
Mata Sen Khang terbelalak melihat Ouwyang Ping tengah terbaring telentang di tempat tidur sementara di dekatnya ada seorang laki-laki yang tengah membuka pakaiannya.
“Keparat!” bentak Sen Khang. Ia menerjang dan dengan mudah merenggut laki-laki itu menjauh dari Ouwyang Ping.
Laki-laki itu mengenakan topeng sehingga tak jelas bagaimana rupanya. Ia mencabut pedangnya dan menyerang Sen Khang. Sen Khang menghindar dan balas menyerang. Terjadilah perkelahian di dalam kamar itu.
Laki-laki itu tahu dia bukanlah lawan yang sepadan bagi Sen Khang, makai a melompat keluar lewat jendela.
Sen Khang bergegas memburu ke luar jendela hendak menangkapnya, namun orang itu sudah lenyap.
Sambil berusaha mengendalikan kemarahannya, Sen Khang cepat mendekati Ouwyang Ping. Keadaan gadis itu tampak baik-baik saja kecuali pakaian bagian atasnya yang agak tersingkap. Kekakuan sikap tubuhnya membuat Sen Khang sadar bahwa gadis itu tertotok. Segeralah Sen Khang membebaskan totokannya.
“Ping-er, kau tak apa-apa?” tanya Sen Khang cemas bercampur marah.
Ouwyang Ping tidak menjawab. Ia merapatkan kedua kakinya ke dada dan berusaha menahan isak yang menggumpal di dadanya. Perasaan dingin menguasai hatinya. Nyaris saja ia ternoda. Untunglah belum sempat terjadi apa-apa pada dirinya. Namun ia tetap merasa sangat jijik bila mengingat betapa laki-laki itu sempat memegang tubuhnya tadi.
“Ping-er, jawablah!” Sen Khang mendekat dan dengan cemas berusaha menenangkan gadis itu. Dapat dirasakannya tubuh gadis itu menggigil hebat.
“A... aku tak... apa-apa,” bisik gadis itu lirih dan gemetar.
Sen Khang duduk di sisinya dan memeluknya dengan erat. “Jangan takut, Ping-er... Aku di sini,” bujuknya sambil membelai-belai rambut halus gadis itu.
Ouwyang Ping terisak dan mulai merasa hangat kembali. Direbahkannya kepalanya di bahu Sen Khang.
Setelah agak lama, barulah Ouwyang Ping kembali tenang. Namun mereka masih berangkulan erat seolah tak ingin melepaskan diri lagi dari pelukan masing-masing.
“Apa yang terjadi, Ping-er? Mengapa orang itu bisa masuk?” tanya Sen Khang pelan.
“A... aku tidak tahu, Kakak Luo. Tadi aku sangat mengantuk dan lelah. Kurasa aku lengah sehingga saat dia masuk dan menotokku, aku tidak mampu melawan.”
“Untung saja kau sempat bersuara.” Sen Khang menggeleng-geleng mengibaskan kegusarannya.
“Aku tidak bisa menjerit sekuat yang kuinginkan.”
“Dia tidak melakukan apa-apa?” selidik Sen Khang.
Air mata mulai menggenangi mata Ouwyang Ping. “Di... dia sempat menyentuh kulitku... sedikit...,” gugupnya.
“Di mana?”
Ouwyang Ping menyentuh dadanya dengan jari gemetaran. Sekarang ia semakin memahami perasaan Ting Ting. Tidak heran dahulu Ting Ting begitu histeris dan selalu mencoba bunuh diri. Perasaan kotor dan terhina akibat pemerkosaan adalah hal yang paling buruk di dunia. Tak ada seorang perempuan pun yang akan mampu menahan perasaan seperti itu. Sekarang saja Ouwyang Ping sudah merasa begitu jijik dan muak.
“Jahanam orang itu!” maki Sen Khang tiba-tiba. Matanya menyala-nyala penuh dendam. “Mestinya tadi aku menghabisinya!”
Ouwyang Ping menelan isakannya. “Aku tidak apa-apa, Kakak Luo....”
“Kalau sampai terjadi apa-apa pada dirimu, aku takkan mengampuninya! Akan kukejar dia ke mana pun!” Sen Khang masih belum dapat meredakan kemarahannya.
__ADS_1
“Seandainya....” Ouwyang Ping terdiam sejenak. Lalu ia melanjutkan, “Seandainya aku mengalami nasib yang sama dengan... Ting Ting, apakah kau akan tetap... bersamaku?” tanyanya lirih.
Sen Khang terkejut mendengar pertanyaan itu. “Ping-er, kau ini bicara apa?” sergahnya. “Aku tak akan mempedulikan apa pun kecuali dirimu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu kecuali kau sendiri yang tidak menginginkan aku. Aku akan tetap bersamamu tak peduli apa pun yang terjadi!”
Mata Ouwyang Ping kembali basah, namun kali ini oleh air mata haru. Ia memejamkan mata dan membenamkan wajahnya di dada Sen Khang. Ia tersentuh mendengarkan pernyataan pemuda itu. Hal ini memperdalam perasaannya terhadap pemuda itu. Kasihnya terhadap pemuda itu kian hari kian dalam.
Sen Khang menarik napas panjang. Pelukannya makin erat. Ia sangat mencintai dan menginginkan gadis ini. Namun ia tidak dapat terus memeluk gadis itu tanpa tergoda untuk bertindak terlalu jauh. Bagaimana pun kuat imannya, ia tetap seorang pemuda yang sehat dan normal. Kebersamaannya dengan seorang gadis yang sangat cantik, terutama sangat dicintainya, akan membuatnya menginginkan hal yang lebih dari sekadar memeluk.
Maka dengan lembut ia melepaskan pelukannya. Ketika itu pandangan matanya menangkap bagian kulit yang putih dan halus yang terpampang karena bagian atas pakaian gadis itu terbuka.
Ia memalingkan pandangannya. Jantungnya berdegup kencang dan nadinya berdenyut kuat. Namun sekuat tenaga ia mengendalikan diri. Ia berdiri.
“Aku akan tidur bersandar di jendela, Ping-er. Kau tidur saja.” Sen Khang membalikkan tubuh dan melangkah menuju jendela. Ditutupnya jendela itu. lalu ia menarik kursi dan duduk tepat di depat jendela dengan posisi membelakangi tempat tidur.
Ouwyang Ping menunduk dan melihat pakaiannya yang tersingkap. Dengan gugup ia membetulkan letak pakaiannya. Pipinya merona tatkala menyadari bahwa sejak tadi ia berada dalam pelukan Sen Khang dengan kondisi pakaian yang kurang sopan. Dadanya berdebar dan ia memejamkan matanya erat-erat, tak berani menatap Sen Khang.
Gadis itu merasa malu dan jengah tidur sekamar dengan seorang pria. Terlepas dari semua pengalamannya di Dunia Persilatan, dia masih seorang gadis suci yang tidak terjamah. Semua laki-laki di sekitarnya merupakan para pendekar yang lurus dan tidak pernah mempunyai niat macam-macam terhadap seorang wanita.
Namun ia tahu, keberadaan Sen Khang di kamar ini semata-mata untuk menjaganya. Ia percaya dengan kejujuran Sen Khang. Maka ia pun memejamkan mata, percaya sepenuhnya kepada kekasihnya itu.
Luo Sen Khang tidak tidur semalaman, namun tak sekali pun ia membalikkan badan untuk melihat Ouwyang Ping. Walau hatinya rindu dan berdebar, cinta sucinya mengalahkan nafsu badaniah. Ia belum menjadi suami gadis itu. Ia belum berhak untuk berbuat apa-apa.
Ia menghela napas. Ini akan menjadi malam yang sangat panjang….
***
Sehari sebelum hari pertemuan, hampir semua undangan telah berdatangan.
Para penjaga menjaga di jalan masuk ke arena dan memeriksa undangan para tamu. Semua orang yang membawa undangan tentu dipersilakan masuk tanpa ada pertanyaan apa-apa. Bagi rombongan yang tidak membawa undangan, izin masuk tidak diberikan.
Saat itu, Chien Wan dan Kui Fang tiba di pintu masuk.
“Berhenti, Pendekar, Nona. Perlihatkan undangan Anda,” hadang penjaga.
Chien Wan memberikan undangan yang ditujukan untuk Partai Kupu-Kupu. Penjaga itu langsung memeriksanya dengan seksama. Lalu memberikan jalan bagi mereka setelah meyakini keaslian undangan tersebut.
Mereka melangkah memasuki arena. Kedatangan mereka disambut oleh banyak pendekar yang mengenal dan mengagumi nama besar Suling Maut. Sapaan demi sapaan terus terdengar dan ditujukan kepada Chien Wan.
Kui Fang memandangnya dengan bangga. Ternyata nama besar Chien Wan begitu terkenal di kalangan Dunia Persilatan. Orang seperti Kakak Wan pantas mendapatkannya, pikir Kui Fang.
“Kakak, Kui Fang!”
Chien Wan dan Kui Fang menoleh dan melihat Ouwyang Ping berjalan ke arah mereka. Sen Khang mengikuti langkahnya. Wajah mereka berseri.
“Lama tidak jumpa,” senyum Sen Khang. “Kau kelihatan sangat sehat!”
Chien Wan tersenyum.
__ADS_1
Kui Fang menatap Ouwyang Ping yang terlihat semakin cantik dan menawan. Alangkah berbedanya gadis itu dari Ouwyang Ping yang dikenalnya pertama kali dahulu! Dulu, kecantikannya yang menawan bagai tertutup awan kelabu. Senyumnya sangat mahal dan seolah dipaksakan. Namun kini, kebahagiaan menerangi wajahnya.
Ouwyang Ping balas menatap Kui Fang. Senyum merekah di bibirnya. Ia senang melihat kakaknya begitu segar dan tampak tenang. Kehadiran Kui Fang dalam kehidupannya berdampak baik sekali!
“Kalian sudah lama?” tanya Kui Fang pada Ouwyang Ping.
“Belum. Kami baru tiba kemarin sore di kaki bukit. Baru tadi pagi kami mendaki.”
“Kami langsung mendaki setelah tiba di kaki bukit,” beritahu Kui Fang.
“Hai, Semua! Hai! Kami datang!” teriak suara nyaring penuh semangat yang sudah sangat mereka kenal. Sung Siu Hung!
Secara sangat mengejutkan, Siu Hung sudah berada di dekat mereka. Semua tertegun melihatnya. Bagaimana dia bisa masuk? Para penjaga gerbang terkejut karena gadis itu berhasil masuk tanpa melewati mereka.
“Siu Hung!” seru Ouwyang Ping. “Mengapa kau sendirian?” tanyanya heran. Ia tahu kakeknya tak mungkin membiarkan Siu Hung pergi sendirian. Jangan-jangan Siu Hung kabur!
“Mana Kakek?” tanya Chien Wan kalem.
“Di sini!” Sesosok bayangan berkelebat. Dan Tuan Ouwyang muncul di hadapan mereka. Tangannya terlipat di dada dan sorot matanya tampak ketus dan angkuh.
“Kakek!” Ouwyang Ping mendekat. Ia gembira bisa melihat kakeknya lagi.
Penjaga gerbang menghampiri dengan agak takut-takut. “Maaf, Tuan. Bolehkah saya lihat undangan Anda?”
Tuan Ouwyang meraih undangan berwarna emas yang disimpan di sakunya.
Penjaga itu mengambilnya.
“Nona Siu Hung!”
Siu Hung menoleh dan tertawa gembira. “A Teee!!!” pekiknya sambil berlari menghampiri pengawal ayahnya. Ia menubruk dan mengguncang-guncang lengan pemuda itu. “Kau bagaimana? Sudah lama aku tidak melihatmu! Sudah berhasil menikah belum?” berondongnya.
A Te meringis. Nonanya tahu ia mengincar seorang gadis di Kota Lok Yang, namun sampai saat ini ia tidak berhasil mendapatkannya.
“Jangan menggoda orang terus!” bentak Tuan Ouwyang kesal.
“Ini, Tuan.” Penjaga gerbang telah selesai memeriksa undangan Tuan Ouwyang dan mengembalikannya. Tuan Ouwyang mendengus dan menolaknya, maka Chien Wan yang mengambilnya.
“Mana ayahku?” tanya Siu Hung pada A Te.
“Ada di pondok utama, sedang berdiskusi. Aku disuruh menjemput Nona dan yang lain ke sana,” jawab A Te.
Siu Hung langsung berlari mendahului yang lain ke pondok utama tempat berlangsungnya diskusi antar pendekar. A Te memberi hormat pada yang lain, lalu menyusul Siu Hung.
Tuan Ouwyang cemberut melihatnya.
***
__ADS_1