
Sepeninggal Sam Hui, keadaan di Partai Kupu-Kupu agak meresahkan. Ketua Wu baru menyadari bahwa ternyata selama ini Sam Hui-lah yang begitu keras bekerja untuk partai. Tenaganya tak tergantikan. Tidak ada seorang anggota lain pun yang sepandai dan secekatan Sam Hui dalam mengelola urusan partai.
Kui Fang tak peduli dengan apa yang terjadi di partai. Ia tak begitu mempedulikan semua urusan itu. Ia tahu pasti posisi Sam Hui tak akan tergantikan oleh siapa pun. Bukan hanya dalam partai, melainkan juga dalam hatinya.
Kui Fang mendesah. Malam ini bulan purnama. Ia teringat masa-masa sewaktu ia masih kecil. Sam Hui selalu mengajaknya bersenang-senang di bawah cahaya bulan. Masa itu adalah masa yang sepi untuknya. Ayah dan ibunya sibuk dengan urusan partai sehingga tak punya waktu menemaninya bermain.
Pada saat ia kesepian itulah Sam Hui datang dan mengajaknya menyalakan kembang api atau bermain lampion. Sam Hui juga mengajarinya ilmu silat sehingga memudahkannya memperdalamnya di kemudian hari. Sam Hui mengajarinya segala hal yang baik, menghiburnya kala ia sedih, menasihatinya kala ia nakal. Padahal Sam Hui juga sama sibuk dengan orangtuanya.
Gadis itu membuka jendela kamarnya. Bulan bersinar indah dan penuh di langit sana, tampak jelas dari jendela kamarnya. Ia menarik napas dalam-dalam. Tercium olehnya harum bunga mawar lembah yang tumbuh di depan jendelanya. Ia memejamkan matanya, menikmati keharuman yang menyegarkan dirinya dan menenangkan hatinya.
Tiba-tiba ia mendengar suara aneh. Ia membuka matanya. Ia melihat sebuah bayangan berdiri di dekat rumpun mawar.
“Siapa di sana?” seru Kui Fang.
Bayangan itu berkelebat menghilang. Gerakannya sangat ringan sehingga menyerupai terbang.
“Ah!” Kui Fang merasa agak takut. Jangan-jangan itu hantu, pikirnya. Namun bagaimana mungkin hantu bisa mempunyai bayangan? Atau jangan-jangan itu penjahat!
Ia cepat-cepat menutup jendelanya.
Malam itu Kui Fang tidak bisa memejamkan mata barang sejenak pun. Ia terus teringat pada sosok hitam di dekat rumpun mawar. Ia merasa ngeri, namun ia tidak ingin membangunkan orang lain hanya untuk memberitahukan masalah ini. Apalagi besok adalah hari yang melelahkan bagi ayahnya.
Setiap tahunnya partai mereka selalu mengadakan pertemuan besar untuk membahas baik masalah partai maupun masalah pribadi. Setiap anggota diperkenankan mengemukakan hal-hal yang mengganjal ataupun memberikan gagasan-gagasan yang mungkin dapat digunakan untuk kemajuan partai.
Setiap anggota partai selalu menantikan hari pertemuan itu. Akan ada perjamuan mewah menjelang pertemuan. Para anggota akan disuguhi hidangan lezat yang jarang mereka nikmati. Kemudian acara dilanjutkan dengan pertemuan itu sendiri. Setelah itu, akan ada perayaan besar-besaran pada saat pertemuan utama selesai. Perayaan itulah yang sangat dinanti-nantikan oleh para anggota partai.
Akhirnya hari yang dinanti pun tiba.
Semua anggota mengenakan pakaian kebesaran partai mereka yang paling indah, sesuai dengan grupnya. Mereka makan malam bersama dengan riang gembira, kemudian berkumpul di aula utama yang telah dihias dengan megah.
“Hormat pada Ketua!” Para anggota memberi hormat.
__ADS_1
Ketua Wu berdiri dan mengangkat kedua tangannya. “Jangan sungkan!” ujarnya sambil tersenyum. “Silakan duduk, semuanya.”
Semuanya duduk di kursi masing-masing. Anggota yang tingkatannya masih rendah berdiri di sesuai dengan grupnya masing-masing.
Ketua Wu memandang berkeliling.
“Saudara-saudara sekalian, hari ini adalah hari yang sangat penting. Leluhur kita sang pendiri pantai telah menetapkan satu hari dalam setahun sebagai hari besar bagi anggota-anggotanya. Hal ini dimaksudkan sebagai penghormatan atas kerja keras anggota partai dalam membangun partai kita ini. Jadi hari ini dikhususkan untuk para anggota, untuk mengemukakan perasaan hati, baik itu unek-unek, gagasan, bahkan protes,” kata Ketua Wu panjang lebar.
Para anggota berpandangan dan tampak senang.
Ketua Wu mengangguk-angguk. “Jadi, sekarang silakan dimulai. Ungkapkanlah semua hal yang mengganjal di hati kalian. Aku siap mendengarkannya!” Ia duduk di kursi kebesarannya setelah mengucapkan itu.
Wie Yun Cun berdiri. “Silakan dimulai! Dimulai dari perwakilan anggota terendah dan terus meningkat sampai anggota tertinggi.”
Urutan seperti itu sangat menggembirakan hati para bawahan. Sebab biasanya mereka selalu dikesampingkan dan tak berhak bicara, sekarang pendapat mereka malah paling dulu didengarkan.
Maka mereka mulai menyampaikan apa yang mereka pikirkan. Rata-rata menyatakan kepuasan mereka akan kepemimpinan Ketua Wu. Ada juga yang memprotes beberapa kebijakan yang agak membatasi gerak-gerik mereka. Namun yang paling mengejutkan Ketua Wu adalah ketika Wen Chiang mengajukan pertanyaan tentang Sam Hui.
Ketua Wu tertegun. Ditatapnya pemuda yang selalu setia dan gagah berani itu.
“Pengunduran diri Sam Hui adalah keputusannya sendiri, Wen Chiang. Sebenarnya aku juga tidak ingin dia pergi meninggalkan partai. Tetapi aku tidak berdaya mencegahnya. Tidak ada seorang pun yang bisa memaksanya berubah pikiran,” kata Ketua Wu.
Wen Chiang menghela napas. “Saya mengerti. Hanya saja... terasa aneh bila Tetua Sam mengatakan akan mengundurkan diri. Sebab dulu ia pernah mengatakan pada saya bahwa Partai Kupu-Kupu adalah hidup-matinya. Apa pun yang terjadi, walaupun ia harus mati demi membela partai kita, ia takkan pernah meninggalkan partai ini. sebab partai ini adalah rumahnya.”
Ketua Wu terpana mendengar perkataan Wen Chiang.
Wie Yun Cun menyela dengan kurang senang, “Sudahlah, Wen Chiang! Pembicaraan tentang Sam Hui disudahi saja sampai di sini.”
Wen Chiang tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Ia memberi hormat dan mengundurkan diri dari hadapan Ketua Wu.
“Selanjutnya!”
__ADS_1
Yang lainnya bergantian mengemukakan pendapatnya. Namun Ketua Wu terlanjur merasa murung akibat pernyataan Wen Chiang tentang Sam Hui. Benarkah Sam Hui berkata seperti itu? Jangan-jangan ia memang salah menilai Sam Hui!
Akhirnya tibalah giliran anggota-anggota senior mengemukakan pendapatnya. Para tetua bergantian maju dan bicara.
Tibalah giliran Wie Yun Cun. “Hormatku, Ketua!”
Ketua Wu tersenyum. Ia menduga Wie Yun Cun akan seperti biasa, memuji kemajuan partai mereka, mengagumi kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh Ketua Wu, dan sebagainya. “Yun Cun, sampaikan saja pernyataanmu. Jangan sungkan!”
“Baik, Ketua.” Wie Yun Cun menurunkan tangan. “Begini, Ketua. Menurutku, partai kita adalah salah satu perkumpulan yang terbesar di Dunia Persilatan,” katanya membuat Ketua Wu semakin melebarkan senyumnya. Memang seperti itulah yang selalu dikatakan Wie Yun Cun setiap tahunnya. “Tetapi partai kita tidak terkenal!” tambahnya mengejutkan.
Ketua Wu mengerutkan keningnya. “Maksudmu?”
Wie Yun Cun tersenyum. “Begini, Ketua. Mengingat partai kita sangat besar, sudah sepantasnyalah bila kita terkenal. Tapi nyatanya? Dibandingkan dengan Lembah Nada saja kita masih kalah pamor. Padahal Lembah Nada hanyalah tempat tinggal kelompok orang yang gemar bermain musik!” cetusnya dengan nada sinis.
Kui Fang kaget karena Lembah Nada disebut-sebut. Seketika ia menegakkan tubuhnya. “Paman Wie! Mengapa kau menyinggung-nyinggung Lembah Nada?”
Wie Yun Cun memberi hormat dengan lagak sok. “Nona, aku tahu sekarang kau sedang menjalin hubungan dengan pewaris Lembah Nada, jadi kau marah mendengar kenyataan yang sebenarnya. Tetapi aku mengetahui keadaan yang sebenarnya, bahwa Lembah Nada itu tidak pantas mendapatkan nama besar. Partai inilah yang pantas!”
Wajah Kui Fang merah padam. “Paman Wie, kau...!”
“Kui Fang!” tegur Ketua Wu.
Kui Fang tidak mengatakan apa-apa lagi. Namun kemarahan mulai merambati hatinya. Ia menjadi curiga bahwa Wie Yun Cun mempunyai maksud buruk terhadap mereka semua.
Ketua Wu melambaikan tangannya ke arah Wie Yun Cun. “Lanjutkan!” perintahnya. Namun nada suaranya mulai kedengaran tidak enak. Ia menjadi curiga.
“Baik, Ketua.” Wie Yun Cun mengangguk pongah. “Berdasarkan kenyataan yang sudah kuungkapkan tadi, aku ingin mengusulkan pada Ketua supaya kita bisa mencari dukungan dari orang-orang hebat. Dengan bantuan mereka, kita bisa terkenal!”
Ketua Wu mengerutkan kening dan memandang anak buahnya itu dengan tajam.
Semua anggota saling berpandangan. Mereka mulai tampak resah. Kegembiraan berubah menjadi kecemasan.
__ADS_1
***