Suling Maut

Suling Maut
Berselisih Jalan


__ADS_3

Setelah berpamitan pada Ketua Wu dan istrinya, Sen Khang dan Ouwyang Ping melakukan perjalanan menuju Bukit Merak. Mereka terkejut karena ternyata Ketua Wu mengizinkan Kui Fang pergi bersama mereka. Mereka juga sebenarnya tidak mengerti mengapa Kui Fang ingin pergi bersama mereka. Namun mereka tidak keberatan gadis itu ikut.


Sen Khang penasaran akan maksud gadis itu, maka ia bertanya, “Apa sebenarnya yang mendorongmu ikut dengan kami, Kui Fang?”


Kui Fang tersenyum kecil. “Yah... Chang Fei Yu itu kan temanmu. Berarti dia juga pasti teman Kakak Ouwyang. Mungkin saja saat ini Kakak Ouwyang ada di sana. Dengan begitu aku bisa bertemu dengannya,” katanya polos.


Kening Ouwyang Ping berdenyut mendengarnya. Kui Fang memang mencintai kakaknya! Gadis itu sama sekali tidak menyembunyikan kenyataan ini. Bahkan tidak canggung mengungkapkan semua itu di hadapannya dan Sen Khang.


Sen Khang agak tidak enak hati mendengarnya. Ia tidak bisa menebak apa yang sekarang tengah dipikirkan Ouwyang Ping. Kui Fang gadis yang jujur dan polos. Bukan maksudnya menyakiti hati Ouwyang Ping. Ia mengungkapkan perasaannya dengan hati yang bersih karena ia tidak tahu apa-apa.


Mereka tidak lagi membahas soal Chien Wan setelah itu. Perjalanan mereka lakukan secepat mungkin dan hanya dalam dua hari mereka pun tiba di Bukit Merak.


Kedatangan mereka mengejutkan Fei Yu.


“Mengapa kalian bisa datang ke sini?” tanyanya setelah mereka semua duduk di ruang pertemuan.


“Kami mendengar musibah yang menimpamu saat kami berada di Partai Kupu-Kupu. Karena itulah kami memutuskan untuk datang,” terang Sen Khang.


“Partai Kupu-Kupu? Jadi kalian bukan datang langsung dari Wisma Bambu?”


Sen Khang menggeleng. “Semua orang cemas sewaktu kau pergi tanpa pamit. Itulah yang pada awalnya menjadi alasan kami untuk meninggalkan Wisma Bambu, yakni untuk menemuimu. Tetapi di tengah jalan, kami sepakat untuk pergi ke arah lain dan tahu-tahu saja kami sudah tiba di Partai Kupu-Kupu.”


Fei Yu mengangguk paham. Pandangannya beralih ke arah Kui Fang. “Dan, kau adalah....”


Kui Fang berdiri dan memberi hormat. “Namaku Wu Kui Fang, putri ketua Partai Kupu-Kupu. Kami semua sudah mendengar musibah yang kaualami. Kedatanganku ke sini adalah untuk menyampaikan rasa simpati sekaligus untuk memberitahu bahwa kami di Partai Kupu-Kupu sekarang ini sedang berusaha membantu mencari jejak pengkhianat itu,” katanya tenang.


Fei Yu terkesan mendengarnya. Ia ikut berdiri dan membalas penghormatan itu dengan penuh rasa terima kasih. “Terima kasih atas perhatian kalian semua. Kami sangat menghargainya.”


“Apa ada yang bisa kami lakukan, Fei Yu?” sela Ouwyang Ping.


“Tidak ada. Kedatangan kalian saja sudah membuat kami terhibur,” geleng Fei Yu. Kemudian mendadak wajahnya memerah. “Aku sangat malu karena telah membuat kalian risau dengan meninggalkan Wisma Bambu tanpa pemberitahuan.”


“Kami memang sangat khawatir,” tukas Sen Khang serius. “Terutama Paman Sung. Dia sangat kesal karena kau mengajak Siu Hung. Dia risau memikirkan bagaimana harus menjelaskannya kepada Pendekar Sung.”


Pendekar Sung menyela, “Tidak apa. Toh mereka tiba dengan selamat. Lagi pula, aku sudah menanyai Siu Hung. Dia sendiri yang mau ikut pulang dengan Fei Yu.”


Sen Khang dan Ouwyang Ping serentak memandang Siu Hung yang meringis lucu di pojok ruangan.


“Sebenarnya kedatangan kalian sangat terlambat. Baru saja Chien Wan pergi dari sini,” kata Fei Yu ringan.


“Chien Wan?”


“Kakak Wan?”


Fei Yu mengangguk. “Saat aku tiba di sini, ternyata Chien Wan ada di rumah Paman Sung Han. Dia langsung datang ke sini untuk membantuku. Tetapi beberapa hari yang lalu ada berita yang beredar bahwa Cheng Sam terlihat di Wisma Bambu. Kami sangat khawatir Cheng Sam akan mengacau di sana. Maka Chien Wan sengaja pergi ke sana untuk memperingatkan kalian. Tak disangka kalian malah tidak ada.”


“Kapan dia berangkat?” sambar Ouwyang Ping.


“Tadi pagi.”


Sen Khang diam-diam melirik Ouwyang Ping yang tampak gelisah. Wajah gadis itu tampak sedih sekaligus lega. Mereka nyaris bertemu dengan Chien Wan jika saja tiba lebih pagi dari ini.


Sebaliknya, Kui Fang tampak sangat kecewa. “Sayang sekali, ya?”


Tiba-tiba Pendekar Sung berdiri. Ia tampak sangat khawatir. “Kalian ada di sini, berarti Wisma Bambu kekurangan orang, ya? Apakah kakakku dan A Ming serta suami-istri Ouwyang masih ada di sana?”


“Masih,” angguk Sen Khang—yang tidak tahu bahwa Ouwyang Kuan dan istri serta putranya sudah pulang.


“Apa tidak sebaiknya kalian pulang saja ke Wisma Bambu? Aku takut Cheng Sam datang dan membuat kekacauan,” kata Pendekar Sung.


“Ayah!” sela Siu Hung tidak sabar. “Cheng Sam tidak sehebat itu! Apa sih yang dikhawatirkan? Paman Chang bisa kalah kan karena dia main racun!”


“Jangan menyepelekan Cheng Sam.” Tiba-tiba Fei Yu berdiri. “Dia sudah berada di Bukit Merak selama lebih dari dua puluh tahun. Kurasa diam-diam dia sudah mempelajari ilmu-ilmu simpanan kami, termasuk Kitab Pedang Bayangan. Kelemahan yang ditunjukkannya selama ini pasti cuma tipuan!”


“Betul!” angguk Pendekar Sung. “Apalagi jika benar dia bekerja sama dengan enam pendekar Khitan yang sangat hebat itu! Mereka bisa sangat berbahaya!”

__ADS_1


“Jadi bagaimana?” tanya Ouwyang Ping cemas.


“Sebaiknya kalian jangan membuang waktu lagi! Pulanglah ke Wisma Bambu sekarang. Mudah-mudahan saja tidak ada apa-apa dan semua yang kutakutkan tidak terjadi. Tetapi tidak ada salahnya berjaga-jaga,” suruh Pendekar Sung tegas.


Sen Khang langsung setuju. “Baiklah. Aku dan Ping-er akan pulang sekarang.”


Kui Fang berdiri. “Aku ikut.”


Sen Khang mengangguk dan Ouwyang Ping tidak bisa mencegah.


Maka tanpa membuang waktu lagi, mereka pergi ke Wisma Bambu.


***


Chien Wan melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa. Entah mengapa, perasaannya makin lama makin tak enak. Serasa ada sesuatu menggumpal di hatinya dan ia tak tahu bagaimana menghilangkan kecemasan itu. Pikirannya membayangkan macam-macam hal yang mungkin terjadi.


Jarak dari Bukit Merak ke wisma Bambu cukup jauh dan harus dilakukan selama berhari-hari. Chien Wan sudah berjalan tanpa henti dan hanya beristirahat untuk tidur di malam hari selama beberapa jam saja. Namun tetap saja ia membutuhkan waktu kurang lebih tiga hari untuk sampai ke sana.


Ia sudah melewati desa terakhir yang harus dicapainya untuk mencapai Hutan Bambu. Keletihan membuatnya terpaksa harus berhenti sejenak.


Ia duduk di bawah pohon dan makan sebuah bakpao tanpa isi yang dibelinya di desa untuk mengganjal perutnya. Rasanya hambar tentu saja. Namun lumayan daripada harus menahan lapar.


Mendadak beberapa orang melompat ke hadapannya.


Chien Wan membuang sisa bakpaonya dan berdiri dengan siaga.


Ada enam orang yang mengepung di sekelilingnya. Semua laki-laki. Mereka berpakaian tradisisonal Khitan—jenis pakaian yang sama dengan yang dilihatnya dua tahun lalu di perbatasan Kota Lok Yang. Hanya saja waktu itu ia hanya melihat dua orang, bukannya enam.


“Salam, Saudara Suling Maut!” sapa mereka serempak.


“Siapa kalian?” tanya Chien Wan dingin.


Salah seorang pria itu mendekat dan tersenyum. “Kami Enam Saudara dari Khitan.”


“Kami ingin kau ikut dengan kami,” tambah temannya.


“Kami sudah lama mengagumi nama besar Suling Maut. Sebagai sesama anggota Dunia Persilatan, izinkan kami sekadar menjamu Anda di penginapan kami.”


Kening Chien Wan berkerut curiga. Di tempat ini tidak ada penginapan satu pun.


Seakan bisa membaca pikiran Chien Wan, salah seorang dari mereka—yang berbaju kuning—mengatakan, “Penginapan kami ada di desa yang baru saja Anda lewati tadi.”


“Bagaimana kalian tahu aku lewat desa sana?” tanya Chien Wan semakin curiga.


Keenam orang itu agak tersentak seolah menyadari bahwa mereka telah salah bicara.


“Apa kalian mengikutiku?” Chien Wan menatap curiga.


“Tentu saja tidak. Bukankah untuk tiba di Hutan Bambu kau harus melewati desa itu?” kelit pria tadi.


Chien Wan memperhatikan mereka. “Sepertinya kalian bukan orang Tionggoan.”


“Memang bukan.” Mereka tersenyum, mengira Chien Wan sudah tidak curiga lagi. “Kami dari Khitan. Kami baru tiba di Daratan Tionggoan jadi tak tahu bagaimana tata krama di sini. Maaf kalau sikap kami kurang sopan.”


“Baru tiba di sini?”


“Betul. Kami bahkan belum mengenal daerah ini.”


“Lantas bagaimana kalian tahu siapa aku dan bagaimana kalian tahu tempat ini bernama Hutan Bambu?”


Betapa terkejutnya enam orang itu. Seketika topeng ramah yang mereka kenakan terlepas dan tampaklah sifat asli mereka di wajah masing-masing. Wajah-wajah yang rakus, jahat, dan kejam.


“Suling Maut, jangan bersilat lidah dengan kami!” bentak salah satunya.


“Ikut kami kalau mau selamat!”

__ADS_1


“Kalau tidak, kau akan kami habisi!” ancam mereka.


Chien Wan tetap berdiri dengan sikap tenang, sama sekali tidak terpengaruh ancaman. “Aku tidak ada urusan dengan kalian.”


“Kalau begitu kau menantang kami!” Mereka berlompatan ke tengah lapangan yang lebih luas dan menantang Chien Wan untuk melangkah ke tengah-tengah mereka.


Chien Wan memandang mereka dengan tenang tanpa emosi. Ia pun melangkah maju.


Enam Saudara dari Khitan sebenarnya bukan orang baru di Dunia Persilatan. Mereka sudah berada di Daratan Tionggoan selama kurang lebih lima tahun. Mereka sudah memahami adat istiadat orang Tionggoan, namun tetap saja tidak bisa memahaminya. Maka mereka berkeras dengan atribut ke-Khitanannya. Bahkan busana yang mereka kenakan pun merupakan busana tradisional Khitan, yang dimaksudkan pula sebagai hinaan terhadap busana khas Tionggoan yang mereka anggap tidak praktis.


Mereka memiliki kesukaan menantang siapa saja yang terkenal di Dunia Persilatan. Kebanggaan mereka sebagai orang Khitan ditunjukkan dengan mengalahkan orang Tionggoan yang dianggap hebat. Apabila mereka mengalahkan satu pendekar Tionggoan, mereka akan membanggakan penaklukan itu dan menyebutnya sebagai penaklukan terhadap orang Tionggoan.


Nama besar Suling Maut yang santer terdengar belakangan ini membuat mereka penasaran dan ingin mengalahkannya. Maka mereka sengaja menghadang Chien Wan di sini untuk menantangnya.


“Keluarkan sulingmu yang terkenal itu!” tantang mereka.


Chien Wan menurutinya. Ia mencabut suling dari balik ikat pinggangnya.


Salah seorang dari enam orang itu melompat menerjangnya dengan gerakan yang sangat lihay. Orang itu bersenjatakan tombak berujung baja yang sangat tajam. Saat ia bergerak, ujung tombak menyambar-nyambar ke arah Chien Wan.


Chien Wan menangkisnya dengan sulingnya. Ia mengerahkan ilmu silat khas Lembah Nada yang terkenal gemulai namun berbahaya. Sulingnya ia jadikan senjata. Dalam pertarungan satu lawan satu, ia memang tidak pernah meniup sulingnya karena tidak adil buat para penontonnya.


Pertempuran itu luar biasa seru dan membuat kagum. Gerakan mereka makin lama makin cepat sehingga sulit bagi orang awam untuk mengikutinya. Orang yang bukan ahli silat hanya akan memandangi dua bayangan berkelebat kian kemari dan memusingkan mata. Sesekali terdengar suara denting saat senjata mereka beradu.


Setelah beberapa lama, terlihat jelas bahwa orang Khitan itu masih kalah tingkatan dari Chien Wan. Perbedaan tingkatan mereka agaknya cukup jauh. Chien Wan jauh lebih unggul dari orang Khitan itu.


Maka orang itu mundur digantikan temannya yang bersenjatakan sepasang pedang bengkok. Sabetan-sabetannya maut dan menimbulkan suara desingan yang menakutkan.


Chien Wan kembali menghadapinya dengan tenang namun pasti.


Demikianlah pertempuran itu berlangsung. Orang-orang Khitan itu melawannya bergantian. Setelah satu hampir kalah, digantikan oleh yang lain. Si pedang bengkok digantikan oleh orang yang bersenjatakan golok, setelah itu digantikan lagi oleh temannya yang bersenjata belati, lalu oleh temannya yang bertangan kosong. Dan yang terakhir memiliki kemampuan menggunakan senjata rahasia.


Pengguna senjata rahasia itu melakukan serangannya secara mendadak di tengah-tengah pertarungan. Ia yang paling lihay dari enam orang itu, juga yang paling licik. Mereka semua licik, namun Chien Wan masih mampu mengantisipasi kelicikan lima lawannya yang lain. Namun ia agak kewalahan menghadapi yang terakhir.


Bagaimana pun ia sudah kelelahan karena harus menghadapi enam orang berturut-turut. Maka menghadapi orang yang terakhir ini terasa berat sekali.


Enam orang itu pun kewalahan menghadapi Chien Wan. Bagaimana pun mereka kagum dengan kelihayan Chien Wan. Pendekar lain tidak pernah sanggup menghadapi mereka secara bergantian seperti ini. Sedangkan Chien Wan, meski kelelahan, namun masih terlihat tegar dan tak menyerah sedikit pun.


Setelah pertarungan itu berlangsung cukup lama, akhirnya Enam Saudara dari Khitan pun bermaksud menuntaskan pertarungan mereka. Saat Chien Wan tengah menghadapi orang terakhir dari mereka, mereka berlima berlompatan mengepung dari segala penjuru.


Sesaat Chien Wan berhenti bergerak.


“Kami kagum dengan kelihayanmu, Suling Maut!” kata orang pertama yang bersenjata tombak.


“Sayangnya kami mendapat perintah untuk menghabisimu!” sambung orang yang bersenjata golok.


“Dari siapa?” tanya Chien Wan tenang.


“Kami tidak perlu mengatakannya!”


“Dari Cheng Sam?”


Enam Saudara Khitan tertawa. “Terserah anggapanmu! Pokoknya kami harus menghabisimu. Serang!”


Mereka berenam segera mengepun Chien Wan dan menyerang secara bersamaan. Chien Wan melenting dan melompat untuk menjauhi mereka. Namun ke mana pun ia pergi, agaknya mereka semua bisa mengepungnya.


Gerakan Chien Wan agak berkurang kelincahannya karena lelah. Ia sangat terkejut melihat kelihayan enam bersaudara itu. Jika tadi saat bertarung satu lawan satu mereka masih dapat dikalahkannya, kini saat menyerang bersamaan mereka saling menutupi kekurangan masing-masing. Akibatnya kini Chien Wan-lah yang terdesak.


Maka tidak ada pilihan lain.


Chien Wan mendekatkan suling ke mulutnya dan mengalunlah nada sangat tajam menyakitkan telinga mereka. Nada itu semakin tajam sehingga mereka berenam terpaksa harus berhenti menyerang untuk mengatur napas dan mengerahkan tenaga dalam mereka untuk menahan daya mematikan suara suling itu.


Namun suling Chien Wan tidak terbendung. Ia dijuluki Suling Maut justru karena kemampuannya meniup suling yang menimbulkan irama kematian bagi orang lain. Sekali ia meniup sulingnya pda saat pertarungan, bisa dipastikan ia akan selalu unggul dan lawan-lawannya akan menyerah kalah.


Itu pula yang terjadi pada Enam Saudara dari Khitan.

__ADS_1


Saat mereka sudah keletihan mengerahkan tenaga dalam, barulah Chien Wan berhenti meniup suling.


Setelah daya pengaruh suling hilang, enam orang itu langsung bergerak dengan sangat cepat meninggalkan Chien Wan.


__ADS_2