ia membuka pintu kamar Paman Khung. Bau itu semakin kuat, namun Chien Wan tak lagi mempedulikannya. Ia melihat Paman Khung berbaring dalam lapisan-lapisan selimut tebal, tidur lelap.
Hati Chien Wan luruh. Paman Khung tampak lemah dan tua. Ia mendekat dan duduk di kursi dekat pembaringan.
Chien Wan duduk di sana menunggui Paman Khung tidur selama kira-kira satu jam. Kemudian Paman Khung membuka matanya. Ia tampak sangat kaget. Matanya terbelalak.
“Chien... Wan?”
Chien Wan menggenggam tangan Paman Khung erat-erat. “Paman.”
“Kau... kau sudah pulang...?”
“Ya, Paman. Aku sekarang akan menjaga Paman.” Chien Wan membetulkan letak selimut Paman Khung yang tersingkap.
“Tuan Ouwyang mengizinkanmu pergi?”
“Ya.”
“Bagaimana dengan kekasihmu? Apa dia ikut?”
“Tidak.”
“Syukurlah.” Paman Khung berusaha duduk. “Aku ingin mengatakan....”
“Paman Khung!”
Kata-kata Paman Khung terputus. Sejenak, muncul ekspresi menyeramkan di mata Paman Khung. Ia kelihatan sangat frustrasi oleh gangguan itu. Namun tak ada yang melihat kilasan itu.
Sen Khang muncul diikuti Meng Huan dan Tuan Luo.
Tuan Luo bergegas menghampiri. “Nah, Paman Khung. Sekarang Chien Wan sudah pulang. Bagaimana? Masih berkeras tidak mau dipindahkan ke rumah induk?”
Paman Khung memandangi mereka, lalu Chien Wan ditatapnya. Sebuah keputusan terlintas di matanya dan ia mengangguk. “Baiklah. Tapi... tempatkan saya di belakang agar tidak mengganggu.”
“Sesukamulah.” Tuan Luo tersenyum lega. “Ayo kita bawa Paman Khung.”
“Biar saya saja, Tuan.”
__ADS_1
Kata-kata Chien Wan diucapkan pelan namun tegas, sehingga yang lain tidak bisa membantahnya. Dibiarkannya Chien Wan memondong Paman Khung di punggungnya. Mereka semua segera pergi ke rumah induk.
Chien Wan melangkah dengan Langkah tegap. Paman Khung memejamkan mata, setetes air mata mengalir di pipinya. Kau sudah dewasa sekarang, Chien Wan. Sudah waktunya kau mengetahui semua kebenaran ini. Maafkan semua kesalahanku…